
Jalan jalan yang di janjikan Dibi kemarin, nyatanya tidak sesuai ekspektasi Pelangi. Wanita hamil itu hanya bisa menelan kekecewaan lagi dan lagi, hanya karena Kiara di sana sedang merajuk dan berujung tidak mau makan katanya karena Dibi tak kunjung datang.
"Pergilah, Kak."
Izin? Ya... Pelangi mengijinkannya dengan bibir tersenyum. Tapi percayalah, hati Pelangi menangis darah penuh luka tak kasat mata. Ia sebenarnya mau melarang, tapi merasa percuma juga karena Dibi pasti akan berujung membujuknya dengan lembut.
" Maaf ya, Pe, tapi kakak akan cepat pulang kok." Dibi menyentuh lembut kedua pundak istrinya. Lalu mengecup kening Pelangi. Setelah nya pergi begitu saja.
"Padahal tinggal otewe saja," lirih Pe seraya duduk di kursi teras. "Percuma juga dandang buru buru tadi."
Pelangi bermonolog kecewa seraya memutar mutar cincin pernikahannya yang ada di jari manisnya. Tanpa sengaja, cincin itu terlepas, mengelinding menjauh, lalu berputar putar sebentar di lantai itu sebelum jatuh diam tepat di depan kaki seseorang.
"Badai!" Pe menyapa kembaran nya seraya tersenyum kecil sebagai tanda menekan rasa kecewanya pada Dibi barusan.
"Kenapa cincin nya dibuang?" selidik Badai seraya mengambil benda mahal itu. Lalu berjalan ke arah saudaranya.
"Mana ada dibuang! Enak saja kalau ngomong. Huuhh.. Gue cipo* lu!"
Pe tidak becanda tentang ingin menyosor kembarannya. Bedanya ia hanya mencium sayang adiknya itu tepat di dua pipinya.
"Astaga, perasaan gue itu nggak mirip Dibi deh. Tapi kok di sosor juga. Ampun ya!" Badai berceloteh kesal seraya membersihkan pipi nya asal asalan dengan lengan jasnya yang ia sampirkan di pundaknya.
"Sini, gue tambahin lagi...Hahahah..." Pe semakin bertingkah. Ia senang menggoda Badai, semakin Badai tidak suka, maka semakin menjadi jadi ia bertingkah.
"Woi... Jangan bilang bibir gue juga mau lu sosor, Pe!"
Badai memejamkan matanya ngeri karena Pe saat ini menangkup ke dua pipinya sampai bibirnya monyong monyong maju sendiri.
"Bibir juga boleh kayaknya!" goda Pe. "Masih suci atau sudah hilang perjakanya, Boy?" tanyanya yang semakin memajukan wajah nya. Berpura-pura ingin mencium area sensitif adiknya.
Badai? Ingin rasanya ia mendorong wanita itu, tapi ya bagaimana dong, ia juga tidak bisa karena Pe adalah kakaknya, istimewa sedang hamil besar, kalau jatuh auto bahaya.
"Pe, lu lagi sang* ya? Hah... Gue datang bertamu salah waktu! Kampret lu, lepas ah!" Badai mengoceh dengan suara tidak jelas karena bibirnya masih dibuat monyong oleh tangan Pe yang mempunyai tenaga gajah.
"Uluh uluh uluh... Hahahah, dasar O'on, masa gue sang* sama adik sendiri. Gue cuma kangen! Sini minta peluk yang erat."
Pelangi masuk ke dalam dada adiknya, dibalas peluk sayang juga oleh Badai.
"Gue juga kangen lu, Pe, makanya pulang dari luar negeri langsung kemari," terang Badai apa adanya. Belakangan ini, ia memang merindukan dan sering teringat dengan saudara kembarnya.
"Ehemm..."
Acara berpelukan Badai dan Pelangi terganggu dengan adanya deheman seseorang. Dan pelakunya itu adalah Topan, kembaran tertua mereka.
"Apa apaan kalian berdua? Pelukan teletubbies tanpa aku. Minggir!"
Topan mendorong pelan Badai dan menarik Pe masuk ke dalam pelukan nya.
Seperti biasa, Topan berucap tanpa bermimik, selalu datar dan kaku. Tapi percayalah, kasih sayangnya setinggi gunung pada tiga wanita wanita tersayangnya--Mentari, Gerhana dan Pelangi.
"Astaga, lu itu ada di kota yang sama dengan Pe, tapi kenapa bertingkah aneh seperti ini, hah? Beda dengan gue yang baru pulang dari luar negeri, Nyuk."
__ADS_1
"Berisik!"
Pe hanya terkekeh kecil menyaksikan dua pria over protektif di hadapannya yang saling berketus ria.
"Gerhana nanti digondol orang, nyaho lu!" dengus Badai. Dapat smirk tajam dari Topan seraya melepaskan pelukannya dengan Pelangi.
"Pe, sejak kapan kita hiatus membantai orang? Aku kok rasanya ingin mendengar suara remukan tulang tulang manusia."
Pe menyeringai, beginilah cara mereka kalau sedang berkumpul. Pedas pedas enak, ibaratkan makan bakso mercon.
"Kamu jadi wasit, Pe!" Badai paham betul keinginan Topan yang ingin adu bela diri.
"Nggak ya, aku ikutan. Kita sudah lama lho nggak berolahraga bersama." Pe mengerucutkan bibirnya saat dua pria di depannya menatap dirinya dengan decakkan pinggang galak masing-masing.
"Apa apaan mata tajam kalian? Gue sanggup ya ngelumpuhin lo berdua pakai jurus capoera gue." Pe tidak sadar kalau sedang hamil. Keceriaannya tercipta kalau sedang bersama saudaranya.
"Ck, ponakan gue mau lu buat lahir sebelum saatnya, hah?" Badai mengelus perut Pelangi tanpa canggung demi mengingatkan kehamilan kakak beda lima menitnya itu.
"Hehee... Iya ya! Kalau begitu, lebih baik kita main kartu aja yuk. Aman kan ya!"
Kedua saudaranya, kini sudah Pe apit lengannya. Menuntun masuk ke dalam rumah. Tapi, baru juga di ambang pintu utama. Suara moge yang knalpotnya sudah di modif berisik itu telah menggangu si kembar Triplets.
" Ish, sejak kapan si Bhumi dan Angkasa suka motor berisik? Bukannya para guru guru budiman itu punya jiwa jiwa lemah lembut seperti Bunda."
Topan tidak habis pikir akan bertemu saudara-saudaranya di rumah Pelangi. Niat hati ingin bertemu kangen dengan Pe seorang yang entah kenapa ia bisa rindu menggebu pada saudari satu satunya itu. Eh.... Dapat bonus tiga orang ternyata.
Lain dengan Pe, ia jadi lupa dengan segala beban nya karena kehangatan langka itu.
"Kalian, ikut ikutan aja. Bilang aja mau minta jus di rumah Pe." Badai berceletuk pedas.
Tapi si Twins hanya terkekeh kompak.
"Kak Pe, ayo sediakan makanan. Jarang jarang loh kita bertamu." kata Bhumi. Ia dan Angkasa mengedipkan mata kompak. Kode segera mengapit Pelangi dan membawa nya masuk ke dalam rumah. Padahal, tadi itu adalah posisi nyaman Topan dan Badai.
"Dasar, adik tak tau diri!" Dingin Topan memaki punggung Bhumi dan Angkasa yang tak di respon mereka.
Badai sendiri hanya mampu melongo karena si Twins yang terakhir datang, malah duluan duduk di sofa empuk Pelangi.
"Ayolah... Jangan ada keributan yang unfaeda ya. Aku senang kalian berkumpul di mari. Masuk dong, Topan, Dai... Ayo!"
Setelah memastikan empat pria tercinta nya duduk santai dan saling mengobrol tentang kabar yang memang mereka sibuk dengan urusan masing-masing, Pe pun bergegas masuk ke dapur untuk membuatkan minuman.
" Astaga, kenapa malah mimisan lagi di saat ada mereka."
Pe panik sendiri, cepat cepat ia membersihkan darah dari hidungnya itu menggunakan tissue.
"Rileks, Pe! Santai, oke... Jangan perlihatkan wajah pucatmu di depan mereka." Pe memperingati dirinya seraya menancap kembali bibirnya dengan lipstik yang memang sengaja ia kantongi ke mana mana.
Setelah merasa enakan, Pe akhirnya kembali bergabung dengan saudara-saudaranya. Ia mengambil duduk di antara Badai dan Topan.
"Ayolah, ini itu rumah ya, jangan ada yang membahas pekerjaan di depan telinga ku. Secara, aku sekarang pengangguran jadi," Warning Pe dan di setujui ke empat pria rupawan itu.
__ADS_1
"Sekarang Dibi di mana, Pe? Apa tidak ada di rumah?" tanya Topan penuh selidik seraya memutar matanya untuk mencari sosok yang sudah berhasil menikahi adiknya secara tidak terhormat itu.
"Kalian pasti tau tugas seorang polisi kan? Jadi harap dimengerti!" Pe menjawab sesantai mungkin. Bahaya nyawa suaminya itu kalau ia meluapkan rasa kekecewaannya kepada empat singa singa di depannya. Meski sedang sakit hati, ia tetap saja peduli pada Dibi. Itulah cinta, buta juga bodoh.
Tidak ada lagi yang menanyakan Dibi. Pe yang mendapat kesempatan bagus untuk membuat senyum kenangan kebahagiaan bersama saudaranya, segera menawarkan permainan kartu.
"Kartu?" ulang si Bontot, Angkasa.
"Eum, kalian berempat yang main. Kalau ada yang kalah tiap periodenya, maka aku yang menghukum pakai ini..." Pe tersenyum geli seraya mengeluarkan lipstiknya.
Ketiganya setuju kecuali si miskin mimik yang menolak. Tapi bukan Pe namanya kalau ia tidak berhasil membuat Topan setuju.
" Topan, Sayang..." Pe memasang puppy eyes-nya. Jangan lupakan suara nya yang bernada manja memohon.
"Dasar jelek!" ketus Topan seraya mengambil kartu yang ada di meja. Ia sendiri yang langsung membaginya. Membuat Pelangi tersenyum jumawa.
Dan di sepanjang permainan itu, tawa mereka membahana kompak menertawakan Topan yang kalah terus. Bukan kalah sewajarnya, itu ulah Pe yang berdiri di belakang Topan dan memberi kode ke tiga saudaranya sebagai bocoran kartu kartu Topan.
"Hais... Kenapa hanya wajahku yang dapat coretan lipstik." Topan mendengus kesal menatap tak terima pada wajah wajah adiknya yang masih macho macho. Sedang dia, Hais... Tinggal mata, bibir, dan lubang hidung yang masih jauh dari lipstik merah itu.
"Mana kami tahu, itu tandanya kamu sedang sial, Kak," jawab Bhumi seraya terkekeh.
"Hukuman terakhir nih..."
Hahahah... Dan tawa semakin membahana saat Pe berhasil mengotori bibir Topan menggunakan lipstik.
"Aduh... Tuhan. Kak Topan mirip sama sahabat Bunda. Siapa namanya, Kak Badai?"
"Om Sam eh.. Bukan Om, tapi Miss." jawab Badai pada pertanyaan Angkasa.
Topan langsung mendelik horor saat ia di samakan dengan banci. Tapi sialnya, tatapan seram nya tidak ada yang takut. Adik adiknya makin kompak tertawa puas.
"Duh, kalau Kak Gerhana lihat suami datar nya jadi banci, reaksinya bagaimana ya?"
"Kakak hancurkan hapemu kalau kamu berani memotret ku." ancam Topan. Bhumi akhirnya tidak jadi.
Tapi....
Cekrek...
Pelangi lah yang berhasil mendapat selfie dadakan dengannya.
"Pe!"
"Hahaha... Buat kenangan ku."
Topan tidak bisa merebut hape Pelangi karena adiknya itu langsung mengamankan gawai nya masuk ke selipan dada Pe.
"Menyebalkan! Sono lu pada ketawa sampai pipis di celana."
Topan kembali memasang mimik datarnya, membiarkan adik adiknya puas tertawa so hard.
__ADS_1
"Terima kasih hiburan kalian hari ini, Saudaraku..." batin Pe. Ia berkaca kaca sedih dalam tawa nya. Suasana hangat seperti inilah yang akan dirindukan olehnya.