
Bumantara berselimut awan gelap di atas sana, hujan rintik rintik pun baru usai turun di pagi hari yang sangat dingin, padahal musim sebenarnya sedang masuk musim panas. Tapi entah kenapa, sinar matahari nampak kalah oleh awan yang gelap nan tenang itu.
"Apakah akan ada pelangi setelah hujan?" monolog Pe yang sedang duduk di bangku taman belakang rumahnya.
Kursi putih besi panjang yang basah itu, tak di hiraukan oleh Pe, yang penting ia bisa duduk dan menunggu pelangi indah di atas sana. Tapi nyatanya, awan abu abu itu, begitu badung tidak mau beranjak di depan sang surya.
Hem... Merasa percuma, Pe hanya bernafas gusar seraya mengeluarkan banyak helai rambutnya yang rontok saat menyisir di kamar tadi. Pe sengaja mengantongi rambutnya itu agar Dibi tidak mengetahui tubuhnya yang sedang tidak baik baik saja.
"Bahkan, rambut ku pun sudah mulai mengkhianati kepalaku. Apa aku akan melihat wajah ku tanpa ada rambut? Pasti sangat jelek sekali! " Miris, tatapannya sangat naas memperhatikan rambut rambutnya yang ada di telapaknya.
"Ibu Pe, sarapan sudah siap. Pak Dibi juga sudah ada di meja makan menunggu Anda." Asisten rumah itu datang melapor takzim, membuat Pe terkesiap sampai sampai rambut yang tadi nya di pegangnya itu jatuh dan tak sengaja di injaknya sendiri.
"Mbak Nunik, tolong Pak Dibi suruh ke mari ya," pintah Pe yang tumben sekali mempunyai hasrat ingin di gendong. Ia ingin mencium aroma Dibi dalam gendongan. Dulu ia memang sering di gendong manja oleh Dibi, tapi itu lain. Saat ini, ia ingin merasakan gendongan itu sebagai suaminya, bukan sebagai Kakak tanpa darah itu.
"Baik, Bu, tunggu ya!" ART yang masih muda dari kampung itu, segera menurut patuh.
Setelah kepergiannya, Pe kembali mendongak ke langit yang masih saja abu abu mendung, semendung hati Pe yang kelabu tanpa warna cerah itu. Ia kadang merutuki namanya yang menggambarkan keceriaan, tapi tak sesuai dengan takdirnya.
"Pe, ada apa? Ayo kita sarapan." Dibi yang masih jauh lima langkah di belakang sana, langsung bertutur ajak, terlihat buru buru seraya melirik sejenak jam tangan di pergelangannya.
"Kak Dibi, bolehkah Pelangi minta gendong?" pinta Pelangi dengan nada lemah nan seperti memohon yang di dengar oleh Dibi.
Sejenak, Dibi berjongkok yang sudah di depan kursi taman ya Pe duduki.
"Pe, kamu lagi hamil, kalau jatuh bagaimana?" tolak Dibi seraya menunjuk lantai taman yang basah setelah diguyur gerimis itu.
__ADS_1
"Sini, aku tuntun aja."
Pe meraih tangan Dibi yang mengulur ke hadapannya dengan hati kecewa karena hasratnya yang begitu menggebu gebu mau di gendong, tidak terlaksana.
"Pe, hari ini adalah hari terakhir Kiara dalam operasi yang kesekian kalinya. Tak apa ya, Kakak pulangnya sedikit malam?" izin Dibi seraya berjalan dalam pegangan tangan itu bersama Pe.
Wanita yang sedang kecewa hati itu, hanya diam. Tidak menolak tidak pula mengizinkan, terserah suaminya mau apa juga, Pe sudah merasa lemah hanya mau bertutur dengan nada lembut apalagi marah marah yang butuh tenaga pita suara sempurna.
"Pe, kamu ijinin tidak?"
"Nggak di izinin pun, Kak Dibi tetap akan pergi kan? Jadi, terserah kakak aja," cuek Pe dengan nada tenang.
Garis bibir Dibi berbentuk lurus rapat rapat seraya menatap wajah istrinya yang teduh tak ada mimik, sangat datar. Pasti Pe marah, batinnya bersalah. Tapi kembali lagi pada prinsip awalnya yaitu Kiara yang lebih membutuhkan sport dari nya.
Sampai di meja makan, Pe dan Dibi duduk dalam diamnya.
"Ayo di makan, Pe!" Dibi berucap seraya mengunyah buru buru, karena sudah kesiangan pergi ke kantor pusat yang akan ada acara meeting sesama petinggi Polres.
"Kalau minta suap, mau nggak?"
Tidak dapat gendongan, tak apa Pe ingin merasakan suapan tangan dari suaminya itu. Pe berharap, Dibi mau kali ini meski hanya sesuap saja.
Tapi... Ia kecewa lagi dengan tolakan lembut suaminya.
"Pe, jangan manja ya, Kakak sedang buru-buru."
__ADS_1
Dibi tidak melihat wajah sedih Pe karena mau meneguk jus alpukat alami tanpa gula, susu, apalagi es itu. Setelahnya berdiri seraya menghela bibirnya menggunakan tissue.
"Oh, ya uda tak apa. Tapi Kak, jangan lupa tutup pintu rumah rapat-rapat ya! Takutnya, Pe pergi dan hanya akan ada badai yang menggantikan kepulanganku!"
Deg... Jantung Dibi tersentak kaget. Ia tertegun membatu yang hampir berbalik, saat mendengar untaian Pe yang sangat terdengar ambigu itu.
Pe sendiri tidak tahu apa yang ia bicarakan, untaian itu main spontan mencuat dari bibir pucatnya yang sudah lama menahan beban sakit nan nyeri itu.
"Apa maksud mu, Pe?"
"Apanya? Kenapa wajah Kakak sampai seserius itu? Aku hanya mau pergi ke kantor Topan, itu maksudku." Pelangi tersenyum paksa. Lalu berdiri dan main kecup pipi Dibi yang masih menatapnya aneh.
"Katanya buru buru, pergilah!" seru Pelangi mengingatkan dan kembali duduk lagi.
Dibi pun tersadar dan mengangguk kecil. Kakinya hari ini sangat merasakan beban berat untuk pergi ke aktivitas biasanya. Entah kenapa? Tapi hati Dibi sedang tidak tenang. Namun, mengingat tangguh jawabnya sebagai pemimpin, Dibi memaksa kaki itu pergi bekerja, apalagi kemarin Kiara katanya butuh di temani sebelum operasi.
"Hiks... Hiks...." Pelangi yang sudah duduk sendiri di meja makan itu, sudah tidak kuat menahan beban laranya, sehingga melampiaskan ke matanya. Buliran demi buliran itu jatuh bebas dan kian beranak ke pipi nya.
Ia menangis seraya memaksa nasi yang ada di mulutnya tertelan masuk demi gizi anaknya.
"Aku makan nasi, tapi rasanya pasir yang aku telan." gumamnya seraya tersenyum kecut dalam buliran kepedihannya sendiri.
Tidak mau di lihat oleh ART-nya bersedih, yang sedang berjalan ke arahnya, Pe gegas berdiri dan pergi tanpa permisi.
"Tumben Ibu Pe nggak minum obat. Duh... Mau negur tapi takut dibilang lancang." ART itu bergumam seraya menatap obat vitamin Pelangi yang masih utuh. Mereka tidak tau aja, botol pil itu sudah di ganti isinya oleh Pe dengan obat anti nyeri sakit kerasnya.
__ADS_1
***