Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi
Belajar Menjadi Istri Yang Baik


__ADS_3

Trio kwek kwek sahabat Pe masih bertamu. Mereka bertiga amat serius mendengarkan curhatan pernikahan Pe yang katanya pengantin dadakan itu, mau pakai banget mendapatkan cinta Dibi.


"Janji ya, Sob. Jangan adukan ini ke keluarga gue, apalagi sama saudara kembar gue. Lo lo 'kan pada tau mereka kayak apa, kalau sedang marah. Pasti suami gue di jadikan bulan bulanan si Topan dan Badai. Eh...sama Bhumi dan Angkasa juga, jangan ada yang bocor sama mereka. private, oke!"


"Oke...!" kompak mereka.


Trio sahabatnya itu mengerti keinginan Pelangi. Lagian, kalau berurusan sama saudara saudara Pe yang terkenal simba dan sikopet itu, beh...serem bawaannya.


"Jadi, rencana awal lo apa, Pe? Mumpung kita dimari nih, kita kita siap lho bantuin!" Lautan yang tampan nan baik hati menawarkan diri, diangguk setujui oleh Purnama dan Vay.


"Hem...lo lo pada baik deh sama gue!" Pe baru tersadar kalau ia tadi sedang browsing sebuah artikel tentang cara menjadi istri yang baik. Dengan itu, ia menyalakan kembali laptop Dibi yang ia main pakai tanpa izin.


"Elaah, Pe. Kalau mau jadi istri baik itu, mudah kok. Kagak usah deh pakai artikel artikel begituan segala."


Pe langsung menoleh pada Purnama yang terdengar sangat menyepelekan. Posisi Pe saat ini sedang di apit duduknya oleh Vay dan Lautan. Di belakang sana, ada Purnama yang berdiri seraya mencondongkan kepalanya kedepan, sehingga wajah cantik yang bekerja sebagai model itu, berada di dekat pipi kanan Lautan dan pipi kiri Pelangi.


"Memangnya lo tau apa, Ama? Kayak lo uda pernah aja berumah tangga." Vay menyunggingkan sudut bibirnya untuk meledek Ama yang sok tahu menurut mereka. Neng Bule juga menarik laptop Dibi yang ada di hadapan Pe atas meja itu. Tanpa ijin, Vay men-delete semua foto Kiara yang ada di galeri, di luar sepengetahuan Pe yang sedang menatap serius wajah Purnama yang bertutur itu.


"Lo lo kok jadi telmi sih jadi manusia. Kita kita 'kan punya Mama yang jadi istri baik di rumah. Contohnya, noh... Bunda lo, Pe. Lo tinggal ingat ingat deh, Tante Mentari rutinitasnya seperti apa memperlakukan Ayah lo."


Pe pun tersenyum lebar akan pemikiran Ama yang tepat sekali. Dalam hatinya berkata, "Gue kok jadi bodoh," batinnya menghardik diri sendiri.


"Oke deh, berhubung tenaga lo lo pada nganggur nih ya, maka cayo...kita sulap interior rumah ini menjadi ala ala kesukaanku, bukan kesukaan Kiara!"


"Eh, lo yakin, Pe? Ini rumah gede lho. Masa kita jadi arsitektur dadakan. Nyewa bidangnya aja lah. Gue yang bayarin deh, secara pasti Dibi belum nagsih uang bulanan sama bini dadakannya."


"Si anying!" Penuturan Lautan langsung di hadiahi jitakan keras dari tangan Pe.


Ama dan Vay menahan senyumnya saat Pelangi kembali membanggakan Dibi yang katanya sudah diberi Platinum Card.


"Iya, iya. Gue tau suami lo kaya, tapi tetap saja masih tajiran gue!" Lautan masih menggoda.


"Dah, ah. Kagak ada ujungnya berdebat sama klan Batara. Lebih baik cepat bantuin gue deh. Kita kroyok nih tataan firniture firniture yang kagak pas di mata seni gue."


Lautan dan Ama memutar mata mereka kompak karena membawa bawa nama belakang mereka yang notabennya si Pe sama sama cucu dari klan Batara. Kagak nyadar apa, si Mentari keturunan siapa? Ya, Dewa Batara. Auto si Warni itu dari orok punya darah klan Batara. Cih...

__ADS_1


Apa boleh buat, Trio kwek kwek pun menurut saja apa pun perintah sang Putri Rainbow.


Tiga sahabatnya itu memulai pekerjaannya dari menggeret geret firniture untuk menata ulang sesuai yang diinginkan Nyonya rumah.


"Utan, tolongin dong." Pe menunjuk pigura lukis yang ia ketahui kalau hiasan yang mengantung di dinding itu adalah bunga kesukaan Kiara. Pokoknya, bau bau yang bernama Kiara di rumahnya akan Pe singkirkan. Ia akan menggantinya dengan lukisan hasil tangannya sendiri yang berencana vektor lukis wajahnya dan Dibi lah yang akan tergantung indah di sana.


Si jangkung Lautan, menurut manis. Padahal tadi ia dan Vay sedang mengangkat meja bersama.


"Beri aba aba, Nyuk! Untung ujung kaki gue kagak kena!" oceh si Neng Bule keberatan beban. Lautan hanya tercengir tanpa dosa seraya menjalankan perintah Pe.


Dan sepanjang hari, empat orang itu mengeroyok kerjaan rumah. Dari menata perabot, nyapu, ngepel bahkan membersihkan pakaianpun, ke empat orang itu sangat heboh mencuci baju tanpa mesin cuci, karena kata Vay, lebih baik peras perasan baju secara kroyokan, biar Dibi cepat jatuh cinta ke Pe, katanya.


"Bujubuset...beginikah kerjaan ibu rumah tangga itu? Capeknya uih...!"


Lautan mengeluh, seraya tiduran asal asalan di lantai bersih itu.


Tiga wanita sahabatnya itu pun, ikut tiduran di lantai yang sama sama mengeluh pegal.


"Balik balik dari sini, gue mau sungkem sama Mami dan ART gue, Pe. Gila... capek juga ngurus rumah," ungkap Purnama seraya menatap langit langit.


"Tapi seru lho, Pe. Saat Lautan nyuci dalama* Dibi tadi. Hahahha....katanya, jeruk megang jeruk. Hahahhah...." si mesum Vay terbahak bahak mengingat Lautan mendumel saat menjemur baju baju Dibi termasuk kain segitiga itu.


"Idih....nih anak malah merona." Lautan menangkap basah wajah mesum Pelangi.


"Apaan, sih. Yuk ah, kita mulai kerja lagi." Pelangi berkelit seraya bangun dari rebahannya di lantai itu.


"Mulai apalagi Pe? Kan uda kelar semua. Lihat noh, Ini rumah udah kinclong seperti rumah rumah iklan super pe* di TV lho."


Vay yang tidak pernah ngebabu serasa mau melambaikan tangannya di camera. Dari pada beres beres rumah, ia lebih memilih duel di ring muay thai saja.


"Kelar pala lo! bahkan ini belum mulai."


"Hah...!" Tiga mulut sang sahabat melongo kompak. Belum mulai katanya? Terus tadi bebenah dan cuci baju secara keroyokan, apa namanya? Tidur?


"Biasa aja mulut lo lo pada! Kata Bunda gue, cinta bisa hadir lewat masakan. Jadi gue mau masak buat Kak Dibi. Mana tau ia suka rasa masakan gue dan berakhir jatuh cinta ke gue."

__ADS_1


Sang sahabat nurut saja. Akan tetapi, penuh keraguan. Pasalnya, ke empat manusia itu tidak ada yang tahu cara memasak dengan betul. Bisanya makan dan makan!


"Pe, kita kita nggak bisa bantu kalau soal masak memasak lho. Bukannya katanya khusus buat Dibi 'kan ya? Jadi hanya lo lah yang kudu ngerjain."


Vay berkelit secara halus seraya bergidik ngeri melihat Pe mengeluarkan ikan dari dalam kulkas.


"Tak apa, gue ngerti kok. Lo lo pada duduk manis saja di table. Serahkan ke gue."


Dengan pedenya, Pe berucap cemen. Padahal dalam hatinya, bagaimana cara membersihkan ikan dengan benar?


Tuh, kan...trio kwek kwek itu ikutan meringis saat Pe terpekik karena tangan mulusnya terkena sirip ikan.


Namum Pe tidak mau menyerah. Demi bisa membuat Dibi terkesimah padanya, Pe sampai rela capek capek melakukan hal yang baru.


Dan pada akhirnya, ikan itu gosong dan hancur tak berbentuk, karena lengket ke wajan akibat metode memasaknya salah.


Sang trio itu, hanya mampu menelan ludahnya kompak melihat usaha Pe yang berujung gagal.


"Sabar ya, Pe. Tak apa, lo suguhin ke Dibi. Namanya aja belajar, iya kan? Jadi wajar ikan itu berbentuk orek, karena lo tadi korek korek cara ngebaliknya di wajan." Purnama menepuk pundak Pe yang cemberut karena gagal.


"Hem...tak apa ya?" tanya Pe balik. Ama dan Neng Bule bin Vay mengangguk terpaksa.


"Kalau gitu, lo lo pada cobain sayur sop yang gue buat. Mana tau itu nggak ancur rasanya."


Glek...sang trio saling pandang seraya kembali meneguk ludahnya yang kering. Memang, mereka itu lapar. Tetapi, ogah juga makan masakan Pelangi yang mereka yakini kalau sayur pun sangat tak lazim rasanya.


"Pe, ini udah sore lho. Jam jam laki lo balik dinas 'kan ya?"


Pe mengangguk ke Lautan yang hanya mengubah topik.


"Kalau begitu, waktunya kami pulang. Bye bye, Pe!" tambah Vay pamit.


Buru buru, trio kwek kwek itu berlalu pergi, meninggalkan Pe yang menopang dagunya seraya menatap lesu pada masakannya yang tak pantas di suguhkan.


"Pe! Kakak bertemu si trio heboh di pelataran." Pelangi terksiap dari lamunannya saat suara Dibi terdengar.

__ADS_1


"Kamu sedang apa? Dan rumah, kenapa semua penataan finiturenya berubah seratus persen?"


Duh...si suami kok, suaranya serasa tidak terima ya?


__ADS_2