
"Astaga, tangan Kak Dibi kenapa robek begitu?"
Pe yang setia menunggu Dibi keluar dari kamar mandi di depan daun pintu itu, dibuat terkejut tatkala Dibi yang baru keluar dengan keadaan kacau. Bukan hanya luka tangan yang Pe lihat, ia juga mendapati mata serta ujung hidung suaminya memerah.
" Kakak habis nangis?"
Dibi tidak menjawab. Ia hanya menggeleng. Lalu melangkah ke arah lemari. Pe sendiri beranjak mengambil kotak obat.
"Kakak hanya nggak enak badan. Dan luka tangan ini hasil berantem sama penjahat."
Pe ragu memercayainya. Ia tahu Dibi pasti berbohong. Namun ia hanya diam dengan berpikir, agar Dibi bisa melihat dirinya yang sudah dewasa meskipun masih terkesan di paksakan oleh diri sendiri yang sebenarnya mempunyai perangai asli yang lincah, ceria, dan cerewet serta ke kanak kanakan. Namun demi menjadi kriteria wanita suaminya, Pe rela menjadi sosok wanita anggun macam Kiara.
"Sini, Kak, Pe obati."
Dengan sabar, Pe meniup niup luka tangan Dibi setelah di bersihkan alkohol medis, lalu meneteskan cairan merah, tak lupa perban putih pun ia lilitkan dan berakhir mengikat lembut perban itu dengan hati hati agar suaminya tidak kesakitan.
" Terimakasih, ya! Kamu sangat baik. Good night!"
Cup...
Hanya sedikit pujian dan sejenak elusan lembut di rambut, juga kecupan kening dari Dibi, sudah mampu membuat Pe melayang senang serasa di atas awan.
Pe sangat yakin, pasti kasih sayang dan cinta Dibi yang besar itu akan ia dapatkan." Pe sangat menanti itu, Tuhan," doanya dalam hati.
Tapi beginilah ujung ujungnya, Pe tidur hanya mampu memeluk punggung Dibi. Baik itu setelah bercinta, maupun tidak melakukan hubungan suami istri macam sekarang ini.
***
Embun pagi menghiasi dedaunan di luaran sana. Sinar matahari pun masih tidur tak terlihat. Namun ketika Pe bangun dari kasurnya, Dibi sudah tidak ada pada jam lima sibuh.
"Tumben... Kemana dia...? " ucapnya dengan suara parau selepas dari alam bawah sadar.
Mengira Dibi dalam kamar mandi, Pe pun cuek seraya turun dari kasur berniat merapikan ranjangnya.
Namun sorok matanya itu melihat selembar kertas bertulisankan, 'Kakak ada kerjaan pagi pagi, Pe. Jangan lupa sarapan ya!'
Hampa... Hati Pe merasakan tersebut. Bibir mungil menggoda itu, kini tersenyum getir yang nampak tidak bersemangat.
Apalagi kepala yang sering pusing datang menyerang seperti saat ini, semakin sempurna membuat dirinya badmood di pagi yang masih subuh, dan akhirnya ia lebih milih tidur lagi.
***
__ADS_1
Di sisi Dibi. Laki laki itu sudah berada di dalam kamar rawat Kiara. Tadinya Aksa melarangnya, namun Dibi tetap kekeuh ingin ikut serta merawat Kiara dengan mengiyakan syarat dari Aksa, yakni ia tidak akan membongkar sekali pun kabar pernikahannya bersama Pe. Dan tentu saja tidak secara langsung ia akan berakting tetap menjadi pacar Kiara.
"Ki, aku di sini! Bangunlah!" bisik Dibi.
Setelah pernikahannya dengan Pe terjalin, inilah pertama kalinya menyentuh wanita yang dulu adalah perioritas pertamanya. Tangan Dibi sampai bergetar hanya dengan menggenggam tangan Kiara.
"Kiara akan bangun sebentar lagi, Dibi. Bersabarlah! Karena obat penenang di infusnya itu akan habis tepat jam tujuh pagi," terang Aksa menepuk pundak anak sahabatnya itu.
"Om, apakah sakit Kiara bisa sembuh?" tanya Dibi penuh harap. Aksa mengangguk namun sedikit ragu. Tapi dalam lubuk hatinya, semoga demikianlah.
"Aku mohon padamu, Dibi, selalulah dukung dia. Mungkin adanya kamu, Kiara akan mau berjuang."
"Tentu, Om!" mantep Dibi menjawab.
Benar kata Aksa. Pada pukul jam tujuh pagi. Perlahan, tangan yang di genggam Dibi sedari tadi, kini menandakan adanya pergerakan meski sedikit.
Tentu Dibi merasa senang. Lebih lebih, mata Kiara mulai terbuka sedikit demi sedikit.
Tepat mata Kiara sudah sempurna terbuka. Dibi pun berseru lembut, "Pagi, Kiara..."
Suara serta kedatangan Dibi membuat nyeri Kiara sedikit terobati. Ia sebenarnya terkejut dalam kelemahannya, namun bibir itu tersenyum bahagia melihat Dibi dan bahkan kekasih nya itu reflek mencium punggung tangan nya.
Aksa sendiri lebih memilih untuk keluar, tidak mau menggangu kedua anak muda itu.
"Sssst... Diamlah, Kiara. Saat ini kamu hanya perlu sembuh. Ku mohon, berjuanglah!"
Kiara mengangguk, ia tidak jadi bertanya, kenapa ada Dibi di sini? Tangannya yang bebas ia udarakan berniat membuka alat pernapasannya. Namun Dibi menahannya karena suami Pe itu sendiri yang akan melepaskannya dengan penuh perhatian.
"Kamu terlalu jahat padaku! Kenapa kamu menyembunyikan rasa sakit mu, Ki. Pokoknya kamu harus sembuh agar aku bisa menghukum mu."
Kiara tersenyum dalam hati, ia kira... Dibi akan meninggalkannya langsung setelah tahu penyakit nya, sehingga ia lebih memilih menutup kenyataannya karena tidak mau sakit hati menerima kata perpisahan dari pihak Dibi. Namun... Ah, ia salah!
Dalam jiwa Kiara yang sempat menyerah, saat ini telah berkobar penuh rasa semangat lagi untuk hidup, kerena penyemangatnya telah ada di sisinya.
"Pasti, Dibi. Kita akan becanda bersama lagi, dan akan menikah setelah aku sembuh. Aku tidak akan lagi menunda nunda lamaran mu, Sayang."
Deg...
Dibi kehilangan kata kata. Tetapi demi kesembuhan Kiara, ia pun akhirnya mengangguk terpaksa. Biarkan kisah rumit nya itu berjalan sesuai nasib dan takdir nya akan berjalan kemana? pasrah nya dalam hati.
***
__ADS_1
"Masa sih, Pak? Tapi Kak Dibi__maksud saya, Pak Galaksi sudah berangkat dari pagi loh."
Pe yang datang pagi ke kantor polisi demi membawakan sarapan untuk Dibi, di buat kecewa oleh pengakuan Pak Briptu di depan nya itu.
Dibi tidak ada di kantor katanya, di telpon pun tidak aktif. Kemana suaminya itu?
"Maaf, sebelumnya, Ibu. Kalau bisa saya tahu, Anda mau melapor pasal atau sekedar mencari pak Jendral kami?" kepo si Bapak polisi.
Memang sad pernikahannya yang diadakan secara kilat itu, karena satu dari semua rekan Dibi, tidak ada yang tahu status mereka.
" Saya mau memberikan sarapan ini..." Pe mengangkat kotak makanan yang di bawa nya. "Dari pada mubazir, ini buat Bapak aja, mau?"
"Mau dong, Bu. Masa iya saya tolak rejeki pagi pagi...heheh, makasih ya!" si Bapak yang berpangkat Briptu itu menyambut riang rezeki anak soleh.
"Ya sudah kalau begitu, saya permisi ya, Pak."
"Eh...Ibu, tunggu dulu."
Pe berbalik lagi.
"Kalau Pak Galaksi datang, apakah ada pesan yang harus saya sampaikan? Nama Ibu siapa?"
"Tidak usah mengatakan kedatangan saya, Pak."
Dan sarapan pagi yang ia masak dan sengaja Pe tata berbentuk hati penuh cinta itu, kini telah di nikmati oleh orang lain.
"Sampai kapan aku harus bersabar?"
"Sabar semua orang, ada batasannya!"
"Apakah perjuangan ku berakhir sia sia?"
Dan saat ini, Pe sengaja menepikan mobilnya di taman kota. Mengeluarkan semua kegundahan hati nya melalui karya lukisannya.
Dalam lukisan tersebut, menggambarkan background awan hitam di atas kepala wajah seorang wanita menitihkan air mata yang menggantung di pipi. Lebih menyakitkannya, wanita di lukisan itu tersenyum manis namun itu hanya senyum terpaksa.
Sakit seperti lukisan itulah yang Pe rasakan saat ini.
"Kak..."
Mata Pelangi yang berembun. Kini ia hapus dengan adanya seorang bocah jelita menyapanya dengan membawa setangkai bunga mawar untuk nya.
__ADS_1
"Ini dari siapa?" tanya Pe. Si bocil menggeleng dan main ngebirit begitu saja.