Reflection

Reflection
Pengorbanan


__ADS_3

Seperti rembulan yang memerlukan mentari untuk bersinar; rembulan yang tak dapat mengilaukan cahayanya sendiri, namun ia tiada lelah memberi ronanya kepada kita. Bahkan sang surya pun mendapat kilaunya dari Sang Pencipta.


Negeri kita ..., Anming kita tak bisa mendapatkan sinarnya sendiri. Ia memerlukan kita, orang-orangnya untuk menjaganya dan memuliakannya—menjadikannya tanah yang agung. Sama sepertiku, yang meski aku seorang Raja, namun aku tak akan bisa berdiri tanpa rakyat dan orang-orangku di sisiku.


Maka dengan ini, dengan aku sebagai penguasa Anming yang sesungguhnya, memintamu, Constantine Yang, untuk menjadi rembulan kami. Sebuah pengorbanan harus dilakukan demi kemerdekaan bangsa ini.


Dariku,


Raja Luo Yang, Sang Matahari Anming


.........


"Aku baru tahu ayahku bisa menjadi puitis seperti ini." Constantine menahan tawanya hingga kedua netranya menjadi basah. Ia menatap sosok Luo Yang dengan pandangan yang lucu.

__ADS_1


"Seorang calon penguasa diajari lebih banyak ilmu dari saudara-saudaranya," katanya, sambil mendengus.


"Tapi Pangeran Mahkota tidak terlihat seperti itu." Gadis itu menyeringai. Ia pun menaikkan alisnya ketika melihat ekspresi ayahnya yang masam. Sebuah pernyataan yang amat berkontradiksi dengan kenyataan.


"Memang tidak semua orang pantas. Dia hanya beruntung karena terlahir sebagai anak dari seorang permaisuri," sanggah Luo Yang.


"Kalau begitu, kenapa tidak menggantikannya?" Constantine menghela napasnya. Tidak. Bahkan, tanpa bertanya pun, sebenarnya ia sudah tahu alasannya. Karena ia bukan hanya seorang jenderal yang mengerti soal perang; ia juga seorang Tuan Putri yang mengerti dengan politik.


"Kautahu jawabannya, An'er ...!" lirih Luo Yang.


Kekuasaan memang membutakan dan kekayaan memang menggoda. Di masa mudanya, Luo Yang, bahkan tak bisa mengelak dari yang namanya harta, takhta, dan wanita.


Sebuah takhta memang harus dimiliki oleh seorang yang kompeten. Namun pewaris yang sekarang, sama sekali tak memilikinya. Akan tetapi, meski Feng Yang sosok yang sangat tidak kompeten sekalipun, sesuatu di baliknya adalah hal yang mengerikan.

__ADS_1


Permaisuri Chun berasal dari keluarga yang tidak sederhana. Keluarganya, Keluarga Maoyi adalah keluarga pedagang yang terkenal dan memiliki koneksi dengan beberapa kerajaan. Selain itu, mereka juga masih memiliki hubungan kekerabatan yang jauh dengan Keluarga Young yang memiliki status tertinggi di kekaisaran.


"Ambisi mereka memang mengerikan. Tapi, anak-anakmu yang lain memang tidak setangguh dia dalam hal menginginkan kekuasaan. Karenanya, yang lain menyerah terlebih dahulu jika ingin nyawanya selamat," tutur Constantine Yang, disertai kekehan kecil.


"Kaubisa mengalahkannya, namun kauterlihat sama sekali tak berminat dengan takhta," sahut Sang Raja. Ia menatap sang Jenderal dengan pandangan yang sulit diartikan.


Constantine meneguk ludahnya, lalu tersenyum dengan kaku. "Aku harap, pengorbanan yang kaumaksudkan bukan itu. Meski aku tak ingin menolak, namun aku juga belum siap menjadi Ratu. Kau—"


"Tidak, tidak! Bukan itu! Tapi mereka menginginkanmu!" Luo Yang menyela.


"Bukankah si Mesum itu sudah mati? Selain hal gila seperti ingin menikahkanku dengan mayatnya, apa yang mereka mau? Tidak! Mereka pasti mau memanfaatkanku, kan? Membunuhku yang genius ini, pasti rasanya merugikan."


Luo Yang hampir tersedak ketika mendengar kata-kata yang dipenuhi kenarsistikan oleh putrinya itu. Akan tetapi, hal tersebut amat mengingatkannya pada masa mudanya dulu, di mana ia, meskipun kalah kekuatan dengan Jingguo Li, namun kecerdasan yang dimilikinya, amat tidak bisa diremehkan. Hal itulah yang selalu disombongkannya.

__ADS_1


"Sudah saatnya kaukembali, An'er ...!"


__ADS_2