Reflection

Reflection
Menerima


__ADS_3

Kekalahan bukan akhir dari segalanya. Setidaknya, itulah yang Constantine Yang pelajari di sepanjang hidupnya.


Constantine tahu, saat-saat seperti ini, pasti akan tiba juga pada akhirnya—sebab, roda kehidupan terus berputar.


Kerajaan Anming adalah kerajaan yang sukses dengan militernya. Semua orang mengerti, meski jumlah kesatria di Anming tak seberapa jika dibandingkan kerajaan-kerajaan lain, namun mereka benar-benar tak bisa diremehkan dan tak terkalahkan.


Selama ini, Anming telah berjaya dalam banyak aspek bidang yang ada. Namun, kini sudah saatnya kerajaan tersebut kehilangan pamornya. Berkah yang konon katanya datang dari para penyihir abadi ratusan atau bahkan ribuan tahun silam, kini seolah kehilangan kemuliaannya.


Akan tetapi, kalah bukan berarti menyerah. Selagi tekad masih membara, maka harapan akan datang mengiringinya.


Constantine Yang yakin, suatu hari nanti, dia bisa merebut kembali kerajaannya dan kemerdekaan bangsanya. Karena dia Constantine, yang berarti keteguhan. Ia akan menjadi sekuat nama yang dibanggakannya. Ia tak akan mengecewakan Irene, ibunya, yang telah memberi nama itu.


"Kaumelakukan kontrak roh? Bagaimana bisa?" tanya Jingguo Li dengan pelan. Pria tua tersebut menatap sosok Constantine dengan pandangan heran.


Saat ini, Constantine dan rombongannya tengah berada dalam perjalanan pulang. Di sisi-sisi barisan, tampak pula kesatria-kesatria kekaisaran yang dihadirkan untuk mengawasi mereka.

__ADS_1


"Jenderal Chen," jawab Constantine singkat, namun Jingguo Li langsung memahaminya.


"Bagaimana bisa? Bukankah seharusnya ...—"


Sang Jenderal Besar tak melanjutkan ucapannya. Ia bingung memilih kalimat apa yang tepat digunakannya. Constantine yang memahami itu pun menjelaskan.


"Itu janjinya."


"Dia memang sungguh mencintaimu," jelas Jingguo. Ia mengembuskan napasnya dengan berat dan panjang. Dipandanginya sosok sang gadis dengan dalam. "Aku tak menyangka di pergi secepat ini dan dengan cara yang seperti ini," sambungnya.


Jingguo Li menyorot ke langit sambil terus memacu pelan kudanya. Lelaki itu menarik kedua sudut bibirnya. Ia tersenyum lemah. Bahkan, ia sendiri pun tak percaya bahwa seperti inilah akhirnya.


"Siapa yang percaya bahwa ini aku?"


"Benar! Kauseperti bukan guruku yang penuh semangat itu. Kaumenjadi orang lain. Ah—sangat tidak menyenangkan! Jenderal Besar Anming kehilangan dirinya sendiri," ejek Constantine.

__ADS_1


"Kaumemang tidak bisa memahami perasaan seseorang dengan baik. Perasaan Jenderal Chen Li saja, kautidak memahaminya meski kami semua telah mengetahui itu," kata Jingguo.


Constantine pun menggeleng. Perkataan lawan bicaranya itu, memang tak bisa dibantahnya. Akan tetapi, memang begitulah kelemahannya. Ia adalah sosok yang sangat tidak peka.


"Jadi, apakah si Bajing^n itu sering cari gara-gara denganku karena itu? Karena dia menyukaiku dan ingin menarik perhatianku?" tanya Constantine.


Jingguo Li tak sanggup berkata-kata mendengar julukan kasar dari wakilnya itu. Sesaat kemudian, ia pun mengangguk dan membenarkan. Bisa ia lihat seringai yang tiba-tiba muncul di wajah rupawan itu.


"Kaumengingatkanku pada Irene—tapi kalian tetap saja berbeda. Irene adalah sosok yang tangguh dan elegan, sedang kau ...—" Jingguo Li mendengus ketika melihat wajah menyebalkan dari muridnya itu.


"Sisiku yang ini memang menyebalkan," tukasnya, mengakui.


Constantine, kemudian terus menatap ke depan dan tak berbicara lagi sampai berjam-jam kemudian. Pikirannya melayang dan terjatuh pada janjinya saat itu. Mulai sekarang, ia tak akan lagi mendatangi makam Irene hingga ia bisa merebut kembali kemenangannya.


Meski sulit, untuk sekarang, mau tak mau pun Constantine Yang harus tetap menerima kekalahannya. Benar—dan untuk mendapatkan kembali kemenangan itu, maka ia hanya harus menerima masa sekarang sembari terus menjaga bara di nuraninya agar tak pernah padam sepanjang waktu.

__ADS_1


Menang atau kalah, kita sendiri yang menentukan. Mereka ..., bisa menaklukkan ragamu, tapi ... jangan biarkan jiwamu kalah.


__ADS_2