
"Butuh bantuan, Jenderal Lima?"
Ma Zhengyi yang mendengar suara familier itu pun segera tersenyum tanpa menolehkan kepalanya, sebab ia harus fokus menangani musuh yang tengah berhadapan dengannya. Xiao Zihao—nama pria bangsawan yang berhadapan dengannya—lelaki itu benar-benar licin seperti belut dan susah sekali untuk ditaklukkan. Sosok yang terkenal sebagai teman dekat Youli Young itu, meskipun memang bukan seorang kultivator, namun kemampuannya benar-benar sanggup membuat Ma Zhengyi yang seorang jenderal itu merasa kewalahan.
"Apa kautak memiliki kemampuan lain selain menghindar?!" tanya Ma Zhengyi dengan nada kesal. Ia mengayunkan gada, senjata pemukulnya, dengan gerakan yang terlihat asal, namun sebenarnya mematikan. Sayang, lawannya tersebut, tanpa perlu mengangkat senjata pun selalu saja bisa lolos dari serangannya.
"Jenderal Satu, apa yang harus dilakukan pada makhluk menyebalkan ini?" Ma Zhengyi menghela napasnya. Pemuda itu terlihat lelah, namun, bukan jenderal statusnya jika ia mudah menyerah.
"Mau petunjuk atau menyerahkannya padaku?" Constantine Yang menarik kedua sudut bibirnya, membentuk seringai yang menawan, namun memberi kesan horor tersendiri bagi lawan bicaranya.
"Tentu saja petunjuk!" jawab sang Jenderal Lima sambil memutar bola matanya, menyorot ke sang Wakil Jenderal Besar.
"Heh! Emosi dan kemarahan bisa melemahkan lawanmu," bisik Constantine. Gadis itu menepuk telapak tangannya dengan semangat, lalu melihat apa yang dilakukan dilakukan rekan sesama jenderalnya itu.
"Cih—kaulawan terlemah dan paling pengecut yang pernah kutemui. Wajahmu jelek sekali! Orang tuamu pasti jelek juga! Pasti tak ada gadis yang mau dengan pemuda sepertimu, kan? Milikmu itu pasti kecil. Kautak akan bisa memuaskan pasanganmu suatu hari nanti. Astaga ..., kaupasti menjilat Youli Young si Pangeran Hidung Belang itu agar mau berteman denganmu, kan? Ah, menjijikkan!" Ma Zhengyi meludah berkali-kali, disertai dengan terus mengeluarkan kata-kata kasar dan merendahkan.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, meski pada awalnya sang lawan tampak tak peduli dengan segala cacian yang diterimanya, namun pada akhirnya, ia terbawa suasana pula. Walau tahu bahwa ini mungkin saja bagian dari rencana untuk menaklukannya, namun perasaan yang menggebu, membuatnya memutuskan untuk masuk ke dalam perangkap itu.
Ma Zhengyi yang melihat tingkah lawannya pun tertawa di dalam batinnya dan ingin mengucapkan beribu terima kasih kepada Constantine. Meskipun sejak sebelum kedatangan gadis itu ia memang telah mencaci sosok Xiao Zihao, namun kata-katanya itu lebih terasa seperti keluhan daripada sesuatu yang bisa menimbulkan kemarahan bagi sang teman duel.
"Dasar!" Constantine Yang menyeringai sambil memandang Ma Zhengyi. Ia tak perlu heran jika sosok itu sampai mengeluarkan kata-kata pedas. Lagi pula, pada dasarnya, Putra Keluarga Ma itu pun, memang buka tipe orang selalu memikirkan image-nya di hadapan orang lain.
"Ada yang datang," lirih Constantine tiba-tiba, sambil menyeringai. Ia bisa merasakan aura membunuh yang begitu kuat tengah mendekatinya. Tak lama, sebuah pedang sudah berada di dekat lehernya dan bersiap memutuskan kepalanya dari tubuhnya.
"Aku akan menjadi lawanmu, wahai Anak Muda ...!" Seorang lelaki tua berwajah begis pun menampakkan ekspresi penuh kebanggaan dan percaya diri. Ia menatap remeh ke arah Constantine.
'A—apa?!' Constantine menjerit di dalam hatinya. Sihirnya tak bekerja pada musuh di hadapannya. Sontak saja, ia yang sebelumnya santai pun mulai menajamkan kewaspadaannya.
"Anak Muda, aku seorang kultivator yang memiliki bakat alami berupa anti terhadap sihir," kata pria tua yang berhadapan dengan Constantine Yang. Ia tersenyum bangga, merasa dirinya akan menang di duel ini. Ia pikir, kartu truf sang lawan hanyalah sihir.
Sang penantang, sebenarnya tidak kebal terhadap semua jenis sihir. Ada beberapa jenis sihir, seperti sihir cahaya dan kegelapan, yang ia tak memiliki ketahanan terhadapnya. Namun, tentu saja ia tak akan mengungkapkan hal itu kepada musuhnya, mengingat itu akan membahayakan nyawanya sendiri.
__ADS_1
"Kauakan kalah, Anak Muda ...! HA HA HA!" Tawanya terdengar menggelegar. Tak lama, suatu makhluk besar mengerikan yang berwujud tembus pandang pun muncul muncul di belakangnya.
"Roh? Kauseorang Kultivator Alam Roh ...," lirih Constantine. Gadis itu terlihat seperti berpikir.
Sang lawan pun memandang sang Jenderal Wanita dengan meremehkan. Namun ekspresi itu segera berubah ketika melihat Constantine telah merubah air mukanya. Perempuan muda tersebut menyeringai. Ia bergidik ngeri melihat itu.
Constantine memejamkan matanya. Teman duelnya yang melihat itu pun tertegun, mengingat Constantine sungguh terlihat bagaikan Dewi dalam penampilannya yang seperti itu. Tak lama, ia pun kembali dibuat lebih terkejut lagi.
"Kau ...—" Sang lelaki tua mundur satu meter ke belakang dengan mata yang membola ketika melihat langit yang tiba-tiba bergemuruh. Dalam seperlima menit, makhluk berwujud transparan seperti yang dikeluarkannya pun, kini turun dari balik awan dalam jumlah yang sangat banyak.
"Terkejut? Kaumeremehkanku," tutur Constantine dengan senyumnya yang mematikan. Wanita itu benar-benar tak ingin menyembunyikan apa pun lagi mengenai kekuatannya. Ia tahu, meski ada kerugian yang akan diterimanya, namun ada juga keuntungan di baliknya.
Roh-roh yang turun dari langit pun menyerang banyak kesatria dari pihak kekaisaran yang seketika langsung meregang nyawa. Kali ini, pihak musuh pun kehilangan banyak kekuatannya. Kerajaan Anming diuntungkan dengan hal ini. Kesempatan menang mereka semakin besar.
"Ada berapa banyak hal yang kausembunyikan, Jenderal Satu? Inikah kekuatanmu yang sesungguhnya?" batin para Jenderal Anming, sambil memandang angkasa yang sekali lagi menampilkan sesuatu yang menakjubkan oleh ulah orang yang sama.
__ADS_1