
Ting...
Arpina sakit
"Stop dulu, Guntur!"
Pe yang saat ini sedang didorong kursi rodanya oleh Guntur, tiba-tiba mendapat chat dari Dibi untuk yang pertama kalinya semenjak hari membawa pergi Arpina.
Guntur pun mau tidak mau menuruti keinginan Pe. Menghentikan kursi roda itu di tengah tengah koridor rumah sakit.
"Ada apa?" tanya Guntur. Pe masih bergeming menunggu balasan chat dari Dibi.
"Apa ada hal buruk yang terjadi sehingga kamu terlihat cemas begitu?" tanya Guntur lagi seraya menatap serius wajah Pe yang masih memerah habis menangis itu.
"Arpina __" Penjelasan Pe terjeda akan chat Dibi yang sudah masuk. "Tolong antar aku ke ruangan pemeriksaan anak."
"Baiklah!" Tanpa mendapat penjelasan akurat, Guntur pun cukup paham kalau anak Pe sedang tidak baik baik saja tepat mendengar nama pemeriksaan anak.
Sampai di lorong pemeriksaan, dari kejauhan, Pe sudah melihat Dibi sedang menunggu di luar.
"Arpina sakit apa?" tandas Pe to the point.
Dibi tidak langsung menjawab. Ia bergeming di tempat tetapi mata tertuju sinis ke Guntur dan Pe secara bergantian.
"Kak Dibi!" seru Pe meminta penjelasan.
"Pe, aku ke toilet dulu ya." Guntur yang mengerti lirikan tak suka Dibi padanya, akhirnya undur diri meski toilet hanyalah alasan. Ia tidak mau dianggap perusak diantara hubungan suami istri itu.
"Eum, pergilah!" seru Pe seraya mengangguk.
__ADS_1
Setelah Guntur tak terlihat lagi batang hidungnya, Dibi pun langsung mengeluarkan suara sarkasnya seraya memamerkan video Pe yang sedang berada di dalam pelukan Guntur.
"Apa ini alasan mu ingin berpisah dari ku?"
Pe berdecak kesal melihat video itu. Ternyata Ayah dari anaknya ini membuntutinya.
"Aku di sini untuk Arpina. Bukan mencari ribut. Jadi tolong! Kesampingkan yang tidak penting untuk dibahas sekarang. Ada saatnya untuk membahas yang lainnya."
Pe menahan emosinya. Ia tidak mau berdebat dengan Dibi di tempat khalayak terbuka seperti koridor rumah sakit ini. Apalagi banyak suster dan pengunjung lainnya mondar mandir.
"Itu cuma pelukan teman yang sedang menenangkan wanita yang rapuh." Air mata Pe nyaris meluncur saat kata rapuh yang ia sembunyikan dari semua orang, tercuat.
"Pe__"
Dibi terjeda dengan pertanyaan Pe.
"Memangnya kamu peduli sama Arpina, eum? Kamu kemana aja? Selama aku mengambil Arpina, kamu tidak pernah datang, Pe! Kemana kamu? Apakah kamu sibuk berpacaran sama Guntur? Pedulimu dimana hah?" cerca Dibi membuat emosi yang ditahan tahan oleh Pe terpancing untuk keluar juga.
Dibi kesal, marah, dongkol dan hal kacau lainnya berbaur satu menguasai emosinya, karena gertakan caranya menahan Arpina tidak mempan bagi Pe. Istrinya itu tidak ada tanda-tanda untuk mau merajut asa bersamanya lagi. Tatapan Pe saat ini bukanlah Pe yang dulu. Sungguh, Dibi sangat sangat ingin mengulangi kisah bersama Pe lagi. Ia ingin membuktikan pada wanita itu kalau ia sudah berubah. Tetapi, Dibi juga bingung harus bersikap dan melakukan apa dalam situasi ini.
"Kalau aku tidak peduli dengan Arpina, maka anak yang kamu bilang anak mu itu tidak akan pernah lahir ke dunia ini, Pak Galaksi Miller Al Malik!"
Dibi langsung tercenung. Mendengar nama lengkapnya disebut oleh Pe, itu tandanya wanita yang sedang menatapnya dalam dalam ini telah marah besar padanya.
"Kamu tidak tahu aja, bagaimana perasaan ku sekarang! Ingin murka, Kak! Apa kata kakak barusan? Aku tidak peduli dengan Arpina! Apa kak Dibi lupa? Kalau begitu, mari, Pe segerin otak kakak. Di sini..." Pe menunujuk perut nya dengan gemeletuk gigi tertahan. " Arpina tumbuh di dalam perut ku dengan perjuangan melawan penyakit ganas menggerogoti tubuhku. Pe abaikan kata dokter spesialis ku untuk berobat demi memperjuangkan keselamatan janin ku pada masa itu. Pe menolak kemoterapi untuk kesembuhan ku sendiri demi tidak menghentikan nafas Arpina di perut ku. Aku berjuang sendiri, Kak Dibi. Dan dengan enteng, Kakak mengatakan Pe tidak peduli dan malah menuduh ku selingkuh bersama Guntur! Miris sekali cara berpikir mu, Kak. Andai Arpina membutuhkan nyawa ku lagi, aku dengan senang hati berkorban tanpa berpikir dua kali lagi!"
Rasanya, Pe ingin sekali menonjok nonjok Dibi sebagai samsak sakit hatinya yang ternyata dirinya dicap sebagai ibu yang tidak peduli dengan anaknya. Cih...malah ianya dituduh selingkuh dengan Guntur.
Rasa respect Pe ke Dibi hilang sepenuhnya saat ini juga. Keputusannya untuk berpisah dengan orang egois seperti Dibi semakin bulat. Pe ingin bahagia dengan cara melepaskan cintanya yang sangat disayangkan orang yang ia labukan perasaannya adalah seorang egoisme yang selalu berpikir paling benar.
__ADS_1
Dibi semakin tercenung. Ia mau bersuara tetapi di serga kembali oleh Pe. Bahkan, Pe semakin mendekatkan kursi rodanya yang hampir mengenai lututnya. Sisa ruas jari saja, lutut Pe hampir mengenai kulit jenjang Dibi.
Dengan wajah mendongak ke atas, Pe manantang Dibi untuk beradu tatapan kemarahan.
"Kak Dibi ingin tau bukan, kenapa aku tidak datang memohon untuk berbagi senyum Arpina? Karena ini..." Pe menunjuk kesal kakinya yang tak berguna. "Bukan karena selingkuh yang dituduhkan oleh Kakak. Buang otak picik mu itu yang mempunyai prasangka buruk padaku. Aku bukan wanita murahan yang bila sakit hati maka akan mencari pelarian sebagai pelipur lara. Salah besar! Dan seandainya aku murahan yang tidak punya hati, maka sejak dululah Pe berselingkuh untuk membalas perlakuan tidak adil Kak Dibi padaku." Dada Pe panas naik turun, karena menahan gerumuh yang rasa nya mau meledak.
Selingkuh? Hah... Ia tidak terima dituduh seperti itu.
"Pe__"
Ceklek...
Lagi lagi, suara Dibi kembali tertelan. Kali ini pelakunya bukan Pe melainkan dokter pria yang sedang menangani Arpina sebelumnya.
"Dengan orang tua, Arpina?"
"Iya." Kedua kepala itu kompak menyahut.
"Bagaimana dengan keadaan anak ku, Dok?" tanya Pe cepat. Bertanya kondisi Arpina ke Dibi tadi sama sekali tidak digubris, malah ngotot memancing mengajaknya ribut. Pe akhirnya sewot mengubun.
"Arpina masih demam, namun sudah tidak gatal gatal lagi setelah penyuntikan obat melalui infusnya. Mohon kedepannya, makanannya dijaga ya, Bu. Anak Ibu sangat menolak makanan yang mengandung kacang-kacangan," terang Dokter itu menegaskan. Membuat Pe mengangguk paham. Ternyata, ia dan Arpina mempunyai kesamaan alergi makanan.
"Iya, Dok, terimakasih bantuannya. Tapi, apa saya boleh menjenguknya?"
"Boleh, Bu. Tetapi hanya satu orang ya. Mohon bergantian."
Pe segera mengayunkan tangannya untuk menggerakkan kursi rodanya, ia tidak mau di duluin oleh Dibi menjenguk Arpina yang saat ini, anaknya sedang tertidur.
Sedang Dibi, pria itu masih mematung di depan pintu yang ada kacanyanya sehingga bisa melihat Pe dan anaknya. Ia tertegun di tempat sembari mencerna semua omelan Pe tadi.
__ADS_1