
Keesokannya, aku memasuki ruang guru, duduk di kursi yang terasa sedikit tidak nyaman, hati berdebar menantikan momen melaporkan insiden bullying yang tertangkap oleh kamera ponselku. Ruang guru itu terasa cukup formal dengan perabotan kayu berwarna gelap dan jendela yang membiarkan cahaya pagi masuk dengan lembut. Ada aura otoritas dan pengetahuan di ruangan itu, tetapi juga ada ketegangan dalam udara yang menimbulkan rasa gugup dalam diriku.
Wali kelasku yang berpakaian formal dengan wajah tegas memberi tanggapannya, "Kami mengurus kasus bullying dengan sangat serius di sekolah ini. Kami akan segera mengurus masalah ini."
Aku merasakan setetes keringat mengalir di pelipisku, perasaan gugup yang sudah kuduga sejak semalam.
"Kami akan segera mengurus masalah ini," lanjutnya, suaranya penuh keyakinan. Aku menarik napas dalam-dalam saat dia melanjutkan pidatonya. "Kami tidak akan mentoleransi perilaku semacam ini di lingkungan sekolah kami."aku menghela napas
Aku menghela napas lega. Aku merasa beruntung karena sepertinya masalah ini tidak akan terlalu membesar. Harapanku semakin besar bahwa tindakan yang diambil oleh sekolah akan memberikan efek yang positif dan
memberikan pembelajaran kepada Rico dan komplotannya. Dalam suasana yang penuh harap dan ketegangan, aku meninggalkan ruang guru dengan perasaan lega karena akhirnya telah melaporkan hal yang telah menganggu pikiranku akhir- akhir ini.
Waktu itu, aku menyesal tidak memastikan aku masuk ke ruang guru sendirian.
Bel istirahat berbunyi, menyambut kerumunan siswa yang bergegas meninggalkan kelas. Aku menyusul, menyusuri lorong sekolah yang ramai dengan percakapan dan tawa. Suasana SMA ini lumayan bergengsi, terlihat dari desain arsitektur klasik dan hiasan-hiasan seni di dinding-dindingnya. Udara sejuk masuk melalui jendela-jendela besar yang membuka pandangan ke halaman sekolah yang rindang.
Mataku tertuju pada Rico, yang sedang dihampiri oleh seorang guru dengan wajah serius. Aku bisa mendengar sepotong percakapan mereka, "Rico, bapak punya sedikit urusan denganmu. Segera datang ke ruang
bapak." Rico mengangguk dan menjawab, "Baik pak."
Melihat situasi itu, aku menghela napas dalam - dalam dalam hati. Okelah, mungkin ini lebih mudah dari bayanganku. Namun, pandangan sekejapku mencari-cari si hantu, cewek aneh yang selalu mengikutiku, tetapi ia tidak terlihat.
Pada saat itu, seharusnya aku tahu, masalah ini gak akan selesai semudah itu.
Bel pulang sekolah berbunyi, memecah suasana di koridor yang tadi penuh dengan riuh rendah murid-murid. Cahaya sore menyinari langkah-langkah mereka yang berlarian menuju pintu keluar. Suara langkah kaki
mengisi udara, dan sebentar lagi sekolah akan sepi. Aku mengernyitkan dahi, merasakan kelelahan yang menyelimuti tubuh setelah seharian beraktivitas di sekolah ini. Aku merapikan bukuku ke dalam tas, merasa lega akan berakhirnya hari ini.
Namun, sebelum aku bisa melangkah keluar, tangan Rico menepuk lembut pundakku. Aku menoleh padanya dengan ekspresi kebingungan, dan dia langsung membisikkan sesuatu ke telingaku. "Kau, ikutlah
denganku."
“Ha, kenapa emang?“ tanyaku, dengan suara yang terdengar rendah. Dia mengangkat alisnya, mungkin agak terganggu oleh pertanyaanku. "Aku mau ngomong sebentar."
Aku ragu-ragu, takut ada sesuatu yang tidak beres. Aku tidak ingin terlibat dalam masalah. Namun, sebelum aku bisa menolak atau berkata apa pun, Rico meremas pundakku dengan agak keras. Pandangan mata kami
__ADS_1
bertemu, dan aku tahu dia serius.
"Aku bilang berdiri," bisiknya dengan nada tegas. Perasaan gugup menyelusup, menciptakan getaran aneh di perutku. Aku tahu, jika aku menolak, ini mungkin bisa jadi lebih buruk. Aku mengangguk perlahan, berusaha mempertahankan ekspresi wajah yang tetap tenang. "Kau gak mau membuat keributan kan?" lanjutnya dengan suara lebih rendah, seolah-olah memastikan kata-katanya hanya terdengar olehku.
Kami sampai di sudut tersembunyi taman di dalam area sekolah. Udara sejuk petang menyapa kulitku saat matahari sudah semakin merosot di balik cakrawala. Di sini, dia berdiri di tengah-tengah dua temannya.
Langkahku terhenti, merasa kaku oleh kehadiran mereka. Dia mulai bertanya, suaranya berdesis di antara dedaunan.
"Kenapa kau melapor ke guru-guru?" desaknya, suara terdengar tajam di udara senja yang tenang.
"Eh, tapi aku gak lapor—" ucapku, namun kata-kataku terputus ketika dia memotong.
"Gak usah bohong, aku sudah tahu," ucapnya dengan nada mengejek. Dan tiba-tiba, di hadapanku, terpampang video yang aku kira hanya aku yang tahu. Aku merasa kaget. Kenapa dia punya video itu?
Dia menunjukkan videoku yang sedang melapor ke guru. Napasku berhenti sejenak. Sesaat ketakutan melanda pikiranku.
"Kenapa kau melakukannya?" Ucapnya, tatapan matanya seolah menusuk tajam melalui mataku.
Aku merasa sedikit terpojok. Ini bukan situasi yang bisa aku hindari dengan mudah. Aku merasakan getaran
Ketika manusia menghadapi bahaya, otak akan memberikan tiga respon: lawan, lari, atau membeku. Sekarang, bukan saatnya memikirkan video itu. Aku harus bertindak. Aku harus bergerak.
Dalam seketika, aku merasakan denyut jantungku berdetak semakin kencang. Tubuhku bergetar tak terkendali, dan aku tahu, inilah saatnya. Namun, sebelum aku bisa merespons, serangan datang.
Aku merasakan tubuhku terbanting, dan sakit menyengat di berbagai tempat. Tubuhku seolah menjadi sasaran pukulan tak terhitung jumlahnya. Tendangan di perutku mengirim rasa sakit menusuk tajam. Entah sejak kapan, aku lupa, ditendang di perut itu sangat sakit.
Sekarang bukan waktunya memikirkan rasa sakit, sekarang waktunya melawan. Melihat wajah Rico, seketika seluruh tubuhku berhenti bergerak. "Gak usah!" gumamku dalam hati, aku tahu aku tak bisa menang, jika aku melawannya, semuanya hanya akan menjadi lebih buruk. Aku hanya bisa berharap, dia akan segera puas dan berhenti.
Aku terkapar sendirian di tanah, merasa lemah dan tak berdaya. Sakit memenuhi tubuhku, rasanya seolah-olah aku
bisa mati karena terkena angin. Aku mencoba mengumpulkan segenap tenagaku, tapi semua terasa sia-sia. Aku merasa aku tak bisa bernapas, tak bisa mengumpulkan tenaga untuk bergerak.
Haha, mereka bahkan memastikan memukulku di bagian tertutup baju. Mereka berpengalaman sekali. Saat-saat seperti ini membuatku bertanya-tanya. Bukankah sekolah seharusnya tempat belajar? Sejak kapan sekolah menjadi seperti hutan rimba?
"Inikah yang siswa lain rasakan setiap hari?" gumamku dalam hati, merenungkan keadaan di sekelilingku.
__ADS_1
Tiba-tiba, dia muncul kembali. Si hantu itu datang tanpa diduga. "Punggungmu pasti sakit," katanya tanpa rasa iba, hanya dengan suara yang terdengar datar.
"Kenapa kau di sini?" tanyaku dengan suara lirih.
"Aku sudah gak kuat," jawabnya.
"Kau sangat menyedihkan. Siapa kau? Orang bodoh? Kau kira apa yang akan terjadi jika kau mengikuti mereka?" tanya si hantu, sambil menepuk wajahnya.
"Mungkin kau benar," gumamku dalam hati,
“Tapi hei, bukankah ini yang kau inginkan? Bukankah kau seharusnya merasa senang? Aku mendapatkan balasanku?" aku berbisik dalam hati.
"Sedikit," jawabnya dengan senyum halus. Mungkin itu pertama kalinya aku bersyukur dengan kehadirannya. Punya seseorang yang bisa diajak bicara, memberikan sedikit ketenangan kepadaku.
Aku berjalan sendirian di lorong sekolah, langkahku terdengar sepi di tengah hiruk-pikuk aktivitas para siswa. Namun, tiba-tiba, aku tidak sengaja mendengar suara-suara percakapan dari dalam sebuah ruang guru
yang terbuka. Tertarik, aku berhenti sejenak untuk mendengarkan.
“Tadi kenapa kau memanggil Rico?” tanya suara seorang guru, terdengar seperti candaan ringan.
Ah, benar juga. Gimana bisa, dia maih berani. Aku merasa sedikit tertarik dengan pembicaraan ini.
"Tadi ada siswa yang melaporkan tentang bullying," jawab guru yang kedua, wali kelasku. "Jadi, aku omel
sedikit."
Tawa kecil mengiringi balasan pertama. “Memangnya dia akan berhenti?”
Si guru yang kedua terdengar santai, sedikit tertawa. “Haha, dia tetaplah anak-anak. Biar mereka bertengkar sebentar. Nanti, mereka juga akan lelah sendiri.”. “Sekarang aku lagi sibuk ngurus kelas lain, aku gak punya waktu untuk ngurus hal sepele gini.” ucapnya lagi.
Ketika aku mendengar mereka mengatakan bahwa mereka hanya menganggap ini sebagai pertengkaran remaja biasa, kekecewaan melintas di hatiku.
Aku berdiri di luar ruangan, merasa campur aduk dalam pikiranku. Kami mengurus bullying secara serius, katanya.
Tapi, dari percakapan ini, terlihat seperti semuanya hanya sebatas basa-basi. Mereka hanya akan diam saja dan biarkan semua berjalan begitu saja.
Aku hampir saja berteriak, "Pembohong sialan." Namun, aku memilih untuk tetap tenang di tempatku, meskipun rasa frustrasiku semakin mendalam.
__ADS_1
Waktu itu, aku kira segala kesialanku akan berakhir di sini. Tapi, sepertinya dunia masih memiliki rencana lain untukku.