
Seperti janji Pe semalam, kalau ia akan menjelaskan semua kebingungan orang-orang tentang kehadirannya yang sudah dianggap mati.
"Jadi, Guntur dan Badai yang menyembunyikanmu selama ini?" tanya Dibi gemas seraya melirik sengit ke arah Badai yang datar datar tengil sok tuli. Bisa bisanya kedua pria itu tega membuat drama sampai berbulan bulan. Ingin sekali Dibi berduel dengan adik Pe yang menyebalkan itu. Tetapi ia berpikir lagi untuk cooling down.
Sedang semua keluarganya, hanya menghela nafas mendengarnya. Mau marah, ya... buang buang tenaga. Terpenting Pe masih dalam lindung-Nya, itu saja sudah membuat mereka bersyukur.
"Tidak usah dibahas lagi, Kak. Kalau begitu, aku mau pergi bersama Badai untuk melakukan kemo. Pe pamit semuanya." Pe ingin mengakhiri pembicaraan, dengan itu ia buru buru menggerakkan kursi rodanya seraya menunggu Badai bangkit dari sofa itu.
"Pe, tunggu!" tahan Dibi menghadang Badai untuk menggapai gagang kursi roda itu.
"Kita perlu bicara tentang hubungan kita."
"Nanti saja, jangan sekarang!" lerai Badai. Namun seruan semua keluarga membuat Badai mengalah dan menyerahkan keputusan itu ke Pe sendiri.
"Kita ke taman belakang," telak Dibi memutuskan.
Pe hanya pasrah mengikuti keinginan Dibi. Dan semua keluarganya pun pada mengerti untuk memberi Pe dan Dibi ruang bicara secara pribadi, karena itu menyangkut hati dan rumah tangga.
Biru dan Mentari serta saudara-saudara Pe, kali ini pun tidak mau ikut campur lagi.
"Apapun keputusan mereka, kita harus menghormatinya," ujar Biru seraya mendelik ke empat anaknya satu persatu. Tak lupa, Biru juga melirik Bintang dan Dirgan yang sedang memangku Arpina.
"Dibi selama ini sudah merasakan kehilangan, Biru. Aku berdoa Pe mau memberi kesempatan untuk Dibi," harap Bintang.
"Selama ini, aku memang paling bodoh dengan kepekaan, Kak Bin." Mentari ikut bersuara. "Tetapi melihat sikap Pe yang dingin nan pendiam sekarang, membuat ku ragu. Apalagi, kita tahu persis sifat Pe yang mempunyai ketegasan. Kalau sudah memilih A, maka tidak ada kata B meski ada desakan dari arah berbeda. Dari lima anak anak ku, Pe itu paling memegang teguh pendiriannya. Ia susah menerima jika sudah terlanjur kecewa."
Setelah menyela, Mentari angkat kaki dari orang-orang yang berpikir sama dengannya. Tetapi Bintang dan Dirgan sangat berharap anaknya bisa meraih hati menantunya kembali.
***
__ADS_1
"Pe, aku meminta maaf atas tuduhan ku semalam yang mengira kamu sedang mendrama, aku... aku..." Dibi tergagap. Mereka sekarang berada di pinggir kolam.
"Apa sih yang tidak pernah Pe maafin, Kak Dibi? Jadi tidak usah dibahas lagi. Lebih baik, straight to the point aja keinginan Kak Dibi!" Wajah cantik yang terkena pantulan sinar matahari itu, sangat sangatlah datar. Membuat hati Dibi resah.
"Aku mencintaimu, Pe, ku mohon maafkan kesalahanku selama ini!" Dengan canggung, Dibi memberanikan diri untuk menggenggam tangan itu. Ia bersyukur, Pe tidak menepis tangannya. Hanya saja, wajah Pe tidak sama sekali bermimik.
"Ku harap kamu mau menjadi istri ku seperti dulu. Ceria, manis dan mencintai ku. Mau ya?" sambung Dibi dengan bujuk lembutnya . Pe masih tenang tenang, ingin mengetahui semua keinginan Dibi sekarang. Ungkapan cinta Dibi pun sudah terdengar hambar untuk dikonsumsi hatinya. Andai itu dulu ia mendengarnya, maka Pe akan akan sangat merasa senang. Tapi sekarang...?
"Pe, ku mohon. Ini demi masa depan anak kita."
"Jangan bawa bawa Arpina kalau menyangkut hati, Kak." Pe langsung menserga mendengar nama anaknya yang digunakan oleh Dibi hanya untuk membujuknya.
"Sudah cukup kan, Kak? Kalau begitu, giliran aku yang mengeluarkan segala isi hati ku." Pe menarik tangannya yang di genggam oleh Dibi. Lalu memundurkan kursi rodanya untuk sedikit menjauh dari jongkoknya Dibi. Membuat pria itu menatap tangannya yang sudah kosong tanpa ada tangan lembut Pe.
" Pe__"
"Cinta? Sejak kapan ada cinta untuk namaku, eum?" tanya Pe ingin mengetahui itu. "Bukannya Kiara bagi Kak Dibi itu segala-galanya sampai aku tidak punya ruang di hati Kakak?"
Pe tersenyum getir mendengarnya. Miris saja baginya mengetahui itu.
"Jadi, kalau Pe tidak dinyatakan mati saat itu, maka rasa kak Dibi 'tidak pernah' tersadari, eum?
Skakmat! Dibi dibuat kehilangan kata kata. Ia membenarkan dalam hati untaian Pe yang memang terlambat mengetahui kehadiran cinta itu. Ia terlalu buta dengan nama Kiara pada saat itu.
"Kenapa baru sekarang aku mendengar kata manis itu dari mulut Kak Dibi, eum? Kenapa bukan di hari hari kehamilanku yang sedang butuh kepastian dan perhatianmu? Apakah Kakak tau, tiap malam aku kedinginan ingin dipeluk oleh mu? Tidak! Kakak tidak pernah ada untuk ku! Pe selalu mendapat punggung mu. Dalam tidur kakak pun, telingaku ini pernah mendapatkan bibir Kakak bergumam menyebut nama Kiara. Sangat sangat menyedihkan bagiku, Kak Dibi! Sakit dan melelahkan untuk di jalani." Mata Pe memanas menahan air gratisnya.
"Pe__"
"Aku belum selesai!" Pelangi mengangkat tangannya untuk menjeda Dibi. Apalagi pria itu ingin mendekat. Refleks, Pe pun memundurkan kursi rodanya. 'Diharamkan untuk Dibi', ia baru mengingat surat itu. Dan setiap ucapannya, Pe tidak pernah menjilat lagi.
__ADS_1
"Tadi, Kak Dibi juga meminta ku untuk menjadi istri yang ceria? Manis dan mencinta mu?" Sejenak Pe menarik nafas susah payah dengan mata itu tak lepas dari rahang tegas suaminya. "Aku sudah melakukannya untuk mu waktu dulu, Kak. Tapi apa yang aku dapatkan? Pil pahit yang tertelan dan berakhir menggorogoti hati ku yang cuma satu itu. " Pe mengerjap-ejapkan matanya agar air gratis itu tidak tumpah. Ia tidak mau lemah hanya karena cintanya yang begitu bodoh membuang buang waktunya.
" Pe, aku sudah menyesalinya! Tidak pantas kah bagiku untuk mendapatkan kesempatan kedua? Aku sudah di hukum juga loh di sini! Jadi tolonglah, hargai aku. Ku mohon, ikutlah bersamaku pulang ke rumah kita!" Dibi kian menuntut. Ia ingin egois demi hatinya. Ia pikir, ini hanyalah soal waktu yang lama lama membuat hati Pe akan sembuh sendiri.
" Aku janji, Pe. Aku akan selalu ada untuk mu kali ini. Ku mohon, dan ini demi anak kita juga!"
Setiap Dibi membawa nama anak. Emosi Pe selalu mendidih. Tetapi ia masih bisa mengontrol emosinya dalam tubuh itu.
" Kak Dibi, kita sudah sama-sama dewasa disini. Aku yakin, Kakak pernah mendengar pepatah; Terkadang, patah hati itu seperti cermin yang pecah, lebih melukai jika kita berupaya memperbaikinya. No more calmness!"
" Apa maksud mu? "
"Mari bercerai, Kak!"
Deg...
Dunia Dibi terasa berhenti mendengar keputusan Pe yang dipikirnya sangat terburu buru. Dibi kecewa, sangat-sangat kecewa! Ternyata, kehadiran Pe kembali, berbanding terbalik dengan ekspektasinya.
"Pikirkan baik baik Pe, atau kamu tidak akan bisa bertemu dengan Arpina," ancam Dibi kesal. Lalu segera beranjak cepat meninggalkan Pelangi yang terpekik marah. Dibi ingin egois demi cintanya. Ia merasa tidak adil dengan keputusan Pe. Dengan itu, jalan satu satunya akan membawa Arpina.
" Kak Dibi... Arrghh, kaki sialan!" Pelangi jatuh dari kursi roda itu karena nekat melawan kakinya yang payah saat ini.
Sedang Dibi, di ruang tamu itu. Ia langsung menggendong Arpina yang tadinya bermain bersama Bintang. Syukur bagi Dibi karena empat saudara-saudara Pe sudah pergi ke aktivitasnya masing masing. Hanya ada Bintang dan Biru di situ.
"Dibi, hei! Pe di mana?" tanya Biru cepat. Ia juga kaget dengan pergerakan Dibi.
Dan tanpa menjawab, Dibi main pergi begitu saja dengan membawa Arpina di gendongannya.
Biru serba salah, mau menghentikan Dibi atau mau mengecek Pelangi yang samar samar terpekik di taman belakang.
__ADS_1
Akhirnya, Biru lebih memilih ke arah Pe. Bintang pun demikian.