
"Kenapa kalian menatap ku seperti itu? Apakah ada kotoran di___Pe-Pe-Pelangi."
Terkejut? Tentu saja! Dibi berharap, ini bukanlah mimpi yang terlihat nyata dialaminya.
Meskipun hanya mimpi, maka Dibi tidak mau bangun dari tidurnya, agar ia bisa terus melihat wajah yang sudah satu tahun pergi darinya.
" Bunda, apakah kalian kompakan memasuki mimpi ku? Katakan padaku, kalau orang yang di hadapan kita adalah Pelangi?" kata Dibi seraya matanya tak lepas dari wajah Pe yang mendongak menatapnya balik.
Tapi apa? Semua orang disekitar Dibi, tidak ada yang bersuara sampai Badai lah yang baru keluar dari rumah, membuat keheningan itu terusik.
" Apakah kamu kaget, Dibi? Ya....bukan hanya kamu yang kaget, tapi kami semua pun sama."
Greebb...
Tak peduli dengan keadaan, Dibi langsung memeluk erat wanita yang di rindukannya.
Sedang Pe bergeming seperti patung dalam dekapan orang yang dulu sangat sangat dicintainya. Tapi... Kemana rasa itu pergi? Kenapa tidak ada lagi getar getar rasa yang selalu ia nantikan di saat pelukan Dibi tanpa diminta seperti ini?
Apakah hatinya benar-benar merasa mati karena terlalu banyak rasa kecewa yang ia telan mentah mentah dari sikap ketidakpedulian, ketidakpastian, ketidakjelasan, serta ketidakpekaan seorang suami pada istrinya?
Hah... Dalam pelukan itu, Pelangi hanya mendesah kasar tanpa mau membalas pelukan Dibi. "Maaf, Kak Dibi, tolong jangan erat erat, aku susah bernafas."
Terpaksa Dibi melepaskan pelukannya yang terasa kosong ia gapai dari tolakan halus Pelangi.
"Ayah, Bunda, aku ingin tinggal sama Badai di apartemennya. Aku ingin ketenangan dalam proses penyembuhan kaki ku yang akan dikemo langsung oleh Badai. Jadi tak apa kan aku di sana dulu?" sambung Pe sama sekali tidak memberi kesempatan untuk Dibi dan lainnya berbicara. Padahal semua orang ingin mendengar kejadian sebenarnya tentang Pe. Mereka tentu saja sangat sangat bersyukur akan hadirnya kembali keluarganya yang dianggap sudah tinggal nama itu, tapi di sisi lain, mereka butuh penjelasan.
__ADS_1
Tetapi, Pe malah berseru, "Dai, ayo kita pergi!"
Rasa kecanggungan Pe, berdampak pada semua orang kecuali pada Badai yang merawatnya selama ini.
"Maaf, Nak, Ayah ingin egois untuk malam ini." Biru menggeser posisi Topan yang ada di belakang kursi roda Pe. Ia memegang besi itu lalu mendorongnya pelan untuk masuk ke rumah. Tapi langkahnya terhenti saat kursi roda itu tepat di depan kaki Dibi.
"Semua pulanglah ke rumah masing-masing, bukan tadi seperti itu niat kalian. Dan Dibi, kamu juga pergilah karena malam ini, Arpina wajib bertemu dengan Mamanya." Biru memberi tatapan tajamnya ke Dibi sebagai kode tak mau ada bantahan.
Braak...
Hah...? Badai yang membawa Pelangi pulang pun, sama sekali tidak dapat pintu. Astaga, Badai merasa tidak dapat keadilan oleh Ayah Bundanya yang main tutup pintu begitu saja.
"Badai!" seruan kompak oleh empat pria di depannya itu sudah terdengar. Okelah... Dari pada panjang urusannya, Badai mau kabur dulu.
"Badai!" pekik Topan seraya mengikuti Badai yang berjalan ke arah mobilnya. Si Twins pun, sangat kompak ingin menjadikan Badai bulan bulan mereka. Enak saja mau kabur setelah satu tahun lebih membiarkan mereka meratapi kehilangan Pe yang ternyata bersama Badai. Jangan harap lepas dari tiga orang itu.
"Tidak bisa dibiarkan!" Ada rasa gemas gemas kesal Dibi untuk semua orang yang memusuhinya. Ya... Sejak kepergian Pe tepat hari itu, ia memang terasa diasingkan oleh keluarga Pe. Meski sering datang ke rumah mertuanya, itu hanya semerta merta Arpina yang terkadang diasuh oleh Mentari sebagai pelipurnya akan kepergian Pelangi.
"Dibi... Hei... Kamu tumben lari lari, ada apa, Nak?"
Dibi bahkan menulikan telinganya, saat Bintang menegurnya tepat menaiki anak tangga rumah bertingkat dua itu.
Sampai di dalam kamarnya, Dibi segera membuka pintu balkon. Lalu berjalan sebentar ke arah kanan, di mana ada balkon Pe di seberang yang hanya berjarak satu meter untuk dilompati.
" Semoga Pelangi ada di kamarnya," katanya seraya.. hap. Lompatan sempurna, maksudnya sempurna terpeleset.
__ADS_1
"Aww... Sial," rutuknya menahan bagian bokon*nya yang berdenyut.
Tapi, rasa sakit itu tak seberapa dibandingkan dengan rasa hatinya yang nano nano sekarang ini. Bahagia atas kehadiran Pe? Jelas! Sedih? Tentu saja sedih karena merasa dipermainkan oleh Pelangi yang rupa rupanya masih hidup tapi pergi begitu lama tanpa ada kabar. Apa coba maksudnya itu? Mau balas dendam padanya karena merasa tidak dipedulikan? Hah... Dibi rasa rasanya mau makan ginjal orang saat ini.
Tok tok tok...
"Pe... Buka pintunya, kita perlu bicara!"
Tok tok tok...
Dibi terus menerus menggedor gedor pintu balkon yang terbuat dari kaca itu. Tapi tidak ada respon.
"Pe, aku tahu kamu pasti di dalam. Tolonglah, buka pintunya, kita perlu bicara!" ujar Dibi tidak sabaran.
Masih tidak ada respon, Dibi masih tak kehilangan cara untuk bertemu dan berbicara serius empat mata dengan Pe. Pikirnya, lebih cepat lebih baik bukan, karena malam itu pasti tidak akan ada gangguan dari Biru serta orang orang terkasih Pelangi yang lain.
Dengan itu, Dibi kembali melompati balkon tersebut untuk sekedar mengambil benda apapun di dalam kamarnya yang bisa membobol kunci pintu balkon Pelangi.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Dibi kembali lagi ke balkon Pe dengan membawa sebuah kawat, obeng dan kawan-kawannya yang terkumpul apik dalam kotak peralatan berwarna coklat tersebut.
Ceklek...
Dibi tersenyum jumawa. Beberapa menit setelah bersusah payah, akhirnya kawat dan kawan-kawannya membobol kunci pintu. Tapi saat terbuka, serangan dari Pe berhasil membuat tulang kering betisnya berdenyut denyut sakit luar biasa. Lihatlah istrinya itu, meski duduk di atas kursi roda, kepiawaiannya dalam menyerang orang yang dianggapnya musuh masih terlihat sempurna.
"Kenapa kamu menyerang ku?" Dibi melirik kesal pada tongkat golf yang di lempar Pelangi ke arah betisnya. Padahal wanita itu berada jarak jauh dari pintu balkon.
__ADS_1
"Aku kira maling yang tak punya rasa salah membobol pintu kamar orang!"
Halo! orang katanya? Ia memang orang. Tetapi suara dingin Pelangi berhasil mencubit hatinya.