Reflection

Reflection
Dia yang Diharapkan


__ADS_3

Constantine Yang menyorot dengan tajam sosok-sosok di hadapannya. Ia menggenggam kuat pedang di tangan kanan dan tangan kirinya. Diputarkannya kepalanya selama beberapa saat, sebelum ia berlari menerjang Youli Young.


Youli Young pun terkesiap karena dalam satu kedipan matanya, Constantine telah berada di hadapannya lalu melibaskan pedangnya menuju kedua lengannya yang tak terlindungi suatu apa pun. Ia tak sempat menghindar mengingat gerakan Constantine yang sangat cepat.


"Yang Mulia!"


"TIDAK!"


Datang mengalir deras dari tangan Youli yang telah terpotong. Tubuh lelaki itu bergetar seketika itu juga. Matanya menyiratkan keputusasaan, kesedihan, dan kemarahan di saat yang bersamaan.


"Constantine Yang, kauharus membayar ini! Jadilah selirku, maka aku akan menyuruh pihak kekaisaran memaafkanmu," katanya, sambil menggeram.


Constantine mendengus pelan. Ia menaikkan alisnya, lalu tersenyum meremehkan. "Untuk apa aku melayani orang tak berguna sepertimu? Lagi pula, ini hari terakhirmu di sini," desisnya.


"Oh—aku suka kepercayaan dirimu. Kau—"

__ADS_1


"YANG MULIA!"


Semua orang terkejut ketika melihat kepala Youli Young yang dalam hitungan detik telah menggelinding di atas pasir. Tubuh tanpa bagian teratas itu, kemudian terjatuh. Ekspresi tak percaya terlihat di mata mereka. Bahkan, kepala yang telah terpisah dari badannya itu pun, menunjukkan ekspresi serupa.


"Berisik." Constantine berujar dengan singkat. Tatapan matanya sangat dingin. Dengan auranya yang kuat, ia pun berjalan menghampiri Jenderal Besar bersama ketiga jenderal dan para Kesatria Anming lainnya.


"Kalian ... baik-baik saja?" tanya Constantine, dengan senyum getirnya.


"Syukurlah kaudatang. Kami benar-benar terdesak. Maaf atas kegagalan ini," tutur Xingxing Tang dengan kepala tertunduk. Ia mengembuskan napasnya panjang.


"Terima kasih. Aku tahu kaumemang kuat dan tak akan menyerah semudah itu. Kauharapan kami. Senang sekali bisa melihatmu seperti ini. Meskipun kalah, setidaknya, kita akan menghadapi ini bersama-sama. Bagiku dan bagi kami semua, kautetap luar biasa." Shi Jian tersenyum di balik wajah pucatnya.


"Aku ... percaya kepadamu," kata Jingguo Li, singkat. Tatapan matanya sudah berkaca-kaca. Jika Constantine tak ada, ia, mungkin tak akan menjadi setabah ini. "Tapi ..., kita sudah kalah. Maaf atas kegagalanku. Aku mengecewakanmu."


"Kalian tak pernah mengecewakan aku. Karena apa yang kalian usahakan saja, sudah menjadi suatu kebanggaan bagiku." Constantine tersenyum tipis. Dipegangnya rantai yang menjerat tubuh keluarganya itu. Tak butuh waktu lama, besi itu pun hancur berkeping-keping.

__ADS_1


"NONA, SAYA HARAP ANDA MENGERTI POSISI ANDA SEKARANG! JANGAN MELAWAN ATAU—"


"Aku tahu." Constantine menyahut dengan dingin. Ia menjatuhkan kedua pedangnya. Dihampirinya tubuh sang Jenderal Besar, lalu dipegangnyalah kedua bahunya.


"Guruku adalah seorang pemimpin hebat—Jenderal Besar yang dikagumi oleh banyak orang, termasuk muridmu ini," katanya. Ia memeluk tubuh yang tampak lemah itu.


"Apa aku terlihat menyedihkan? Kaupulih dengan cepat." Jingguo Li membalas pelukan Constantine. Ia memandang sekelilingnya dengan getir. Tampaklah bekas pertempuran hebat beberapa saat yang telah berlalu.


"Hey ..., mau bagaimanapun, kautetap tampan dan gagah. Kontrak dengan roh membantu memulihkan tenaga," ungkap Constantine. Jingguo yang mendengar itu pun menaikkan alisnya penasaran. Ia ingin mendengar cerita lebih banyak lagi.


"Aku senang kaumembunuhnya. Sungguh, aku tak akan terima jika gadis yang dicintai sahabatku harus menjadi selir dari sampah sepertinya," kata Ma Zhengyi.


"Setidaknya, kalah pun, kita harus tetap bersama. Kita adalah keluarga." Xingxing Tang tersenyum, lalu memeluk Constantine. Ia menepuk pelan kepala gadis yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri itu.


"Pertempuran, ternyata memang berdampak besar pada kedekatan kita semua. Senang rasanya melihat kalian bisa saling merangkul. Saat awal-awal dulu, kalian menentang sekali keberadaan Jenderal Satu," ujar Shi Jian. Ia menepuk pelan bahu ketiga jenderal.

__ADS_1


"Hentikan drama kalian! Kalian tak mau melihat bagaimana keadaan Kerajaan Anming dan rakyatnya? Aku ingin melihat bagaimana reaksi mereka. Apakah mereka akan menyambut kalian dengan suka cita, atau ... kebencian?" Seorang pria berujar dengan angkuh.


Jenderal Besar, wakilnya, dan jenderal-jenderal lain pun saling menatap oleh kalimat itu. Benar—bagaimana reaksi Rakyat Anming terhadap kekalahan ini? Apakah mereka akan ... dibenci?


__ADS_2