Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi
Tidak Ada Semangat Lagi


__ADS_3

Oekkk....


Suara tangis Arpina begitu nyaring di pagi hari, bayi merah itu terusik oleh rasa haus dan mungkin juga tidak nyaman pada bagian popoknya yang basah di bawah sana.


Dibi, pria itu langsung terganggu dari tidurnya yang baru dipejemakan tiga puluh menit yang lalu.


"Pagi, Sayang...." lirihnya menyapa dengan nada serak. Bukan hanya serak karena bangun tidur melainkan suara yang hampir hilang itu sebenarnya kelelahan menangisi kepergian Pelangi.


Pupil matanya pun terlihat bengkak, ditambah sklera mata yang biasanya putih itu sekarang nampak merah, menandakan luka air pilu yang jatuh terus menerus di sepanjang malam.


"Arpina, hari ini kita kunjungi Mama ya, Sayang. Mau kan?" katanya lembut. Matanya kembali ingin banjir tatkala mengingat Pelangi yang baru dikubur kemarin.


Dibi terus mengajak berbicara anaknya, seraya menggendong bayi itu untuk di pindahkan ke king kasurnya.


Meski masih terasa kaku mengurus bayi, Dibi tetap berusaha mengurusnya dengan tangannya sendiri.


Tangisan Arpina yang sempat berhenti karena ayunan tangan Dibi, kini kembali membahana tatkala tangan lebar itu menaruh si mungil ke kasur king zise-nya. Membuat Bintang berlari dari kamar sebelah yang mendengar tangisan cucunya.


Mama Dibi itu sengaja tinggal di rumah Pelangi sementara waktu untuk mendampingi Dibi dalam mengurus Arpina.


"Sini, Sayang, biar Mama yang mandiin Arpina. Kamu bikin susu aja."


Dibi tidak bersuara, tapi segera bertindak membuatkan susu formula.


Sesekali ia melirik bayinya yang masih menangis kencang dalam dekapan Bintang.


"Harusnya saat ini, kamu yang mendekap anak kita dalam pangkuan mu, Pe," gumamnya bersedih dalam aktivitas membuat air pelepas dahaga anaknya dengan takaran dan juga suhu yang pas.


Saking merasa bersalah dan rindunya pada istrinya, fungsi mata Dibi sudah menurun, sekelebat ia melihat Pelangi lah yang sedang membuka baju anaknya itu, padahal itu adalah Mamanya sendiri.


"Pelangi," panggil Dibi, bibirnya langsung terlukis indah bisa melihat istrinya telah kembali.


Bintang yang mendengar itu, segera menoleh. Batinnya bertanya, "Mana Pelangi?"

__ADS_1


"Pe, kamu kembali? Kakak sudah yakin, pasti kamu kembali." Bibir Dibi kian mengembang, diiringi air matanya ikut menetes.


Hais... Bintang baru sadar, kalau anak nya itu ternyata berhalusinasi.


"Dibi ... ini Mama, Sayang, bukan Pe! Kamu harus ingat, kalau Pe sudah meninggalkan kita dan diberi tanggung jawab dengan cara memberikan Arpina. Kamu jangan sampai gila karena tidak menerima kenyataan pahit ini. Ingat, Sayang! ada Arpina dalam tanggung jawab mu, camkan itu!"


Bintang jadi cemas kalau mental anak nya itu tertampar depresi. Makanya ia berbicara gamblang agar Dibi tidak gila secara perlahan dengan cara menegaskan kalau ada Arpina.


Dibi yang tersadar dari halusinasi, hanya mampu menelan rasa pahit akan arti kehilangan yang begitu sakit untuk dijalaninya. Rasanya, ia ingin menjerit jerit kencang, tapi tenaga itu sudah lemah tak berdaya. Dunianya yang ternyata begitu indah kemarin dengan cinta tulus Pelangi, kini berbalik arah menikamnya karena kebodohannya yang sangat terlambat menyadari cinta di hatinya.


Memang, kalau orangnya ada di depan mata, maka kita kadang melihatnya sebelah mata tanpa mau menghargainya, giliran orang yang tulus itu pergi tanpa pamit, barulah kesadaran bodoh yang menerpa bin penyesalan tiada artilah yang menggerogoti.


Mendengar tangis anaknya, ia segera memberikan botol susu itu tanpa bersuara.


Dalam keheningan, Bintang terus menatap wajah Dibi yang sangat kacau. Sebenarnya ia ingin bicara banyak, tapi merasa bukanlah waktu tepat untuk menanyakan apapun ke Dibi yang sedang berduka, Bintang pun tertahan.


"Pergilah mandi, Nak. Dalam mengurus bayi, kita harus steril. Biar anakmu jauh dari kata kuman."


Dibi kembali menurut tanpa suara sepatah kata pun. Membuat Bintang semakin mencemaskan kesehatan mental itu. Dalam diamnya, Bintang begitu paham rasanya ditinggal itu seperti apa? sakit, tentu saja !


"Semoga seiringnya waktu, Dibi bisa menerima takdirnya," gumam Bintang iba, seraya menatap punggung anaknya yang berjalan ke arah kamar mandi.


***


"Jadi, aku nggak boleh bawa, Arpina ya, Ma?"


"Iya, Dibi! Kalau kamu mau pergi ke makam, maka pergilah! Kasihan Arpina, ia masih kecil dan masih rentang, Nak."


Hem... Seperti biasa, Dibi tidak banyak bicara lagi, demi kebaikan anaknya, ia pun tidak jadi membawa tubuh mungil itu ke pemakaman.


Dibi akhirnya mengandara sendiri, pokoknya setiap hari ia akan mengirimkan bunga dan doa untuk istrinya.


Sampai di depan batu nisan bernama Pelangi Sagara. Dibi segera melepaskan kaca mata hitamnya. Berjongkok, lalu menaruh sebuket buang untuk Pelangi.

__ADS_1


"Kata maaf untuk ku memang tak pantas aku terima, Pe. Lihatlah, aku baru memberi mu bunga setelah kepergian mu."


Dibi mulai meracau. Menghardik dirinya sendiri yang menurut nya sangat buruk jadi laki laki.


Dari kejauhan, Kiara yang sudah tahu semuanya dari cerita Papanya, tiba-tiba terlihat dari kejauhan bersama seorang sopir yang mengantarnya. Ia tidak menyangka akan bertemu Dibi di depan gundukan tanah itu.


"Dibi...!" panggil Kiara. Dibi segera menepis air matanya. Lalu berbalik menatap orang yang sangat dikenalnya.


Hanya lirikan saja yang Dibi layangakan tanpa ada satu kata pun. Suaranya yang biasanya sangat murah itu, kini dijual mahal, meski pun Kiara lawan bicaranya.


"Aku sudah mendengar semuanya dari Papaku. Kenapa kamu__"


Prok Prok Prok....


Kata kata Kiara terjeda akan adanya tepukan ejek dari Topan yang ternyata berkunjung secara bersamaan.


"Bahkan kuburan adik ku belum kering, kamu udah nari nari dengan cara membawa wanita spesial kemari mu! Ck... Sangat tidak adil bagi adik ku!"


Gigi gigi Topan beradu geram. Sedang Dibi hanya menghela nafas akan kesalahpahaman Topan.


"Kami bertemu secara tidak sengaja, Pan!" Jelas Dibi tidak semangat. Ia hanya sibuk mengelus nama Pelangi di batu nisan itu, tanpa mau menatap lawan bicaranya. Tidak mau air matanya terlihat oleh dua orang di depannya, Dibi pun segera memakai kaca mata hitamnya.


" Ya, terserah alasan kalian. Mau kalian nikah sekarang pun, Whatever bagiku. Toh... Itulah impian seorang Galaksi Miller Al Malik! Tapi camkan, apapun yang menjadi hak adik ku, maka tak patut kamu sentuh. Aku tidak akan membiarkannya kamu selalu jumawa, Pak Galaksi!"


Entah apa yang dimaksud Topan yang katanya tak 'patut di sentuh', Dibi tidak menghiraukan itu.


Setelah menaruh mawar kesukaan Pelangi, Topan berlalu cepat dari dua orang itu, tak memberikan Dibi kesempatan mengungkapkan rasa hatinya yang hanya untuk Pelangi, bukan untuk Kiara lagi.


"Dibi! Aku butuh bicara!" seru Kiara karena Dibi pun berlalu cuek tanpa satu kata pun untuk nya.


"Hubungan kita sudah berakhir lama, Kiara. Maaf, aku harus pergi!"


Dibi yang tidak semangat lagi, benar-benar sudah mengabaikan Kiara. Ia ingat janjinya pada Pe waktu itu, kalau nanti Kiara sudah sembuh maka ia akan menceritakan semuanya ke Kiara. Tapi wanita itu sudah tahu dari papa nya katanya, yaudah... Itu sama aja. Bedanya, Pelangi tidak ada lagi di sisinya untuk menepati janji itu.

__ADS_1


**


__ADS_2