
Jadi, kenapa aku harus mengikutimu?
Dia tersenyum, membuatku merasa sedikit tidak nyaman. "Sepertinya, kau masih belum mengerti posisimu," ucapnya dengan tenang.
Tanpa kusadari, dalam sekejap, aku merasakan sakit yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku memegang dadaku, seolah ada sesuatu yang memegang erat jantungku. Tidak, lebih tepatnya, sesuatu meremas jantungku dengan kuat.
"Dengarkan baik-baik, kau bukan memilih, tapi kau cuma menerima perintah," kata si cewek dengan nada yang tegas.
“K-Kau bisa berhenti, a-aku s-sudah paham,” gumamku dalam hati. Aku mencoba berdiri dengan susah payah karena rasa sakit yang menerpa dadaku.
Seperti angin yang berhembus, rasa sakitnya berlalu begitu saja, meninggalkan bekas keheranan di dalam diriku.
Aku ingin segera menyelesaikan masalah ini. Sebenarnya, apa kau ini? Aku bertanya dengan perasaan campur aduk. Tapi hanya senyumnya yang membalasku.
Hal yang selalu bisa menenangkanku hanyalah rumah. Yah, meskipun lebih tepat disebut kamar. Dinding-dindingnya berlapisan cat putih yang mulai mengelupas, sebuah kasur lipat sederhana dengan selimut polos tertata rapi di pojok ruangan, sedangkan di sudut lainnya terdapat meja kayu kecil yang berfungsi sebagai
tempat belajar dengan cermin retak. Di dinding hadapan pintu masuk, terdapat pintu yang menghubungkan ruang ini ke dalam kamar mandi. Cahaya redup dari lampu sederhana mengisi ruangan. Satu satunya dimana aku tidak perlu memertahankan apa pun.
Tapi, sekarang...Dia masih mengikutiku. Aku sudah mencoba mengabaikannya, tapi sepertinya dia tidak akan berhenti begitu saja.
Apa yang kau lakukan di sini? Kukira kamu terikat di sekolah atau semacamnya. Kenapa kau ikut aku?
"Aku sudah terikat denganmu, mau tidak mau aku harus berada di sekitarmu," jawabnya dengan nada datar.
Sialan, dia mengganggu sekali. Aku mencoba untuk mengusirnya dari pikiranku, tapi sepertinya dia tidak akan pergi begitu saja.
"Kalau aku cekik dia sampai pingsan, mungkin aku bisa kabur," gumamku dalam hati.
"Asal kau tahu, aku masih bisa mendengarkan pikiranmu," katanya dengan senyum yang menjengkelkan.
Dalam sudut kamar yang redup, aku meraih bungkusan makanan kucing yang terletak di atas meja. Aku membuka pintu kamar dan melihat si kucing yang sdang menunggu. Tubuhnya terlihat kurus, bulunya terlihat kusam di bawah cahaya rembulan. Aku berjalan perlahan menuju mangkuk yang diletakkan di luar jendela, menuangkannya. Pandanganku bertemu dengan mata hijau lembut sang kucing saat aku menutup pintu.
Meski hanya rutinitas sederhana, momen ini selalu membuatku merasa terhubung dengan makhluk lain di dunia ini, dan aku yakin, pada akhirnya, itulah yang membuat hidup menjadi indah.
"Tapi, gak kusangka kau ternyata pecinta kucing," godanya lagi.
“Pergilah, hush hush" ucapku dengan sedikit kesal.
"Sebanyak apapun aku mau pergi darimu, sayang sekali, aku gak bisa pergi jauh dari dekatmu," ucapnya sambil terus mengikutiku.
Aku mulai masuk ke kamar mandi, masih berharap dia akhirnya menghilang.
"Apa kau keberatan?" tanyaku mencoba tanpa menoleh padanya.
Dia memerah dan mencoba menutupi mukanya. "A-aku gak punya pilihan lain?" katanya dengan terbata-bata.
“Sudahlah, kau masuk saja, aku gak akan mengintip,” jawabnya. Aku baru pertama kali ketemu cewek ini tapi aku sudah mau memukulnya
Kabut tipis terhampar di udara, menciptakan suasana yang hampir magis di pagi hari. Aku merenung, membiarkan matahari perlahan menyingsing di cakrawala. Tapi di balik pemandangan indah ini, ada satu sosok yang mengganggu kedamaian – dia, seseorang yang selalu membuat hatiku berdebar dengan cepat.
Samar-samar, aku melihatnya dari kejauhan. Dia berdiri di sana, wajahnya memancarkan kemarahan yang begitu kuat. "Aku berharap, kamu cepat mati," katanya, suaranya penuh dengan amarah yang sulit disamarkan. Sambil berlari ke arahku, tatapan matanya memancarkan kebencian yang dalam. Wajahnya semakin terdistorsi
oleh emosi negatif yang menguasainya. Aku merasa sesuatu memegang dadaku, membuat napasku terasa sesak.
Tiba-tiba, aku merasa basah di seluruh tubuhku. Aku terbangun dengan jantung yang berdetak kencang, denyut nadi di pelipisku seolah ingin keluar dari tempatnya.
"Sial, kapan ini bakal berhenti?" ucapku perlahan, merasa frustasi dengan siklus tak berujung dari mimpi-mimpi ini. Aku merapikan napas dan berusaha menenangkan diri.
"Mimpi buruk?" ucapnya tiba-tiba. Dia muncul begitu saja, seolah mengambil tempat di dinding.
Aku mengangguk perlahan, masih merasakan detak jantung yang belum sepenuhnya kembali normal. Ya, aku memimpikanmu," ucapku dengan suara pelan.
Dia mengangkat alisnya dengan ekspresi meremehkan. "Kalau kupikir-pikir, kau lebih kurang saja, ya?" katanya dengan nada sedikit kesal.
__ADS_1
Aku berada di kelas, merasa lelah setelah kemarin menghadapi hari yang buruk. Tidak hanya dia yang selalu berada di dekatku, tapi juga dia gak bisa berhenti bicara. Aku mencoba mencekik si cewek hantu itu ketika dia tiba-tiba berbicara lagi. “Hoi, apa yang kau lakukan?” katanya dengan wajah frustasi.
Aku melihat sekeliling, tapi dia benar-benar tak terlihat ya? Enak, aku juga ingin seperti itu, berpikirku dengan sedikit kesal.
Dia tersenyum dan berkata, "Aku berani bertaruh kau gak akan suka."
Kemudian,perhatian kami beralih saat melihat Rico sedang terkerumuni oleh beberapa orang. "Wah,
dia itu sangat populer ya?" ucapnya.
"Gak kayak yang satu ini," tambahnya, tampak tertarik pada situasi. “Diam”, gumamku.
Tiba-tiba,seorang cewek berkacamata membawa minuman dan memberikannya ke Rico. Melihat itu, si cewek hantu menjadi penasaran.
"Kau kenal dia?" tanyanya padaku.
"Aneh kalau aku gak," jawabku singkat.
Dia adalah anak yang pintar, bahkan bisa dibilang jenius. Selalu mendapatkan nilai terbaik dan selalu berada di tiga teratas di kelas. Dia juga sering meraih posisi kedua dalam kompetisi matematika tingkat nasional. Tak hanya itu, dia sangat disukai oleh para guru. Katherine Angeline, kalau gak salah itu namanya.
Guru masuk ke dalam kelasnya, mengingatkan kami bahwa pelajaran sudah dimulai. "Ah, kelas sudah dimulai," ucapnya. "Aku harus pergi sekarang," dan dia menghilang menuju lantai.
"Sialan, kenapa gak lakuin itu sejak kemarin," gumamku dalam hati.
Istirahat dimulai, dan aku pergi ke kantin untuk membeli nasi. Setelah itu, aku duduk di tempat favoritku, di kursi taman pojok sekolah yang terlihat sepi, berharap bisa menikmati waktu santai sendirian. Namun, si cewek hantu kembali lagi, dan itu membuatku kesal. "Sialan, kenapa kau kembali lagi, padahal aku baru saja mau merayakan istirahat ini," gumamku. "Kau ternyata kurang ajar juga ya?" jawabnya sambil tersenyum penuh kesal.
Aku melanjutkan makan, mencoba mengabaikan kehadirannya. Namun, dia terus berbicara, "Kau kasihan juga ya? Sarapan cuma mi instan, lalu untuk makan siang kau harus beli nasi kucing."
"Kenapa gak beli yang lebih enak lagi?" tanyanya.
Aku tersenyum simpul. Bukannya kamu sendiri yang bilang, sudah memerhatikanku sejak lama.
"..." Dia tampak terdiam, seolah merenungkan perkataanku.
Aku bersiap-siap untuk pulang. Seperti hari-hari sebelumnya, waktu berlalu dengan cepat dan tak terasa begitu saja…Seharusnya begitu.
"Hai, kau kira bisa pulang begitu saja," ucap si cewek hantu dengan senyuman.
"Ck," gumamku sambil mengernyitkan kening.
Tepat saat aku berpikir dia tidak akan menggangguku, dia memberi kabar, "Aku sudah berpikir panjang dan keras. Akhirnya, aku menemukan tugas yang cocok untukmu."
Aku gugup, tidak tahu apa yang dia rencanakan kali ini. "Sekarang, apakah kau siap untuk melakukan 'perbuatan baik' pertamamu?" ucapnya dengan nada misterius.
"Kau harus membantu siswa yang piket untuk membersihkan kelasmu," ujarnya.
Aku menghela napas, merasa lega karena tugasnya tidak terlalu merepotkan. Meskipun gak terlihat seperti itu, aku memang tidak terlalu benci bersih-bersih.
“Untuk itu,.. Kau bisa memulainya sekarang” ucapnya sambil tersenyum. Seperti mantra sihir, kalimat itu menyebabkan rasa sakit yang kurasakan kemarin kembali lagi. Seperti memperingatkanku untuk tidak lari dari tugas ini. “Sialan, oke oke aku paham,” gumamku kesal.
Sebelum aku menyadarinya, aku dapat melihat kelasku yang sudah kosong. Tapi di situ, aku hanya dapat melihat satu siluet, aku dapat melihat Katherine yang piket. Sepertinya sekarang waktu dia untuk piket. Tapi, bukannya piket tugas kelompok?
Sekarang, gimana aku akan mendekati dia. Aku mulai menarik napas dalam dalam. Bagaimanapun juga, aku tidak terlalu sering berinteraksi dengan teman sekelas.
"W-wah, cuacanya bagus ya?"ucapku mencoba memulai percakapan.
“Woi, Sekarang mendung, cobalah untuk bersikap yang natural!” ucap si hantu, sambil menamparku. Tapi tangannya hanya menembus kepalaku.
“Aku sudah berusaha,” gumamku membalasnya. Sekali lagi, aku menghela napas, “A-aku sangat suka mendung” ucapku.
“Kau bisa berhenti sekarang” ucap si hantu, sambil menepuk mukanya.
__ADS_1
Tapi, aku memang suka mendung. Katherine menjawabku, tapi bukan dengan jawaban yang kukira. “Hei, aku boleh minta tolong gantikan aku piket? Aku ada urusan penting.” Ucapnya.
Okelah, begini juga bisa. “Ya, gak apa apa” jawabku.
“Bagus, lain hari akan aku gantikan” ucapnya sambil keluar dari kelas
“Gimana menurutmu? Kau berhasil membantunya, sekarang dia bisa segera menyelesaikan urusannya lebih cepat. Apakah kau merasakan apa – apa ?” ucap si hantu, sambil memandangi Katherine yang keluar kelas.
Apakah seharusnya aku merasakan sesuatu? Tapi dia menghela napas untuk membalasku. “Sepertinya masih terlalu awal.” ucapnya.
Mengabaikan jawaban dan kehadirannya, aku mulai bersih-bersih kelas.
Ditemani angin senja yang sejuk, aku selesai membersihkan kelas. Ketika melihat keluar dari jendela, aku melihat siswa-siswa lain masih asyik dengan aktivitas mereka. Meskipun langit sudah gelap, ternyata masih banyak siswa yang belum pulang. “Aku selalu lupa, betapa banyaknya siswa di sekolah ini.” gumamku sendiri. Beberapa sedang berolahraga, ada juga yang sedang pacaran, dan tentunya yang masih kegiatan
ekstra. Sejujurnya, aku agak bingung dengan yang mau ikut ekstra. Aku akan selalu memilih tiduran di kasur.
Tiba-tiba, Katherine masuk ke dalam kelas. "Ah, kau masih belum selesai ya?" tanya Katherine dengan nada cemas.
"Sebentar lagi, aku akan selesai. Yang lebih penting, bukankah kau ada urusan penting?" jawabku.
"Haha, ternyata urusanku selesai lebih cepat dari perkiraanku," kata Katherine tersenyum.
"Sudah gelap, aku mau pulang dulu. Jangan lupa tutup pintunya," pesanku saat hendak pergi.
"Okay. Thank you, thank you," balas Katherine
Aku melihat di leher Katherine ada memar, dan aku tidak butuh menjadi jenius untuk tahu tentang "urusan penting"-nya. Aku keluar dari kelas. Tapi wow…Mereka benar benar memukul seorang cewek, huh?
"Siapa sangka, orang seperti dia akan terkena rundung," ucap si hantu.
"Aku setuju, itu cukup menyedihkan," sahutku.
Si hantu tersenyum, dan aku baru sadar bahwa dia masih berada di dekatku. "Oh sial, aku lupa dia ada di sini," gumamku.
"Karena itu, bukankah harusnya kau melaporkan perbuatan Rico?" ucap si hantu lagi.
Aku mendesah, "Yang benar saja, bukankah kau sudah menyuruhku untuk melakukan piket hari ini? Lagipula, apa yang kau ingin aku lakukan? Ikut dipukuli?"
Si hantu mengernyitkan keningnya, "Lagi-lagi kau lupa ya? Aku lah yang memerintah," ucapnya dengan tegas. Aku merasa sesuatu meremas jantungku, tapi dengan sekuat tenaga aku mencoba mengabaikannya. "Ah, persetan. Kalau memang begini, mati saja sekalian."
Namun, rasa sakit itu tiba-tiba menghilang. Si hantu berkata, "Memangnya kau gak merasa kasihan? Setiap hari, cuma dipenuhi rasa rendah diri, cemas, takut, depresi. Gak tahan menghadapi mereka, akhirnya mals pergi sekolah. Prestasi sekolah menurun. Ketika malampun, dia cuma menemui kesulitan tidur. Aku penasaran, gimana kau bisa tidur nyenyak mengeahui ini semua?” ucapnya.
Tidur seperti biasa? Terus, kenapa itu harus jadi tanggung jawabku? Aku menghela napas dengan perasaan
campur aduk, , lalu menjawab, "Okelah, aku akan mencoba sesuatu. Tapi, jangan terlalu banyak berharap dariku."
"Nah, gitu dong," ucapnya dengan senyum puas sambil mengangguk setuju.
Aku memang menjawab begitu, tapi aku masih merasakan sesuatu yang salah. “Kamu sudah merencanakan ini, huh?” gumamanku dalam hati.
"Entahlah, siapa tahu?" jawabnya, dengan senyum simpul.
Aku pulang menuju kamar kosku, melepaskan ransel yang terasa berat di pundakku. "Jadi, apa rencanamu," ucap si hantu muncul di sampingku.
Aku tersenyum, merasa beruntung karena tidak perlu melakukan hal repot apa - apa. Di era digital ini, telepon bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan. Aku menunjukkan HP-ku, dan di dalamnya terdapat video dari insiden saat pertama kali bertemu dengan Rico. Saat itu, aku mencari tempat yang sepi, namun malah tak sengaja menemukan dia.
Si hantu terlihat kesal dengan video itu. "Tunggu, jadi kenapa kau gak segera melaporkannya ke guru?" tanyanya.
Kenapa harus? Toh bukan aku yang kena. Bukankah seharusnya korban yang melapor? Bahkan kalau aku melapor, gimana kalau mereka tak menanggapinya serius? Lalu, aku juga bisa menjadi korban. Aku gak mau mengambil risiko itu...
Si hantu menghela napas kesal,"Ck, aku tahu kau itu sampah, Tapi aku gak tahu kau sesampah ini." ejeknya padaku. Namun dengan tenang, aku membalasnya, “Ejek aku semaumu, tapi “ideal pahlwan”mu itu gak akan membawamu kemana-mana.”
Tanpa mengucap apa apa, dia menghilang menuju dinding. Seperti itu, dia gak berbicara denganku
__ADS_1
Yahh, bagiku itu adalah anugerah. Meski begitu, aku merasa aneh, dia pergi begitu saja tanpa ngomong apa – apa.... Yang lebih penting, biar dia segera pergi, besok aku harus segera melaporkan video ini ke guru.
Sayangnya, waktu itu aku gak tahu, aku akan membuat kesalahan, kesalahan besar