Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi
Penyatuan Dalam Cinta Sepihak


__ADS_3

"Apa Kakak marah akan semua perubahan di rumah ini? Kalau iya, biar Pe tata ulang kembali seperti semula." Pelangi langsung ngegas. Ia tahu Dibi tidak suka dengan kelakuan lancangnya.


"Pe...." Dibi garuk kepala karena tidak sadar menyinggung perasaan Pelangi. "Ma--"


"Pe tahu, rumah ini sebenarnya sengaja di dekor dengan kesukaan Kiara. Pe memang tidak berhak. Maaf, Pe sudah lancang."


Dibi segera menahan tangan Pelangi yang main pergi setelah mengeluarkan uneg unegnya.


"Maafkan, Kakak." Dibi tersenyum paksa agar terkesan tidak mempermasalahkan.


"Kakak tidak marah atau semacamnya, Pe. Sungguh!" bohong Dibi berkelit agar Pe tidak ngambek padanya.


"Benarkah?"


Dibi mengangguk sejurus melirik ke meja makan. Dan Pe pun mengikuti arah pandang Dibi.


"Wahh... kamu masak, Pe?"


Pelangi langsung meringis diam diam, saat Dibi main duduk di meja makan.


Ia malu pada Dibi karena terlalu bodoh soal dapur.


"Jangan dimakan ya, Kak. Ini makanan tak layak. Maaf, Pe nggak bisa nyuguhin---"


"Tak apa Pe. Ini masih bisa di makan kok." Dibi menahan laju tangan Pe yang ingin menarik ikan setengah gosong plus tidak berbentuk sempurna itu. Ia baru melihat tangan lembut Pe yang terluka terkena sirip. Ada juga bekas percikan minyak di tangan itu. Mungkin karena usahanya dalam memasak. Oleh karena itu, Dibi memakan masakan Pelangi dengan lahap demi menghargai usaha istrinya. Padahal jujur, baru kali ini Dibi memakan masakan yang tak layak. Bahkan sayurnya pun terasa asin.


"Lain kali, kalau masak ikan, tunggu minyak panas dulu, baru ikan yang sudah bersih dimasukin. Terus diamkan sampai matang sebelah, baru kamu balik supaya tidak hancur." Dibi menjelaskan dengan lembut. Menjalani pendidikan satuan waktu itu membuatnya mandiri.


Pe hanya mengangguk seraya menopang dagunya dengan mata menikmati ketampanan suaminya yang sedang makan begitu lahap. Ia senang karena Dibi mau menghargai usahanya.


"Kamu sudah makan?"


Pe hanya menggeleng seraya mengatakan, "Aku sudah kenyang duluan menatap, Kak Dibi." Matanya sangat di sayangkan hanya untuk berkedip. Meskipun ia tahu, kalau Dibi tidak mencintainya saat ini, Pe tetap merasa bersyukur karena pria dambaannya itu sudah menjadi miliknya. Suatu saat somoga cinta Pe terbalas. Doanya dalam hati.


***

__ADS_1


Malam pun tiba, Dibi yang baru membuka laptopnya setelah seharian di pinjam Pelangi tanpa sepengetahuannya, kini merasa terkejut saat ia masuk ke galeri untuk sekedar melihat foto Kiara yang amat sangat dirindukannya karena ia dan Kiara lost kontak. Kiara begitu tega memblok semua akses kontak dan media sosialnya. Apakah pujaannya itu sudah dengar kabar pernikahannya yang masih tersembunyi? Dibi ngeri sendiri membayangkan Kiara sakit hati padanya karena mengkhianati cintanya.


Dibi kehilangan semua foto kenangannya bersama Kiara. Tadi sore ia masih bisa menahan kesal karena Pelangi menyulap rumah mereka dengan suasana baru. Tapi masalah delete tentang hal pribadinya itu sudah kelewatan lancangnya.


Dengan kasar, Dibi membuka pintu kamar. Membuat Pe yang sedang ritual membersihkan wajahnya di depan kaca rias itu, terkesiap.


"Kenapa kamu sampai lancang menghapus semua foto foto kenangan kami, Pe?"


Pe tahu, Dibi sedang marah. Meski cara bertanyanya penuh kehati hatian. Ia lebih memilih diam. Belum membela diri yang sebenarnya ia pun tidak tahu foto apa yang di maksud oleh Dibi.


"Apa kamu tau, Pe. Hati Kakak begitu sakit. Cinta yang selama ini kakak rajut bersama Kiara telah berakahir tragis."


'Dan hati Pe juga sekarang sama tragisnya melihat mata penderitaan Kakak, kerena ada aku di antara kalian.'


Pe sadar diri dan masih diam. Hanya hatinya lah yang berkata pilu. Ia pun menderita karena hatinya mencintai orang yang telah mencintai wanita lain dengan terang terangan memperlihatkan di depannya.


Beda halnya dulu, Pe masih bisa menahan sesak hatinya karena ia waktu itu bukanlah siapa siapa. Namun sekarang ia adalah seorang istri!


"Kamu meruba semua intrior rumah ini, Kakak masih memakluminya. Tetapi dengan cara kamu lancang membuka teritori pribadi orang lain, itu sudah luar biasa melampau kurang ajar."


"Kak, harus kakak ketahui, kalau Pe tidak pernah sama sekali menghapus foto foto kenangan kalian. Tidak pernah! Bahkan, Pe tidak tau wujud gaya gaya kalian seperti apa di foto itu! Oke fine...ku akui kalau tadi Pe meminjam laptop kak Dibi. Tapi sumpah demi nyawaku, Pe tidak ada klik ke galerimu, Kak. Aku hanya meminjamnya untuk mencari artikel cara menjadi istri yang baik, itu saja. Tetapi, sampai nyawa Pe melayang ke neraka pun, Pe tetap tidak akan bisa menjadi istri yang baik karena suami Pe sendiri menganggap istrinya sebagai 'orang lain'. Tak di anggap karena Kakak masih meng-agung agungkan wanita lain di depan dan di belakangku."


Dibi-lah yang sekarang membatu dalam berdirinya di belakang Pe yang duduk di hadapan cermin rias. Mata mereka saling pandang di pantulan cermin itu.


Dalam tutur panjang Pe, tidaklah bernada marah. Namun, datar dan terkesan tenang. Tapi percayalah, sakit hati Pe saat ini seperti tersayat sayat, akan tetapi ia pintar menutupi dan mengontrol jiwanya untuk tidak menjerit jerit seperti orang gila.


Ia marah pada suaminya, tetapi ia pun tidak bisa membencinya karena hatinya itu sangatlah mencintai tulus nama Dibi.


"Pe punya hati lho, Kak. Pe bukan patung! dorsal korteks cingulate anterior pada otak Pe begitu peka terhadap nyeri dada ini." Mata Pe berkaca kaca.


"Tanpa sengaja, Kakak sudah mencap Pe sebagai duri hubungan Kakak dan Kiara. Maka dengan itu, aku berlapang dada melepas pernikahan kita. Mari bercarai, Kak!"


Deg....


Jantung Dibi berdetak kaget mendengar penuturan Pe.

__ADS_1


Ia menyusul Pe yang langsung naik ke kasur setelah mengutarakan perceraian.


"Apa Kakak begitu buruk, Pe?" lirih Dibi di belakang tubuh Pe yang rebahan dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Pe menangis dalam diamnya.


"Maafkan Kakak yang sudah keterlaluan. Jangan bersikap kanak kanak, Pe. Perceraian antara kita bisa menyebabkan perceraian dua keluarga besar kita, Pe. Pikir ke sana!"


Oh, jadi itu doang yang dikhawatirkan suaminya? Sungguh sangat menyedihkan baginya. Dan apa katanya? Ia bersikap kanak kanak? Cih... bahkan ia sudah mengalah untuk mundur tanpa banyak drama demi kebahagian suaminya.


"Masalah keluarga urusan belakang, Kak. Orang tua kita pasti mengerti keadaan rumah tangga dadakan tanpa cinta ini, ralat...tanpa cinta Kak Dibi."


"Baiklah, mari bercerai. Telepon sekarang keluargamu. Tetapi sediakan terlebih dahulu kain kafan buat kakak, karena saudara kembarmu yang simba dan sikopet itu sudah pernah mengancam kematian untuk kakak terima, kalau setetes air matamu mereka lihat."


Dibi dilemah. Ia juga setuju bercerai dari pada terlalu lama menyakiti perasaan Pelangi. Akan tetapi, ia harus memikirkan hubungan keluarga besar mereka yang dipastikan Biru--orang tua Pe itu pasti akan murka dan kecewa padanya karena ia begitu tega mengembalikkan anak wanita satu satunya.


Hah...ia harus mengorbankan hatinya untuk Kiara mulai malam ini. Ia harus berusaha ekstra menelisikkan nama Pe ke hatinya agar nama Kiara terhempas.


Dibi mulai bertekad memulai rumah tangganya dengan sungguh sungguh.


Mungkin sesi pertama adalah memiliki tubuh Pe sepenuhnya dengan saling menyatukan darah.


Dengan itu, Dibi segera menyilak selimut Pe. Lalu rebahan di dekat istrinya. Saat Pe membalikkan tubuhnya melihat sosok menyebalkan namun dicintainya itu mau apa? eh...tiba tiba, Dibi menyerang bibir tipisnya yang kemerahan alami itu.


Jelas Pe terkejut hebat. Bukannya, Dibi pernah bilang kalau pria yang memagutnya ini tidak akan pernah nafs* dengan tubuhnya kecuali diguna gunain atau katanya kalau Dibi sudah gila.


Di sini, Pe tidak pernah merasa main pelet lho. Ah...berarti Dibi sekarang yang sudah gila.


"Bantu Kakak untuk membuang nama Kiara, Pe. Dan inilah caranya, mau 'kan?" izin Dibi setelah melepaskan ciuman yang masih terasa kikuk nan canggung itu.


Tentu saja Pe mengangguk setuju. Ia menghargai awal tekad suaminya sehingga kepercayaannya yang seratus persen itu ia berikan ke Dibi.


Dan malam itu, Dibi berhasil mengambil madu Pe yang pertama tanpa ada cinta yang belum tumbuh. Namun ia begitu lembut memperlakukan Pe. Semoga ia bisa cepat mencintai wanita yang masih di dalam tindihannya. Dan satu kenyataan terbongkar yang diketahui Dibi, yaitu selaput darah tipis Pe masih ada. Itu artinya ia dan Pe malam itu tidak pernah melakukan perzinaan.


Menyesal? Jujur, ia ada rasa itu karena sudah menikahi Pe dan berakhir membuat Pe dalam rasa sakit hati. Namun sekarang, sebagai laki laki yang bertanggung jawab, ia akan mempertankan pernikahannya karena malam ini, ia terlanjur menyatukan darahnya dengan Pe dengan tali pernikahan suci.


Semoga ia tidak oleng lagi saat mengingat nama Kiara. Semoga!

__ADS_1


__ADS_2