Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi
Sakit Sendiri, Menghibur Diri Sendiri


__ADS_3

Setelah menunggu bosan hampir beberapa jam, Pe akhirnya di panggil oleh Dokter yang telah mengambil darahnya untuk di cek lab.


Dokter itu duduk tenang di kursi kerjanya, tetapi wajahnya penuh rasa iba menatap Pelangi yang duduk tidak semangat di depannya.


"Pe, tiap kamu kemari, hanya seorang diri saja. Kemana suami mu? Kita perlu diskusi di sini?"


Pe yang sudah mendapat sinyal tidak enak dari kata kata sang Dokter yang tumben menanyakan suaminya, jadi curiga kalau ia sedang tidak baik baik saja.


"Apa harus ada suami ku, Dok? Kalau mau bicara, maka bicarakanlah. Aku masih punya indera pendengar yang cukup baik. Lagian, suami ku seorang polisi, hal pribadi harus di kesampingakan demi pengabdiannya untuk Negara kita."


Dokter terpelajar itu pun mengerti Pe, jadi memutuskan untuk menyampaikan hal laporan lab yang ada di tangannya saat ini hanya berdua saja.


" Pe sebelumnya, saya minta maaf ya, karena baru curiga dengan kondisi tubuh mu yang sering lemah."


Dokter itu terjeda, lalu menarik nafas dalam dalam. Membuat Pe yang melihatnya jadi berkeringat dingin karena air muka sang Dokter sangat serius dari hari hari pertemuan sebelumnya.


" Apakah aku sakit parah sampai sampai Ibu Dokter seserius itu menatap laporan lab ku?" tanya Pe. Sang Dokter mengangguk. 'Sudah ku duga.' batinnya dengan jantung ia siapkan mendengar kenyataan yang pastinya buruk untuk dirinya.


"Pe, kamu mengidap sakit leukimia!"


Deg...


Nyatanya, persiapannya tidak berefek. Tamparan kasar tak kasat mata itu telah Pe terima bulat bulat dalam hidupnya.


Sepertinya Tuhan-nya itu lagi sayang sayangnya padanya karena selalu mendapat pil pahit tak terkira.


"Pe, ini adalah hal serius, kita harus mengobati penyakitmu," bujuk Dokter itu dengan hati hati.


Pelangi masih terpaku. Menelan ludahnya pun kali ini serasa racun baginya.

__ADS_1


"Apakah sakit ku sudah parah, Dok?"


"Stadium akhir. Dan itu sudah rendah persen kemungkinan kamu sembuh. Tapi selama kita tidak mencoba, maka hasil semakin jauh, bukan? Jadi mari berusaha!"


Pe tersenyum kecut, mendengar itu saja ia sudah tidak berani bermimpi indah. Membayangkan bermain dengan anaknya aja ia tak mampu.


"Apakah berbahaya pada janin ku, Dokter?" tanyanya dengan bibir bergetar.


"Bisa iya, dan bisa tidak juga. Maksudnya, Meski leukemia saat hamil tidak berdampak pada janin, pengobatan yang dijalani ibu hamil berpotensi mengganggu tumbuh kembangnya. Dalam pengobatan kemoterapi, janin mu akan terancam lahir cacat, atau keguguran langsung. Tapi kalau kamu memutuskan tidak melakukan kemoterapi apapun, insyaallah janinmu akan baik baik saja. Namun maaf, kamunya yang akan __"


Sang Dokter itu terjeda, merasa tidak kuat mengatakan kalau nyawa Pe lah yang akan dipertaruhkan.


"Dok, seorang Ibu sejatinya adalah pelindung anaknya. Pasti Anda paham maksud ku, karena Anda pun seorang Ibu." Air mata Pe berderai. "Aku tidak akan mengorbankan anakku hanya karena kesalamatanku. Jadi tentu saja aku akan menolak untuk kemoterapi. Toh... Mati ini cuma satu kali bukan. Dan sepertinya, ini memang yang terbaik untuk ku. "


Dokter itu jadi bingung dengan kata kata Pe yang terkesan tidak mau berjuang. Oke... Ia paham kalau seorang Ibu rela mati demi anaknya, tetapi kata kata ambigu Pelangi membuatnya heran.


" Pe, kamu masih bisa sembuh dengan cara kemoterapi, pertimbangkan dengan baik dan matang. Kamu masih muda, masih bisa program hamil setelah sembuh."


"Baiklah, Pe, tapi kalau kamu mau, datanglah kemari membawa saudara mu untuk pencangkokan sumsum tulang belakang, tapi secepatnya ya." Dokter itu mengalah seraya memberikan obat aman untuk Pe konsumsi.


Dengan langkah yang gontai, Pe mambawa surat hasil lab tersebut. Di luar ruangan, ia menatap nanar kertas itu, meremas dan melemparnya ke tong sampah.


Harapan apalagi yang akan ia impikan? Tidak ada! kecuali menunggu sisa sisa hidupnya.


Tanpa sadar melangkah, ia telah melewati kamar inap Kiara. Kakinya kembali mundur tiga langkah, saat sudut matanya melihat punggung seorang berseragam polisi ada di dalam sana. Ia tahu, perbuatannya sangat lancang saat ini yang sedang mengintip di sela pintu yang terbuka separuh itu.


Air matanya yang sudah ia bersihkan, kini jatuh lagi. Saat suaminya di jam kerja masih saja sempat sempatnya ada di ruangan Kiara. Sebegitu spesialnya kah wanita itu?


'Dunia ini, memang terlalu kejam bagi ku. Padahal....aku uda berusaha merubah sosok ku menjadi wanita yang terlihat lebih kuat. Akan tetapi, lagi lagi aku dikecewakan yang namanya hidup. Ku kubur rasa dan mimpi hatiku yang telah hancur. Air mata ini... Adalah air mata terakhir ku.'

__ADS_1


Setelah membatin, Pe angkat kaki dari depan pintu itu. Ia berjanji tidak akan menangis meski ada duri tajam lagi yang akan menusuk hatinya.


Tekadnya bulat, yaitu pada sisa sisa hidupnya yang telah divonis 3-6 bulan hidupnya itu akan Pe pergunakan untuk melukis kenangan indah bersama Keluarga, sahabat, tentu saja ke suaminya juga meski Dibi tidak pernah menganggapnya sebagai istri.


"Ke mana aku harus mengadu dan menyenderkan kepala ku? Orang tua?


Saudara? Sahabat? Atau suami yang memang tidak peduli itu? Ck... Pasti solusinya sama dengan Dokter Mori."


Pe memutuskan untuk tidak mengambil pusing. Ya... Ia akan pusing karena akan membuat kehebohan kalau penyakitnya ia umbar. Selain ingin melindungi calon anak nya, ia juga tidak mau membuat orang terdekatnya bersedih dan mendapat kata iba dari orang-orang.


"Kamu kuat, Pe..." monolognya seraya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata. Namun tiba tiba menyalakan lampu sein dan berhenti di sebuah taman yang ramai pengunjung.


Matanya berbinar, ia ingin menghibur diri sendiri dengan cara sederhana seperti makan gulali yang warnanya pink cerah di depannya.


"Pak, aku beli satu yang pink ya, dan ambil saja kembaliannya."


Setelah menarik satu bungkus gulali itu, Pe duduk di bangku taman dan menikmati gulalinya. Bibirnya tiba tiba murung saat melihat banyak anak kecil yang berlalu lalang bersama orang tuanya.


" Nak, kalau tangan Mama mu ini tidak ada untuk menuntun mu, maka harus tetap janji jadi anak yang baik ya. Percayalah, Mama menyayangimu."


Lagi bergumam sedih seraya mengelus perutnya, Pe terganggu oleh seorang badut boneka berkepala besar yang berdiri di depan seraya memberikan setangkai bunga mawar merah untuk Pe raih.


" Buatku?" tanya Pe. Sang badut mengangguk dengan tangan satu badut itu bersyarat menyuruh Pe tersenyum.


"Terimakasih!" Pe menerima tekad baik sang badut. "Mau gulali?" tawarnya ke badut itu. Namun sang badut menggeleng dan berakhir berjoget lucu di depan Pelangi.


Awalnya Pe hanya mesem mesem, tapi lama lama ia terkekeh geli nan lepas saat sang badut terjatuh dan mengakibatkan susah berdiri karena kostumnya yang kebesaran.


"Kita sama sama hamil... Tapi bedanya, aku akan punya anak dan kamunya hanya kostum. Hehehe... Ayo aku bantu."

__ADS_1


Badut itu menerima uluran tangan Pe dengar gembira.


Dan sepanjang sore itu, Pe terhibur oleh sang badut. Pe malah tak segan segan berselfi ria dengan gaya kocaknya.


__ADS_2