
"Ini gila! Mereka sudah membunuh Jenderal Chen Li!"
Ma Zhengyi, Jenderal Lima itu berteriak kesal sambil mencengkeram erat senjata pemukulnya. Dadanya yang naik turun, menggambarkan emosi yang tak terkira.
"Kita sudah kehilangan banyak kekuatan. Tidak bisa seperti ini! Apalagi, Jenderal Besar masih belum sadar," kata Shi Jian. Ia tampak tertekan dengan keadaan.
"Jenderal Satu, tidakkah kaubisa menyadarkan Jenderal Besar dan membuatnya pulih?" Xingxing Tang bertanya, sekaligus memberi saran. Lelaki itu menatap para kesatria dengan hati yang melunak melihat perjuangan mereka. Matanya memerah penuh haru.
"Tentu! Tentu aku bisa! Tapi paling tidak, aku harus memulihkan diriku dulu. Mereka memiliki senjata yang aneh. Seakan tiap luka yang ditimbulkan oleh senjata itu mampu menyedot kekuatanku. Aku kehilangan banyak qi dan mana," tutur Constantine. Gadis itu menggeleng dengan pasrah.
"Mereka pasti punya rencana. Kekuatan terbesar kita, adalah Jenderal Besar dan Jenderal Satu. Bukankah ini berbahaya?" Ma Zhengyi merenung. Kemudian, ia merapatkan mantel bulunya, merasa kedinginan. "Bahkan, malam ini terasa lebih dingin. Aku tidak yakin para kesatria kita bisa memulihkan diri dan beristirahat jika seperti ini," keluhnya.
__ADS_1
Constantine menatap kosong ke depan. Pasir terhampar luas di depan matanya, seolah tanpa batas. Di sana, jejak-jejak pertarungan masih berbekas. Beberapa potongan tubuh, mengingatkannya pada kejamnya dirinya ketika membunuh musuh-musuhnya.
"Kalian ..., tidak takut padaku?" tanya Constantine, pelan. Ia menatap para jenderal dengan tatapan datar. Para kesatria, tampaknya juga mendengar itu.
"Untuk apa? Anda tidak akan menyakiti kami, Jenderal ...! Anda melindungi kami, bukan?" Salah seorang kesatria wanita menyahut. Terlihat, dengan sebuah pedang, ia memotong-motong daging untuk dibagikan ke para kesatria lain.
"Tidak. Maksudku ..., aku sudah membunuh banyak orang dengan cara yang kejam. Kalian ..., tak takut aku melakukan itu kepada kalian?" Constantine kembali bertanya. Namun mendengar itu, semua orang malah tertawa, seakan-akan apa yang dikatakannya adalah hal yang konyol.
"Kami tidak mungkin meragukan Dewi Pelindung kami. Benar, kan?" Han menyahut dengan suara yang lantang. Lelaki itu menatap Constantine dengan penuh kekaguman. Ia memang sangat mengidolakan perempuan muda itu.
Constantine Yang menghela napasnya, lalu tersenyum lebar. Sorotnya yang biasanya tajam, kini tampak sayu, membuat orang-orang mengkhawatirkan itu. Namun, hal semacam itu semestinya wajar, mengingat Constantine jadi kekurangan waktu istirahatnya semenjak perang—bahkan, semua kesatria dan jenderal pun turut mengalami hal serupa.
__ADS_1
'Sayang sekali butuh waktu yang lama agar tenagaku bisa pulih. Bahkan, untuk perang besok, tenagaku akan berkurang lagi,' batin Constantine. 'Lagi pula, bukankah bantuan dari pasukan rahasia seharusnya telah tiba? Mereka ..., tak mungkin ada yang menghalangi, kan?'
Isi otak Constantine berkecamuk. Gadis itu menatap sekelilingnya sambil berpikir keras. Jika pasukan rahasia benar-benar tak bisa datang, maka tentu saja ia harus memikirkan rencana lain.
"Jenderal Tiga?"
Panggilan dari Constantine membuat Shi Jian menoleh. Bisa dilihatnya Constantine tersenyum, lalu memberikan sebuah botol berukuran kecil. Dengan senang, ia pun menerima itu; sedang jenderal lain, tampak merasa iri.
"Jenderal Satu—jangan lupa, aku dan Kak Tang juga sudah menghabisi beberapa tokoh penting," ungkap Ma Zhengyi.
"Tentu kalian akan mendapatkannya juga. Itu racun khusus yang efeknya jauh lebih kuat dari racun biasa. Aku juga ingin membagikan racun untuk setiap kesatria untuk berjaga-jaga. Aku membawa banyak di ruang penyimpananku. Juga ..., selimut. Sayang sekali Jenderal Besar yang membawanya di ruang penyimpanan miliknya."
__ADS_1
Constantine menatap sendu ke Jingguo Li yang terbaring lemas. Ia sangat berharap bisa memulihkan gurunya itu. Sialnya, kemampuannya dalam memulihkan kekuatan dengan cepat, belumlah terlatih. Sekarang, orang-orang hanya bisa berharap kepadanya.
Constantine termenung selama beberapa saat, sebelum akhirnya, sesuatu terlintas di benaknya. "Jenderal Dua, mungkinkah ada penyusup di antara kita? Apakah kautidak berpikir, bahwa musuh seolah-olah tahu dengan pola serangan kita di hari pertama? Mereka, bahkan menyerang pasukan-pasukan yang terlihat kuat terlebih dahulu, baru yang lemah," bisiknya. Xingxing Tang yang mendengar itu pun membelalakkan matanya.