
Hari berganti hari, hubungan pernikahan Pe dan Dibi semakin hari semakin hangat menurut Pelangi, yang dilihat oleh mata telanjangnya, serta hati naifnya itu merasakan perhatian manis Dibi, dan terpenting adalah suaminya sudah tidak pernah menyebut nama Kiara lagi di depannya.
"Pagi, Kak." sapa Pelangi yang baru keluar dari kamar. Ia saat ini berdiri di dekat kepala Dibi yang sedang push up.
"Pagi, Pe. Ayo cepat naik, Kakak sudah menunggumu."
Naik? Naik yang dimaksud oleh Dibi adalah, menyuruh Pe duduk di tubuh belakangnya yang sedang push up itu, sebagai tambahan beban tubuhnya untuk olahraga pagi. Tiap hari, Pe memang sudah menjadi soulmatenya, baik itu hangout, apalagi sedang olahraga seperti ini.
Kalau dilihat oleh mata orang lain, hubungan mereka sangat romantis.
"Dengan senang hati, Suamiku!" Pe duduk riang di atas punggung Dibi. Ia juga tidak sekedar bersila duduk. Akan tetapi, Pe melatih keseimbangan tubuhnya dalam rotasi gerak naik turun tubuh itu.
"Pe, rasa rasanya, kamu makin berat sih," canda Dibi seraya tersenyum yang tak dilihat oleh Pelangi. Hanya marmer-lah saksi mati senyum manis tak sadar keluar itu.
"Kakak ngatain Pe gendut ya?" Pelangi cemberut. "Padahal nafs makan Pe turun drastis akhir akhir ini lho." katanya dengan nada merajuk.
"Canda, Pe."
"Hem...Pe berat beratin nih tubuh seksi ku."
"Yaak, jangan Pe. Nanti pinggang Kakak encok bagaimana, eum?"
Sekarang Pelangi-lah yang tersenyum jahil. Sengaja dirinya itu bergerak gerak pelan di atas tubuh belakang Dibi yang masih push up.
"Pe! Yang anteng dong!"
"Heheh... iya iya! Pe diam nih." Pe cengengesan seraya menurut.
"Tapi kenapa nafs* makan mu turun? Kamu sakit, Pe?" Dibi penasaran. Ia tidak mau istrinya kurus dan malah di anggap tidak memberi nafkah sang istri dari mata keluarga Pe yang aslinya simba simba semua.
"Sakit? Nggak deh. Cuma sering pusing saja sih. Tapi abaikan, sakit kepala biasa doang itu."
"Yakin tak apa apa?" Ada suara cemas dari Dibi.
"Iya, Kak. Yakin seratus persen. Lupakan itu, lebih baik kita main teka teki dan yang kalah dapat hukumannya, gimana?"
"Siapa takut, Nona." Suara Dibi menjawab santai, padahal ada beban di punggungnya itu. Mungkin karena latihan tiap hari membuatnya terbiasa.
__ADS_1
"Mulai ya, tebak tebakannya itu mengandung matematika aja."
Pelangi tersenyum penuh arti terlebih dahulu sebelum bersuara, "Jika dibutuhkan waktu 15 menit untuk merebus 1 butir telur. Maka berapa banyak waktu yang diperlukan untuk merebus 4 butir telur? Ayo jawab!"
"Mudah itu mah, anak SD aja tahu, dan jawabannya adalah 15 menit kali 4 butir, sama dengan 60 menit." Dibi menjawab enteng. Kecil sekali menjawab gituan.
"Salah! Jawabannya tetap 15 menit, Kak. Karena para ibu ibu bisa merebusnya secara bersamaan. Biar irit gas. Iya kali si Ibu buang buang gas cuma masak sebutir sebutir."
Dibi tertawa dalam push up nya. Benar kata Pe, para Ibu rumah tangga itu senang menghemat.
"Lanjut ya! Hem... Pe punya 8 apel, sedang Kak Dibi minta 2. Sisa buah Pe tinggal berapa?"
"Enam lah."
"Salah!"
"Terus?"
"Tetap 8 karena Pe pelit, ogah berbagi."
Hahhahha... Meski tertawa, Dibi dan Pe masih bisa seimbang dalam aktivitas olahraganya.
"Iya!" jawab Dibi yang harus bisa menjawab kali ini.
"Ada bebek 9 ekor, di kali 2. Jadi berapa?"
"Delapan belas lah, Pe."
"Salah!"
"Lho, kok salah lagi! Jadi berapa dong?"
"Sisa 7 lah, Kan 2 nya main di kali...hahaha, di simak dong pertanyannya. Haahhha...Hore, Pe menang!"
Saking senangnya karena menang, Pe bergerak gerak sehinga duduknya itu oleng. Pe gedubraak... ke lantai. Kepalanya hampir kejedot, namun telapak tangan besar Dibi lebih sigap bergerak melindungi kepala Pe sehingga kepala Pe aman dari sakit.
Di atas lantai itu, mereka berbaring dalam posisi kepala mereka begitu dekat, di iringi tatapan saling beradu. Jantung Pe selalu berdegup kencang jikaulah manik hitam suaminya itu menatapnya dalam dalam pada netranya.
__ADS_1
"Kakak kalah, siap dihukum ya?"
Tanpa berkedip, Dibi menjawab iya dengan suara berat namun lirih, seksi di telinga Pe yang begitu mencintai suaminya. Hembusan nafas Dibi pun yang menerpa wajah Pe, membuat wanita cantik itu tenggelam terhipnotis.
Pe menggerakkan kepalanya untuk semakin dekat tak berjarak lagi dengan wajah Dibi, yang saat ini bibir Pelangi sudah mulai menempel pada lawannya yang kenyal itu.
Hati Dibi yang katanya belum ada perasaan pada wanita yang di balas pagutannya itu, selalu menikmati kehangatan dari tubuh Pe. Lihatlah, libidonya itu sudah menguasai otaknya.
Perlahan lahan, dalam pagutannya itu, Dibi sudah berhasil membuat benang depan Pe terbuka.
Dan permainan suami istri itu pun tidak terelakan. Awalnya forepla* di lantai, namun tidak nyaman. Dibi meraup tubuh naked Pe yang sedap dipandang mata kelakiannya itu naik ke sofa panjang.
Ahhh....Eugh...
Seperkian detik, menit sampai satu jam, suara erangan seksi itu mengalun indah di ruangan yang tidak akan ada orang lain melihat dan mendengarnya.
***
"Duh, Pe. Kakak uda telat dinas lho."
"Iya, Iya. Ini kaos kakinya."
Telat? Ya jelas, pagi pagi Dibi tenggelam permainan yang memuaskan adik kecilnya sampai lupa diri.
"Lempar aja Pe!" Dibi tidak sabaran. Pe yang aktif pun, dari depan laci segera melempar kaos kaki bersih itu dan di tangkap sempurna oleh Dibi dalam duduknya di sofa.
Setelah kaos kaki, Pe segera menarik sepatu polisi milik suaminya. Hampir beberapa bulan menjadi seorang istri tanpa adanya pembantu melayani, membuat Pe semakin dekat dengan suaminya. Meski kata cinta dari bibir Dibi sama sekali belum pernah di dengarnya, namun tak apa. Pe masih bersabar dan enjoy menanti hari itu. Toh...perlakuan Dibi padanya sangat manis macam perhatian Biru--Sang Ayah pada Ibundanya.
Seperti saat ini, Dibi berpamitan dinas dengan cara mencium keningnya dan ke dua pipinya serta di balas ciuman punggung tangan itu oleh Pe. Manis bagi Pe, meski mula mulanya waktu itu, ialah yang memaksa halus Dibi, sehingga kebiasan kecil tapi luar biasa maknanya bagi Pe itu berjalan terbiasa sampai saat ini.
"Kakak pamit ya! Hati hati di rumah, oke! Karena Kakak mungkin bisa saja pulang malam."
Pe mengangguk yang saat ini, surai panjangnya di acak acak lembut oleh Dibi yang tersenyum manis padanya.
Senangnya hatinya.
"Kapan sih, Kak. Kata cinta mu bisa Pe dengar?"
__ADS_1
Jangan pikir Pe bertanya pada sosok pria yang sudah jadi miliknya itu. Bukan! Pe hanya bertanya pada daun pintu karena Dibi sudah pergi bersama mobilnya.
Ia bisa saja bertanya langsung seperti itu, tetapi Pe tidak mau, karena ia butuh kata cinta yang tulus, bukan kata cinta yang dipaksa keluar dari mulut pria pujaannya itu.