
"Ayo, Petite!"
Tidak mau berurusan dengan Dibi dan kedua orang tuanya, Biru segera menarik Mentari menuju ke arah pintu rumah Topan.
"Ayah, Bunda...!" seru Dibi seraya mengikuti langkah cepat Biru yang tak dapat respon. "Aku tidak akan pergi sebelum membawa Arpina. Ayah, Aku minta maaf... Bunda, ku mohon! Kita bisa merawat Arpina secara bersama sama."
Saat ingin melewati Topan yang sedari tadi berdiri di anak tangga teras paling atas, Dibi tertahan oleh kakak Pelangi itu.
"Awas, Topan!" Dibi menepis tangan Topan.
"Kamu yang awas!" balas Topan galak dengan cara mendorong tubuh Dibi sampai sampai hampir terjengkang, kalau tidak ada Dirgan yang menahannya dari belakang.
"Topan!" bentak marah Dirgan. Topan yang memang kaku, hanya menampilkan wajah miskin mimiknya.
"Ku mohon, kembalikan anakku!"
Demi anaknya dan juga demi pesan terakhir Pelangi di surat itu, seorang Dibi sampai rela memohon di depan pria yang dulu sering digendongnya waktu masih kecil.
Tapi apa yang ia dapat dari Topan? Hanya seringai tajam, membuat Dibi kesal dan langsung mengepalkan tinjunya ke udara, bermaksud untuk memberi pukulan pada Topan yang semen-mena padanya.
Tapi, gumpalan tangan itu hanya mengudara sia sia tepat di depan wajah Topan yang hanya berjarak satu jengkal lagi.
"Kenapa berhenti? Bahkan aku tak bergerak ataupun berkedip sama sekali, karena sengaja ingin merasakan arti sakit yang telah didapatkan Pelangi dari orang yang sama. Meski itu hanya sakit fisik yang ku dapatkan, tapi tetap saja, sama sama sakit seperti Pelangi dalam diamnya. Ayo pukul aku! Pukul aku!" tantang Topan geram. Kepalan Topan sebenarnya sudah siap siaga di bawah sana. Rasanya, ia ingin meremuk redamkan tulang tulang Dibi, kalau pria itu masih tak mau pergi.
__ADS_1
Dirgan dan Bintang yang masih berdiri di belakang sana, tak tahu harus melakukan apa? Mereka cemas akan ada perkelahian, istimewa wajah Topan yang biasanya datar, kini sudah mengeras alias marah tertahan. Ingin mengajak Dibi pergi, tapi mereka pun ingin keadilan untuk Dibi. Cucunya masih punya bapak, jadi menurut orang tua itu, Dibi lah yang harus menafkahi Arpina, bukan Topan.
"Tidak Topan, aku tidak bisa memukul mu. Jikalau pukulan mu bisa 'sedikit' memelasiku untuk memberikan Arpina dan memaafkan kesalahanku yang memang susah dimaafkan, maka pukulah aku! Aku tidak akan melawan!"
Minta pukul katanya?
Dengan senang hati Topan mengabulkannya, tapi jangan harap akan mendengar kemauan Dibi untuk membawa Arpina. Topan tidak sudi!
Dan menit permintaan Dibi mau dipukul itu, Topan sudah langsung melayangkan uppercut-nya ke Dibi. Membuat wajah itu mendongak ke langit saking kerasnya pukulan Topan dari bawah dagu itu.
Asin amis darah di dalam mulut Dibi pun, sudah terasa di indera pengecapnya.
"Jangan, Topan!"
Beberapa anak buah Topan yang berdiri jauh di gerbang sana, sampai ngeri melihat kemurkaan tuannya.
"Kalau kamu tidak melawan, maka jangan harap bisa membawa Arpina pergi!"
Topan yang merasa bosan berkelahi tanpa perlawanan, mendadak tidak semangat juga, makanya ia mengiming imingkan harapan palsu pada Dibi.
Dan berhasil, Dibi akhirnya bangkit dan mencoba menyerang Topan membabi buta. Itu semua demi anaknya.
Tapi apa ujungnya, Dibi berakhir babak belur karena memang awalnya sudah di hajar oleh Topan.
__ADS_1
Dari atas sampai kebawa, semuanya dapat pukulan Topan, membuat sudut bibir dan hidung itu sudah mengeluarkan cairan merah. Bagian tubuh Dibi lainnya pun sudah merasakan nyeri sakit.
Sedang kakak Pelangi itu belum terluka meski sedikit pun.
"Ck... Kamu kalah, Pak Galaksi! Jadi maaf, anak Pe memang aku yang berhak membesarkannya."
Topan yang sudah melihat Dibi tak kuasa melawan lagi, akhirnya berbalik dan berniat meninggalkan Dibi. Akan tetapi, ia berhenti karena pengakuan Dibi yang sudah tidak bermutu untuk di dengar.
"Aku mencintai Pe, Topan. Sumpah demi apapun, aku mencintai Pelangi. Sangat! Aku hanya tidak sadar, kapan cinta itu bersemi di hati ku? Aku mencintai adik mu! Ku mohon, kembalikan anakku..."
Keringat, darah, serta air mata sudah berbaur menjadi satu di wajah Dibi. Bintang pun ikut menitikan air matanya, mendengar suara tersendat sendat lirih penuh nada penyesalan dan permohonan anaknya. Sedang Dirgan, segera membantu Dibi untuk duduk dari pelataran itu.
"Cinta? Cinta apa yang kamu ungkapkan sekarang, hah? Ist... Sebenarnya aku sudah muak berlama lama meladeni mu, Dibi. Tetapi mendengar cinta tak guna mu itu lagi, membuat ku geram kembali. Andai.... Andai kamu tidak membuat hati adik ku kecewa terlalu dalam. Mungkin, Pe akan menceritakan penyakitnya pada kita semua, dan kita bisa berusaha mengobatinya. Memang, tangan mu itu bukanlah yang menikamnya secara langsung, sampai Pe meninggal. Tapi kelakuan mu lah, Dibi! Sikapmu yang selalu mengagungkan wanita lain di depan adik ku, membuat semangat hidupnya terjun bebas. Tante Bintang, coba katakan padaku dan semua kuping yang ada di sini... Bagaimana perasaanmu, kalau Om Dirgan hanya sibuk mengurus mantannya, sedang Tante Bintang sedang membutuhkan perhatian dan penyemangat hidup? Aku yakin, semua wanita akan kecewa! Seperti adik ku yang tak ada semangat lagi. Iris kuping ku kalau ada wanita yang rela melihat suaminya dekat dengan wanita lain. Aku juga seorang pria, Dibi, tapi aku tidak pengecut dalam cinta! Adil tidak pernah bahagia bersama mu, sialan!"
" TOPAN, MASUK!"
Uneg uneg makian Topan sebenarnya belum selesai, tetapi Ayahnya kembali keluar dari rumah dan memanggilnya. Mau tak mau ia pun beranjak dari hadapan Dibi yang masih memohon untuk mengembalikan Arpina.
" Dibi! Bangun, Nak. Dibi....!" Topan sempat menoleh kebelakang, saat suara Bintang tiba-tiba panik. Ternyata Dibi pingsan dan terkulai lemas di atas lantai pelatarannya.
"Charel, bantu mereka ke rumah sakit! Meski bagaimanapun, aku yang membuatnya babak belur, jadi aku harus bertanggungjawab, bukan?" kata Topan mulai datar dan beranjak masuk ke dalam rumah.
Anak buah yang bernama Charel itupun akhirnya membantu Dirgan memindahkan tubuh gaban Dibi naik ke mobil.
__ADS_1