
"Dasar!" Sang Jenderal Besar yang tengah bertarung dengan Wangquan Yan, musuh bebuyutannya pun langsung mengalihkan fokusnya. Melihat peristiwa tak lazim yang disebabkan oleh muridnya tersebut, ia pun menyeringai. 'Aku tahu, kita sudah tak bisa menyembunyikan lagi kekuatanmu yang sesungguhnya dari orang-orang wahai putri Irene ...,' batinnya.
Wangquan Yan yang melihat lawannya tengah mengalihkan atensi pun ikut melakukan hal serupa. Namun ia tak ingin berlama-lama menyaksikan peristiwa yang terjadi di atas sana. Baginya, itu hanya membuang-buang waktu.
Melihat celah dari Jingguo, Wangquan Yan pun ingin memanfaatkan hal tersebut dan memberikan serangannya. Namun tanpa diduga, Jenderal Besar Anming itu, ternyata masih mampu untuk mengelak.
"Wangquan Yan ..., mari akhiri semua ini!" Jingguo Li tersenyum, lalu menampakkan wajah seriusnya. Sang lawan yang melihat itu pun merasa tertantang.
"Kaulah yang menantang kematianmu, Jenderal Besar Anming!" Wangquan berseru, lalu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Petir pun tiba-tiba datang dan menyambar ujung senjata sosok Raja Sheng Ri itu.
__ADS_1
"Jangan kira aku tak bisa melakukan hal yang lebih hebat darimu, Raja Sheng Ri!" Jingguo tertawa keras, lalu tak lama, pusaran angin pun terbentuk dengan kilat yang menyambar-nyambar di sana.
Wangquan Yan yang melihat aksi Jingguo Li pun tertegun. Ia tak menyangka, Jingguo Li bisa melakukan serangan kombinasi seperti itu. Ia yang sudah berlatih lama saja, masih tak mampu. Namun, mengingat mereka berada pada tingkat kultivasi yang sama, ia pun kembali tersenyum.
"Aku akan menang," kata sang Raja. Ia pun memperbesar kekuatannya. Kini, petir-petir kecil yang terus menyambar menyerupai listrik pun menyelimuti tubuhnya. Dalam penampilan itu, ia tak tampak seperti Dewa Petir.
Jingguo Li yang melihat kekuatan musuhnya pun tersenyum lebar. Ia tahu, Wangquan Yan memang lebih memfokuskan diri pada kekuatan petir; sedang ia sendiri lebih memilih untuk melatih banyak elemen kekuatan sekaligus. Karena itu, jika diadu, maka sosok Raja Sheng Ri akan lebih hebat dari Jingguo Li soal penguasaan elemen petir.
"Pertempuran dua kultivator, tak akan berdampak baik untuk manusia biasa. Sebagai raja, kaupasti mengerti maksudku, bukan?"
__ADS_1
Wangquan Yan mendengus, lalu segera menerbangkan diri dengan kekuatannya. Hal yang sama dilakukan juga oleh Jingguo Li. Mereka pun terbang bersama menuju daerah padang yang lebih sepi. Lelaki itu sadar, meski tengah bertarung, ia tak boleh mengorbankan pasukannya sendiri. Apalagi, dalam pertempuran mereka tadi, memang ada beberapa korban yang meskipun tidak kehilangan nyawa, namun mereka terluka parah.
"HAAA!" Wangquan Yan berteriak kencang lalu segera memulai pertarungan dengan Jingguo Li kembali. Urat-uratnya tampak menonjol dalam penampilan Dewa Petir-nya.
Sembari bertempur, pikiran Raja Sheng Ri tersebut berkelana. Ia membayangkan masa lalunya—masa muda di mana ketika itu, persaingan antara dirinya bersama Jenderal Besar Anming telah berada pada puncaknya. Namun ia kalah dan ia tak bisa menerimanya, sebab kala itu, Jingguo Li dinobatkan sebagai murid paling genius di ordo mereka, Ordo Sheng Guang.
Kebencian di hati Wangquan pun semakin membara. Ia menyerang dengan membabi buta. Kilat-kilat kecil tetap meliputi tubuhnya. Matanya yang sebelumnya berwarna cokelat gelap seperti Orang Timur pada umumnya pun berubah menjadi abu-abu terang.
"Wangquan Yan, Sang Dewa Petir," lirih Jingguo Li. Lelaki tua itu tampak fokus memberikan perlawanannya. "Atau haruskah aku memanggilmu Wang'er? Kaumasih mengingatnya, kan, Teman Lama?"
__ADS_1
Ucapan Jingguo Li berhasil membuat Wangquan Yan melambatkan gerakannya. Keduanya, kemudian saling menatap dengan perasaan yang tertegun. Rasanya sudah lama sejak saat-saat itu berlalu.