Reflection

Reflection
Teman Lama


__ADS_3

Wangquan Yan jatuh berlutut di atas pasir. Tubuhnya yang melemas, otomatis telah membuat mode Dewa Petir-nya berakhir begitu saja. Dengan wajah yang memelas, ia menatap Jingguo Li.


"Setelah semua ini ..., a—aku ..., aku baru saja menyadari apa yang sebenarnya aku mau," lirih Sang Raja. "Aku mau persahabatan kita kembali seperti dulu. Aku mau bercanda lagi bersama kaujuga Luo'er. Aku ..., aku sangat merindukan kalian dan masa-masa itu."


Wangquan Yan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lelaki itu menangis, membuat Jenderal Besar Anming yang melihat itu pun terkesiap. Ia tak menyangka Raja Sheng Ri tersebut akan memberikan reaksi semacam itu.


"Tapi ..., setelah apa yang terjadi, kaupasti membenciku. Tak bisa kupungkiri, aku pun ingin berturut serta dalam pertemuan ini karena aku juga ingin bertemu kembali denganmu. Aku ..., aku tak tahu apa yang terjadi kepadaku selama ini. Kebencian yang telah menguasaiku, membuatku melupakan begitu saja saat-saat kebersamaan kita," ujar Wangquan Yan.


Jingguo Li tersenyum sambil menatap Wangquan Yan yang berlutut di hadapannya. "Ini hanya formalitas. Aku tak pernah membencimu. Aku melawanmu karena kauberada di pihak musuh; juga kaupun turut menganggapku sebagai musuhmu." Setelah mengatakannya, guru Constantine Yang itu pun mengembuskan napasnya. "Kautahu ..., aku tak pernah membenci orang lain selain pengkhianat Luo Yang itu," sambungnya.


Jingguo Li mengulurkan tangannya ke Wangquan Yan, yang langsung disambut oleh Raja itu. "Karena wanita misterius itu? Kau ..., kau masih mencintai Irene, kan? Aku bahkan tak pernah mendengar kaudekat dengan wanita lain selain dirinya."


"Kausalah. Aku dekat dengan putrinya Irene, Constantine Yang," jelas Jingguo Li. "Dia putriku yang bahkan lebih dekat denganku daripada ayah biologisnya sendiri." Lelaki itu merapatkan matanya, lalu tertawa terbahak-bahak.


"Kaupasti sangat menyayanginya. Bagaimana dia?" Wangquan tersenyum masam sejenak. Kemudian, ia mengubah ekspresinya dan menatap Jingguo dengan lembut, seolah melupakan hal-hal yang terjadi dalam beberapa jam terakhir.

__ADS_1


"Mirip seperti Irene. Dia misterius juga seperti ibunya." Jingguo Li mendudukkan dirinya di atas pasir. Luo Yang pun mengikutinya dan mereka menatap langit bersama. "Constantine ..., dia gadis yang sangat cantik. Dia juga sangat kuat—tangguh seperti namanya. Kaulihat langit itu? Constantine yang melakukannya," ungkapnya.


"B—bagaimana mungkin? Dia Jenderal Wanita itu, kan?"


"Ya. Satu yang harus kautahu ..., dia seorang kultivator murni." Jingguo Li berbisik di kata-kata terakhir kalimatnya. Wangquan Yan yang mendengar itu pun membelalakkan matanya. Ia kaget setengah mati, karena mendengar sosok yang mereka bicarakan, ternyata memiliki identitas yang langka.


"Ternyata. Sudah kuduga Irene bukan wanita sederhana. Bagaimana kabarnya sekarang? Kalian masih berhubungan?"


"Bodoh! Aku dan Irene akan dihukum berat jika sampai ketahuan melakukan itu. Lagi pula ..., itu hal mustahil. Irene sudah meninggal belasan tahun lalu," kata Jingguo, sambil menunjukkan wajah sendu. Wangquan Yan yang mendengar itu pun merasa tak percaya, namun memang begitulah kenyataannya. Bingung ingin berkata apa, Raja Sheng Ri tersebut pun memilih untuk diam.


"Sudah merasakan cinta, sahabatku?"


"Haruskah kita mengakhirinya?" tanya Jingguo Li.


"Aku ..., aku sudah memutuskan ingin bergabung dengan pasukanmu." Penyataan Wangquan Yan membuat Jingguo Li terkesiap.

__ADS_1


"Kaumau mengkhianati pihak kekaisaran? Kautahu resikonya, kan? Ah—tidak, tidak! Bagaimana bisa kau mengubah haluanmu secepat ini. Dari dulu, kaumemang sangat plin-plan dan cengeng," ejek Jingguo Li. Lelaki itu merangkul bahu sahabatnya. "Tapi bagaimana kita akan mengakhiri ini?" tanyanya.


"Aku .... Ada banyak hal yang harus keceritakan. Ini tentang kekaisaran. Mereka ..., mereka—ARGH!"


"WANG'ER!" Jingguo Li terkesiap ketika melihat sebuah panah yang tiba-tiba tertancap di lengan Wangquan Yan. Ia bisa melihat sedikit cairan yang membalut panah tersebut—racun. Meskipun Wangquan Yan juga seorang kultivator seperti dirinya, namun, lelaki itu tak memiliki kekebalan terhadap senyawa berbahaya semacam itu. Itulah kelemahan dan titik masalahnya.


Jingguo Li mendongakkan kepalanya dan menatap tajam sang pelaku. Meskipun tak mengenalnya, namun ia bisa memastikan, kalau sosok itu adalah seorang kultivator yang amat kuat.


"Jika kalian bingung ingin mengakhirinya seperti apa, maka biar aku yang melakukannya. Cih, pengkhianat sepertmu memang tak pantas untuk hidup. Wangquan Yan hanya punya waktu dua menit sejak racunnya menyatu dengan darah di tubuhnya." Sang pelaku yang merupakan lelaki misterius itu tertawa terbahak-bahak, lalu pergi berlalu begitu saja.


Jingguo Li tak berniat menghentikan. Ia pun menatap Wangquan Yan dengan sendu. "Ini akhirnya, ya ...," lirihnya.


"Gadis itu ..., dia dalam bahaya. Akan banyak yang mengincarnya. Kauharus melindunginya. Sekuat apa pun dia, tanpa pendukung ... dia hampir tak ada bedanya denganku." Wangquan Yan menarik napasnya dengan susah payah.


"P—pihak kekai—saran ..., me—reka ..., berhati-hatilah dengan mere—ka. M—mereka punya rahasia. Ap—apa pun itu, i—itu bukan hal baik. Su—atu hari, en—tah dirimu atau gadis itu, te—muilah seorang ninja bernama ... Chinmoku. Dia tahu sesu...—" Ucapannya pun terputus sebab nyawanya yang meregang.

__ADS_1


"Wang'er!" Jingguo Li menahan napasnya, lalu menangis. Ia tak menyangka akhir teman lamanya akan seperti ini. Pria itu, kemudian berteriak keras. "AH! Entah siapa yang berkhianat ..., tapi tak akan kubiarkan siapa pun menyakiti orang-orang yang kusayangi. Para rakyat, kesatria, Constantine, atau Wang'er sekalipun—mereka berharga bagiku."


Jingguo Li menyeka mata berairnya, lalu menatap jasad Wangquan Yan dan memeluknya. Ia tersenyum kecut. "Aku tahu, ini bukan sekadar kebetulan, Teman Lamaku .... Takdir punya maksud lain dengan ini."


__ADS_2