
Aku bangun, cahaya mentari pagi terik menerobos jendela kamarku. Anehnya, kali ini tanpa diselingi oleh mimpi buruk. Namun, kelopak mataku terasa begitu berat, seolah tidak bisa kuangkatkan. Setiap sentimeter tubuhku seakan dirayapi oleh beban yang sulit kutanggung. Sial, pikiranku langsung meronta, aku benar-benar tidak ingin pergi ke sekolah hari ini. Sesuatu seperti mencekik napasku, mendorongku lebih dalam ke dalam dunia kegelapan yang menghampiri.
Aku tahu, jika aku tidak masuk, kemungkinan tidak ada yang akan memperdulikan keberadaanku di sana. Tidak ada yang akan merasa kehilangan, tidak ada yang akan menyadari jika aku benar-benar tidak hadir. Tidak ada pula yang akan menyalahkanku.
Aku duduk di tepi ranjang, merenung dalam keheningan pagi. Sesaat, keinginan untuk berhenti, untuk menghentikan segalanya muncul begitu kuat…Kumohon, apa aku bisa berhenti dengan semuanya?
Aku memasuki kelas, namun tak kuasa menahan kaget ketika pandanganku mengarah ke mejaku yang biasanya rapi, kini terlihat kacau dengan coretan-coretan tak beraturan. Aku merasa perasaan kesal mulai merayap dari dalam diriku, dan pandanganku tak bisa lepas dari kekacauan itu. Aku mencoba mencari tahu siapa yang mungkin telah melakukan ini, mengamati reaksi teman-teman sekelas yang tengah sibuk dengan urusan masing-masing. Namun, keherananku semakin bertambah saat aku menyadari bahwa tak ada satupun dari mereka yang membicarakan kejadian ini. Seharusnya, ini adalah hal yang perlu dipertanyakan, bukan?
Aku merasakan kemarahan tumbuh di dada, ingin meledak keluar. Namun, suara halus si hantu datang membuyarkan gejolak perasaanku. "Memangnya kau berhak bersikap seperti itu?" katanya dengan nada tajam. "Kau pernah melihat perilakumu sendiri?"
Perlahan, kata-katanya menembus kemarahanku. "Sekarang kau mau marah? Jangan bercanda," ucapnya lagi, suara lembutnya bagaikan hembusan angin yang mendinginkan. Seperti mengalir seperti sungai yang mengalir pelan, amarahku mulai reda.
Tiba-tiba, aku menyadari kebodohanku. Tentu saja mereka tahu. Aku terlalu bodoh untuk tidak menyadari ini. Semua orang di sini tahu, tapi mereka memilih untuk tidak peduli. Mereka tidak menganggap ini sebagai masalah besar. Orang bilang, orang yang diam saja saat melihat, ikut serta dalam perbuatan itu. Dan sekarang, aku mulai paham makna dibalik kalimat itu.
Waktu istirahat datang. Untuk pergi ke tempat sepi favoritku, aku harus melewati lapangan basket. Hatiku berdegup tak menentu karena ketidakpastian.
Harusnya aku tau itu sebuah kesalahan.
Tiba-tiba aku merasakan benturan keras dari komplotan Rico waktu itu, menyebabkanku jatuh. "Maaf, maaf, aku gak sengaja," gumamnya dengan suara kecil, meski aku tahu itu hanya sebuah akting, sementara temannya tertawa menyusul di belakangnya.
Saat aku berusaha bangkit dan kembali fokus, kepalaku berbenturan dengan bola basket yang tiba-tiba dilempar oleh mereka. Rasa sakit menusuk tajam di pelipis, seakan mengingatkan bahwa aku tidak akan pernah bisa bebas dari intimidasi ini.
Kembali ke kelas setelah pelajaran, rasa lelah mulai terasa menyergap. Namun, saat aku memandang meja tempatku biasanya meletakkan tas, hatiku berdesir karena tasku hilang entah ke mana.
__ADS_1
Aku mengedarkan pandangan di sekitar, berharap bisa menemukan tanda-tanda tasku.
"Eh, tasku di mana?" gumamku pelan dalam kebingungan. Tidak mungkin tas sebesar itu hilang begitu saja.
Aku mencari-cari, mengangkat buku-buku, melihat di bawah meja, dan memeriksa sudut-sudut kelas. Tapi setelah usaha mencari yang cermat, mataku menangkap sesuatu yang membuat hatiku berdesir dengan keras. Tas hitamku, seolah diabaikan dan tak bernilai, berada di dalam tong sampah.
Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri dari rasa kesal yang mulai meluap. Sial.
Sinar senja mulai merenda langit, menciptakan warna-warni kemerahan dan oranye yang indah. Aku memilih untuk duduk di kursi taman yang biasanya ramai digunakan untuk makan siang. Udara tenang dan sejuk merayap di sekitarku.
Tak disangka, suara tiba-tiba muncul, merobek kedamaian yang ada. "Yo, tangkap!" panggilan itu menarik perhatianku. Sebuah botol minuman terbang menuju ke arahku, dan dengan gerakan reflek, aku menangkapnya di udara. Ketika aku melirik ke arah asal suara, ternyata itu adalah Katherine.
"...?" Tidak terlalu mengerti apa yang baru saja terjadi, aku menatap Katherine dengan ekspresi bingung.
"Ini untuk kemarin lusa," katanya dengan senyuman lebar. Jari telunjuknya menunjuk botol minuman yang berhasil kutangkap.
"Oh iya, aku lupa," jawabku agak canggung, merasa terpana oleh kebaikannya.
Si cewek hantu, yang beberapa waktu belakangan ini semakin jarang terlihat, membuatku bahkan hampir
melupakan "perbuatan baik" itu. Aku mendengus pada diriku sendiri, seakan menyalahkan ketidakfokusanku.
Melihat ekspresiku yang terlihat kacau, Katherine bertanya dengan nada prihatin, "Hei, kau ok?"
Baru saja api emosional dalam diriku ingin meledak. "Memangnya aku terlihat ok?" Kata-kata itu keluar tanpa terkontrol, sementara mataku mulai memerah karena kemarahan yang muncul begitu saja.
Sial. Aku tidak tahu kenapa aku malah bicara seperti ini. Sudah begitu lama aku tidak berbicara dengan siapa pun, dan sekarang bicara dengan Katherine, yang muncul tiba-tiba di kehidupanku, sepertinya membuka kran emosi yang selama ini tertutup rapat.
__ADS_1
"Haha, maaf, pertanyaan bodoh," katanya dengan ekspresi terkekeh. Mungkin dia memahami bahwa ini bukan masalah sepele bagiku.
"Ck, ini benar-benar menjengkelkan," ucapku, mencoba menahan amarah yang masih terasa menggelegak.
Katherine tersenyum. "Hehe, gak perlu khawatir. Sebagai sesama…aku bisa memberikan beberapa tips biar gak terlalu parah."
“Kalau kau dipukuli, cobalah untuk lebih lemas, jangan terlalu tegang,” dia mulai memberikan nasihatnya, tips-tips untuk menghadapi situasi semacam ini. Namun, semakin banyak dia bicara, semakin tidak relevan rasanya. Apapun yang dia katakan, seakan mustahil dilakukan. Aku merasa semuanya terasa seperti upaya yang sia-sia. Mungkin yang terbaik memang hanya diam, seperti yang kualami
selama ini.
Mataku tertuju pada lengan Katherine, yang sedikit tertutup oleh seragam sekolah. Kulihat memar di kulitnya, dan dengan cepat, aku menyadari bahwa memar itu tidak sekecil yang kuharapkan. Bagaimana cara dia melakukannya? Kenapa dia melakukan ini? Pertanyaan itu melintas begitu saja dalam pikiranku, dan di
balik keheranan itu, terdapat ungkapan empati yang tidak terucap.
Ketika mata kami bertemu, aku merasa seolah dia memahami pikiranku. Dalam keheningan yang tak terucapkan, ada rasa syukur yang terpancar dari dalam hatiku. Meskipun hanya sedikit, aku tahu ada seseorang yang peduli.
"Oh ya? Ceritakan lagi," pintaku, mencoba memperpanjang percakapan kami.
Entah mengapa, aku tidak menyadarinya sebelumnya. Saat itulah, aku baru bisa melihatnya dengan benar. Di tengah cahaya pagi yang lembut, kacamata tipis yang ia kenakan menambah kesan pintar dan fokus pada wajahnya. Rambutnya yang pendek setinggi tengkuk lehernya, sedikit bergelombang, dan berwarna cokelat muda tergantung anggun di samping wajahnya. Matanya yang berkilauan menunjukkan kecerdasan dan semangat yang tak terlihat pada pandangan pertama. Dia bukan tipe orang yang mencuri perhatian dengan teriakan atau tawa kencang, namun kehadirannya memancarkan daya tarik yang tenang dan memikat.
“…Menurutmu, kapan mereka bakal berhenti?” tanyaku, menyela kediaman yang tercipta.
Dia menghela nafas, berpaling dariku, matanya terarah ke arah kerumunan orang-orang yang tampak sibuk dengan rutinitas mereka. "Entahlah, mungkin berhenti, mungkin enggak. Siapa yang tahu?" dia menjawab sambil memandangi kejauhan. "Tapi, itu bukan berarti alasan yang cukup untuk berhenti. Mungkin butuh suatu bujukan, atau mungkin juga enggak. Tapi sedikit demi sedikit, lama kelamaan bisa jadi bukit kan? Mungkin, suatu hari bakal mereda," lanjutnya dengan senyum tipis.
Aku merenung sejenak. Orang seperti ini, kenapa harus dia yang kena? Pikiranku berputar dalam kekesalan. Sial.
“…Aku harap rumahnya banyak nyamuk,” ucapku spontan.
“…???”
__ADS_1
Kita berbicara… Lebih tepatnya, aku yang mencoba memperpanjang percakapan ini. Aku melanjutkannya, sambil menghadapi senja yang semakin gelap, sampai akhirnya waktu tiba untuk kami berdua harus pulang.