
Lima belas kemudian, para inti keluarga kini sudah berada di ruang tamu rumah Biru.
Suasana ruangan itu sangat mencekam bagi Dibi dan Pelangi. Kedua orang tuanya duduk bersebelahan dengan orang tua Pelangi. Topan dan Badai berdiri di belakang sofa panjang yang di gunakan para orang tua itu, sudah seperti bodyguard yang siap memukul kalau kalau ada salah kata di mari.
Sedang ia dan Pelangi duduk bersisian, sudah seperti orang pesakitan.
"Jelaskan ke saya, Dibi. Sudah berapa lama kamu memperdayai Pelangi? Atau memang kalian suka sama suka hingga terbuai dengan godaan setan?! Lantas, Kiara mau kamu apakan? Kantongin?!"
Duh, setannya kok sampai segitunya. Dibi merasa Uncly nya itu mengatainya setan.
Biasanya, yang mengintrogasi penjahat itu adalah dirinya karena tugas Negara adalah tanggung jawabnya. Namun, kali ini ialah yang di introgasi seperti penjahat kelas kakap.
"Uncly, tidak seperti itu! Aku dan Pe tidak melakukan apapun, sumpah!" Dibi mengelak mati matian. Sedang Pe, ia memijat pelipisnya yang pusing tujuh keliling, ia juga tidak mengingat apapun semalam karena mengkonsumsi obat tidur.
"Sumpah, sumpah! Sumpahmu mau Uncly goreng, terus tak jejelin ke mulutmu itu!" Biru tidak percaya. "Kalau begitu, coba jelaskan itu tanda apa di leher Pelangi?"
Semua mata langsung menatap leher Pe yang kebetulan pakai baju yang berleher V, auto kelihatan dengan jelas bekas tanda drakula Dibi yang dibuatnya dalam keadaan hangover. Semua pun berasumsi yakin seratus persen kalau Dibi dan Pe kuda kudaan semalam.
Ck...pezina ngaku, razia tidak akan beredar woi!
"Jangan mengelak lagi, Dibi. Katakan dengan laki dong! Mama tidak pernah mendidikmu menjadi pengecut, Nak!" Bintang, Mama galaknya itu bersuara dengan nada kecewa berat. Bukan Mentari saja yang kecewa sebagai orang tua, tetapi dua pasangan suami istri itu pun sangat terpukul.
"Akuilah, Nak! Kami tidak akan mengarakmu keliling komplek kok." Dirgan, Papanya itu pun mendesak.
"Bunda, dan semuanya. Sumpah demi apapun itu, Pe tidak pernah melanggar norma norma yang merugikan diri Pe sendiri. Ayah...percayalah, Pe tidak tahu menahu pasal ini. Pe juga bingung kenapa ada Kak Dibi di ranjang. Pe kira itu guling, ya...Pe peluk saja karena hangat, kalian juga pasti tahu kalau cuaca lagi dingin dinginnya, dari pada nganggur gulingnya ya....semakin Pe peluk erat deh."
__ADS_1
Pelangi yang belum sempat ditanya sudah tidak kuat juga untuk diam saja tanpa membela diri sendiri. Tapi rasa rasanya, ia berbicara salah dalam memilih kosa kata yang tepat deh. Lihatlah air muka Ayahnya, semakin muram durja... uih. Lidah bodoh! Gue gigit juga lo! Kenapa harus memperjelas kata peluk. Hadeeh...Pe merutuk lidahnya.
"Pe, mata Ayah memang fungsinya sudah mulai menurun. Akan tetapi...semua orang di sini sudah melihat keadaan kalian berdua di atas ranjang." Tangan Biru kembali terkepal kuat, dikala peristiwa matanya yang masih segar tadi, terbesit pose tak senonoh putrinya yang dimana wajah Dibi begitu nyaman di dada Pe yang naked. Kalau sekedar peluk doang ya tak apa, ini...astagfirullah...naked naked-an! Jelas tak percaya dong.
Namanya saja orang tua, ogah ogahan melihat anaknya hancur karena nafs* belaka. Dulu...ia pun pernah muda, punya nafs besar sesama lawan jenis. Bucin parah juga sama Mentari, tetapi ia masih bisa menjaga kesecian wanitanya meski setengah mati menahan hasrat nafs liarnya. Sah lebih afdol!
Tetapi, anaknya sekarang...astaga! Gagal sudah ia memimpin keluarganya hanya karena satu kesalahan.
"Oke, Dibi mengaku salah! Tetapi jangan salahkan Pelangi lagi. Kami memang tidak pernah melakukan apa apa sebelumnya, apalagi tidur bersama kecuali semalam."
Apa boleh buat, dengan cepat agar Pelangi terbebas dari kemurkaan, Dibi pun akhirnya menceritakan awal mulanya datang ke kamar Pe yang sebenarnya cuma ingin curhat, karena Kiara yang tiba tiba memutuskan hubungan yang sudah terjalin lama.
"Dasar, cemen! Baru putus pacar saja sudah mau ngadu dan mau nangis kejer di kembaran gue! Lo pikir Pe itu moyang lo!" celetuk Badai geram.
Dibi memang kesal di ejek, namun ia hanya diam mengabaikan mulut tajam si Badai. 'Gue sumpahin, lo punya masalah ruwet juga tentang cinta,' batin Dibi merutuk. Kalau sama Topan, ia tidak mau buang buang sumpah serapah, kasihan...Gerhana, istri Topan itu lagi ngidam.
Dibi yang tidak yakin, memilih diam seraya menggeleng. "Maaf, Pe. Kakak juga tidak yakin itu, karena keadaan Kakak lagi hangover. Coba kamu ingat ingat lagi, apakah Kakak melakukan 'itu' padamu?" Dibi balas bertanya. Lantas, membuat Biru sebagai Ayah makin tersulut emosi.
Bisa bisanya anak sebiji itu menyuruh putrinya mengingat hal bejatnya. Dasar!
Karena emosi, Biru langsung melompati meja tamu yang menjadi penyekatnya dengan Dibi.
Dan...
Bugh...bugh...
__ADS_1
Wajah Dibi bertambah babak belur lagi oleh kekuatan tua, tapi masih prima itu.
Si duo nama bencana alam pun mau lagi dong olahraga lagi. Tapi...eh, terhenti oleh suara Sang Bunda.
"Terus saja, Hulk! Pukulin sampai mati, tetapi kalau Dibi mati, maka siapa yang akan bertanggung jawab pada putriku?!"
Bunda Petite-nya ternyata sanggup juga bersuara menggelegar. Sontak membuat semua terpaku.
Sejurus, Bintang yang iba dengan wajah anaknya yang kembali babak belur, segera berlari ke dapur untuk mengambil es batu, berniat mengobati anaknya yang berdarah darah lagi sudut bibirnya.
"Aunty, Dibi akan tanggung jawab pada Pe!" Dibi mengalah. Demi keutuhan keluarganya dengan keluarga Pe yang masih punya ikatan kerabat itu, ia rela mempertarungkan cintanya yang masih dimiliki Kiara.
"Memang harus seperti itu!" Mentari langsung memuntahkan kekesalannya yang ia tahan tahan sejak awal.
"Tapi, Bun, Yah! Ini...ini..."
Kata kata gagap Pelangi yang sebenarnya ingin mengatakan kalau ini salah langsung tertelan kembali karena kedua orang tuanya menatapnya penuh arti yang mungkin kode...diam saja lo.
Hah...Pe memang mencintai Dibi! Akan tetapi, tidak begini juga caranya. Ia mencintai, maka mau pun dicintai. Bukan dengan secara terpaksa menikah. Istimewa, Pe sangat khatam kalau seluruh perasaan Dibi itu sudah dikuasai nama Kiara. Oi Amang oi..macam mana pula lah nasibnya nanti?
Pe ingin sekali memuntahkan penolakannya, namun tidak bisa juga karena ia tak mampu melawan orang tuanya sendiri. Buah simalakama ini lah yang rasanya dimakan mati, dimuntahkan pun mati.
"Biar lo puas, Bi. Hari ini pun, gue akan menghadirkan penghulu di depan keluarga lo." Dirgan menepuk pundak sahabat oroknya itu. Lucu saja rasanya, kalau ia akan berbesanan dengan Biru dan Mentari.
"Urus sono! Awas saja pokoknya anak lo itu lari dari tanggung jawab. Gue bongkar paksa rumah lo yang di sebelah itu, agar kita nggak tetanggaan lagi."
__ADS_1
Sabar! Dibi dan Pe mengelus dada tanpa ada janji. Biru memang juara kalau sedang marah. Apa apa di sangkut pautkan. Rumah pun jadi sasarannya, katanya.