Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi
Talak (Melapangkan Hati)


__ADS_3

Pe yang di periksa oleh Badai, dinyatakan baik baik saja. Namun karena ke-lebayaian adik itu, semua keluarga telah diberi kabar, sehingga berujung datang silih bergantian menjenguknya.


Beda dengan Guntur yang katanya mengalami cedera pada leher belakangnya. Pe yang sejak tadi ingin menjenguk pria itu tertahan terus. Selain karena infus belum habis karena katanya nanggung mau di lepas, ia juga tertahan oleh keluarganya. Sampai sampai Dibi pun tak dapat kesempatan untuk mengobrol berdua.


"Benar kamu sudah baikan, Sayang?" Mentari, bertanya keadaannya sampai lima kali hanya demi memastikannya.


"Katakan pada kami kalau ada yang sakit. Ayah sangat takut!" Belum sempat menjawab, Biru menyela. Orang tua itu seakan trauma kehilangan Pe dalam satu tahun lebih yang dinyatakan meninggal.


Pe tersenyum pada dua orang tuanya. Tadi Topan, Angkasa dan Bhumi serta kedua orang tua Dibi sudah menjenguknya secerah bergantian dengan tingkat kecemasan terhakiki mereka. Sekarang kedua superheronya itulah yang mendapat giliran paling terakhir karena datang pun terlambat, terkena macet.


"Aku baik baik saja, Bunda, Ayah! Tidak ada yang perlu di takutkan. Mungkin Badai sudah menjelaskannya kan?"


Mentari dan Biru kompak mengangguk. Sebelum anak nomer ketiganya itu ijin pulang bersama Topan dan si Twins, Badai memang sudah menyatakan kesehatan Pe baik baik saja. Tadi ia pingsan hanya karena kedinginan dalam ke-shockannya.


" Bun, sini deh!"


Mentari mengerutkan kening sedikit bingung karena Pe melambainya untuk semakin mendekat. Ia pun menurut, menundukkan kepalanya demi Pe bisa bisik bisik padanya.


"Ck... Ayah sudah kayak apanya. Masa main rahasiaan sama Ayah!" Biru protes seperti anak kecil.


"Ayo, Yah. Kita pergi! Ada urusan penting dari Pe!" Mentari tak menghiraukan sikap anak anak Biru.


Biru yang tak pernah membantah pada istrinya, hanya main ikut pergi yang telah ditarik tarik dalam kebingungannya. Sebenarnya, Pe menyuruh Mentari untuk menjenguk Arpina dan berharap pada Bundanya itu untuk membujuk suami egoisnya agar tidak sok berkuasa pada putri mereka.


Dalam keheningan ruangan, Pe melamun tentang kejadian di taman tadi. Ia tidak menyangka kalau Guntur begitu dalam mencintainya. Dari mereka berteman di umur remaja dan bertemu kembali, Pria itu tak pernah menyatakan rasa sukanya. Jadi Pe tidak tahu akan hal itu. Lebih lebih, mereka juga jarang bertemu di saat dirinya masih single. Ia memang mengenal Guntur sebagai pria baik.


Ceklek... Lagi sedang melamun, suara pintu terbuka membuyarkan pikirannya. Pe pun menoleh ke arah pintu. Ada Dibi di sana.


"Apa aku mengganggumu?" tanya Dibi. Ia jadi canggung dan tak enak hati pada Pe. Ia selalu tak berguna bagi istrinya, seperti di taman tadi. Bisa bisanya, pria lain lah yang menolong Pe sedang ia pun ada di TKP.

__ADS_1


"Masuklah, Kak," sahut Pe. Bersikap sedia kalanya, santai santai datar.


Dibi pun melangkah, duduk di kursi dekat brankar. Pe ikut berusaha duduk di atas bed.


"Aku bantu!" Pe menerima niat baik Dibi. Meski hubungan suami istri mereka dalam kecanggungan, ia masih tetap bersikap dewasa. Sebelum menjadi suami, Dibi adalah pria baik yang selalu menjaganya dalam embel embel adik. Pe tidak mungkin juga melupakan itu.


" Terimakasih, Kak!" Pe membalas tatapan Dibi. Mata pria itu merah, seperti habis menangis. "Apa Arpina sudah baikan dari alerginya, Kak?" tanyanya kemudian untuk memutuskan keheningan.


Dibi mengangguk. Lalu berkata, "Bunda dan Ayahmu sudah membawanya pulang. Dokternya pun sudah menyatakan Arpina baik baik saja," papar Dibi dengan nada pelan.


Tatapannya tak mau lepas dari mata Pe. Pria itu mencari binar cinta untuknya. Tetapi sepertinya sudah tidak ada. Binar Pe padanya sudah berbeda, tidak seperti awal pernikahan mereka. Di mana Pe yang selalu merindukan kepulangannya dalam bekerja? Di mana Pe yang selalu tersenyum ceria nan penuh cinta padanya? Dan semuanya, di mana? Tidak ada!


Ia benar-benar terlambat sepertinya. Istrinya itu sudah mati dalam rasa kecewa mendalam akan kesalahan terbesarnya, karena sibuk dengan urusan luar rumah yaitu pada mantannya. Dibi merutuk dalam dalam dirinya.


Penyesalan itu sangat menyesak. Seperti ada batu besar yang menghantam hatinya.


"Aku terlambat! Terlambat!" batinnya. Ia sadar, kalau hati yang terlanjur patah dan kecewa berat itu sangat susah di sembuhkan. Seperti Pelangi saat ini padanya. Jikaulah ada kata maaf untuk nya, pasti rasa itu sudah berbeda. Layaknya cermin pecah seribu.


Sekonyong - konyongnya, Dibi memeluk erat Pe. Wanita itu terkejut dalam dekapan Dibi. Ingin melepaskan diri, namun Dibi berkata, "Berikan aku kesempatan terakhir memeluk mu. Ku mohon jangan menolak!"


Pe pun bergeming. Ia manahan sesak eratnya pelukan Dibi. Tangan lebar Dibi, kini terasa mengelus surai hitam lurusnya. Pe tiba-tiba menangis di pundak Dibi tanpa sepengetahuan pria itu. Begitupun Dibi yang meneteskan diam diam air matanya.


Pe merasa sesak akan nasib percintaannya yang penuh dengan derita. Ia memang memaafkan seluruh sikap semena mena Dibi tempo waktu itu, tetapi hatinya begitu sakit seperti terkoyak koyak. Di kala, ia hanya ingin di gendong atau minta di suapin untuk pertama kalinya dari tangan sang suami, namun hasrat kecil itu tak terwujud, tak direspon baik. Pe sakit hati mendapat sikap cuek dari awal sampai akhir akhir kepergiannya di kala itu.


Andai kata, Dibi tak mencitainya, tetapi setidaknya berilah perhatian pada kehamilannya. Wanita hamil itu sensitif bawahannya, melihat sepasang suami istri lain datang memeriksa kandungan saja, Pe waktu itu meraung raung sendiri karena iri. Ia seperti hamil tanpa suami. Dibi hanya sibuk pada urasannya. It's oke, no problem dengan keirihan itu, Pe masih teteg berdiri sendiri untuk selalu setia menunggu rasa kasih sayang Dibi padanya. Namun seiringnya waktu, suaminya tak ada sehari pun untuk kehamilannya. Ia capek juga lama lama.


Jadi, apakah salah seorang istri menutup rapat rapat kata kesempatan yang sudah Pe berikan beberapa kali? Entahlah... Intinya, setiap orang maka cara otak dan hati itu bekerja dalam poros kata 'berbeda'.


"Pe, apakah kesempatan untuk kakak sudah tertutup rapat?"

__ADS_1


Setelah menguasai dirinya dalam tangis diamnya, Dibi pun bertanya tanpa mau melepaskan pelukannya. Ia ingin memastikan suara Pe lagi, sebelum bertindak jauh.


"Maaf...! "


Hanya satu kata itu yang tercuat dari bibir Pe, Dibi pun sudah paham maksud wanita yang masih di peluknya.


Seperkian menit lamanya berpelukan, Dibi menguatkan hatinya. Lalu melepaskan dekapannya. Sebelum berkata, ia menangkup kedua pipi Pe. Mata merah mereka saling menatap nanar dengan perasaan terluka satu sama lain yang bermuara di dalam hati masing masing.


"Pe__" Cup... Dibi terjeda demi mencium kening Pelangi. Lalu lanjut berkata cepat, dengan posisi sama sebelumnya, "Ini adalah ciuman sayang terakhir ku." Dibi mencoba menarik nafas untuk bisa menguasai dirinya yang akan mengucapkan kata bencana dalam keputusan hidupnya. "Pelangi Sagara, Aku, Galaksi Miller Al Malik, hari ini berkata dengan keadaan sadar, aku mentalak engkau. Kamu bukan istri ku lagi...!"


Hiks hiks....


Tangis keduanya pecah. Dibi yang sebenarnya berat hati, kembali memeluk Pelangi sebelum ia tidak mempunyai kesempatan lagi. Dibi sudah memutuskan untuk pergi jauh, mengambil tugas Negara sebagai polisi di sebuah wilayah.


" Hiks hiks... Maafkan aku, Kak Dibi. Kamu pasti kecewa padaku. Maaf... Maaf!" Pe tahu kalau hati Dibi pasti terluka dalam.


"Tidak, Pe. Kamu tidak salah. Kakak yang salah di sini. Kakak yang bodoh. Kamu terluka gara gara sikap egois kakak. Semua kesalahan ada pada kakak. Biarkan kakak ambil hikmahnya dalam sebuah pembelajaran hidup kakak ke depannya. Penyesalan itu memang menyakitkan, tetapi kakak yakin akan bisa melewatinya. Meski Kakak masih mencintaimu saat ini, tetapi kakak rela melepaskan demi kebahagiaan mu."


Dibi merelakan, melapangkan hati mungkin adalah jalan terbaik untuknya.


Pe membalas erat pelukan Dibi, ia tidak bisa menggambarkan perasaan hatinya dalam sebuah untaian. Tetapi satu, Pe pun terluka. Tidak ada satu kata bahagian dalam arti sebuah kegagalan. Namun kembali pada takdir, kalau di dunia fana ini tidak ada yang kekal. Semua orang ada kalanya terjatuh atau kegagalan dalam melangkah.


"Ayo kita pergi!"


Di luar ruangan, Guntur yang sudah lama di depan pintu kaca itu yang tadinya ingin menjenguk Pelangi, namun melihat adegan pelukan lama, tanpa mendengar pembicaraan yang menyayat tersebut, akhirnya memutuskan untuk mentitah asistennya untuk pergi. Bukan pergi ke ruangan rawatnya kembali, namun pergi ke Negaranya.


Guntur salah paham, ia pikir pelukan suami istri itu adalah kata rujuk kembali. Ia juga mengira, kalau tangis keduanya adalah tangis haru kebahagian. Guntur yang mempunyai hati luas untuk Pe, memilih mundur seperti biasanya, demi kebahagiaan seorang Pelangi Sagara.


"Semoga kalian berbahagia!" Guntur bergumam. Lalu tersenyum masam dalam dorongan asistennya di kursi roda itu.

__ADS_1


Demi satu senyum Pe, Guntur rela terluka. Sesak hatinya yang tak pernah bermuara akan nama Pe, ia ikhlaskan.


__ADS_2