Reflection

Reflection
Terbangun dan Meratapi Kekalahan


__ADS_3

Aku tahu—tidak—bahkan semua orang pun tahu bahwa menjadi seorang putri ataupun pemimpin bukanlah hal yang mudah. Meskipun terlihat menyenangkan karena kami bisa hidup dengan bergelimang harta, namun di balik itu, tersimpan banyak kesuraman yang coba kami sembunyikan.


Sebagai seorang putri dan juga jenderal, tentunya, aku memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keselamatan rakyatku, bangsaku, dan kerajaanku. Melakukannya, tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak pengorbanan yang harus aku lakukan demi mereka yang aku cintai ini.


Bukannya aku tak ikhlas, hanya saja ... salahkah aku jika terkadang masih menginginkan kebebasan? Apakah aku tidak boleh sekali saja bersikap egois dan melepaskan semua tanggung jawab ini?


Namun, itu hanya sebatas pikiran yang mungkin tak akan pernah terwujud di sepanjang hidupku. Toh, aku sudah menerima nasib dan tanggung jawabku. Aku pun telah mencintai mereka dengan sepenuh hatiku.


Mereka memberiku semangat. Mereka mencintaiku seperti aku yang mencintai mereka. Dengan ini, semuanya jadi terasa lebih mudah—ya, meski aku tahu pula jika ada orang yang membenciku.


Aku mencintai kedamaian walaupun sisi lain dari diriku, terkadang berbisik kepada diriku yang lain. Ia mengatakan akan kekacauan, kehancuran, kegelapan, pembantaian, dan segala hal buruk lain. Inilah sisi kelamku—orang-orang menjulukinya Dewi Kematian ~ MONSTER!


Ada kalanya aku membenci sisi diriku yang jahat ini. Aku ingin melawannya, namun melakukannya, seolah membuatku yang kuat ini, menjadi tak berdaya. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah menahannya, agar sisi lain yang jahat ini, tak bisa mengendalikan diriku.


Sejujurnya, perang pun adalah suatu hal yang aku takutkan. Karena aku takut mengecewakan banyak orang. Aku takut mereka akan membenciku karena ini. Aku takut musuh-musuhku akan mengambil segala hal yang aku cintai.


Aku takut dengan kekalahan.


Namun sekali lagi, sisi lain dari diriku berbisik dan memberiku kekuatan serta keberanian. Setidaknya, aku harus bersikap optimis dan memberi contoh yang baik untuk para kesatria dan rakyatku.

__ADS_1


Keraguan adalah musuh besar bagi seorang kesatria. Maka dari itu, aku pun melawannya, hingga kini, aku berhasil menaklukannya.


Aku memang bukan manusia sempurna. Namun setidaknya, aku mampu mengatasi ketidaksempurnaan itu.


Aku memang bukan manusia yang tak memiliki kelemahan. Namun setidaknya, aku bisa mengatasi kelemahan-kelemahan itu.


Oh—aku ingat apa yang terjadi. Pertempuran dengan kekaisaran itu, memberi kami semua banyak hal yang menakjubkan.


Ini tentang aku yang sebenarnya.


Ini tentang kekaisaran dan penyebab peperangan yang begitu misteriusnya.


Ini tentang keluarga.


Ini tentang persaudaraan.


Ini tentang kebersamaan dan solidaritas.


Mungkin ..., ini juga tentang Chen Li yang selama ini, ternyata mencintaiku. Namun, ia telah tumbang. Ia berkorban demi aku. Tapi setidaknya, kami bangga kepadanya dan dia pun turut bangga kepada dirinya sendiri, yang telah gugur sebagai pejuang—pahlawan bangsa yang akan terkenang.

__ADS_1


Sialnya, aku menjadi lemah. Senjata mereka, seolah menyedot kekuatanku. Aku pun kesulitan untuk memulihkan tenagaku kembali.


Meski aku bisa menggunakan qi dan mana, namun itu bukan hal yang mudah. Dalam kondisi lemah, tubuhku bisa terancam jika terlalu berlebihan melakukannya. Sayangnya, dalam kondisi seperti ini, mereka malah menyerang.


Pada akhirnya, aku dan yang lain tetap berjuang, meski sebenarnya, kami pun butuh beristirahat.


Terkadang, aku benci menjadi sok kuat seperti ini—namum itu, memang keahlianku. Setidaknya, aku tak ingin terlihat lemah dan mengecewakan mereka-mereka yang mempercayaiku.


Ah, ya—aku mengerti, ada sesuatu di balik semua ini. Ini semua, pasti rencana pihak kekaisaran. Mereka telah melemahkan Jenderal Besar, dan tinggal aku penghalang satu-satunya mereka untuk meraih kemenangan.


Mereka pun sadar bahwa tak semudah itu mengalahkanku. Karena itu, mereka pun menyiapkan plan.


Sekarang, aku menyadarinya. Tapi terlambat, karena aku telah merasakan efeknya. Mereka berhasil melumpuhkanku. Membiusku—mereka melakukannya.


Aku terjatuh—tampak tidak berdaya. Bukankah itu mengenaskan?


Rakyatku, tuan putri yang kalian banggakan ini telah tumbang. Apakah aku mengecewakan kalian?


Kesatriaku, jenderal yang kalian tinggikan ini telah tumbang. Apakah aku mengecewakan kalian?

__ADS_1


Constantine Yang yang luar biasa kuat ini telah tumbang. Sekarang, apa yang harus kulakukan? Apakah aku ... hanya harus terbangun, lalu meratapi kekalahan?


Namun aku, tak ingin menjadi pecundang.


__ADS_2