Reflection

Reflection
Chapter 8


__ADS_3

Aku berada di ruang guru, tetapi kali ini suasana sangat berbeda dari kunjunganku yang pertama kali. Ruangan itu terasa lebih hening dan tegang. Rasanya seperti ada beban yang mengendap di udara, memberikan suasana yang sangat berbeda dari biasanya.


Kami duduk berhadapan di ruang guru yang penuh dengan buku-buku dan dokumen. Sinar matahari yang masuk melalui jendela memberikan sentuhan hangat pada ruangan yang seharusnya nyaman, tetapi ketika dia mulai membuka mulutnya, suasana terasa sedikit mencekam.


“Bapak nggak sangka, Rico sampai sejauh ini,” ucap guru itu dengan suara yang terdengar penuh keprihatinan. Wajahnya terlihat serius, dengan kerutan di dahinya.


Bla bla… Dia lanjut berbicara. Sejujurnya, aku sedikit malas mendengarkan ocehannya. Kenapa kalian harus perlu korban dulu supaya kalian mulai bergerak. Tapi tiba tiba, dia sedikit mendukkan kepalanya. “Maafkan bapak,” ucapnya dengan suara rendah.


Sejujurnya, aku sangat kaget. Mungkin ini pertama kalinya kami berbicara dengan benar. Kalau sejak awal aku mencoba menjelaskan lebih baik lagi, apakah ada yang  akan berbeda? …Atau apakah ini efek guru bk baru itu?


Aku diberi selembar kertas dan sebuah pena. Dalam keheningan ruangan itu, aku mulai menuliskan semuanya. Aku mencatat setiap detail yang kuingat, dari saat pertama kali bertemu dengan Rico hingga saat insiden itu terjadi.


Setelah keluar, pikiran kosong menyambutku. Pundakku sedikit lemas. Aku gak sangka, akhirnya aku bisa melaporkan semuanya.


Dalam perjalanan kembali menuju kelas, aku berhenti untuk mengintip keadaan Rico di ruang bk. Aku bisa melihat guru bk yang sedang memarahi Rico. Tapi sayangnya, aku hanya bisa melihat punggung Rico.


"Gimana kau bisa sejauh ini, Rico?" terdengar suara tajam guru bk. "Kau kira sudah hebat? Bisa memukul anak


lain? Negara gak butuh orang sepertimu."


Yah, sepertinya situasinya gak baik…



Seperti magnet, setelah bel pulang sekolah berbunyi, tanpa sadar aku berjalan kembali menuju ruang bk.


Aku melihat ibu Katherine berdiri di depan pintu, air mata mengalir di wajahnya. Suaranya penuh dengan kekecewaan dan kesedihan saat dia memarahi ibu Rico, "Kenapa harus anakku? Apa salah anakku? Gimana kau bisa membesarkan anakmu hingga seperti ini?"


Aku tidak bisa mendengar semua yang mereka katakan, tapi suasana hati yang terasa dari ekspresi mereka sudah cukup memberi gambaran yang jelas.


Ibu Rico tampak tergopoh-gopoh mencoba menghentikan amarah ibu Katherine, tangan menggapai lengan ibu Katherine sambil berusaha menenangkannya. "Maafkan saya," ucapnya dengan nada yang rendah. "Saya mohon, maafkan anak saya."


Pikiranku melayang, aneh, padahal yang salah adalah anaknya, tapi mengapa ibunya yang meminta maaf?



Tak butuh waktu lama bagi Pak Suparno, wali kelasku, untuk mengumumkan keputusan yang sudah lama dinantikan: Rico, Dani, dan Bambang akan dikeluarkan dari sekolah ini...Yah, aku bohong. Dia bilang mereka bakal pindah sekolah. Tapi tetap aja, saat berita itu diumumkan, suasana di kelas seolah membeku. Pandangan mata kami berpindah dari wajah satu siswa ke wajah lain, mencari reaksi dan tanggapan yang terbentuk di ekspresi  mereka.


Tentu saja, ini adalah berita besar. Akhirnya, Rico dan sekutunya tidak akan dihadapkan pada penjara. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa pihak sekolah sangat berupaya untuk meredakan situasi yang memanas akibat insiden ini. Seiring dengan penutupan ini, rumor mulai beredar bahwa mereka akan pindah sekolah. Bagaimanapun juga, sekolah ingin menjaga nama baiknya dan tidak ingin terlalu mencoreng reputasinya. Mau gimanapun, Rico tetaplah wakil ketua OSIS.


Meskipun begitu, sesuatu masih mengganjal di dadaku. Aku masih merasa bahwa hanya dengan mengeluarkan mereka dari sekolah tidak cukup untuk mengatasi semua konsekuensi dari perbuatan mereka.


“Sepertinya ini yang disebut dengan 'sugarcoating the truth',” ucap si hantu yang tiba-tiba muncul dari dalam entah dari mana.


Tapi, apakah menurutmu ini sudah cukup? Apakah dengan hanya mengeluarkan mereka dari sekolah, semuanya kembali jadi normal begitu aja?


“Ini sudah merupakan cara terbaik,” sahutnya dengan tegas.

__ADS_1


“Kau hanyalah seorang siswa di sekolah ini,” kata si hantu dengan nada datar. “Kau gak berhak untuk menghakimi


orang lain.”


...Ya, mungkin itu benar.


“Memangnya ada apa?” tanya si hantu.


“Apa kau masih belum puas?” tanyanya lagi, suaranya terdengar sedikit mengejek.


Asal kau tahu, aku awalnya ingin melakukan sesuatu yang lebih. Aku merasa ingin teriak di wajah semua orang, soal kelakuan mereka. Aku masih merasa mereka lepas terlalu mudah.


Si hantu menghela napas dengan lelah.


“Kenapa kau masih belum puas?” lanjutnys, suaranya menunjukkan sikapnya yang tajam. “Sepertinya kau


masih meremehkan arti dari hukuman yang dikeluarkan sekolah ini.”


“Bayangkan, gara-gara dikeluarkan dari sekolah, mereka merusak peluang mereka untuk diterima di perguruan tinggi yang mereka inginkan,” lanjutnya.


“Atau bagaimana jika mereka diusir dan gak bisa menemukan sekolah lain untuk melanjutkan pendidikan mereka? Mereka akan kesulitan mencari pekerjaan hanya karena mereka tidak menyelesaikan SMA,” tegasnya.


“Bukankah itu sudah cukup?” sahutnya lagi, suaranya menunjukkan betapa seriusnya ia.


...


“Menurutku, rasa malu adalah senjata yang mengerikan,” tambahnya dengan ekspresi serius.


...Ya, terserahlah. Mungkin kau benar, tapi aku masih kurang terima.


“Yang lebih penting,” sambung si hantu dengan nada yang lebih ringan, “sekarang cepatlah, sebelum pelajaran berikutnya dimulai.”



Setelah kembali ke kamar kosku, aku kembali tenggelam dalam pemikiranku. Sepertinya aku terjebak dalam belantara pikiranku sendiri, mencoba mencari dimana letak kesalahannya. Akhir-akhir ini, pertanyaan itu terus berputar di kepala, menyusup ke dalam benakku tanpa henti.


Saatnya menggali lebih dalam. Apa sebenarnya yang mendorong Rico dan rekannya? Pertanyaan ini semakin mengganjal hatiku, dan akhirnya rasa penasaran membanjiriku sepenuhnya. Karena handphone-ku masih rusak dan aku membutuhkan akses internet, aku memutuskan untuk pergi ke warnet terdekat. Aku ingin memahami lebih dalam tentang latar belakang Rico, mencoba menyelidiki apa yang mungkin telah terjadi dalam hidupnya.



Pertanyaan-pertanyaan mengalir begitu saja. Apakah ini berkaitan dengan masalah mental? Apakah ini tentang


hasrat untuk merasa berkuasa? Atau ada perasaan iri? Tapi seiring waktu, jawaban-jawaban tersebut terasa tidak


sesuai.


Aku membuka akun Instagram Rico dari masa SMP. Aku menemukan bahwa Katherine ternyata berasal dari sekolah dan kelas yang sama dengan Rico. Aku mencoba menjaga jarak, tidak ingin terlalu terlibat dalam rumitnya urusan orang lain. Mungkin itu hanya bagian dari siklus semesta, pikirku saat itu.

__ADS_1


Namun, di dalam hatiku, sesuatu terus berputar. Ada sesuatu yang mencoba memaksa pikiranku untuk melihat lebih


dalam. Apakah siklus ini bisa dihentikan? Apa yang bisa dilakukan agar tindakan seperti ini tidak terulang lagi?


“Mungkin kau harus berhenti,” kata si hantu, muncul seperti biasanya dengan pandangannya yang tajam.


Ya, mungkin kau benar. Otakku gak cocok untuk hal seperti ini…Karena sudah terlanjur disini, satu match gak ada salahnya kan?



Karena beberapa hari ini aku jarang tidur, akhirnya semua kelelahan itu mulai menghampiriku, seperti bayangan yang menyusulku. Aku merasa begitu lesu dan letih.


Seperti hari-hari sebelumnya, langit senja mewarnai perjalanan pulang sekolahku. Aku berjalan melintasi koridor-koridor yang dulu begitu akrab, di mana riuh rendah tawa dan obrolan siswa masih terdengar. Di tengah perjalanan, pandanganku tertuju pada seseorang yang membuatku merasa berdebar-debar. Si Adit, dia yang menjadi katalis kejadian waktu itu.


"Apa yang kau lakukan? Sapa dia," bisik si hantu yang selalu menemani pikiranku.


"…Kenapa harus?" desahku lemah, mencoba menghentikan pertanyaannya.


"Sudahlah, lakukan saja," jawab si hantu dengan nada datar.


Dadaku terasa sesak, dan aku mengeluh pelan. Aduh, duh. Kurasakan napas lega keluar saat akhirnya aku memberanikan diri untuk menyapanya. Aku berjalan perlahan mendekatinya.


"Sore," sapaku dengan suara lembut, walaupun rasa gugup masih terasa.


Dia menatapku dengan tatapan datar, dan untuk sesaat sepertinya ia tidak akan merespon. Hati kecilku mulai memompa perasaan gugup. Tapi kemudian, Adit menjawab, "Sore."


Aku menoleh sedikit ke belakang setelah beberapa langkah berjalan, dan kurasakan senyum ringan terbentuk di


wajahnya.


"Gimana menurutmu? Jadi, sekarang kamu merasakan sesuatu?" tanyanya.


Jantungku berdetak cepat, hampir terdengar oleh telinga. Pundakku terasa rileks, seakan berusaha mengatasi gugup yang menyelusup. Aku merasa senyum merekah di wajahku, dan wajahku terasa panas saat merasa malu. Tanpa sadar, aku mencoba menutupi wajah dengan tangan kananku, mencoba menyembunyikan rona merah yang merayap di pipiku.


"Hehe, sesenang itukah kau digoda cewek cantik?" ujarnya dengan nada yang menyebalkan.


Memangnya kau termasuk cewek cantik?


"Kau mau berkelahi, ha?"


...Kalau kupikir-pikir, aku masih belum tahu namamu.


"Oh ya ampun, di mana sopan santunku," katanya sambil tersenyum.


"Kau bisa memanggilku Arina," lanjutnya.


"Oh, juga, aku sudah ngasih banyak libur. Besok kamu bakal lanjutin 'perbuatan baik'-mu. Kamu masih lupa, aku bisa membaca pikiranmu? Kamu gak bisa mengalihkan perhatianku selamanya."

__ADS_1


Sial, kukira itu bakal berhasil.


__ADS_2