Reflection

Reflection
Tersadar


__ADS_3

Ketika aku membuka mata, pandanganku terasa buram. Keadaan sekitar pun terasa sepi dan suram.


Ketika pandanganku mulai menormal, tak dapat kutemukan seorang pun yang bisa menjelaskan kepadaku apa yang sedang terjadi. Sungguh aku membenci suasana ini.


Tubuhku terasa benar-benar lemas. Untuk menggerakkan jari-jariku saja, aku tak sanggup. Selain dikarenakan efek dari obat bius, tak bergerak selama beberapa waktu lamanya, memang terkadang memberi efek semacam kelumpuhan.


'Apa yang terjadi?'


Aku jadi gelisah membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi. Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Namun sesingkat apa pun masanya, tetap saja ada pengaruh yang menjadi dampak atas apa yang kualami.


Apakah kamu telah kalah?


Tidak—bukannya aku tidak mempercayai para kesatriaku. Hanya saja, terkadang kita memang harus melihat kapasitas yang kita miliki. Memang begitulah realistisnya. Apalagi, kerajaanku memang telah kehilangan banyak pasukan.


Kenapa jadi seperti ini?


Mereka melumpuhkanku—sangat memalukan!


Di mana harga dirimu, Constantine Yang?


Kenapa kaujadi lemah?


Ke mana sosokmu yang kuat itu?


Aku mengedipkan kedua netraku yang terasa memanas. Ingin rasanya aku menangis dan melepaskan segala beban di dadaku. Ini berat—sungguh!


Sial! Kenapa susah sekali menggerakkan badan?

__ADS_1


"Constantine ...!"


Terkesiaplah aku mendengar vokal itu. Terdengar tak asing. Namun mengingat sosok itu, rasanya tak mungkin. Bukankah dia telah—


"Constantine ..., kaumelupakanku? Ini aku, Chen Li!"


Eh—apa?! Katakan sekali lagi!


Chen Li?! Bukankah Chen Li sudah tiada? Apakah ini sihir ilusi? Atau jangan-jangan, aku hanya sedang bermimpi.


"Hey, dengar—bisakah kauberbicara? Coba ucapkan huruf A. Panjangkan ...! Atau huruf lain terserahmu," katanya.


Tidak. Aku tida sedang bermimpi. Suara menyebalkan ini dan tingkahnya yang juga menyebalkan ini—terasa sangat nyata!


"K—kauma—sih hi—dup?" tanyaku, dengan kerongkongan yang tercekat.


"Kaumau minum? Pasti haus. Kausudah tidak sadar selama lima hari. Beruntungnya kauseorang kultivator—jika tidak, kauakan mati di hari hari kedua karena dehidrasi dan kekurangan nutrisi," tuturnya. "Sayang sekali aku tak bisa menolong. Aku sudah menjadi roh sekarang," sambungnya.


Tunggu! Jika dia sudah menjadi roh, lantas kenapa dia masih di sini? Bukankah seharusnya dia telah pergi ke alam yang jauh sana? Memangnya dia memiliki beban apa, hingga membuat jiwanya tertahan di sini?


"Berusahalah untuk menggerakkan tubuhmu. Setelah itu, pulihkan sebentar tenagamu. Aku akan menceritakan semuanya jika kausudah sedikit lebih baik."


Aku tak tahu harus mengatakan apa. Meski hanya hanya suaranya yang bisa kurasakan, ada sedikit rasa tenang dan senang di nuraniku, karena ada sosok yang bisa memberi penjelasan kepadaku.


"Tarik napasmu dalam-dalam. Keluarkan. Berikan sugesti positif di otakmu. Sistem-sistem di otaklah yang mengendalikan saraf-saraf di tubuh kita. Setidaknya, itu yang kutahu," kata Chen Li.


Dengan kaku, aku mencoba menarik kedua sudut bibirku. Kupejamkan mataku, lalu kulakukan apa yang dikatakannya.

__ADS_1


Dengan usaha, aku pun bisa menggerakkan kepalaku. Ketika menoleh, akhirnya, aku bisa melihat sosok rekanku itu. Ia duduk menatapku dengan wajah angkuh nan menyebalkan yang khas itu. Namun, melihat wujudnya yang menjadi tembus pandang, aku merasa aneh.


"Tak ada orang di sini selain kau. Mereka ada di jarak sekitar satu mil dari sini."


Aku hanya berdeham mendengar itu. Secara perlahan, kugerakkan kedua tanganku ke atas. Kemudian, aku melirik ke sisi kiri tubuhku, di mana ada sebuah gelas di sana.


"Mereka menyiapkannya untukmu, karena mereka pikir, kauakan sadar ketika mereka tak ada. Minumlah. Berhati-hati dan jangan sampai tersedak. Aku tidak bertanggungjawab jika kaumenyusulku nanti karena itu. Tapi konyol sekali jika wanita kuat sepertimu harus mati dengan cara semacam itu. Sangat tidak elegan."


Aku mengabaikan sebagian besar kalimatnya. Dengan hati-hati, kuraih gelas itu, lalu meminumnya. Sebagian airnya tumpah, namun setidaknya, aku merasa lebih baik sekarang.


Kududukkan tubuhku yang terasa sangat pegal. Dengan kaku, mulai kulakukan sedikit peregangan. Kedua netraku menatap Chen Li dengan dalam.


"Ceritakan!" kataku, singkat.


"Bukankah menyakitkan jika gadis yang aku cintai membalas kata-kataku yang panjang itu, hanya dengan sebuah kata yang bahkan merupakan kata perintah?"


"Cerewet! Apakah mati membuat seseorang jadi berisik seperti ini?"


Aku menatapnya dengan jengah. Ingin berdiri, namun tak sanggup. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk merangkak demi meraih tong air yang jaraknya dua meter itu.


"Aku suka melihatmu yang seperti itu. Kaujadi lucu dan imut seperti bayi jika merangkak seperti itu," katanya, sambil tertawa. Aku pun menggeram, lalu menatapnya dengan tajam.


"Ceritakan! Jangan mengatakan banyak omong kosong di waktu yang tidak tepat," ujarku. "Katakan dengan singkat, padat, dan jelas! Kita tidak punya banyak waktu."


"Baiklah ...! Tapi jangan kaget dengan apa yang aku ceritakan sebelum kautersadar dari efek obat bius itu."


Sekali lagi, aku hanya menggerakkan kepalaku secara vertikal—ke atas dan ke bawah.

__ADS_1


__ADS_2