Reflection

Reflection
Chapter 7


__ADS_3

Aku memandangi pemandangan di hadapanku, sementara matahari mulai menyingsing dengan anggun. Tetapi, di tengah keremangan pagi yang memukau, ada dia yang terlihat dari kejauhan. Wajahnya terpancar dengan  kemarahan yang menggelegar. "Anjing, kau pikir bisa santai santai aja?!," ucapnya, suaranya penuh dengan amarah yang tidak mampu tersembunyi. Langkahnya semakin mendekat, dan tatapannya menusukku dengan kebencian yang dalam.


Kepalaku memanas, aku sudah mulai bosan dengan keadaan ini. “Siapa sih, bangsat!”.


Wajahnya, terombang-ambing oleh emosi negatif, menjadi terdistorsi dengan mengerikan. Dan tiba-tiba saja, aku merasa sesuatu menggenggam dadaku, mengurung napasku dalam rasa sesak yang asing.


Mendadak, aku terbangun dalam keadaan basah kuyup. Jantungku berdetak secepat dentingan lonceng, denyut nadi di pelipisku terasa seolah ingin keluar dari kulitku.


Di sana, di dekat dinding, dia muncul begitu tiba-tiba. "Kau sudah siap?".


“…Emang ada jalan lain?” Aku menghela napas dalam – dalam.



Cahaya matahari mulai memancar lewat jendela, menerangi kelas kami. Wali kelas yang biasa riang berdiri di depan, kali ini bersama seorang guru wanita bimbingan konseling yang tak kukenal. Langkahnya mantap saat dia memasuki ruangan, dan aku bisa merasakan aura kepemimpinan yang kuat darinya sebelum dia berbicara. Rambut cokelatnya terikat rapi di belakang kepala, menambah kesan profesionalnya.


“Sebelum memulai pelajaran hari ini, guru bk punya sesuatu yang penting untuk disampaikan,” suaranya terdengar lembut namun tegas. Seisi kelas langsung diam dan memusatkan perhatian.


“Kemarin, Katherine terpaksa harus diantar ke rumah sakit.” Kalimat itu menggantung di udara, memenuhi ruangan dengan keheningan. Wajah-wajah di kelas terlihat bingung dan khawatir.


“Ibunya Katherine menghubungi sekolah,” lanjutnya. “Beliau penasaran, apakah Katherine dibully di sekolah.” Suaranya terdengar tajam, seakan ingin menelusuri kebenaran dengan tegas.


“Jika ada di antara kalian yang memiliki informasi mengenai ini, silahkan angkat tangan,” ajaknya dengan nada serius. Pandanganku melintas dari satu wajah ke wajah lain, mencari reaksi dari teman-teman sekelas. Beberapa orang tampak ragu, sementara yang lain tampak seperti mereka ingin mengatakan sesuatu.


“Hei, bukankah ini saat yang tepat?” bisik si hantu. Aku menoleh padanya dengan ekspresi terkejut, tapi ia hanya mengangkat alisnya dengan tanda persetujuan.


Ya, kau benar. Aku gak mengira bahwa mereka akan datang tiba-tiba ke dalam kelas seperti ini. Lidahku terasa sedikit kaku saat aku menelan ludah dengan perlahan. Meskipun begitu, aku merasa bahwa ini adalah hal yang lebih baik.


Aku sudah merasa bahwa sekolah harus bertindak tegas, dan jika mereka gak mengambil langkah-langkah yang diperlukan, aku gak ragu untuk melaporkannya ke polisi. Tentu saja, itu akan menjadi masalah besar yang lain.


Mataku terasa semakin kabur, dan tangan yang tadinya begitu mantap, kini terasa basah oleh keringat dan gemetar dengan kecemasan. Pernapasan yang biasanya tenang, kini berubah menjadi cepat, pendek, dan dangkal. Sial, aku benar-benar merasa seperti aku sedang kehilangan kendali atas diriku sendiri. Dalam keadaan ini, aku bahkan bisa merasakan ketukan keras dari denyut jantungku.


Dengan seluruh keberanian yang bisa aku kumpulkan, aku mencoba mengangkat tanganku. Ini adalah momen penting, dan aku gak bisa membiarkan ketakutan menghambatku.


Akhirnya, setelah usaha yang cukup lama, aku berhasil mengangkat tanganku perlahan. Aku merasa seperti aku tengah berdiri di atas panggung, dikelilingi oleh perhatian semua orang. Pemandangan ini membuat perasaan cemas di dalam diriku semakin menguat.


Aku bisa merasakan betapa kerasnya detak jantungku, hampir seperti sedang berlari maraton. Namun, aku tidak boleh mundur sekarang. Aku harus mengambil kesempatan ini untuk mengatakan apa yang ingin kukatakan. Ini adalah momen yang tidak boleh kulewatkan begitu saja.


"Dengan izin, ada hal yang ingin saya sampaikan kepada semuanya," kataku, suaraku terdengar lebih bergetar dari yang kuharapkan. Tetapi, aku tahu ini adalah langkah yang penting dan aku harus menghadapinya.


Sekarang, dengan semua 44 mata tertuju padaku, aku merasa seperti tengah berada di bawah sorotan yang terang benderang. Aku merasa gugup dan tegang, tapi aku harus tetap tegar. Aku tidak boleh membiarkan ketakutanku menguasai diriku. Kalau aku sampai mengacaukan ini, aku bisa mengucapkan selamat tinggal ke dalam kehidupan


sekolahku.


“Mengenai insiden yang melibatkan Katherine, pelaku insiden itu adalah... Dani dari kelas 11 MIPA 3, Bambang dari kelas 11 IPS 2....dan Rico sebagai pelaku utamanya,” ucapku dengan gugup, tatapanku tetap terarah pada guru bimbingan konseling yang baru.

__ADS_1


Di tepi penglihatanku, aku bisa membayangkan bagaimana Rico menatap dengan ekspresi murka. Meskipun aku tidak melihatnya langsung, aku bisa merasakan tekanan dari tatapannya yang tak terlihat. Tanpa cerminpun, aku tahu bagaimana ekspresi ketakutanku sekarang.


Mereka terdiam sesaat, seperti suasana yang membeku. Tidak ada yang berbicara, dan hening seolah-olah merasuki seluruh ruangan. Tidak ada yang bergerak, bahkan suara napas terdengar jelas.


Sementara itu, mataku masih tetap berfokus pada guru BK, mencoba memahami reaksinya. Ia terlihat serius, wajahnya terangkat seolah tengah merenungkan kata-kata yang baru saja aku ucapkan. Mungkin ia juga harus memproses informasi ini sebelum melanjutkan.


“...” tidak suara yang mengisi ruangan, ketika guru BK terdengar menghela napas dengan lembut, seperti seakan ia ingin menghapus tegangnya suasana. Sekarang semua mata tertuju pada kami, suasana begitu tegang seolah udara pun menjadi semakin berat.


“Jangan sembarangan, kenapa kau menuduh!” Rico membentak dengan nada yang naik tinggi, dan ekspresi wajahnya menunjukkan ketidaksenangan yang mendalam.


“Apa buktimu?!” lanjutnya, pandangan tajamnya terarah padaku. “Berhentilah. Aku bahkan gak ada di sana,”


Aku menelan ludah, merasa gugup. Namun, aku harus mengatasi gugup ini. Ini adalah momen yang penting dan aku tidak boleh mundur sekarang.


“Rico, katakan padaku, kemarin sore jam 3 kau ada di mana?” tanyaku, berusaha menahan keragu-raguan di dalam hatiku.


“Tentu saja, aku harus pergi les. Gak lama lagi kita akan menghadapi ujian tengah semester. Aku gak pingin nilai-nilai turun,” jawabnya dengan nada seakan memberikan penjelasan logis.


“Kau mau bilang apa?” Rico balik bertanya, ekspresinya masih tampak marah dan tidak sabar.


“Oh, bukan apa-apa. Barusan kau bilang bahwa kau pergi ke tempat les kan?” tanyaku lagi.


“Tapi aku menemukan sesuatu yang aneh,” ucapku dengan nada yang mencoba terlihat tidak gugup.


“Apa yang aneh?” Dia bertanya, ekspresinya agak sedikit terlihat gugup.


“Tapi ada yang aneh, setelah aku melihatnya, kenapa namamu gak ada dalam daftar rangking?” lanjutku dengan nada yang lebih tajam.


“Katakan, seberapa besar kemungkinan salah satu siswa dengan rangking tertinggi di sekolah, bahkan gak bisa masuk dalam 30 besar?” lanjutku dengan nada tanya tajam.


“Atau apakah tingkat sekolah kita memang seburuk itu?” tambahku sambil menatap tajam Rico.


Rico mulai tampak gugup, seperti terkejut oleh pertanyaan-pertanyaanku. Aku bisa melihat bagaimana wajahnya sedikit memucat, dan matanya sedikit berkedip, mencari jawaban yang tepat.


“W-waktu itu aku kurang belajar. Akhir-akhir ini aku juga sibuk jadi wakil ketua OSIS, jadi mau gak mau nilai-nilaiku turun,” jawab Rico dengan suara yang mulai gemetar.


Aku merasa lega mendengarnya. Dia mulai terlihat gugup dalam menjawab pertanyaanku. Senyum kecil mulai terukir di wajahku, seakan memberi sinyal bahwa aku tidak akan membiarkannya lolos begitu saja.


“Tapi ini masalahnya, ketua. Aku bohong soal pergi ke tempat lesmu. Kertas ini palsu, ketua,” aku merobeknya menjadi dua.


“Aku hanya mencetak kertas ini,” kataku dengan suara tegas, sambil menunjukkan potongan-potongan kertas yang telah kurobek.


“Aku dengar, kemarin gak ada acara. Atapnya bocor karena hujan deras,” kataku sambil menatap tajam Rico.


“Tapi anehnya, kenapa kau tetap berusaha keras meyakinkanku bahwa kau pergi les dan mengerjakan tryout?” lanjutku dengan nada penasaran.

__ADS_1


Rico semakin terlihat gugup, seakan mulai sadar bahwa kebohongannya sudah terbongkar. Aku bisa melihat betapa perlahan tangannya bergetar, dan matanya mencari-cari alasan yang akan membuatnya terlihat lebih baik.


“Jujurlah, pak ketua,” ucapku dengan suara yang lebih tegas.


“Aku tahu, kau gak pergi ke tempat les kan?” lanjutku sambil menatap Rico dengan tajam.


“Aku penasaran, alasan macam apa yang bisa membuat pak ketua sampai harus berbohong?” tambahku sambil berusaha mempertahankan wajah tegasku.


Rico semakin tampak gugup, ekspresinya terlihat seperti orang yang terjebak dalam perangkap. Aku bisa melihat bagaimana matanya menggeliat mencari jawaban yang tepat.


“D-dia salah,” Rico akhirnya mengucapkan dengan suara yang agak tergagap, tatapannya bergumul dengan kecemasan.


“B-bukan aku yang menyiram Katherine,” ucap Rico sambil bangkit berdiri, seakan ingin memberi kesan bahwa dia ingin menghadapi situasi ini.


“Gimana kau tahu, Katherine tersiram?” guru BK yang baru, dengan nada tegas, mengajukan pertanyaan yang sangat penting.


Rico tampaknya tanpa sadar dia menjawab, “Saya tahu dari obrolan beberapa siswa.”


"Kalau kau benar-benar gak terlibat," lanjut guru bk itu dengan suara yang tajam, "Kenapa kau gak kasih-"


Sejujurnya, aku lupa guru itu ngomong apa. Karena waktu itu, aku fokus pada tetesan keringat yang mulai


membasahi dahi Rico.


"Rico, segera ke ruang BK," suara guru BK memecah keheningan, mengakhiri momen berpikirku.


"Yang lainnya, siap-siap. Kalian akan dipanggil ke ruang guru secara bergiliran." tambahnya lagi.


Aku pergi ke tempat les Rico dan berbicara dengan CS-nya. Gak kupikir akan begitu sulit untuk meminta daftar


absen.Terlalu banyak risiko yang kuambil. Aku bisa menganggap diriku beruntung karena semuanya berjalan dengan baik. Saat daftar absen berada di tanganku, aku sadar, ternyata dia gak terlalu rajin masuk ke tempat les ini. Selain itu, gak banyak siswa dari sekolah kita yang masuk ke tempat les ini, terutama di kelasnya. Karena itu, aku merasa berani bertaruh pada bukti ini. Tetapi tetap saja, jika saja teman-teman lesnya memberi tahu atau bahkan CS-nya yang berbicara, rencanaku bisa berantakan.


Sial, aku gak pandai dalam hal ini.


"Aku punya sedikit saran buatmu, mungkin untuk selanjutnya kamu latihan lebih banyak," bisik si hantu dengan leluasa dalam pikiranku.


Sekarang, inilah bagian pentingnya. Tugasku yang sebenarnya adalah memastikan siswa lain bisa berani melapor. Aku gak bisa menatap mata mereka, jadi aku hanya memandangi dagu mereka. Mereka adalah orang yang sama, orang yang diam aja saat semuanya terjadi. Sayangnya, sebanyak apapun aku membenci mereka, aku masih butuh peran mereka. Keringat dingin mulai merembes di pelipisku.


"Terutama, yang merupakan korban dari tindakan mereka," aku berbicara pelan, memastikan suaraku bisa didengar oleh mereka.


"Aku tahu, kalian semua pasti marah, bingung, takut, cemas, dan perasaan lainnya," lanjutku.


"Tapi, lihatlah ini sebagai peluang. Sekarang adalah saat yang tepat untuk kalian," aku mencoba membakar semangat mereka.


"Jadi, tolong," ucapku, aku membungkukkan sedikit badanku.

__ADS_1


"Aku meminta bantuan kalian. Tolong laporkan semua yang kalian tahu tentang tindakan mereka. Seadanya saja," pintaku dengan tulus.


Hening. Hanya suara hening yang menyambut ucapanku. Sekarang, aku cuma bisa berharap mereka dapat memberanikan diri untuk memberi tahu semuanya.


__ADS_2