Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi
Menolak Asa


__ADS_3

Dua hari terlewat dari kejadian kekerasan Topan terhadap Dibi yang mengakibatkan Dibi terbaring lemah di rumah sakit.


Dunia Dibi tercungkir balik, acak acakan seperti kena angin putin* beliung begitu saja, sesaat kepergian Pelangi.


Hari ini, hari terakhirnya di rawat di rumah sakit, kata Dokter yang menanganinya. Tapi rasa rasanya, Dibi ingin mati saja. Ia tidak ada semangat lagi, sudah ditinggal istri, kini Arpina pun diambil paksa darinya. Mau menggugat secara hukum, Dibi pun tak kuasa karena ia berpikir kalau ide nya itu hanya akan memperumit dirinya dari mata keluarga Pelangi.


Ibarat kata, langkahnya itu serba salah. Maju kena, mundur sama saja akan menderita.


"Pelangi, apakah kamu senang melihat ku menderita? Kalau ia, maka tak apa, tapi aku ingin kamu kembali. Andai bisa itu!" racaunya seraya memejamkan matanya karena sudah terasa perih. Ia memang berubah menjadi sosok cengeng karena kehilangan.


"Kesepian inikah yang kamu rasakan, Pe? Saat sakit, tidak ada pendamping yang memberikan perhatiannya? Maafkan kakak..." sesalnya yang memang sadar diri jarang ada waktu untuk Pe.


Lama Dibi menceracau sendiri, sampai sampai kehadiran Kiara tidak disadarinya.


"Dibi...." panggil Kiara. Laki laki itu terkesiap dan langsung menghapus air matanya yang entah kenapa selalu banjir. Hatinya perih di dalam sana.


"Kamu sudah baikan?" tanya Kiara lembut dan berangsur menyentuh punggung tangan Dibi, namun hanya sesaat karena Dibi langsung menarik tangannya.


"Seperti inilah!" kata Dibi sekenanya.


Hening, hubungan mereka sekarang mengandung kecanggungan satu sama lain. Kiara yang tidak enak hati pada Pe yang ternyata terluka karena kehadirannya, apalagi mengingat curhat Pe yang selalu menyangkut pautkan Dibi adalah pengecut. Nyatanya, laki laki yang dimaksud Pe adalah laki laki sama yang masih di cintainya itu.


"Dibi, kemarin kamu sangat bijak menyemangati ku untuk sembuh. Ini saatnya aku balas budi padamu. Jadi ku mohon, jangan patah semangat untuk hidup."


"Hidup ku sudah pergi dibawa mati oleh Pe, Ki!" Dibi langsung menjawab cepat. "Aku terlambat mengungkapkan perasaan ku padanya, dan berujung senjata tak kasat mata menembak mati jiwaku. Kamu pasti tau rasanya hidup tanpa penyemangat, Ki. Sakit! Dan itulah yang dirasakan istri ku dari sikap ku yang tak pernah ada untuk nya. Aku sangat buruk, bukan? Jadi, Ki, buang tatapan harapan mu itu padaku. Aku tidak pantas untuk dicintai oleh mu dan oleh wanita lain di luar sana. Biarkan aku menghukum diri ku dengan caraku sendiri. "


Kiara menunduk, sebelum menawarkan cintanya yang masih ada, ia sudah di tolak duluan oleh Dibi secara halus.


" Kamu masih bisa bahagia, Dibi. Ada aku bersama mu," harap Kiara Dibi mau kembali lagi padanya.

__ADS_1


Tapi, Dibi tak ada tanda-tanda meresponnya.


" Maaf, aku seharusnya tidak meminta mu sekarang. Tapi, kalau kamu membutuhkan teman, aku selalu ada untuk mu," sambungnya.


" Pergilah, Ki, aku hanya ingin sendiri saat ini. Pergi dan jangan berharap pada laki laki buruk seperti ku. Jodoh, maut dan segalanya, hanya yang tahu Maha Kuasa. Jadi, kalau kita memang berjodoh, pasti akan dipersatukan. Tapi ku peringatkan untuk tidak menunggu dan berharap pada laki laki mati rasa seperti ku. Aku ada di sini hanya karena Pelangi meminta untuk mengurus Arpina dengan baik. Aku tidak mau mengabaikan permintaan istri ku yang sudah berjuang sendiri selama ini. Maaf....!"


Dibi menolak asa untuk saat ini dengan nada pelan pelan agar Kiara mau memahaminya. Dan wanita itu hanya mampu menelan rasa kecewanya. Tapi, bibirnya berangsur tersenyum pertanda ia baik baik saja. Kiara juga tidak mau egois untuk memaksa kehendak seseorang.


"Dibi, aku akan menjauh kalau kamu memang tidak mau kita seperti dulu. Dan semoga, kamu bisa bahagia meski tanpa Pe. Aku pamit!" Kiara masih tersenyum tipis, paksa. Padahal ia kecewa atas penolakan Dibi yang ternyata sudah tidak ada cinta untuknya.


"Eum, semoga kamu pun bahagia, Kiara!" seru Dibi sekenanya. Lalu kembali hanyut dalam lamunannya.


Lima menit tepat kepergian Kiara, orang tua Dibi pun datang membawa surat pernyataan sembuh Dibi yang sudah diperbolehkan pulang.


"Kamu sudah boleh pulang hari ini!"


" Hati hati, Nak!"


" Eum, maaf sudah merepotkan kalian. Mama dan Papa pasti nyesel punya anak tak berguna seperti ku."


"Dibi __"


"Ayo pulang!" Dibi kembali berjalan. Padahal Bintang ingin menepis kata kata anaknya.


Sampai di rumah, Dibi sungguh bersikap irit bicara. Tepat pintu rumah itu terbuka, otaknya terbesit di mana Pelangi lah yang selalu ceria membukakan pintu untuk nya. Tapi kali ini, ART nya lah sekarang yang melakukannya.


"Ibu, Bapak, masakan uda siap di meja makan," lapor ART itu karena Bintang sebelumnya memesan agar memasak makanan kesukaan Dibi.


"Baik, Ningsi. Terimakasih ya."

__ADS_1


ART itu akhirnya berlalu duluan ke dapur setelah menjawab takzim Bintang.


Sedang Dibi, laki laki itu selalu teringat Pelangi. Di ruangan sudut sana... Ia dan Pe sering berolahraga bersama. "Naik cepat, Pe!" Dibi tanpa sadar, menceracau menyuruh Pe naik kepundaknya yang ingin push up dengan Pelangi di atas punggungnya.


Bukan hanya olahraga bersama yang menghantui pikiran Dibi, Pe saat ini juga terbayang sedang mondar mandir sibuk memasak dan ini itu demi menjadi istri yang baik, katanya.


"Kenapa harus kepergian yang menyadarkan cintaku, Pe. Harusnya kamu memukul kepala ku agar terbuka lebar lebar otak ku yang tertutup itu."


Dirgan dan Bintang yang melihat anaknya tersenyum seraya menitihkan air mata, dibuat melongo shock.


Bintang merasa, ini sudah cukup ia diam tak bertindak. Ia harus menyelamatkan anaknya dari sakit jiwa dengan cara mengambil Arpina di tangan keluarga Pe, biar anaknya itu merasa sedikit terobati rasa salahnya.


"Kita harus mendatangkan para orang tua. Mama, Papa dan Om Titan dan lainnya memang harus berkumpul menyelesaikan masalah yang sudah dibilang rumit ini, " pungkas Bintang.


Berharap Meca-Oma Dibi dan Titan-Opa Pe yang notabenenya adalah adik kakak itu harus dihadirkan untuk mencari jalan tengah mereka. Bukan apa apa, Biru itu hanya patuh pada Titan dan Vane, orangtuanya.


"Semoga mereka bisa membantu dan berpihak pada hak Dibi ya, Sayang. Kalau begitu, aku sendiri yang akan menjemput mereka."


"Pergilah!"


Dirgan langsung beranjak, sedang Bintang segera menghampiri Dibi yang berdiri di ruang tengah sana.


"Nak, mari makan bersama. Kamu harus kuat demi menjaga Arpina. Papa dan Mama janji akan mempertemukan kalian," bujuk Bintang seraya mengapit lengan Dibi untuk dituntunnya ke meja makan.


"Ma, tolong masakin ikan gosong serta bentuknya harus remuk ya, aku ingin makan masakan persis usaha Pe tepat pertama kali memasak untuk ku."


Meski terdengar aneh, Bintang tetap menuruti keinginan Dibi, terpenting anaknya itu mau makan. Dan lihatlah, Dibi benar-benar lahap memakan ikan tak berbentuk kuliner itu. Bintang sampai heran sendiri, padahal di depan anaknya banyak masakan yang layak dimakan.


Tanpa Bintang tahu, kalau Dibi itu menangis batin setiap menelan makanan itu. Dibi bukan sedih karena ikannya yang gosong, melainkan menyesali atas segala usaha istrinya yang tak pernah dilihatnya.

__ADS_1


__ADS_2