Reflection

Reflection
Titah Sang Kaisar


__ADS_3

"Segera siapkan pemakamannya dan panggil semua pangeran ke sini," titah Sang Kaisar.


Peti mati yang berisi jasad Youli Young itu, kemudian kembali di tutup. Beberapa kesatria pun segera merapat dan memegangnya, lalu dibawa oleh mereka benda itu menuju ke luar aula.


Weiyan terdiam selama beberapa saat. Ia berbalik, lalu melangkahkan kakinya kembali menuju singgasana. Ia memakai mahkotanya kembali dan menyandarkan kepalanya di kursi takhta sambil memegang dagunya dengan ibu jari dan jari telunjuk.


Beberapa pejabat yang ada di sana kembali menduduki kursi mereka dengan tenang seusai datangnya gangguan itu. Mereka menatap pemimpin mereka dengan perasaan yang cemas.


"Yang Mulia, apa yang akan Anda lakukan?" tanya salah satunya.


"Tentu aku ingin melakukan yang terbaik. Perempuan itu, sungguh berbahaya. Menyingkirkannya ada hal yang menguntungkan sekaligus merugikan. Dia bisa menjadi duri di dalam daging. Namun, jika ia berada di pihak kita, maka ambisiku untuk menguasai dunia makin besar kemungkinannya untuk terwujud," kata Weiyan.


Putra Langit itu pun mengembuskan napasnya panjang. Disorotnya dua sisi pintu yang tiba-tiba terbuka, lalu menampilkan para pangeran dari balik sana. Beberapa pangeran yang tampak masih terlalu kecil pun digendong oleh masing-masing pelayan pribadi mereka.


Pangeran-pangeran yang jumlahnya hampir menyentuh angka tiga puluh itu, kemudian memasuki pusat aula. Mereka berlutut dan memberi hormat kepada Sang Kaisar.


"Hormat kepada Ayahanda," kata mereka, berbarengan.

__ADS_1


"Ya, duduklah ...!"


Para pangeran tersebut, kemudian berhamburan ke kedua sisi ruangan dan menduduki kursi-kursi yang terletak di sana. Kebanyakan dari mereka, memilih untuk menduduki tempat yang biasa mereka dudukki; namun berbeda dengan salah seorang pangeran, yang justru tampak kebingungan.


"Apa yang sedang kaulakukan, Pangeran Kedua Belas?" tanya Weiyan, dengan dahi yang berkerut.


Sosok yang dipersoalkan itu hanya menggeleng, lalu segera menduduki sebuah kursi yang dipilih secara asal dan agak terpisah dari pangeran-pangeran lain. Sedari tadi, kepalanya terus menunduk, seolah ada banyak hal yang dia takuti tengah mengancamnya di sana.


"TIDAK SOPAN! TIDAK MENJAWAB PERTANYAANNYA YANG MULIA!


"Aku hanya bingung dan tidak terbiasa, Ayahanda ...! Maafkan aku. Sudah sangat lama sejak terakhir kali aku ke sini," jawabnya, yang hanya dibalas sebuah anggukan oleh Sang Kaisar.


Suara sosok Weiyan Young, kemudian mempersembahkan hegemoni yang kuat pada seisi ruangan. Ekspresinya yang menggambarkan keseriusan, membuat semua insan di sana ikut menampakkan hal serupa.


"Seseorang telah membunuh Pangeran Ketiga," ungkapnya. Kebanyakan dari mereka yang mendengar itu pun terkejut; beberapa dari mereka yang memang sudah mengetahuinya pun tampak biasa saja.


Kabar kematian Youli Young memang belum disebarkan secara luas, sebab perang baru saja usai dan sebagian pasukan pun belum sampai kembali ke wilayah kerajaan—maka para rakyat pun tak merasa curiga sebab belum melihat sosok Pangeran Ketiga yang mereka pikir memang bergabung bersama rombongan berikutnya.

__ADS_1


"Siapa yang melakukannya kepada adik kedua, Ayahanda?" tanya Pangeran Mahkota. Wajahnya yang datar dan rupawan menunjukkan dominasi dan karisma yang kentara.


"Seorang wanita. Dan aku ingin salah satu dari kalian menikahinya, sebab ia harus menanggung konsekuensi atas perbuatannya," jelas Weiyan.


"Jika begitu, aku akan mengundurkan diri. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri, bahwa aku hanya akan memiliki seorang pasangan—dan pasangan itu, kini tengah menungguku di kediaman kami," sahut salah seorang pangeran, tiba-tiba.


"Tak masalah Pangeran Kedua. Aku akan menghargai keputusanmu," jawab Sang Kaisar. Sang putra, kemudian menggerakkan kepalanya secara vertikal sambil tersenyum tipis penuh terima kasih.


"Jika begitu, aku juga akan mengundurkan diri, Ayahanda ...! Lagi pula, aku tak pantas untuk mengemban tugas ini," tutur Pangeran Bertopeng, yang sedari tadi tampak tak disukai oleh orang-orang.


"Lagi pula, siapa yang mau memilih sampah sepertimu?" sanggah Pangeran Mahkota, dengan wajah angkuhnya. "Ayahanda, mengingat Pangeran Ketiga adalah seorang kultivator, maka aku yakin bahwa wanita yang membunuhnya, tentu juga seorang kultivator, bukan? Dia pasti bukan orang yang biasa saja. Aku pun juga seorang kultivator yang pasti lebih berbakat dari adik kedua, jadi biarkan pangeran ini mengemban tugas ini. Aku berjanji akan mengendalikannya sehingga ia bisa memberi kekuatan lebih bagi kita," sambungnya.


"Tidak bisa. Pernyataan kedua pangeran ini kutolak." Ucapan penuh penekanan Sang Kaisar, membuat orang-orang terkejut.


"Ada apa, Ayahanda? Kenapa Ayahanda menolak pengunduran diriku. Bukankah di sini masih ada banyak pangeran? Hanya aku, seharusnya bukan masalah, bukan?" tanya Pangeran Bertopeng dengan alis yang menukik ke dalam.


"Jangan lancang! Yang kaukatakan kepada Ayahanda bukan hal yang sopan," tegur sang Pangeran Mahkota.

__ADS_1


"Maaf, Ayahanda ...!" ucapnya kemudian, sambil menunduk dalam.


"Tentunya, kautidak bisa mengundurkan diri sebab kaulah yang akan menikahinya." Pernyataan itu, secara pasti menyentak seisi aula.


__ADS_2