
"Gue bukan teman lu!"
Kiara terkesiap dalam diamnya saat Pe, anak kecil yang sering mengintili Dibi dulu itu berani berucap dingin padanya.
"Jangan kurang ajar, Pe, aku adalah__"
"Siapa?" Pe mensergah. Memang, Kiara tidak tahu apa apa sekarang. Dan harusnya ia marah pada Dibi, bukan wanita yang lagi duduk di atas kursi roda itu.
Inhale exhale...
Pe mengatur nafasnya agar tidak meledak di depan Kiara yang katanya lagi sakit.
"Maaf, gue nggak bermaksud..." katanya lirih seraya melempar pandangannya ke langit yang cerah.
"Tak masalah. Dan rupanya kamu lagi hamil ya? Kok aku nggak tau kamu sudah nikah! Kapan dan sama siapa?" Kiara bertanya seraya membayangkan dirinya berada di posisi Pe. Hamil, jadi Ibu dan tentu saja ada Dibi yang akan menjaga, melindungi serta menyayangi keluarga kecilnya. Bahagianya... Kiara jadi nggak sabaran melakukan kemo demi kemo lainnya yang katanya ia sudah ada kemajuan.
"Sama Kak Dibi!" celetuk Pelangi sengaja. Ia ingin melihat respon Kiara seperti apa.
"Hah...?" Mulut Kiara ternganga karena terkejut.
__ADS_1
Pelangi yang tidak punya rasa tega karena melihat Kiara langsung shock nan pucat, segera tersenyum paksa dan berkata, "Hehehe... Canda, Kiara. Tau sendiri, Kak Dibi sangat mencintaimu lebih dari apapun. Mana mungkin aku menikah dengannya."
Bagai bom waktu yang siap meledekan tubuh Pe saat mengatakan kalimat sederhana 'Dibi sangat mencintaimu'. Hal mudah bagi orang lain katakan, tapi kalau yang mengatakan hal tersebut adalah dirinya kepada wanita yang dicintai suaminya, sungguh sangat menyayat-nyayat hatinya.
'Aku sanggup bersaing dengan wanita yang 'menyukaimu' Kak Dibi. Tapi.... Aku tidak sanggup bersaing dengan wanita yang kamu 'cintai', karena kamu selalu berjalan lurus tanpa melihat ada orang tulus di samping mu,' batin Pe. Tanpa sadar, air matanya menetes terlihat oleh Kiara.
"Pe, apa kamu punya masalah? Kamu kenapa menangis?" Kiara segera mengeluarkan sapu tangannya. Sialnya, Pe semakin tidak kuat menahan mata pedih itu karena melihat nama Dibi di sapu tangan Kiara.
"Ayo ambillah! Kamu jelek kalau menangis, Pe. Wajah cantik mu seperti keriput tau nggak," hibur canda Kiara seraya menyodorkan sapu tangannya. Tapi tak kunjung meraihnya membuat Kiara menaruh asal asalan sapu tangan itu di pangkuannya.
"Apa aku boleh curhat, Ki?" Pelangi menghapus cepat air gratis dari matanya itu.
Kiara meraih tangan kanan Pe, mencoba menjadi teman baik ke wanita yang kadang membuatnya kesal dulu, karena kadang waktu pacarannya bersama Dibi di ganggu oleh Pe. Kiara tidak menyangka, kalau Pe sekarang sudah menikah dan mendahuluinya. Sepertinya, ia akan bertanya banyak hal ke Dibi nanti, tentang Pe dan suaminya itu siapa?
"Ki, pernikahanku tidak berjalan mulus seperti pahaku." Pe mencoba menghibur diri sendiri dengan sedikit kata kata nyelenehnya.
"Kenapa begitu? Apakah suami mu memukul mu? Atau selingkuh? Pe, ayo lah... Kamu adalah wanita tangguh, beladiri mu sudah aku dengar dari Dibi. Jadi kamu tidak akan tinggal diam bukan kalau di pukul."
Pe menggeleng, Kiara ternyata tidaklah sedewasa yang ia pikirkan.
__ADS_1
" Ini bukan soal melukai fisik, Ki. Luka fisik mungkin dikompres, minum obat atau ke dokter bisa saja sembuh beberapa hari. Tapi soal hati, aku mencintai suami ku, tetapi dia tidak karena masih menaruh harapan pada mantan terindahnya. Kamu pasti paham dengan kerumitan hati bukan? Coba kamu katakan, apa yang harus kamu lakukan kalau suami yang kamu cintai ternyata terang terangan mendamba wanita lain di depanmu?"
" Pe, kenapa kamu menikah dengannya dan bertahan sampai hamil kalau suami mu tidak mencintaimu? Bodoh! Lepaskanlah orang yang seperti itu. Lihatlah dirimu, cantik dan mempunyai skill unik. Tolong ya, Pe, jangan cemarkan otak keturunan ensiklopedia Bundamu hanya karena kata cinta doang. Banyak lho Pe laki laki lain di luar sana. Jangan susahkan hati karena pria pengecut seperti dia."
'Mudah sekali bagimu, Ki, mengatakan hal tersebut karena bukan hatimu yang merasakan jatuh cinta bertepuk sebelah tangan. Bahkan aku sudah membenturkan kepalaku untuk membuang nama Kak Dibi. Tapi apa? adanya sakit memar tanpa ada amnesia.'
"Ceraikanlah Pria seperti itu dan pergi dari hidupnya!"
"Kalau orang pengecutnya itu Kak Dibi, apa yang akan kamu lakukan?"
Lama lama Kiara jadi cemberut kesal karena Pe selalu membawa nama Dibi.
"Bisa tidak, jangan sebut sebut nama pacar ku. Apa hubungannya coba? Kamu sangat mengenali dia bukan, Pe, kalau Dibi itu bukan seorang pengecut." Kiara sedikit ngegas.
Pelangi yang mulai merasa tubuhnya drop lagi, segera berdiri dan berkata, "Kiara... tak selamanya bayi itu akan tetap menjadi bayi, seiring akan tumbuh. Begitu pun sifat orang, kadang orang yang paling baik menurut kita bisa saja akan menjadi orang terjahat di dalam hidup kita, begitu pun sebaliknya. Sudahlah... aku permisi. Masih ada janji sama Dokter."
"Aneh!" Kiara bergumam seraya membalikkan kursi rodanya untuk menatap punggung Pe yang semakin jauh dan menghilang di belokan sana.
***
__ADS_1