
Mentari hampir tenggelam dari ujung cakrawala sana. Sebagai pengganti, bulan dan bintang pun datang untuk menerangi bumi, juga seluruh makhluk yang menghuninya. Di Padang Ranshao, angin berhembus dengan tak biasa.
"CONSTANTINE—AWAS!" Chen Li berseru. Ia pun memeluk Constantine dari belakang, sehingga malah ia yang justru terkena anak panah yang mengandung hawa qi itu.
Constantine Yang pun terkesiap. Ia memutar tubuhnya 180 derajat. Seketika itu pula, Chen Li terjatuh, namun ia menangkapnya.
"Jenderal Chen?! Apa yang kaulakukan?!" serunya. Ia menatap Jenderal Empat dengan mata yang melebar. Dengan tubuh yang agak bergetar, ia pun membaringkan Chen Li di atas pasir.
Di sisi lain, pihak musuh yang merasakan firasat buruk pun memutuskan untuk menarik mundur pasukan mereka. Lagi pula, mayoritas kesatria mereka yang hanya manusia biasa, tak akan sanggup menghadapi dinginnya suhu gurun di malam hari. Jadi, begitulah keputusannya—katakan saja mereka kabur untuk menyelamatkan diri.
"KAK CHEN! AKU AKAN MENYELAMATKANMU!" Constantine tampak syok dengan apa yang terjadi.
Chen Li yang bukan seorang kultivator, tentu tak akan kuat menghadapi serangan yang mengandung hawa qi. Oleh karena itulah, keadaanya sekarang benar-benar buruk. Bahkan bisa dibilang pria itu tengah berada pada masa kritisnya—dalam istilah lainnya, ia sekarat—diakibatkan oleh organ dalamnya yang rusak parah. Darah segar pun tak berhenti mengalir dari bahunya.
Constantine menggigit bibir bawahnya. Meski ia memiliki kekuatan cahaya dan alam, namun tak semudah itu bisa menolong Chen Li. Luka pemuda itu sudah berada pada level yang berbeda.
Jika Chen Li seorang kultivator atau Jingguo Li sedang dalam keadaan baik-baik saja, maka kemungkinan sang Jenderal Empat untuk sembuh, tentu tak akan sekecil sekarang. Meskipun terlihat sangat kuat, namun untuk saat ini, Constantine belum sekuat itu untuk menyembuhkan orang yang organ dalamnya telah mengalami kerusakan parah. Lagi pula, hampir mustahil juga Chen Li bisa menahan rasa sakit sebagai efek dari organ-organ tubuh yang tengah memperbaiki dirinya kembali.
__ADS_1
Sebenarnya, ada juga cara lain, yaitu elemen ruang dan waktu yang bisa mengembalikan fisik Chen Li ke beberapa waktu sebelum kerusakan itu terjadi. Meski sebenarnya ia bisa menguasai elemen tersebut, namun untuk saat ini, kekuatannya itu belum dibangkitkan, sebab untuk itu, ada beberapa hal yang harus ia tempuh.
Constantine Yang bisa meminjam kekuatan alam—namun untuk itu, ia harus berada di kondisi primanya; sedang ia telah kehilangan banyak tenaga.
Selain itu, cara paling nekat adalah menggunakan elemen kegelapan, sebab elemen kegelapan, nyatanya tak selalu jahat dan malah bisa digunakan melindungi. Jika menggunakan cara ini, jiwa Chen Li akan mengalami delusi, sehingga rasa sakit yang seharusnya ada, justru tidak dirasakannya. Namun untuk itu, Constantine tak berani melakukannya. Salah-salah, Chen Li akan mati seketika itu juga. Butuh penguasaan yang tinggi untuk membuat elemen kegelapan menjadi penyembuhan.
Bagaimana dengan kombinasi elemen cahaya dan kegelapan? Tidak, karena itu lebih sulit lagi mengingat keduanya adalah hal yang saling berlawanan. Sekali lagi, level Constantine belum setinggi itu.
'Apa yang harus kulakukan? Kenapa pria ini nekat sekali?' batin Constantine dengan perasaan yang mencekam.
"Dengar, aku ingin menjadi berguna bagimu ...! Aku ingin pula bisa melindungimu—jadi bukan hanya kausaja yang bisa melindungi kami," lirih Chen Li.
"Constantine, meski kaumemang kuat; namun dengan konsentrasi yang terpecah seperti itu, kautetap bisa terluka, kan? Karena itu aku melakukannya. Selain itu juga karena ..., karena—"
Chen Li terdiam, lalu menatap Constantine yang matanya sudah memerah. Ia tersenyum tipis, tahu bahwa gadis itu ingin menangis. Dengan perlahan, ia pun meraih tangan yang tampak kotor oleh darah itu.
"Mungkin sudah saatnya aku memberitahu ini. Y—ya, karena waktuku sudah tidak lama lagi," katanya, berusaha berbicara normal. Ia pun mengembuskan napasnya panjang.
__ADS_1
"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Constantine Yang. Karena itulah aku selalu berusaha membuatmu kesal, agar kaumau menatapku. Tapi ..., kaumemang gadis paling tidak peka sedunia," lirih Chen Li, dengan dada napas yang mulai tak beraturan. Sungguh keajaiban ia bisa bertahan sampai sekarang.
"A—apa maksudmu? Kau ... mencintaiku?"
Chen Li tak menjawab pertanyaan Constantine. Ia, justru memejamkan matanya sambil menahan rasa sakit yang makin membuatnya menderita.
"Bisakah aku meminta permintaan terakhirku?" tanya Jenderal Empat itu.
"Tentu!"
"Aku ingin mencium tanganmu. Janji—hanya tangan," katanya, lemah. Constantine mengangguk, pertanda mengizinkan. Meski ia tak mencintai Chen Li seperti pemuda itu mencintainya, namun ia benar-benar menyayangi Chen Li sebagai kakaknya, saudaranya, rekannya, dan keluarganya.
Chel menarik kedua sudut bibirnya. Ia mencium lama tangan Constantine, sebelum melepaskannya. Meski matanya tampak sayu, namun bibirnya yang tersenyum, menjelaskan kebahagiaannya.
"Aku mencintaimu, Constantine Yang." Ya, itulah kata-kata terakhir dari sang Jenderal Empat.
Tangis Constantine langsung pecah seketika itu juga. Para Jenderal yang menatap kejadian itu, hanya membisu. Tentu, mereka pun mengetahui perasaan Chen Li yang sebenarnya dan alasannya menyembunyikan perasaannya. Melihat kematian pemuda itu di depan mata, tentu saja itu turut menyesakkan dada mereka.
__ADS_1
Ya—beginilah akhir dari Chen Li, sang Jenderal Empat yang dihormati oleh rakyat. Ia tumbang sebagai pejuang. Namanya pun akan dikenang sebagai pahlawan oleh orang-orang.