Reflection

Reflection
Chapter 10 (Katherine)


__ADS_3

"Sebelum kita memulai pelajaran hari ini," guru BK memulai dengan suaranya yang lembut namun tegas, "ada sesuatu yang penting yang harus saya sampaikan." Suaranya memaksa seluruh kelas untuk diam, memusatkan perhatian mereka.


"Hari ini, Rico tidak datang ke sekolah karena dia merasa takut," kata guru BK, kalimatnya melayang di udara, mengisi ruangan dengan ketegangan. Wajah-wajah di kelas terlihat bingung dan khawatir.


"Ibunya Rico telah menghubungi sekolah," lanjutnya. "Dia penasaran apakah Rico sedang menjadi korban perundungan di sekolah. Kalian tahu, masalah ini bisa melibatkan polisi." Suaranya menjadi tajam, mencerminkan tekadnya untuk menyingkap kebenaran.


"Jika ada di antara kalian yang memiliki informasi mengenai ini, silakan angkat tangan," ajaknya dengan serius. Mataku melintas dari satu wajah ke wajah lainnya, mencari reaksi dari teman-teman sekelas. Beberapa tampak ragu, sementara yang lain terlihat seperti mereka ingin mengungkap sesuatu.


"Lisa, kami mendapatkan laporan tentang perundungan di sekolah ini," guru BK bertanya. "Apakah kamu tahu apa-apa tentang ini?"


Yang kuingat adalah telunjuk "teman"ku yang menuding padaku.


"Waktu itu sudah kubilang, Pak, tapi dia gak mau berhenti," aku menjawab dengan nada yang rendah.


"Hah? Mengapa hanya menyalahkan aku? Kalian semua, satu kelas juga ikut ketawa... Kamu bahkan yang menyuruhku."


Mereka semua hanya berbisik-bisik, "Apa yang dia katakan?"


"Dia pasti yang melakukan perundungan itu," kata Lisa dengan nada mengejek. "Dia selalu merasa lebih pintar dari kita semua."


"Apa yang kamu lakukan, Lisa?" aku berbicara padanya di tengah kerumunan siswa, suaraku rendah. "Kita kan sahabat."


Teman-teman sekelas yang sebelumnya acuh tak acuh menjadi lebih terbuka dalam perundungan mereka padaku. Aku merasa seperti ditinggalkan oleh semua orang, bahkan teman-teman yang dulunya aku pikir dekat denganku.



Suatu hari, semuanya berubah. Temanku, Lisa, yang semula mendukungku dalam membully Rico, tiba-tiba membelot. Dia mulai membullyku dengan cara yang sama seperti yang kami lakukan pada Rico. Ini adalah  pengkhianatan yang sangat menyakitkan.


Lisa hanya tersenyum sinis. Semua orang di sekitar kami menertawakanku. Aku merasa malu dan hancur. Ini adalah karma yang sedang datang untukku. Aku berusaha meminta maaf kepada Rico, tapi dia hanya menjawab dengan kata-kata yang mungkin pantas untukku.


"Aku gak akan pernah memaafkanmu," kata Rico dengan suara tegas. "Kau telah menciptakan neraka bagiku di sekolah ini, dan mulai sekarang kau akan merasakannya sendiri."



Aku menghadapinya setiap hari setelah itu. Setelah beberapa saat mereka melakukannya, aku merasa sesuatu yang ganjil. Karma mungkin, atau bahkan rasa bersalah yang mendalam. Aku terus memikirkannya, hari demi hari, saat perasaan yang mengganggu mulai merayapi pikiranku.


Karma memang sebuah konsep yang aneh. Ketika perbuatan buruk yang kita lakukan terus berlanjut, hukuman tak terduga bisa datang tanpa peringatan. Mungkin aku hanya memikirkan hal itu untuk menghindari rasa bersalah. Tapi siapa tau, karma mungkin hal itu benar-benar ada.



Saat aku pulang, aku merenung dalam gelapnya kamar tidurku. Aku memikirkan segala perbuatan burukku pada Rico, dan betapa bodohnya aku telah membiarkan diriku terbawa oleh godaanku. Semesta telah membalas dendam dengan cara yang pahit, dan aku tidak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1



Beberapa bulan berlalu, dan aku merasa semakin terpuruk. Aku mencoba introspeksi, mencari jawaban atas tindakan burukku, dan berharap bisa memperbaiki semuanya. Aku mencoba mencari cara untuk meminta maaf kepada Rico, meskipun aku tahu dia tidak akan pernah memaafkanku.



Malam itu, aku duduk sendiri di kamar, cahaya lampu temaram menyinari wajahku. Aku menyadari bahwa aku harus belajar dari kesalahan masa laluku dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Mungkin saatnya aku mencoba menghentikan lingkaran kekejaman dan karma yang tampaknya selalu mengikutiku.



Pagi pertama di SMA, suasana masih begitu asing. Aku mencoba mencari wajah-wajah yang aku kenal dari SMP, tapi tak satu pun yang aku temukan. Sekolah ini jauh lebih besar dari SMP kami, dan aku merasa seperti seorang pengembara di negeri yang belum pernah kuinjak sebelumnya.


Aku ingat dengan jelas hari pertama di SMA. Semua siswa baru berkumpul di aula sekolah untuk sambutan selamat datang. Ruangan itu dipenuhi dengan berbagai wajah yang asing, aku tidak melihat Rico di antara mereka. Mungkin, pikirku, mungkin dia masuk ke sekolah yang berbeda. Itu akan menjadi awal yang lebih baik.


Masuk ke SMA adalah sebuah langkah besar dalam hidupku, dan awalnya aku merasa lega bahwa aku bisa memulai lembaran baru. Namun, perasaan itu cepat sirna ketika aku dipanggil untuk menemui guru wali kelas, aku melihatnya. Rico ada di sana, berdiri di depan pintu dengan senyuman menyebalkannya. Aku bodoh, kenapa aku gak memeriksa SMA tujuannya? Kenapa aku harus satu sekolah dengannya? Apa semua hal di SMP itu masih belum cukup?


Dia sekarang tampak lebih percaya diri, seolah-olah masa lalunya yang pemalu telah sirna. Rambut hitamnya yang biasa berantakan, kini disisir rapi. Wajahnya yang pernah pemalu kini tampak sombong dan penuh percaya diri. Matanya yang dulu tak pernah berani menatap orang kini menatap tajam, seperti seorang predator yang siap menerkam mangsanya. Aku merasa campur aduk, cemas karena aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan.


Aku mencoba menghindarinya, berharap dia tidak akan mengenali aku atau bahkan mengingat peristiwa-peristiwa di masa SMP. Tapi, sepertinya aku berharap terlalu banyak.


"Katherine, kan?" dia berkata dengan nada yang lebih tajam dari yang kuingat.


Aku menelan ludah dan mengangguk, "Ya, itu aku."


Aku tahu dia hanya mencoba untuk mempermalukanku di depan teman-teman sekelas yang lain.


"Baik-baik aja," jawabku dengan suara gemetar.


Rico melanjutkan, "Kita harus berteman lagi, Kat. Aku ingin tahu apa yang kamu bisa lakukan di sekolah ini."


Aku mencoba tersenyum, mencoba mempertahankan rasa percaya diriku. "Tentu, Rico. Kita bisa mencoba untuk berteman."


Aku menelan ludah. "Ya, aku pikir begitu. Kita sudah di SMA sekarang. Mengapa kita tidak bisa memulai lagi?"


Rico tersenyum sinis. "Kamu mungkin bisa melupakan, tapi aku gak akan pernah melupakan apa yang kamu lakukan di SMP. Jangan berpikir kamu bisa melarikan diri dari masa lalumu."



Suatu hari, ketika aku sedang duduk di perpustakaan sekolah, Rico datang menghampiriku. Aku mencoba untuk tidak menunjukkan ketakutan atau kecemasanku.


Rico tersenyum sinis. "Kamu pikir bisa lari, huh?"

__ADS_1


Aku menatapnya dengan tegas. "Aku gak ingin berurusan denganmu, Rico. Mari kita hidup dengan damai di sekolah ini."


Rico tertawa. "Kamu selalu terlalu serius, Kat. Hidup itu singkat, kita harus bersenang-senang, kan?"


"Dengan segala tempat yang bisa kau pilih, kamu juga harus datang ke sini?" ucap Rico dengan nada yang meremehkan.


Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk tetap tenang. "Kamu tahu, Rico, aku hanya mencoba untuk menjalani hidupku dan melupakan masa lalu yang gak begitu baik," jawabku dengan tenang.


Dia hanya tertawa dengan sinis, seolah-olah mencoba merendahkan aku. "Kamu pikir aku akan biarkan begitu saja? Kamu bisa melupakan semua yang telah terjadi? Gak, kamu gak akan pernah bisa lolos dari itu."



Suatu hari, saat aku sedang berbicara dengan teman sekelasku yang baru, Rico mendekat. "Hei, teman-teman, kita punya calon juara olimpiade di antara kita, tau gak? Dia dulu sering juara lo," katanya dengan nada mengejek.


Aku merasa tidak nyaman dengan perhatian yang dia berikan. Namun, dia hanya tertawa dengan nada sinis. "Coba kita lihat berapa lama kecerdasanmu akan bertahan di sini," bisiknya sambil pergi dengan senyumnya yang menjengkelkan.



Dengan sepatu bekas menginjak kotoran kucing, Dia mulai mengangkat kakinya, menendang perutku.


“Anjing lah, kena tai cok!” teriaknya, nada protes jelas terdengar.


Cukup dengan dua kali tendangnannya, Aku batuk tidak terkendali.


Tepat saat aku melihat itu, aku bisa melihat rekan kelasku dari kejauhan. Dia sedang melihatku yang tergeletak jatuh, namun akhirnya membalikkan badannya untuk pergi keluar sekolah. Walau perlahan, aku bisa merasakan wajahku yang memerah. Rasanya seperti ada sesuatu yang menggenggam erat dadaku. Ahh, setiap kali ini terjadi, aku selalu ingin membanting kepalaku ke dinding



Hari itu, ketika matahari baru saja menyembul di langit, aku benar-benar tidak ingin bangun. Tubuhku terasa begitu berat dan pikiranku masih terperangkap dalam alam mimpi yang hangat dan nyaman.


Plis plis plis aku gak pingin ke sekolah. Kenapa aku gitu sih dulu? Plis, plis, plis, apa aku bisa kembali ke masa lalu?? Plis plis. Tuhan kumohon, kabulkan permintaanku.


Tapi, tiba-tiba, suara ibuku memecah keheningan pagi itu. "Ayo bangun, sekolah," pintanya dengan lembut, tapi dengan suara yang tak bisa diabaikan.


Aku merasakan desakan keras dalam diriku untuk memutuskan. Apakah ibuku akan mengerti jika aku memberitahunya? Apa yang bakal ibu lakukan kalau tau aku dibully? Suara khas alarmku hanya semakin membuatku ingin kembali tidur.


Namun, aku tahu, ibuku telah berjuang keras untuk memberikan pendidikan yang baik bagiku. Masa depanku bergantung pada pendidikan ini. Namun, semakin lama aku merenung, semakin sulit aku menemukan alasan lain untuk bangun dari tempat tidur.


Ibu kembali berbicara, kali ini dengan nada yang lebih tegas, "Ayo, cepet! Mumpung belum telat."


Meskipun hatiku masih berat, aku menuruti ibuku. Aku tidak mau mengecewakannya, meskipun dalam hatiku masih terdapat kebingungan dan keraguan

__ADS_1


Aku menghela napas dalam-dalam dan akhirnya mengangkat tubuhku dari tempat tidur. Aku bisa merasakan getaran dingin lantai keramik saat kakiku menyentuhnya. Matahari pagi menerangi setiap sudut kamar, mengusir bayangan malam.


Sisanya, kau sudah tau.


__ADS_2