Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi
Bertemu


__ADS_3

Badai memasuki rumah orang tuanya tanpa ada Pelangi bersamanya, membuat keluarganya yang sedang menunggunya sedari sore sampai jam sembilan malam, mengerutkan dahi kesal.


'Tunggu aku pulang dan berkumpulah di rumah Ayah. Aku akan membawa wanita cantik nan spesial. Pasti kalian akan menyukainya.'


Kurang lebih seperti itulah chat Badai yang dikirim khusus ke GC keluarganya.


Tapi...mana wanita yang dimaksud Badai? Ternyata mereka semua dibohongi. Ck...


"Hei hei hei, come on all, jangan menatap ku sebagai paha ayam yang siap disantap." Badai yang menyadari tatapan predator tiga saudaranya, seketika mengeluarkan suara selorohnya seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sedang Ayah Bundanya hanya duduk datar di sofa sana, seraya memperhatikan anak-anaknya yang sudah dewasa tetapi masih kadang kala bertingkah seperti bocah.


"Mana calon kakak ipar kami itu, eum? Aku sampai izin nggak ngajar satu mata kuliah loh karena menunggu kakak dari sore!" Protes Bhumi yang merupakan dosen. Angkasa yang sama sama pembimbing pun, ikutan protes.


"Bahkan, gue yang paling parah, ninggalin anak sama istri gue di rumah. Padahal Agni lagi rewel rewelnya. kan kasihan si Nana. Pasti balik balih gue di omelin kalau pulang pulang nggak bawa foto calon bini lo sebagai bukti. Sialnya kita ternyata dikibulin."


Giliran bersuara, Topan begitu ketus. Membuat si Twins perlahan lahan menjauh yang sedari tadi berdiri di antara Topan. Takut mereka kena pelampiasan.


"Ck, lihat sebentar lagi calon istri gue yang sudah membuat kalian mati penasaran menunggu gue. Pasti akan terbayarkan. Jadi... Eh tapi tunggu dulu! Arpina mana?"


"Tidur di kamar Bunda," sahut Bhumi seraya melirik ke Mentari yang mengangguk.


Dan Badai hanya manggut-manggut seraya tersenyum kecil mendengar Arpina belum dijemput oleh Dibi.


"Oke siap ya, ingat para jomblo jomblo akut yang ganteng tapi nggak laku laku." Badai meledek si Bhumi dan Angkasa. Sang empu nama itu cukup menulikan telinganya, maka urusan beres.


"Miko, bawa masuk wanita tersayang kami!" lanjut Badai berseru panjang.


Wanita tersayang kami? Apa maksudnya itu? Masa satu cewek minta dinakihi ramai ramai, batin Bhumi merasa aneh dengan cara ucapan Badai yang aneh menurutnya.

__ADS_1


Hening, semua mata memandang ke arah pintu yang belum ada tanda-tanda dari Miko.


"Hahaha, pasti calon kak Badai mengurungkan niatnya untuk menjadi pendamping orang tengil sepertimu," ledek Bhumi. Mendapat decakan dari Badai.


"Dahlah, ini pasti alasan busuk Badai saja agar tidak diamuk oleh kita semua. Lo sukses ngebuat prank untuk kita." Kesabaran Topan sudah habis. "Ayah, Bunda, aku pamit ya. Kasihan Nana di rumah." Sambungnya meminta izin seraya menarik jasnya di sofa.


"Tunggu dulu dong, Pan. Sebentar oke!" Tahan Badai seraya melirik ke arah pintu. Miko benar benar nggak becus di suruh mendorong kursi roda saja sangat lama, kesalnya dalam hati. Atau jangan-jangan Pelangi mundur lagi dari niatnya untuk bertemu dengan semua orang tercintanya, karena merasa bersalah yang sudah membuat kehebohan kesedihan akan kematian palsunya yang Pe awalnya pun tidak tahu akan berujung masih mempunyai nafas panjang? Badai bertanya tanya sendiri dalam hati seraya memanggil Miko yang kedua kalinya. Tapi tetap saja nihil.


"Kami pun pamit, Ayah, Bun."


Twins pun mengikuti jejak Topan. Mereka memang selalu kompak. Bahkan tinggal pun satu apartemen.


"Kamu payah, Kak Dai. Lagian nama mu Badai sih, jadi cewek mu takut kena badai dahsyatmu. Hahaha...."


"Bangk* lu! Dasar adik laknat."


Duaghh...


"Tunggu gue, Bhumi," pekik Angkasa karena Bhumi dan Topan sudah hampir berada di depan pintu utama yang tertutup. Ia masih terkekeh menertawakan Badai.


Biru dan Mentari hanya mampu menggeleng-geleng kepala.


"Kalau Pe masih ada, pasti akan lebih ramai ya, Bun," lirih Biru yang selalu mengingat anak perempuannya.


Badai medengar itu, lalu berkata, "Ayo Yah, Bun, kita ke depan. Ada kejutan buat kalian. Dan pasti si trio pria pajangan itu sudah terkaget-kaget."


Walau bingung oleh paksaan Badai, dua orang tua itu tetap saja menurut.


Sedang di luar rumah. Topan dan si Twins, merasa shock saat pintu rumah baru terbuka.

__ADS_1


Mata ketiga laki laki itu menahan sebisa mungkin untuk tidak berkedip. Takutnya, setan Pelangi main menghilang di atas kursi roda yang mereka rindukan.


"Cubit gue, Kak Topan. Apakah kita bermimpi?" ujar Bhumi yang berada dibarisan tengah.


"Jadi bukan hanya gue yang ngelihat arwah kak Pe?" Angkasa sama saja cengongnya seraya menatap kaki Pe, ingin memastikan apakah melayang layang seperti hantu? Tapi kayaknya normal deh.


Sedang Topan, mulutnya yang terbuka setengah itu, merasa sangat susah untuk ditutup ataupun berbicara satu katapun, saking shock-nya melihat Pelangi yang duduk di kursi roda dengan mata indah itu berkaca kaca menatap mereka.


"Ha-i..." Hanya sekedar 'hai' saja yang keluar dari mulut Pe karena merasa canggung. Ia kembali ingin menyapa, tapi air matanya sudah menganak terlebih dahulu.


Lebih lebih, melihat kehadiran orang tuanya yang sama merespon kedatangannya dengan wajah terkejut berat.


"Pe-Pelangi..." gagap Mentari. Pe hanya bisa mengangguk sebagai jawabannya karena suaranya keburu tenggelam oleh sesak air mata. Ia senang sekaligus sedih akan pertemuan pertama mereka selama setahun.


Tanpa ba-bi-bu lagi, Mentari dan Biru kompak menyerbu Pe dengan pelukan bersama seraya air mata mengiringi dekapan itu. Biru sampai tergugu dalam isakannya, karena gendongan terakhirnya bukan pada satu tahun di bawa hujan deras itu. Ia masih bisa mendekap anak perempuannya. Alhamdulilah, syukurnya dalam hati akan keajaiban yang dibawa pulang Badai hari ini.


"Kamu benar Pe kami 'kan? Bukan yang kami kuburkan__" Biru menjeda, ia merasa bodoh.


"Ini benar-benar bukan mimpi kan? Tolong, siapapun itu, maka bangunkanlah aku!" Bhumi dan dua saudaranya yang lain masih dalam keadaan bingung.


Plak... plak... plak... Karena Bhumi minta dibangunin, ya... Badai dengan senang hati menggeplak jidat ketiga saudaranya kebelakang dan tanpa dosa, Badai tersenyum seraya memainkan alisnya naik turun tepat tiga pasang mata itu menatapnya seram.


"Nanti gue jelasin, elaah... Kalian memang benar-benar seram dan oh ya... Maaf sebelumnya. Gue mau kabur dulu." Badai ngebirit masuk setelah mengkode Miko untuk meperbolehkan pulang.


Setelah puas menangis haru akan pertemuan itu, acara berpelukan pun sudah diselesaikan. Biru dan lainnya, tentu saja bersyukur dalam hati.


" Ayo, Yah, Bun, kita masuk dulu. Baru mempertanyakan ini dan itu tentang kejadian sebenarnya."


Tepat Topan ingin mendorong kursi Pelangi masuk, seruan dari orang yang Pe masih sangat kenali suaranya, terdengar.

__ADS_1


"Kalian sedang apa di luar? Apakah Arpina sudah tidur?"


Dibi belum melihat, siapa wajah orang yang sedang menunduk dalam dalam di atas kursi roda itu. Tak mau menoleh sama sekali, apalagi berniat menyapanya.


__ADS_2