Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi
Di Haramkan untuk Dibi


__ADS_3

Satu jam pun terlewat, seluruh keluarga inti Pe dan Dibi sudah berkumpul di depan ruangan operasi yang tak kunjung terbuka. Para sahabat Pe pun ada di antara mereka. Menunggu kabar dalam kecemasan masing-masing.


Dibi sedari tadi terus disuduktan pertanyaan, makian dan juga kekesalan semua keluarga Pelangi. Ia hanya menelan bulat bulat semua hardikan itu.


Dirga dan Bintang, sebagai orang tua Dibi pun merasa kecewa pada anak semata wayangnya. Orang tua itu tidak bisa membela Dibi saat ini yang di caci oleh Topan dengan nada pelan tapi tegas penuh dengan emosi tertahan.


"Sungguh, aku tidak tau apa apa, Topan! " Hanya itu yang bisa Dibi katakan saat semua bertanya tentang sakit apa sebenarnya yang di idap oleh Pe.


"Ngapain dan kemana aja lo, hah...? Sampai adik gue sekarat lo nggak tau. Lo ternyata nyia nyian adik gue, sialan!" maki Topan. Ingin sekali ia menghajar Dibi, tapi mengingat ini adalah rumah sakit, Topan dan saudara Pe yang lain hanya bisa menahan tinju nya yang sudah gatal.


" Pe pasti selamat kan, Hulk? Anak kita tidak mungkin pergi kan?" Mentari, Bunda Pe itu bersandar ketakutan di dalam dekapan Biru yang menenangkannya.


Biru tidak kuasa menjawab, namun jika ingin menjawab, pasti akan berkata seperti 'akan selamat' sebagai hiburan untuk istrinya. Akan tetapi, Biru tidak bisa memberi harapan pada Mentari karena melihat keseriusan Dokter Mori, pertanda anaknya itu benar-benar dalam keadaan kritis.


Biru merasa dejavu, dimana keadaan ini, seperti nasib Mentari yang di alami oleh Pe. Bedanya, Mentari kecelakaan bersama nya saat sedang hamil besar dan berujung nyawa Mentari hampir tiada. Mudah mudahan, pada Pe ada keajaiban. Doanya dalam hati.


"Pe itu wanita kuat, Pe pasti bisa!" Bintang, Mama Dibi menepuk bahu Topan yang terus saja menatap sengit ke Dibi yang kehilangan kata kata saat ini. Dibi bagaikan orang hidup tapi nafasnya itu sedang di gadai. Matanya memerah menahan tangis seraya menatap lampu ruang operasi yang masih berlangsung nyala. Ia menerima ikhlas kemurkaan keluarga Pelangi karena memang merasa bersalah.


Dibi merutuk diri sendiri dalam diamnya yang merasa bersalah pada Pelangi. Ternyata ia bagaikan orang asing untuk sang istri.


"Kamu tidak akan tega meninggalkan suami mu, Pe," batin Dibi ingin menghibur diri sendiri dengan berpikir positif, kalau Pe akan baik baik saja.


Namun, keluarnya Dokter Mori dari ruangan operasi barusan di detik ini yang membawa wajah tertekuknya itu, mampu menyihir prasangka orang orang kalau Pe sedang tidak baik-baik saja.


"Pelangi memberikan putri untuk kalian. Tapi maaf, nyawa Pelangi tidak tertolong...." Dokter itu bersuara dengan nada penuh penyesalan.


Tepat kabar buruk itu tersampaikan, Dibi dan yang lainnya seakan-akan merasakan ada hembusan angin beracun yang mencekik leher mereka.

__ADS_1


Tidak ada yang bersuara sampai seperkian menit, mereka seperti tidak percaya dengan lidah terasa keluh berjamaah.


"Tidak! Istri ku pasti baik baik saja! Anda pasti salah informasi!" Dalam saraf saraf lemas, Dibi mencoba menolak kabar buruk itu. Ia ingin menerobos masuk ke ruangan operasi, tapi dengan cepat Dokter Mori, juga Dokter Adnan yang baru berdiri di depan pintu itu, segera menahan Dibi, juga keluarga Pelangi yang lainnya, termasuk Mentari dan Biru yang notabene nya adalah orang tua Pelangi.


"Dok....!"


Topan dan si Twins bersuara kompak, protes. Di sana, Badai seoranglah yang tidak bergabung karena masih di dalam perjalanan yang tadinya di luar negeri, katanya.


"Maaf sekali lagi. Pelangi sudah memberi surat kuasanya, kalau mayat nya sudah diharamkan di sentuh oleh suaminya!" Dokter Mori menatap datar Dibi yang baru ia ketahui wajah suami Pelangi selama menjadi pasien rutinnya.


Sedang Dibi yang mendengar itu, langsung merasakan pukulan keras tak kasat mata yang Dibi dapatkan.


Kehancuran, kepahitan dan keburukan yang telah Dibi telan sekarang. Bukan hanya Dibi, semuanya pun merasakannya.


"Dokter... Apa apaan ini?" Dibi memberontak mau menerobos, tapi Topan yang geram segera menarik tangan Dibi untuk menjauh dari pintu tersebut.


"Punya telinga kan, brengsek!" maki Topan. Biru sendiri sudah tidak kuasa. Mau murka tapi hatinya sudah menangis pilu di dalam pelukan bersama istrinya untuk saling menguatkan.


"Dokter, kami mau melihat saudara kami. Kalau benar sudah meninggal, beri izin pada kami untuk membawanya pulang." Dalam bibir bergetar karena tangis, Bhumi menguatkan diri untuk bertutur.


Namun sayang, Dokter Mori juga menggeleng seraya memberikan surat pernyataan Pe sebagai tanda kuasa Dokter itu.


Pe berpesan kalau jenazahnya akan hanya di urus oleh pihak rumah sakit, raganya tidak mau di sentuh Dibi yang sudah cukup memberi kesempatan untuk suaminya itu.


" Apa ini...?"


"Bacalah! Dan maaf, saya harus mengurus segala kepercayaan almarhuma Ibu Pelangi. Kalian boleh melihatnya, tapi tidak untuk di sentuh," kata Dokter itu tegas. Ingin berbalik masuk, tapi tertahan oleh Biru.

__ADS_1


"Dok, aku adalah Ayahnya, apa kami pun dilarang oleh Pe?"


"Maaf, Pak, tapi itulah keinginan Pe. Ia tidak mau mayatnya di tangisi oleh keluarga tercintanya. Tapi tenang saja, kalian boleh membawa nya ke kuburan setelah mayatnya sudah kami urus."


Keluarga besar itu merasa tidak adil, mereka ingin mengurus segala kepulangan terakhir Pe tapi tidak diperbolehkan.


Topan dan semuanya tadinya mau ngotot. Namun, melihat surat kuasa yang dibuat oleh coretan tangan berikut cap jempol darah Pe, sebagai kode peringatan keras untuk tidak ada yang melanggar keputusan mutlak itu, mereka akhirnya menyetujuinya dengan hati berat.


Dalam kesedihan pilu itu, Topan menaruh kemurkaan besar untuk Dibi yang sedang menangis nangis seraya meninju ninju tembok yang tidak bersalah.


"Kenapa ini terjadi...?" Hiks... Hiks.... Mentari meraung raung dalam pelukan Biru.


Tepat pintu operasi itu terbuka kembali, semua mata memandang brankar yang berisi orang yang sudah di tutup seluruh tubuhnya dengan kain putih.


"Lihatlah sebentar, sebelum kami mengurusnya." Dokter Mori membuka penutup kain putih itu. Dan terlihatlah wajah Pe yang terpejam damai.


Suara isakan semakin menggema pilu, ternyata kematian Pe benar adanya. Dibi yang merasa bersalah, ingin segera memeluk raga Pe, namun terpental oleh Dokter Adnan yang mempunyai badan kekar nan masih muda itu.


"Jangan buat kami bersalah terhadap keinginan Pelangi, dengan cara Anda mau menyentuhnya. Ayo sus, mari segera bawa ke ruangan khusus. Dan Anda semuanya, hak Anda untuk menguburkannya masih pada kuasa Anda. Kami hanya membandingkan dan lain lainnya. Jadi bersabarlah. " Dokter Adnan menatap dingin Dibi.


" Ah... Saya baru ingat, bukannya Anda tadi sibuk di ruang operasi tiga ya? Anda kan pacarnya Ibu Kiara." kata Dokter itu gamblang . Lalu segera berlalu menyusul Dokter Mori dan beberapa suster yang mendorong brankar Pe dengan setengah berlari.


Topan yang mendapat info celetuk Dokter yang berkebangsaan campur itu, semakin menaruh kemurkaan untuk Dibi.


" Ternyata, kamu lebih memperdulikan Kiara dari pada adikku....Arrgh, Keparat!"


Topan semakin marah, tidak butuh pernyataan lagi dari Dibi, ia sudah paham kalau adiknya menderita selama pernikahannya.

__ADS_1


Saat Topan beringsut, bermaksud mau menghajar Dibi, Mentari tiba tiba pingsan di dalam pelukan Biru. Semua kembali cemas.


Flasback off


__ADS_2