
Lamanya perjalanan udara, Pe pun tiba di Badara. Di mana Negara tersebut adalah kelahiran teman ontanya itu.
Pe segera memesan taksi, menuju kediaman Guntur.
Sedang di rumah pria itu, Sang Mommy telah menunggu tamu tamu undangannya. Ameera, Mommy Guntur sibuk mencari jodoh untuk anak semata wayangnya.
Saat ini, di ruang tamu rumah megah itu, ada lima perempuan cantik yang sengaja di undang Ameera. Sang Mommy pun menghampiri anaknya yang berada di dalam ruang kerjanya. Semenjak memutuskan untuk melupakan Pe, Guntur hanya mengenal kata kerja, kerja dan kerja. Selesai dari kantor, Guntur lanjut kerja keras di rumah pribadinya. Itu demi mengalihkan cintanya untuk Pe. Namun sialnya, ia tak pernah berhasil. Semakin di lupakan, maka Pe seakan datang menghantuinya. Rasanya, Guntur ingin sekali mengarungi istri orang itu menjadi miliknya seorang, namun apalah daya, ia tak serendah itu.
"Sekarang ada lima, Sayang." Ameera berseru santai setelah ada di dalam ruangan. Di mana anaknya itu, masih setia menatap layar laptopnya.
"Hentikan kesibukan unfaedahmu, Mom!" Guntur sudah tahu arti jumlah lima itu. Setiap hari ada saja wanita yang di datangkan sang Mommy. Dari yang berpendidikan tinggi, Janda beranak tiga, sampai anak seumuran SMA pun pernah di bawa, membuatnya jengah akan kegigihan sang Mommy. Tetapi lihat saja, Guntur akan menakuti lima wanita tersebut seperti yang sudah lewat dan berakhir pada pontang panting, takut padanya.
"Iss... Kamu itu sudah tua. Masa tidak ada niatan menikah." Sang Mommy menampilkan wajah memelas. "Terakhir ya, Nak. Please!" katanya memohon. Puppy eyesnya ia pamerkan. Membuat Guntur berdecak pelan. Dan mau tak mau menurutinya, dari pada sang Mommy kejer.
"Eum..." hanya dehemanlah sebagai tanda setujunya. Ameera menyeringai, lalu berkata, "Kali ini, kamu akan terpesona pada salah satu dari mereka. Cantik cantik loh."
Wanita di Negaranya memang cantik cantik, namun kalau hati sudah di kuasai satu nama perempuan, maka sangat susah untuk mencari lainnya.
Satu persatu pun masuk, namun ke empat perempuan sudah gugur. Ke empatnya berpamitan pada Ameera dengan wajah susah di artikan. Orang tua itu serasa bingung, apa yang sebenarnya Guntur lakukan di dalam sana?
"Giliran kamu, Sayang. Semangat ya, kalau kamu sukses maka kamu akan menjadi ratu di rumah ini." Ameera tak segan-segan mengimingi wanita cantik di depannya itu harta melimpah. Biarkan, pikirnya yang terpenting sang anak lepas lajang. Ia tak mau anaknya jadi berbelok.
Wanita cantik itu pun masuk. Menatap pria tampan yang sedang duduk di sofa. Ini sih berlian, batin wanita tersebut.
"Sini duduk, Nona!" Guntur menepuk sofa di sampingnya. Ada lima pisau di atas meja. Seperti sebelumnya, empat wanita tersebut lari pontang panting karena di takuti oleh Guntur. Menjadikan objek wanita itu sebagai sasaran lemparan pisaunya.
Dengan kepedean hakiki, Sang wanita menurut. Mengibaskan rambut curlynya, sebagai godaan pertamanya. Ia pun tersenyum manis.
"Hai, aku Gamila." katanya memperkenalkan diri.
Guntur tersenyum. "Nama yang bagus. Maknanya adalah perempuan cantik," kata Guruh memuji. Tangan itu meraih satu pisau dan buah apel merah. Kemudian berkata kembali, "Tetapi, apakah kamu perempuan tangguh yang tak takut tantangan, Nona?"
"Maksudnya?"
"Aku mencari istri yang tangguh. Tak takut pada kematian."
Wanita itu menelan ludahnya saat Guntur menusuk-nusuk apel tersebut dengan pandangan tak lepas dari wajahnya. Ia ngeri melihatnya, takutnya pisau tersebut menusuk tangan sendiri.
Belum sempat Gamila berkata. Guntur kembali menakuti dengan cara menyuruh wanita tersebut berdiri di pojok ruangan.
"Apa? Apel ini akan di bidik yang berada di atas kepala ku?" Shock wanita itu.
Guntur mengangguk santai. "Aku lagi belajar membidik."
Belajar? Cih... Belajar, itu tandanya belum lihai. Kalau wajahnya yang terkena, auto mati dong. Tidak, tidak....!
"What the fuc*." Gamila mengomeli Guntur secara ketus. Lalu pergi dari ruangan itu.
Ameera kembali cengong di ruang tamu melihat merah padamnya wajah Gamila. Di tegur pun tak menyahut. Membuat Ameera menepuk jidat seraya berkata, "Jodoh kelima kabur lagi."
Ceklek...
Guntur keluar dari ruang kerja. Menatap datar sang Mommy yang sepertinya sedang bertanduk murka. Lalu berkata tanpa dosa, "Mereka pada kabur lagi, Mom!"
"Azlaaaannn!" Ameera terpekik memanggil satpamnya seraya menekan tombol yang terhubung ke pos jaga di ronda luaran sana, sorot matanya sangat kesal ke Guntur. "Carikan anak onta sebagai calon istri tuan muda mu!"
Guntur melengos pergi ke taman golf mendengar perkataan kesal sang Mommy. Ia hanya menggeleng-geleng santai.
"Cari anak onta yang memakai anting ya, Mom!" serunya mengejek di sela langkahnya.
"Anak kurang ajar!" omel Ameera lalu masuk ke kamar. Namun terjeda setelah mendengar laporan Azlan yang katanya ada tamu wanita satu lagi.
"Antar masuk langsung ke lapangan golf saja. Aku mau istirahat."
Guntur masih mendengar suara sang Mommy dan penjaga itu secara samar yang berentraksi lewat monitor khusus yang memang di sediakan.
"Baik, Nyonya," jawab Azlan. Kemudian mengantar tamu tersebut yang tak lain adalah Pelangi.
__ADS_1
Pe saat ini sedang memakai pakaian hitam bercadar, hanya mata indah itu saja yang terlihat. Ia sengaja berbusana khas orang pribumi Negara tersebut, karena ia punya rencana jalan jalan sebentar setelah menemui Guntur.
"Ck, masih ada satu lagi wanita yang meresahkan!" Guntur bergumam seraya menoleh sebentar pada Azlan dan wanita bercadar itu yang masih berjalan mendekat ke posisinya.
"Tuan, ini tamu Anda. Nyonya menyuruh ku__"
"Azlan, ambil pisau pisau ku di atas meja kerja, serta tiga buah apel. Bawa kemari!" Guntur menjeda. Tanpa menghentikan aktivitas serunya yang sedang bermain golf.
"Baik, Tuan Muda." Pria itu pun segera bergegas.
Guntur pun kembali berkata, padahal Pe ingin menyapa. "Kamu adalah wanita ke enam hari ini yang akan pontang panting."
Apa maksudnya? bingung Pe bertanya dalam hati. Setiap ia ingin bersuara, Guntur selalu bertutur datar dan terkesan dingin.
"Aku tak ada niatan menikah! Jadi pergilah sebelum kamu ku beri pelajaran. Entah apa yang di janjikan Mommy ku pada kalian? Ck... Ah, mungkin uang banyak. Tetapi sayang, aku tak akan menikah dengan wanita matre semacam kamu!"
'Uh... Sabar.' Pe elus dada. Ia sedikit paham sekarang kalau Guntur sedang gencar di jodohkan. Tapi tapi, kok ada rasa tak rela di hati Pe? Apa ia pun menaruh hati pada nama pria itu sekarang? Pantes saja, ia serasa di ghosting dalam mimpi.
Kali ini, Pe sengaja diam. Ia ingin melihat cara Guntur yang katanya akan membuat nya lari pontang panting.
"Kenapa kamu diam saja? Bisu? Atau sudah kicep duluan?" Kali ini, Guntur berbicara seraya berbalik badan. Matanya serta mata tak asing itu saling pandang. "Seperti mata__"
"Tuan, ini pisau dan buahnya."
Kecurigaan Guntur akan pemilik mata itu, hilang akan kedatangan Azlan. Lagian, mana mungkin pemilik mata itu adalah Pelangi. Ia hanya berhalusinasi akibat penyakit mala rindu.
"Terimakasih, Azlan. Kamu boleh pergi."
Lima pisau dan tiga buah di piring sudah ada di tangan. Piring itu ia letakkan asal asalan. Hanya mengambil satu buah apel dan melemparnya ke Pe. Tangkapan yang sigap dan sempurna dari Pe.
"Tangkap. Aku sedang belajar membidik." Seperti biasa, Guntur menakuti calon wanita yang akan di jodohkannya dengan pisau pisau runcingnya. Namun kali ini, ia salah pilih lawan. Pe adalah wanita yang mempunyai skills beladiri yang hebat. Sejak kecil ia sudah berlatih muay thai dan beladiri hebat lainnya. Bahkan ia pun menguasai capoera, jenis beladiri mendominasi macam tari yang berasal dari Brazil. Dan sklil terpendam paling berbahaya Pe adalah pembuat racun. Namun sayang, skills ilegal itu di larang keras oleh sang Ayah. Lebih lebih, laboratorium khusus the gang mereka sudah di sabotase oleh Biru.
"Taruh apel itu di atas kepala mu! Kalau tak mau, maka lebih baik kamu pergi sekarang juga!" Guntur masih memperingati dengan cara baik baik. Namun wanita di depannya malah menantang dengan mengindahkan perintahnya. Wanita nekat itu pun, semakin mundur dalam empat meter. Memberi kesempatan untuk Guntur melemparinya pisau.
"Hais, mau mati kali ya!" Guntur pun tak segan segan lagi untuk menggertak wanita bercadar tersebut.
"Awas saja meleset ke wajah ku, gue potong leher lo..." Batin Pe seraya berdiri tegap nan seimbang agar buah apel merah tak jatuh dari kepalanya.
Guntur mengeraskan rahangnya, ia gemas gemas dongkol mendapat lawan sok berani.
Karena Pe tak merespon baik peringatannya, tanpa menunggu lama lagi, Guntur pun melempar pisaunya. Ia berharap, detik detik terakhir wanita itu pontang panting. Namun yang terjadi....
"Hais...!" Guntur berdesis. Wanita itu menangkap pisaunya menggunakan tehknik jepitan dua jari. Lalu dengan cepat, Pe melesatkan pisau tersebut ke arah Guntur.
Pria itu melototkan mata seraya menghindar cepat dengan cara menunduk. Pe tersenyum di balik cadar hitamnya.
"Sialan! Kamu ingin membunuh ku?" Guntur hendak melempar sisa pisaunya. Namun terhenti saat Pe membuka cadarnya.
"Lo yang kampret!" Pe berdecak pinggang, galak. Matanya melotot geram ke Guntur. Lalu kembali berkata pada pria itu yang sedang menganga lebar nan terkesan terkejut menatapnya. "Lo nyambut kedatangan gue dengan cara ekstrim seperti tadi. Sini, gue mau tendang bokong lo!" Pe melangkah, mendekat. Hanya satu langkah mereka saja berjarak saat ini.
"Pe?"
"Iya, ini aku! Masa setan?"
"Benaran ini kamu?"
"Ck... Menurut mu?"
"Menurut ku ini mimpi!"
Tukkk...
"Aduh... Kenapa di sentil?"
"Sakit kan? Itu tandanya bukan mimpi." Pe tersenyum manis tanpa dosa yang sudah mensentil keras jidat Guntur.
Sedang pria itu, percaya tidak percaya akan kenyataan di depannya. Duh... Boleh meluk nggak sih? Nyium pun mau banget. Tapi sabar ding, Pe adalah istri orang. Kena pidana nanti, kan seram. Lebih lebih, suami wanita yang masih di cintai nya itu adalah istri seorang polisi. Jadi sabar ya, jangan murahan jadi cowok. Guntur bergulat batin.
__ADS_1
"Hai! apa kabar?"
"Astaga, cuma nanya basi begitu kah?" Pe gemas sekali dengan tingkah Guntur yang terkesan dingin padanya.
"Terus, aku harus apa? Mau peluk dan cium kangen, eum? Sepertinya lupakan saja. Aku takut di penjara sama suami polisi mu!"
Wajah Pe mendadak serius. Lalu tersenyum kecut. "Pernikahan kami sudah gagal. Tepat hari kejadian di taman, Kak Dibi sudah mentalak ku." Mata Pe melengos ke arah lain. Ia tidak sanggup membalas tatapan intens Guntur.
Dengan kesadaran penuh, Guntur segera menarik Pe masuk ke dalam dekapannya. Katakanlah ia pria jahat yang terkesan senang mendengar kegagalan Pe. Ia ingin mengganti kegagalan itu dengan kesuksesan dalam melangkah bersama dengannya. Semoga Pe mau memberinya kesempatan pada cinta besarnya.
Awalnya, Pe terkejut mendapat pelukan dadakan itu. Tapi entah kenapa, ia nyaman sendiri. Ada rasa yang susah di ungkapkan dengan kata kata. Jantungnya pun berdegup heboh di dalam sana.
"Pe, aku kira kamu rujuk kembali pada Dibi. Aku mundur di kala itu karena melihat kalian berpelukan lama sekali."
Pe diam saja. Itulah pula salah satu pernyataan yang sudah di jawab oleh Guntur, tanpa bertanya, kenapa pergi mendadak? Ternyata salah paham.
"Aku sangat susah melupakan mu, Pe. Aku harap, kamu mau menata hatimu dan mau menyelipkan namaku di doa mu. Aku sangat mencintaimu. Tolong jangan tolak aku." ungkapnya penuh nada permohonan.
Pe segera menarik tubuhnya dari pelukan erat Guntur. Wajah yang tiba-tiba merona itu, menatap lekat-lekat wajah pria yang sedang menatapnya penuh kerinduan.
" Ck... Katanya cinta, tapi lo itu sudah meng-ghosting gue. Tiga bulan lamanya lo ngeblokir semua akses mendsos atas nama gue. Kan kesal! Seperti anak kecil tau! Dan sebenarnya, gue ke sini sebenarnya hanya mau berterima kasih. Tetapi mengetahui pria yang katanya mencintaiku sedang gencar di jodohkan. Gue jadi panas ngedengarnya, padahal tak ada api di dalam sini." Pe menunjuk dadanya, tepat degupan jantungnya.
Meski mengomel, Guntur sangat tahu kalau itu adalah jawaban cintanya. Ia tersenyum manis, sangat manis. Lalu menarik Pe lagi untuk di peluknya erat erat. Sumpah, ini nyaman sekali, batinnya bahagia luar biasa.
"Untung wanita wanita pilihan Mommy aku tolak semua dengan cara ekstrim, kalau tidak aku nggak akan bisa meluk janda cantik!" gurau Guntur. Ia tak bisa merayu manis. Jadi gombalan garinglah yang keluar spontan dari bibirnya.
Namun, Pe yang mendengar itu. Di buat tertawa kecil. Guntur pun ikut tertawa dalam pelukan tersebut.
Sampai suara dering handphone Pe menggangu mereka.
"Kak Dibi..." lirih Pe. Terdengar oleh Guntur.
"Angkat saja. Aku tidak akan mengatur apapun yang ingin kamu lakukan. Kalian adalah orang tua Arpina, memang seharusnya butuh komunikasi bukan?" Guntur sangat lugas nan dewasa.
Pe pun mengangkatnya seraya menjauh dari Guntur.
"Hallo, Kak Dibi!"
"Hallo Pe, apa aku mengganggu mu?"
"Tidak, Kak, ada apa? Apa kamu ingin video call dengan Arpina?" tebak Pe. Biasanya, Dibi menghubunginya karena merindukan Arpina.
"Tidak, Pe. Aku sudah lepas kangen dengan Arpina lewat Bhumi yang mengasuhnya sekarang. Dan aku tau, kamu sedang menemui Guntur saat ini. Pe __" Suara Dibi terjeda. Ada nafas berat yang Pe dengar. "Aku tidak masalah kamu sudah membuka hatimu dengan orang yang tepat, Pe. Tapi... Kalau kamu menikah dengan Guntur nanti, Arpina akan memanggil apa padanya?"
Pe tertegun, berpikir keras. Pertanyaan Dibi in adalah hal sensitif. Ia mengerti kalau kedudukan Dibi sebagai seorang Ayah serasa terancam. Mantannya itu ingin mendengar penegasan sepertinya.
"Kak Dibi, satu yang harus kakak tau, kalau kamu adalah ayah kandung Arpina. Bersama siapapun aku membuka lembaran baru nanti, Pe janji akan mengenalkan dua sosok ayah pada Arpina seadil dan sedini mungkin. Kedudukan mu menjadi ayah Arpina selalu nomer satu, percayalah Kak."
Terdengar helaan nafas lega di seberang sana. Dibi lega mendengar ucapan Pe yang terdengar bijak.
"Aku lega mendengarnya, Pe. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Semoga kamu selalu bahagia."
"Amin. Kamu pun, Kak."
Sambungan tertutup, Pe segera membalik badannya. Ia terkejut karena menabrak dada Guntur yang sebenarnya pria tersebut mendengar kecemasan Dibi sebagai posisi seorang Ayah.
"Aku ingin menikahi mu secepatnya, Pe. Kamu mau kan?" katanya tak mempedulikan wajah kaget Pe.
"Apakah orang tua mu akan menerimaku yang notabenenya adalah bekas seseorang." Pe sadar diri sebagai seorang janda.
Guntur tersenyum, lalu berkata, "Bahkan, kemarin Mommy mengenalkan wanita janda anak tiga!"Guntur tidak berbohong. Mommynya itu memang sedikit kocak. Pe tersenyum mendengar itu. Detik berikutnya, tangannya di genggam mesra oleh Guntur.
" Pe, cinta ku itu bukan cinta satu hari atau satu tahun. Tetapi sudah sangat lama, dari sejak kita sama sama remaja. Cintaku juga bukan hanya sekedar kata... 'I love you' malainkan ada kata, I feel you. Menikahi mu adalah paket lengkap saat ini, yaitu aku akan langsung menjadi seorang Daddy sekaligus."
Mata Pe berkaca-kaca haru mendengar untaian terdalam perasaan Guntur. Pria itu ternyata sudah siap sekali menjadi seorang ayah sambung. Tanpa sadar, Pe beringsut untuk memeluk pria tersebut. Lalu berkata, "Aku mau memulai lembaran baru bersama mu."
Guntur balas memeluk erat wanita yang sudah di idam idamkan sejak lama itu. Ini adalah hari terbahagai dalam hidupnya.
__ADS_1
"Terimakasih!" seru Guntur seraya mengelus kepala yang tertutup itu dengan kelembutan kasih sayang.
T A M A T.