Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi
Mengadu Lelah


__ADS_3

Masih di hari yang sama, Pelangi yang tadinya meminta izin ke Dibi akan keluar rumah yang katanya mau ke kantor Topan, nyatanya berbelok haluan ke rumah orang tuanya.


Tidak ada gendongan dan suapan suaminya, ia membawa hasrat kecilnya itu ke sang Ayah. Semoga Ayahnya ada di rumah, doanya dalam hati seraya menatap rumah itu dari pelataran.


Bibir Pelangi melengkung manis ke atas, di mana masa kecilnya tetiba memenuhi memorinya, ia seakan-akan melihat Pelangi kecil beserta dua kembarannya, berikut Ayah Bundanya pun sedang bermain basket bersama di lapangan kecil pelataran rumahnya itu yang di injaknya sekarang ini.


"Ayah melorot... Hehehe." Pelangi terkekeh sendiri seperti orang setengah gila dalam berdirinya, di kala mengingat tingkah jahil triplets


demi hanya ingin menang main basket. Ia dan Badai kecil yang membuat Ayahnya melorot demi Topan bisa merebut bola basket di tangan Ayahnya.


"Pe...!".


Lamunan Pe terbuyar. Gegas, ia segera menoleh ke arah teras di kala suara yang di rindukannya itu terdengar memanggilnya.


"Ayah, Bunda," lirihnya bersuara seraya mengikis jarak pada Biru dan Mentari.


"Ayah dan Bunda mau pergi ya?" selidiknya seraya pandangannya itu meneliti styel rapi orang tuanya.


"Iya, Pe, kami mau ke rumah Om Langit mu," Jawab Mentari yang sedang dirangkul mesra oleh Biru. Pe jadi iri melihat hubungan orang tuanya yang selalu romantis tak lekang oleh waktu. Tidak seperti dirinya yang jauh dari cinta suaminya.


"Kenapa memangnya, Sayang? Apa kamu ada masalah?" tanya Biru sedikit aneh melihat wajah cantik itu seperti sembab habis menangis.


"Nggak, Ayah, Pe hanya rindu kalian. Tapi ya sudahlah, kalian boleh pergi!" Pe tersenyum paksa. Ia kembali kecewa dalam hatinya, ternyata Ayah dan Bunda nya pun tidak ada waktu untuknya yang entah kenapa, ia saat ini ingin sekali di temani oleh seseorang terdekatnya.


Biru dan Mentari yang mendengar kata rindu Pe, nampak saling pandang sesaat.


"Bagaimana kalau kamu ikut kami?" tawar Mentari. Pe langsung menggeleng.


"Pe mau di sini ajalah, Bun, tak apa seorang diri. Pe ingin mengenang memori yang dulu."


Memori? Batin Biru terasa aneh sendiri mendengarmya. Dengan itu, ia memutuskan untuk tidak pergi. Mentari pun tak masalah yang bisa pergi dengan sopir saja, katanya.


"Hehehe, Bun, hari ini Pe pinjam suami tercintanya ya, mau Pe ajak pacaran," canda Pelangi yang langsung ceria karena Ayahnya mengerti rasa kesepiannya tanpa mengungkapkan maunya itu.


"Ish, kamu ini. Yaudah ya, Bunda pamit."

__ADS_1


Sebelum naik ke mobil, Mentari memeluk erat anak perempuan satu satunya, entah kenapa juga ia merasakan ada hal aneh di hati Mentari saat saling bersentuhan dengan anaknya. Namun, Mentari tetap pergi karena sudah ada janji dengan Langit dan Senja-kakaknya.


"Jadi, Pe, kamu mau ajak Ayah pacarannya kemana?" Biru tersenyum. Dibalas senyum manis Pelangi.


"Ke taman komplek juga tak apa kali, Ayah. Irit ongkos pacaran karena dekat. Tapi sebagai transportasinya, Ayah gendong Pe! Hehehe... "


Pe terkekeh kecil, mengeluarkan kemanjaannya yang tak terpenuhi oleh Dibi, kepada Ayahnya yang super hebat menurutnya itu pun tak masalah.


"Oke, gendong ya, itu kecil bagi Ayah. Toh dulu, kamu lah yang sering Ayah gendong ketimbang saudara mu yang lain. Apalagi Topan yang sok cool itu, yang katanya, 'Aku sudah besar,' Hahah... Padahal masih umur tiga tahun." Biru bercerita nostalgia saat ia menjadi orang tua tunggal sebelum istrinya itu sembuh dari komanya dulu.


Pe yang mendengarnya, malah ingin menangis, tapi ia tahan mati matian air matanya agar sang Ayah tidak curiga.


" Ayah kuat nggak? sekarang kan Pe sudah besar!" Pelangi meremehkan dengan suara sedikit bergetar karena sesak yang di tahan nya. "Jangan cengeng, Pe, bahkan dari kecil pun kamu itu bukan wanita menye menye," batinnya memperingati dirinya.


"Ayah itu meski sudah berumur, tapi tenaganya masih super loh, bisa gendong gajah bunting."


"Ayah... masa Pe dibilang gajah, ishhh..."


Hahahaha... Biru terkekeh melihat bibir anaknya itu mencibik. Setelahnya ia pun menyuruh Pe untuk mendekat.


"Pegangan ya, Pe."


Segera, Pe langsung mengalungkan tangannya di leher Biru.


Ia memandang lekat lekat wajah sang Ayah yang sudah sedikit berubah tua, tapi tetap saja masih berkharisma di matanya itu.


"Yah, pasti Bunda bahagia sekali ya, dapat suami seperti Ayah?" tanya Pelangi di sela gendongan itu, menuju taman yang sudah di depan mata.


"Ya jelas dong, Ayah Hulk gitu lho," sahut Biru dengan nada bangganya. Pelangi tak ada hentinya tersenyum. Biru pun demikian.


Beberapa orang yang mereka lewati, tak di pedulikan Biru dan Pe, padahal mata orang orang itu melihatnya dengan tatapan lucu, aneh dan macam macam lagi. Whatever bagi anak dan Ayah tersebut yang penting keduanya life be happy.


"Tapi, Pe, kamu kenapa tumben sekali minta manja-manjaan seperti ini? Apa Dibi tidak pernah memanjakan anak Ayah, eum? Katakan, biar Ayah hajar dia. Ayah nggak takut meski dia seorang polisi. Toh... Dulu juga sering Ayah beri dongeng tuh si Dibi sambil Ayah ketekin."


Pe yang mendengar cerita Ayahnya yang menyangkut nama Dibi, mendadak tidak semangat, ia kecewa berat dengan suaminya yang tidak sama sekali mengerti dirinya meski setitik debu pun.

__ADS_1


" Yah, itu ada tukang eskrim. Kita beli yuk. Kasihan tau, nggak ada yang beli karena sedang mendung."


Biru semakin curiga pada Pe yang tidak menjawabnya tentang nama Dibi. Ia sepertinya harus mencari tau apa yang terjadi. Tapi demi membuat Pe nyaman, saat ini Biru pun memilih diam terlebih dahulu. Terpenting ia bisa menghibur anaknya.


" Tapi, Sayang, cuaca nggak lagi mendukung lho. Tak apa gitu makan eskrim?"


"Tak masalah, Pe ingin es krim, cucu Ayah juga katanya, hehehe..." Pe mengkambing hitamkan janinnya, karena merasa inilah waktu yang tepat untuk minta suap oleh Ayahnya.


Biru yang mendengar niat ngotot Pe, akhirnya mengalah. Menaruh Pe di kursi taman terbuka itu. Dan segera membeli dua eskrim coklat kesukaan anaknya.


"Ini, ambillah!"


"Terima kasih, Ayah. Best pokoknya deh." Pelangi meraih eskrim itu. Membukanya, lalu.... Jatuh. Ia memang sengaja menjatuhkan bagiannya.


"Yeak, jatuh, Yah. Bagaimana dong?" Pe pura pura bermimik sedih.


"Ini, buat kamu aja milik Ayah, ambillah! "


"Ck, kalau mau berbuat baik itu jangan tanggung tanggung, Ayah. Sekalian di suapin dong," pinta Pe dengan nada manja merengek.


Biru tersenyum, lalu menurut menyuapi pelan, tanpa ada suara sepatah pun.


Biru memang sangat all in dalam menyayangi keluarganya. Dari waktu mudah pun, Ayah Pe itu selalu menjunjung tinggi kebahagian wanitanya.


Dan tepat suapan itu masuk ke dalam tenggorokan Pelangi. Biru melihat air mata anaknya berjatuhan. Ia bingung dibuat oleh Pe.


"Pe__"


"Aku lelah, Yah." Pe langsung menjeda Biru dengan mencuatkan suara hatinya yang tidak bisa ia tahan lagi. "Pe ingin meminjam bahu Ayah. Pe juga minta maaf dan mau berterimakasih pada Ayah dan Bunda. Maaf ya, Yah, Pe belum bisa jadi anak yang baik. Pokoknya, Ayah dan Bunda harus janji tidak boleh menangis."


Tanpa memberi kesempatan untuk Biru bertanya tanya, Pe langsung menyandarkan kepalanya di bahu Ayah tersayangnya.


"Sayang, ceritakan pada Ayah. Apa yang terjadi? Ayahmu ini meski sudah tua, tapi kepekaanku masih bekerja dengan baik. Kamu di apakan oleh Dibi? Dan kenapa kamu berbicara ngelantur? Shiiiittt.... Pakai hujan lagi. Ayo Pelangi! Kita pergi!"


Pelangi tak merespon. Tanpa sepengetahuan Biru, tangan dan seluruh saraf saraf anaknya itu drop drastis dalam sandaran bahu Biru. Mata Pe pun sudah terpejam sedetik bersandar nyaman di tubuh Ayahnya tadi.

__ADS_1


" Palangi! Sayang, hei... Bangun!!!"


Dalam air hujan yang semakin deras, Biru dibuat panik, cemas, pokoknya khawatir sampai seluruh tubuh Biru bergetar takut karena menyadari denyut nadi anaknya sangat lemah. Biru dengan segera menggendong tubuh hamil itu, tanpa mempedulikan kondisi tubuhnya yang sudah basah kuyup.


__ADS_2