
Hari ini, Dirgan berhasil mendatangkan para tetua inti keluarganya. Ada, Meca dan Vero sebagai orang tua Bintang, ada Titan dan Vane sebagai orang tua Biru.
Meca dah Titan adalah adik kakak. Itu tandanya, Pelangi dan Dibi masih memiliki kata kerebat dari para Oma dan Opanya.
Bintang dan Dirgan berharap, Titan - Om mereka bisa menjadi penengah bagi keluarga Pelangi yang tidak memperbolehkan Dibi merawat Arpina.
"Jadi, Papa dan Mama serta Om dan Tante kemari ingin membela Dibi?" tandas Biru di ruang tamu besar itu. Mata elangnya, memutar pelan menatap satu persatu dua pasang orang yang begitu dihormatinya.
"Biru, kami sudah tua. Tentu kami ingin melihat keluarga kita tetap bersatu tanpa adanya cerai belai. Kami di sini tidak berpihak pada Dibi ataupun Topan yang mengambil Arpina."
"Dia cucu ku!" celetuk Biru kesal pada Titan-papanya. Sedang Vane dan Meca, kini duduk mengapit Mentari yang tak ada henti hentinya berduka lara kehilangan Pelangi.
"Kami tau, Nak." Suara itu adalah milik Meca--si Mantan pengacara hebat pada masanya. "Arpina memang cucumu, tapi Dibi adalah Bapaknya. Kalau bisa merawatnya secara bersama sama, kenapa harus dipermasalahkan? Soal Dibi yang pengecut, memang kami pun geram padanya. Tapi kembali lagi pada takdir semuanya, apapun itu dan kapan pun itu, kita bisa meninggal dengan cara yang sudah tertulis oleh sang Pencipta. Satu lagi yang kita harus ingat, yakni.... Pelangi pasti akan bersedih kalau melihat kita semua jadi pecah belah memperebutkan bayi kecilnya yang sangat berharga bagi Pelangi," pungkas Meca secara lembut dan pelan pelan agar semua orang yang ada di depannya itu mau cooling down bersama sama.
Di sofa paling pojok sana, Dibi terus menunduk dalam kekosongan. Ia hanya ingin bertemu dengan anaknya demi mengobati rindu yang menggebu untuk Pelangi, itu saja! Ia juga tidak maruk mau menguasai bayi itu. Darah tetaplah darah, Biru dan semua keluarga Pelangi tentu saja boleh ikut andil membesarkan anaknya. Tapi satu... Izinkan dia ada di samping anaknya sampai besar nanti.
"Oma, Opa, Dibi itu sudah membuat cucu kalian menderita loh. Kenapa harus dibela?!" Topan mendengus kesal. Sedang si Twins hanya diam, apapun keputusan akhirnya.
"Kamu Badai atau Topan? Mata tua Oma sudah tidak bisa membedakan kalian yang kembar!" ujar Vane baru menyadari kehilangan salah satu cucu laki lakinya.
"Aku Topan, Oma Vane!"
"Badai kemana?" tanya Vane lagi.
Dan semua orang tidak ada yang menyahut. Mereka tidak ada yang tahu keberadaan Badai setelah pemakaman Pelangi selesai. Dengan itu, Topan menyuruh Charel-sang asisten untuk menghubungi Badai. Lalu percakapan serius itu pun berlanjut kembali.
"Maaf ya, Opa dan Oma sekalian, Arpina itu sudah nyaman bersama Gerhana berikut ASInya. Jadi tidak mungkin kan diambil kembali dari kami. Apalagi ke pria yang tidak becus itu. Aku takut anak adikku dilantarkan seperti adikku yang tak dihargai!"
Dibi menelan bulat bulat penghinaan Topan.
"Cukup, Topan! Cukup!" Mentari yang dari kemarin hanya diam, sekarang ikut berbicara. Bahkan, sekarang ia sudah berdiri ditengah keluarga itu. Ia sudah cepak mendengar perdebatan yang tidak akan pernah ada ujung nya untuk memperebutkan Arpina.
"Benar kata Tante Meca, Pelangi akan bersedih melihat kita berdebat tidak ada ujungnya. Di sini, kalau ada yang patut disalahkan selain Dibi, maka orangnya itu adalah kita sebagai orang tuanya. Pertama, kita sudah tahu kalau Dibi itu punya asmara bersama Kiara, tetapi apa? Kita orang tua memaksa pernikahan itu ada! Padahal Dibi dan Pelangi sudah menjelaskan kesalahpahaman di malam itu, tetapi kita semua malah tidak mempercayainya. Lalu apa? Pelangi jadi korban hati dan berakhir begini!"
__ADS_1
Hening, semuanya seperti tidak mempunyai mulut untuk digunakan dalam bertutur menjawab Mentari.
" Tapi aku hanya seorang Ayah yang takut kehormatan anaknya diinjak injak." Beberapa menit, baru Biru bersuara.
" Tapi... Tapi.... Dan tapi! Terus aja ada tapi tapiannya yang tidak ada hentinya." Mentari kembali memultimatum Biru dan semua orang. "Aku berdiri di sini, bukan mau membela Dibi. Tapi ingin menghentikan kerunyaman yang tidak akan berujung, meski Dibi dan salah satu anak-anak kembar ku saling bunuh membunuh pun, maka percayalah, benang kusut tidak akan terurai lurus. Jadi ku mohon, cukup Pelangi ku yang pergi dari sisi kita."
Air mata Mentari menetes. Seraya berkata panjang lebar, ia berangsur mengikis jarak pada Dibi yang menunduk dalam dalam.
Mentari menyadari kalau Dibi sedang menangis tanpa isakan.
"Berdiri!"
Entah apa yang akan dilakukan oleh Mentari yang menyuruh Dibi berdiri, semua kepala diruangan itu ingin tahu makanya tidak ada yang bersuara.
"Punya kuping kan? Ayo berdiri yang tegak!"
Dibi akhirnya menurut, meski wajah yang masih tertunduk.
"Seorang polisi tidak pantas berdiri lunglai begitu. Jadi berdiri yang tegak!" pinta Mentari lagi.
Plaaak....
Karena keheningan ruangan itu, membuat tamparan Mentari yang tiba-tiba berbunyi jelas di telinga masing-masing.
Dibi yang ditampar hanya kaget, ia tidak meringis ataupun mengadu sakit. Menurutnya, seratus kali tamparan Mentari pun tak ada artinya dari kesalahannya yang sudah membuat putri mereka disakiti.
"Dibi... Kamu tahu kenapa Bunda menampar mu, kecuali kesalahan mu terhadap Pe?"
Dibi menggeleng seraya menatap bingung wajah Mentari yang sembab itu.
Plak.... Lagi dan lagi sampai tamparan ketiga kalinya. Dibi masih diam tak bersuara.
Bintang yang ingin menghentikan Mentari, tertahan oleh Dirgan untuk membiarkan kemarahan Ibunda Pelangi itu tersalurkan dengan puas.
__ADS_1
Dibi benar-benar memasang wajahnya tanpa ada pembelaan.
"Dibi, Bunda memukul mu karena Bunda kecewa padamu. Harusnya, kamu mengembalikan Pelangi secara baik baik, jika memang kamu tidak sanggup membahagiakannya. Dibi, orang tua memang akan bersedih kalau mendengar kegagalan anaknya, tetapi mau bagaimana lagi, itu sudah takdirnya. Inilah yang Bunda tidak suka padamu, kamu hanya diam dan diam seperti pengecut."
"Bunda__"
"Pergilah...!"
Dunia Dibi layaknya terguncang seperti kena gempa berkekuatan dahsyat, mendengar usiran Mentari tanpa ada titik terang yang ia dapatkan dalam pertemuan ini tentang anaknya.
Baru Dibi ingin berlutut di depan Mentari untuk memohon, mertuanya itu spontan mundur, seraya berkata tegas mengancam. "Kalau kamu merendah begitu, Bunda akan menahan Arpina seumur hidup mu."
Dibi akhirnya berdiri tegak lagi, seraya menatap berani mata Mentari yang terluka itu.
"Pergi maksud Bunda adalah, pergi ambil Arpina dikamar Topan."
Angin segar bagi Dibi. Tapi angin panas bagi Topan dan Biru yang mendengar izin Mentari.
"Tunggu!" Mentari kembali berseru. Dan Dibi pun berhenti melangkah.
"Bunda mengijinkan mu membawa cucu ku bukan dengan legowo begitu saja, Dibi. Bunda memberi kesampatan itu untuk memberitahukan padamu kalau mengurus anak itu tidak mudah. Seperti Pelangi yang mengandung, tidak mudah juga. Bunda juga ingin mengajarkan mu arti menjadi orang tua yang sesungguhnya itu seperti apa? Sakit, sangat sangat sakit kalau anak kita itu ada yang mencubit orang di luaran sana. Kita sebagai orang tua, jiwanya langsung mengena. Jadi pasti kamu mengerti kekecewaan kami padamu."
Dibi mengangguk.
" Kamu akan paham maksud Bunda kalau kamu sudah mengalami fase fase perjuangan sesungguhnya jadi orang tua. Bunda izinkanmu membawa Arpina itu sebagai tanda pertanggungjawaban ke Pelangi. Jangan sia siakan kesempatan terakhir yang Bunda berikan. Pokoknya, sekali saja aku mendengar kamu melantarkan darahku, maka tidak ada ampun bagimu."
" Terimakasih, Bunda. Aku janji akan menjaga sebaik mungkin anak ku." Dibi menangis haru atas kesempatan yang didapatkannya.
" Pergilah ambil Arpina dan jangan lupa, setiap hari kamu datang kemari untuk mengambil ASI Nana, itupun kalau Topan masih setuju ASI anaknya dibagi kalau Arpina ada ditangan mu."
Tak mau berlama lama lagi, Dibi berlari ke arah kamar Topan. Mengabaikan sang empu kamar meneriakinya.
" Kalian mau protes?" Mentari menatap Biru dan Topan yang nampak tak setuju dengan keputusannya. "Ayo, protes! Mumpung Bunda sedang ingin bersuara panjang kali lebar!"
__ADS_1
Biru dan Topan itu selalu kalah kalau pawangnya sudah mengaum. Akhirnya mereka hanya menelan kata katanya yang sudah di ujung bibir.
Anaknya yang mengandung sampai bertarung nyawa, maka Dibi pun harus merawat anaknya yang terlihat mudah tapi sebenarnya sangat susah jadi orang tua yang benar dan bertanggung jawab. Itulah yang dipikirkan Mentari. Ia tidak mau melihat Dibi ongkang ongkang kaki begitu saja setelah pengorbanan Pelangi. Itu namanya ke enakan!