Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi
Celaka


__ADS_3

Petir dan hujan deras dari bumantara di atas sana, tak di pedulikan oleh Guntur dan Dibi. Keduanya masih saling berdebat yang menyangkut cinta besar masing-masing untuk nama Pelangi.


Pelangi yang menyaksikan dan mendengar perasaan Guntur padanya yang begitu dalam, masih setia tertegun dan mencernanya baik baik.


"Bunga tiap hari, bingkisan dan hiburan badut serta kiriman manis lainnya itu dari Guntur..." lirihnya mengingat seorang badut datang datang berjoget di depannya untuk menghibur dirinya yang sedang rapuh.


Mata Pelangi berair. Bukan sebab air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya, melainkan air mata refleks yang entah kenapa juga harus keluar. Mungkin ia terharu pada sikap Guntur yang begitu luas untuknya. Ia ingin mendekati dua orang yang masih alot satu sama lain. Namun roda besi yang ia duduki terjebak tanah basah yang berlumpur efek air hujan.


"Kenapa kalian seperti anak kecil?!!!" Pelangi memutuskan untuk berteriak.


Dua kepala pria itu masih tak menyadari dan tak mendengar seruan tegasnya karena suaranya dibarengi dengan suara guruh yang begitu nyaring dan mengerikan di tengah hujan.


"Stop!" Kali ini, tiga oktaf nada Pe lontarkan di tengah hujan yang semakin deras.


Tepat Dibi ingin mononjok Guntur, pria itu berpaling ke arah Pe yang baru sadar akan keberadaannya. Ia pun berlari ke arah Pe. Bukan karena menghindari pukulan Dibi, malainkan ingin menyelamatkan wanita pujaannya dari dahan pohon yang patah karena hujan angin yang kencang.


"AWAAAAS PEEEE... !" Dalam berlarinya, Guntur memperingati seraya menunjuk ke atas pohon yang ranting sebesar betis orang dewasa siap menghantam kepala Pelangi.


Pe pun melirik ke atas. Begitu pun Dibi yang segera berlari cepat menyusul Guntur, namun sepertinya akan sia sia. Kedua pria itu masih sedikit jauh dari posisi Pe.


Pe yang ingin menggerakkan kursi rodanya, memang tidak bisa sedari tadi karena genangan air membuat lumpur pada tanah tersebut. Sehingga...


Praangg...

__ADS_1


Bugh...


"Aaarggh...."


Kayu dan tulang terlapisi daging, beradu keras. Bukan kepala Pe yang terkena, melainkan tengkuk berikut punggung Gunturlah yang menjadi korban. Karena sebelumnya, ia yang masih sedikit jauh dari Pe, melompat seperti skill harimau demi berlomba dengan jatuhnya kayu tersebut, dan bisa mendorong kursi roda Pe menjauh dari runtuhan.


Pe pun ikut celaka, terjatuh dan tertimpa kursi roda akibat dorongan kuat Guntur yang tak seimbang karena tanah yang basah.


Sedang Guntur langsung tak sadarkan diri.


"Pe...!" Dibi segera menolong Pe. Namun wanita itu menepisnya. Lalu berkata cemas, "Aku tak apa! Tolongin Guntur!" Pe segera mengesot di tanah itu, mendekati Guntur.


Demi rasa kemanusiaan, Dibi mengesampingkan rasa kesalnya ke pria yang terang terangan mengakui isi hatinya akan nama istrinya. Dibi pun akhirnya menolong Guntur. Memapah tubuh berat itu ke arah koridor seraya berteriak teriak memanggil bantuan.


"Tolong, Sus!"


Dibi di bantu dua suster untuk membaringkan Guntur di brankar. Setelahnya, Dibi pun kembali menerobos badai hujan yang kian deras.


"Pe..." Dari larinya, Dibi melihat tubuh Pelangi sudah terbaring pingsan di tanah.


Laju kakinya, semakin di percepat. Dibi segera meraup tubuh itu untuk diberi pertolongan.


"Pe, kamu baik baik saja kan?" tanyanya cemas di sela gendongan itu. Karena hujan begitu lebat, koridor lantai satu itu benar-benar sepi. Namun, di arah berlawanan ada Badai. Kembaran Pe itu masih menggunakan seragam hijau kesehatan khusus ahli bedah. Ia tidak sengaja bertemu brankar Guntur yang di dorong oleh dua suster tadi. Sehingga berujung menyusul Dibi di seketiran taman.

__ADS_1


"Pelangi dan Guntur kenapa?"


"Cepat periksa dia!" Dibi tak menghiraukan pertanyaan cemas Badai. Ia juga tak peduli tatapan sinis adik Pe itu.


"Bawa masuk ke ruangan ku!" Kebetulan, ruangan kerja Badai memang berada di lantai satu. Ia hanya perlu berbelok koridor dan terlihat pintu bercat coklat dihiasi nama gelar Dokter Badai di sana.


"Sus, tolong ikut saya. Bantu saya!" Suster lain yang lewat di depan ruangannya, segera Badai tarik. Meski adik kakak, Badai jelas punya otak untuk tidak mungkin membuka benang basah kakaknya secara keseluruhan. Ia juga ogah ogahan menyuruh Dibi melakukannya.


Suster itu menurut, segera masuk ke ruangan, di mana ada Dibi yang sudah menaruh Pe di atas bed ruangan Badai.


"Tunggu apalagi, cepat keluar!" ketus Badia ke Dibi karena pria itu masih mematung di tempat, padahal sang suster sudah mulai bergerak membuka satu persatu kancing kemeja Pe.


"Aku suaminya!"


"Dan aku adiknya, satu perut, satu darah dan satu ari ari dalam kandungan." Badai tak mau kalah. Ia membalik paksa tubuh Dibi agar berbalik, lalu mendorongnya. Dibi dan Badai pun keluar.


"Apa yang terjadi?"


Dibi menjawab datar pertanyaan Badai. Tanpa di kurangi dan di lebihkan atas kejadian di taman sebelumnya.


"Ish...kapan kembaranku akan tenang hidupnya. Andai aku bukan adik nya, sudah ku jadikan ratu hidup ku sedari dulu." Badai bertutur kesal dalam sindirannya. Ia pun segera masuk kembali karena suster tersebut sudah mengganti baju Pe menggunakan seragam khusus pasien.


" Aku ikut! "ujar Dibi. Badai tak melarang yang tak mau buang buang waktu. Ia belum tenang kalau keadaan Pe belum ia periksa.

__ADS_1


__ADS_2