Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi
Menuju Pulang


__ADS_3

Satu minggu pun tiba. Pe yang masih tak berdaya di atas kursi roda, benar-benar keras kepala untuk memutuskan pulang ke Negaranya.


Guntur yang mengantarnya ke bandara saat ini, merasa rela tak rela akan kepergian Pelangi.


"Guntur, terimakasih atas semuanya, kamu sangat baik padaku!" ucap Pe mendongak ke atas untuk menatap wajah Guntur yang sedang berdiri di depan kursi rodanya.


"Kalian bicaralah, aku akan mengurus tiket." Badai yang ada bersama Pe dan Guntur, sengaja izin pergi untuk memberi kesempatan berbicara pada Guntur. Badai tahu, kalau Pria itu menyukai Pelangi.


"Kalau suka sama Pe, jangan diam diam saja. Kamu berhak memperjuangkan hatimu. Diterima atau ditolak? itu soal belakangan." Badai berbisik pelan ke Guntur sebelum benar-benar pergi. Adik Pe itu sama sekali tidak rela kalau Pe kembali lagi bersama Dibi.


Mendengar itu, semangat Guntur yang tadinya padam, tetiba bangkit karena dukungan Badai.


" Pe__aku__maksudku... " Hais, tidak mungkin aku ngucapin secara monoton juga, dasar cowok kurang pengalaman, tak ada romantis romantisnya, batinnya yang tadinya tergagap gagap di depan Pelangi.


"Kamu mules?" Pelangi jadi salah paham melihat wajah Guntur yang gugup dengan perutnya sendiri dipegang tiba tiba.


"Ah... Nggak, aku hanya mau berkata, cepatlah sembuh di sana dan juga apakah aku boleh ngajak kamu jalan jalan, kalau aku sedang berkunjung ke Negara mu?"


Tolong palu! Ketuklah bibirku, batinnya merutuki lidahnya itu yang sangat lancar kalau berbohong, kalau mau jujur akan perasaannya kok ia merasa banci.


" Tentu saja boleh!" Pelangi tersenyum sesaat.


" Apakah peluk juga boleh?" ucap Guntur tak sadar juga akan permintaannya. Sejurus, ia menggigit pelan lidahnya. Lalu dengan cepat cepat meralat permintaannya saat Pelangi menatap tepat ke dua bola matanya. "Maksud ku peluk perpisahan. Ya.... Itu!" Guntur sangat sangat kehilangan wibawanya kalau di depan Pelangi, karena gugup sendiri akan perasaannya yang sangat besar untuk Pe.


"Eum, kemari lah. Sekali kali aku ingin merasakan pelukan pria lain. Bosan rasanya dipeluk terus sama Badai," canda Pelangi akan nama Badai yang entah lagi sok sibuk apa saudaranya yang berdiri sedikit jauh di sana seraya memainkan hapenya.


Mendengar persetujuan dan melihat rentangan tangan Pe di atas kursi rodanya, Guntur pun maju membawa degup jantungnya yang semakin terpaju layaknya habis lomba lari.

__ADS_1


Halo Jantung! Kendalikan diri mu, batinnya di dalam pelukan Pelangi.


"Apa kamu sakit? Kenapa pelipis mu sampai berkeringat?" Pe menyeka pipinya yang tidak sengaja terkena keringat dingin Guntur.


"Ini karena cuaca panas. Maaf ya, pipi mu jadi kotor karena ku."


Reflek, tangan Guntur menyentuh pipi tersebut yang sebenarnya sudah bersih. Kendati, cepat cepat menarik tangannya karena Pelangi terus menatap kedua bola matanya seperti mencari sesuatu di sana.


Jarak wajah mereka sangat dekat, karena Guntur sedari tadi membungkuk.


"Aku akan merindukan mu, Pe..." ucapnya lirih.


"Benarkah? Kalau begitu, kenapa tidak mau mengantarku sampai ke rumah, eum?" goda Pe bertanya. Padahal ia tahu kalau temannya itu banyak kerjaan.


"Aku pasti datang membawa lamaran..."


Meski nada Guntur terkesan bercanda, tetap saja Pelangi tertegun mendengarnya. Sampai-sampai ia menelan susah payah ludahnya.


Belum sempat Pe bersuara, Badai datang menyela yang sudah cukup memberi waktu untuk Guntur.


"Ayo, Pe! Kita harus masuk sekarang juga. Jadwal terbangnya sisa dua puluh menit. Bro... Thanks bantuannya yang tak bisa gue balas dengan apa pun itu." Badai menepuk pelan pundak Guntur. Dibalas senyuman oleh pria itu.


"Jangan sungkan, Dai, aku ikhlas membantu wanita__maksud ku membantu Pe." Hampir saja Guntur keceplosan membantu, 'wanita yang ku cintai.'


"Kalau begitu kami pergi!" Pamit Badai. Pe sedari tadi hanya memperhatikan wajah Guntur yang merasa ada yang aneh baginya. Sampai kursi roda itu didorong oleh Badai, Pe sama sekali tak berpaling dari wajah tampan itu.


"See you, Pe!" lambai Guntur tersenyum paksa. Tetap, wanita itu tak merespon sampai sedikit jauh di depan sana, Pe baru mengalihkan pandangannya. Membuat Guntur kecewa karena

__ADS_1


"Kenapa Pe? Apakah kamu sudah paham maksud kebaikan Guntur?" tanya Badai seraya mendorong kursi roda itu.


Namun, Pe benar-benar membisu. Ia larut dari pikirannya sendiri. Bukan hanya memikirkan sikap Guntur yang terasa aneh, melainkan Pe juga memikirkan kesiapan mental untuk bertemu dengan orang-orang yang sudah menganggap dirinya meninggal.


Dalam hatinya itu, ia sudah memantapkan diri untuk berdiri teguh, tanpa ada hati yang lemah karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan.


***


Lamanya perjalanan bersama Badai, Pe akhirnya sampai di Negara kelahirannya.


"Rileks, oke!" kata Badai menenangkan Pe yang sudah berada di dalam mobil jemputan yang disetir langsung oleh Miko, asisten tampan Badai.


"Miko, putar arah ke apartemen Badai."


Pelangi tidak menghiraukan kata kata Badai. Ia hanya mentitah Miko. Membuat asisten itu jadi bingung, menurut Badai atau Pelangi?


"Pe, aku sudah memberi kabar ke Ayah dan Bunda untuk menyuruh orang-orang berkumpul di rumah Ayah loh."


"Putar arah, Miko. Kamu dengar kan?!"


Pe yang belum siap karena merasa bersalah pada semua orang yang sudah pernah membuat luka akan kematiannya yang ia pun tidak tahu akan panjang umur, malah membentak Miko agar mobil itu jangan masuk ke perkomplekan.


Merasa bingung, Miko lebih memilih menghentikan mobil tersebut, lalu menoleh ke belakang. "Pak...? Jadi bagaimana?"


"Pe, inilah saatnya untuk menghentikan rasa sedih Bunda yang semakin kurus karena terlalu kehilangan mu," bujuk Badai tidak mau menunggu lagi.


"Anak mu pun sekarang ada di rumah loh! Aku sengaja menyuruh Bhumi untuk mengambilnya di rumah kamu," imbuh Badai membujuk lagi.

__ADS_1


"Rumah ku hanya di rumah Ayah. Jalan lagi, Miko! Aku mau bertemu Arpina sekarang."


Badai akhirnya tersenyum karena berhasil membujuk Pe. Ia ingin menggemparkan orang-orang yang ada di rumahnya yang akan terjadi sebentar lagi.


__ADS_2