Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi
Cemburu


__ADS_3

Hari ini, jadwal Pe melatih kakinya agar kembali bisa berjalan lagi. Ia terlihat memaksakan kakinya untuk bergerak. Membuat Badai yang menanganinya langsung berdecak kesal.


"Sudah cukup hari ini, Pe!" seru Badai menghentikan Pe yang masih keras kepala, mencoba kembali menapak yang sekarang terkena edema setelah satu tahun meng-kemo penyakit leukimianya.


"Ck, aku masih sanggup!" kekeuh nya. Membuat Badai bergerak paksa untuk menggendong Pe yang tadinya wanita itu sedang perpegangan kuat pada besi di sisi kiri dan kanannya.


"Badai! Aku masih kuat. Aku ingin bisa cepat cepat berjalan normal kembali tanpa ada kursi roda sialan ini."


Badai tidak mengindahkan Pe yang mengomeli kakinya. Ia lebih memilih diam seraya menggendong Pe dan mendudukkan wanita itu ke kursi roda dengan paksa.


"Semua hal yang di paksakan itu tidak akan berujung baik! Paham maksud ku?" Badai sedikit mengguncang bahu Pe agar wanita itu mengerti maksudnya.


"Paham ..." sahut Pe mendadak sendu. Ia tersentil dengan ucapan Badai yang malah mengarahkan ke masa lalunya, dimana seorang Pelangi yang sabar selalu menunggu atau memaksa Dibi mencintainya. Pe sangat menyayangkan sikap stupid-nya itu.


"Bagus kalau kamu mengerti! Aku tau Pe, kalau kamu ingin cepat sembuh demi bisa mengambil Arpina dari Dibi, tetapi kamu malah menghalangi kami untuk mengambilnya dengan cara kami sendiri."


"Percuma ada Arpina di sisi ku tanpa bisa menjadi ibu yang baik, Dai. Ibu cacat seperti ku, pasti hanya akan membuat Arpina malu nanti." Pe tersenyum miris dengan keadaannya. Dulu waktu hamil, ia sudah memposisikan kata bahaya pada calon anaknya dengan penyakitnya itu. Gilaran penyakit ganasnya sembuh, sekarang malah lumpuh. Takdir hidupnya sangat pahit, pikirnya neting.


"Ngomong lumpuh lagi, gue ketok kepala Lo! Ingat, lo hanya butuh waktu untuk bisa normal kembali. Bukannya kita sudah pernah melakukan CT scan, eum. Tidak ada pelunakan tulang di kaki mu. Jadi sabarlah, oke!" Badai jadi gemas hingga kata lo gue-nya sudah keluar.


Dan percakapan itu terhenti dikala suara gawai Badai berbunyi.


" Aku terima telpon dulu. "


Pe mengangguk. Dan tepat ruangan hanya seorangan saja, Pe kembali ingin latihan. Ia berusaha meraih besi pegangan itu demi bisa berdiri dari kursi rodanya.


"Ayo, Pe. Kamu harus bisa! Ini demi bisa menggendong Arpina. Lari bersama dalam canda tawa. Mendidik dan melindungi Arpina butuh kaki!" Pe menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Rasa berat pada kakinya yang kaku itu, kini Pe lawan lagi. Bulir bulir keringat timbul pada pelipisnya sebagai tanda ia kesusahan melawan kelemahannya.


"Aargh ... Kenapa susah sekali? Kenapa aku jadi tak berguna? Dasar wanita lemah!" Pe memaki dirinya yang jatuh ke lantai. Ia sebenarnya rapuh, ingin menangis dan mengeluh ini dan itu. Tetapi sadar, ia tidak mau dikasihani seperti pengemis. Cukup yang dulu ia menjadi pengemis cinta.


" Menangislah kalau ingin menangis, Pe."


Pelangi terkesiap oleh suara Guntur di belakangnya. Pria itu memang sedari tadi ada di balik pintu sedang memperhatikan Badai melatih Pe berjalan. Dan tepat Badai keluar, ia meminta izin pada Pria itu untuk menamani Pe yang untungnya Badai malah minta tolong mengantar Pe pulang, karena katanya adik Pe itu ada jadwal bedah yang tiba-tiba menggantikan rekannya.


"Keluarkan segala kegundahanmu lewat air mata. Meski menangis tak menyelesaikan masalah, tetapi setidaknya ada kelegaan sendiri."


Saat ini, Guntur sudah berjongkok di depan jatuhnya Pelangi. Mau membantu untuk memindahkan ke kursi roda, namun Pe tiba-tiba berhambur masuk ke dadanya untuk menangis.


Tidak ada satu kata pun di antara mereka. Guntur sengaja merapatkan bibirnya sampai Pe puas bersandar membawa luka laranya. Pria itu hanya mengelus elus punggung Pe yang semakin tergugu gugu. Membuat hati Guntur ikut teriris sakit mendengar tangis yang mengandung kesedihan teramat dalam.


Dan tanpa mereka sadari, dari balik pintu yang terbuka sedikit, ada Kiara yang merekam adegan pelukan itu. Wanita itu tersenyum licik.


"Maaf, Pe, orang tua kita memang saling bersahabat, akan tetapi cinta ku pada Dibi telah membutakan segala-galanya. Aku tidak mau kalian bersatu kembali. Cukup waktu itu kamu merebut Dibi dari ku," gumam Kiara menyeringai.


Ia masih mengharapkan Dibi. Mendengar kembalinya Pe, membuat logika wanita itu semakin butek. Pikirnya, tidak ada Pe saja dalam waktu satu tahun terakhir, ia sudah susah mengambil hati Dibi. Apalagi kini kehadiran Pe, semakin susahlah dirinya mendapat hati pria yang dulu sangat sangat mendambanya. So...mau tak mau ia akan sedikit bertaktik ria.


***


"Pak Dibi! Pak Dibi!"


Dibi yang sudah melihat rekaman video yang tak tahu pengirimnya siapa? Terhenti oleh teriakan babysitter Arpina. Padahal ia hanya tinggal tancap gas.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Itu, Pak Dibi. Nona Arpina demam dan gatal gatal. Kulitnya memerah," lapor babysistter tersebut dengan nada takut.


"Shiitt..." umpat kasar Dibi yang tidak sadar keluar dari mulutnya. "Kok bisa sih? Tadi kan Arpina baik baik saja."


Dibi segera turun dari mobilnya dan berlari masuk ke rumah kembali. Saat ini, masalahnya dengan Pe akan ia kesampingkan dahulu.


Tepat berada di kamar Arpina, Dibi segera memeriksa kondisi Arpina yang sedang rewel di atas gendongan ART-nya.


"Kenapa Arpina tiba tiba demam dan gatal gatal?" tanyanya dengan nada sewot. Matanya pun menatap selidik ke Babysistter baru Arpina. Lalu berpindah menatap tajam ART-nya.


"Tadi saya cuma kasih Nona Arpina susu, Pak," sahut Babysistter itu dengan menunduk.


"Susu? Susu apa?"


"Susu kedelai!"


Damn... Dibi kembali mengumpat, tetapi dengan suara pelan agar Arpina tidak kaget.


"Nunik, kamu tidak memberi tahukan padanya kalau Arpina alergi kacang-kacangan?" marah Dibi. ART yang sudah lama ikut dengannya itupun menunduk bersalah. Ia memang belum memberi catatan Arpina ke Babysitter yang baru masuk tadi pagi.


Hah...tanpa menunggu jawaban kedua pekerjanya, Dibi segera beranjak pergi membawa Arpina ke rumah sakit. Sekalian, ia memilih rumah sakit yang saat ini Pe pakai untuk pengobatannya.


"Mudah-mudahan, Pe masih ada di sana," gumam Dibi di balik kemudinya agar ia bisa sekaligus memultimatum Mama anaknya itu. Awas saja nanti! Geramnya tertahan yang sebenarnya dada Dibi saat ini sedang bergerumuh cemburu melihat istrinya bersandar di dada seorang pria yang ia kenali pun.


Andai Arpina tidak ada di dekatnya, maka Dibi saat ini sudah memaki maki tidak jelas dalam perjalanannya.


"Baginikah rasanya cemburu itu? Emosi..." lirihnya bermonolog dan menjawab sendiri yang telah dirasakan perasaannya.

__ADS_1


Dibi tidak sadar kalau Pe pun dulu pernah ada diposisi saat itu.


__ADS_2