
"Nyonya Esther, TIDAK!"
Para penyihir memekik ketakutan ketika melihat kepala Esther—wanita yang berada di pusat formasi—yang telah menggelinding setelah diputuskan oleh pedang Constantine Yang. Darahnya yang mengalir keluar tampak berwarna kehitaman dan ada asap gelap yang menyelimutinya, pertanda wanita itu bukanlah seorang penyihir murni.
"M—MONSTER! KAUPASTI MONSTER!"
Mendengar seruan penuh ketakutan itu, Constantine malah terkekeh. Hal tersebut, justru menambah kesan seram pada gadis itu.
"Siapa yang mau menjadi giliran selanjutnya?" tanya Constantine. Suaranya yang terdengar merdu, merasuk ke dalam jiwa-jiwa para penyihir yang menjadi lawannya kali ini.
"Masih mau melawan?" Constantine tersenyum tipis ketika melihat para penyihir mulai merapal dan memanggil kekuatan kegelapan untuk membantu mereka mengalahkan sang Jenderal Wanita.
Di sisi lain, tampak Zilin menghampiri Constantine, lalu mendekatkan kepalanya pelan ke gadis tersebut, meminta untuk dielus. Kuda kesayangan Jenderal Satu itu, memang manja kepada tuannya. "Meskipun sia-sia, kautahu kalau kita harus tetap menghargai usaha orang lain. Toh, kegagalan juga hasil, kan, Zilin?"
Seolah mengerti ucapan tuannya, Zilin pun mengangguk. Kuda itu, kemudian menghentak tanah dengan kuat hingga membuat sekeliling mereka bergetar. Para penyihir semakin terkejut dengan itu.
"Rekanku para penyihir—kuda itu, pasti bukan hewan biasa," lirih seorang penyihir yang terlihat lebih tua daripada teman-temannya yang lain.
"Jika kaukehilangan fokus, maka kaubisa menggagalkan usaha para rekanmu, wahai Fumu ...!" tutur Constantine dengan santai. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Gadis itu melemaskan kakinya, lalu bersandar pada Zilin-nya dalam keadaan berdiri.
Constantine Yang mengamati para penyihir yang melawannya dengan diam. Mayoritas dari mereka masih terlihat muda. Tentu saja, rahasia awet muda mereka adalah sihir. Penyihir sesat dan penyihir dengan elemen kegelapan, bisa menipu orang lain dengan sihir ilusi semacam itu.
__ADS_1
"Wahai kegelapan yang menunjukkan terang.
Kepada kegelapan yang melindungi kami dari marabahaya.
Cela di dalam setiap kebaikan di dunia.
Dengan kesesatan, kami berlindung kepadamu, wahai kegelapan.
Kesesatan yang melindungi.
Kegelapan yang menaungi.
Kebatilan yang merajai.
Celakakanlah musuh para penyihir kesesatan.
LENYAPKAN, SIRNAAA!"
Para penyihir berseru secara bersamaan. Constantine tampak kaget mendengar lantangnya vokal-vokal tersebut, namun kemudian, ia kembali santai. Dengan mata yang terpejam, ia merapal.
"Terang dan gelap yang melindungi.
__ADS_1
Kebajikan dan kebatilan saling mendirikan.
Jangan biarkan salah satunya merusak keseimbangan.
Kedamaian milik Bumi dan penghuninya.
Alam bersamaku, Constantine Yang.
Maka bantulah aku untuk kedamaian."
Setelah Constantine menyelesaikan mantranya, angin kencang datang. Energi para penyihir dan sang Jenderal Satu bertabrakan. Kedua kubu pun terpental; tapi tampaknya, itu tak begitu jauh memengaruhi Constantine.
Di dalam bersihir, sebenarnya, pengucapan mantra dan merapal bukanlah hal yang terlalu diperlukan. Pada dasarnya, para penyihir tinggal harus mengeluarkam mana yang telah mereka kumpulkan serta berimajinasi mengenai apa yang mereka inginkan—maka sihir, akan terwujud dengan itu.
Pengucapan mantra dan merapal, pada dasarnya adalah penegasan yang bisa memberikan kekuatan tambahan. Jika sihir dilakukan di dalam formasi atau berkelompok, maka ini bisa memperbesar kemungkinan sihir berhasil dan bukan malah berbalik menyerang para penciptanya.
Pada tahap tertentu yang hanya terjadi pada penyihir tingkat tinggi, pengucapan mantra dan merapal, akan tidak berguna lagi dalam hal menambah kekuatan, karena sebenarnya, sihir yang dilakukan oleh penyihir tingkat tinggi memang sudah sangatlah kuat. Namun ada pengecualian untuk beberapa teknik khusus, misalnya sihir mengendalikan pikiran, yang pengucapan mantra dan merapal, akan benar-benar berdampak besar.
"Oh—aku harus segera mengakhirinya. Kalian benar-benar telah membuatku rugi." Constantine menghela napasnya sambil mengingat-ingat para kesatria Anming yang telah ditewaskan oleh sihir musuh. "Takkan kubiarkan kalian bertambah kuat dengan membunuh keluargaku," lirihnya.
Cahaya berwarna hijau toska, kemudian menyelimuti tubuh Constantine Yang—pertanda bahwa ia telah mengumpulkan mana dari langit dan bumi. Itu artinya, dalam hal sihir, ia telah berada di level khusus yang menandakan kegeniusannya di bidang ini.
__ADS_1
Constantine tersenyum tipis. Tindakannya, ternyata menimbulkan sebuah peristiwa yang menarik perhatian banyak orang—aurora di gurun ketika siang hari. Gadis itu tahu, waktunya sudah tak lama lagi hingga identitasnya akan benar-benar terbongkar di hadapan semua orang; dan ketika itu terjadi, hidupnya, mungkin tak akan memiliki kedamaian lagi.
"Ibu—kauakan bangga pada putrimu ini," gumam Constantine Yang.