Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi
Melukis Kenangan Kecil


__ADS_3

"Pelangi!"


Dibi yang baru pulang di jam tujuh malam itu, segera mencari Pelangi. Ia nampak tergesa gesa karena sedikit kesal kepada istrinya itu.


"Pe!"


"Aku di dapur," sahut Pelangi seraya melangkah ke arah suara Dibi.


Setelah berhadap hadapan, Pe tersenyum manis. Dibi sendiri dibuat terpesona oleh penampilan cantik Pe lain dari hari hari sebelumnya. Istrinya nampak berlipstik sedikit tebal tapi kesannya semakin menggodanya.


Akan tetapi, maksud Pe bukan menggoda melainkan menutupi wajah pucatnya yang sakit itu.


"Kakak sudah pulang ya? Ah... Bodoh! kan uda ada di depan mataku, hehhe...." Pe menepuk jidat nya karena pertanyaannya terlalu bodoh menurut nya. "Kalau begitu, ayo kita makan bersama mumpung aku lagi berselera makan. Ayo Kak, cuci tangan dulu."


Dibi dibuat bingung dengan tingkah Pe yang sudah kembali ceria lagi. Tidak seperti awal awal kehamilannya yang sering murung.


Ia menurut cuci tangan di wastafel itu dengan mata sesekali mencuri pandang ke arah Pe yang cuci tangan pun ia di temani dengan setia tersenyum manis di sampingnya.


"Ini tissue nya, Kak. Dan ayo kita makan!"


Lagi lagi Dibi menurut, ia sampai lupa awal kedatangannya pulang cepat.


"Ada udang pedas manis, ikan goreng yang Pe sudah jago memasaknya tanpa hancur, sayur atau lauknya ayam juga ada. Kakak mau yang mana?"


"Ikan dan capcay saja."


Pe dengan tulus segera melayani suaminya. Setelah piring Dibi terisi, ia pun duduk lalu mengisi piring nya hanya dengan sedikit nasi serta lauknya.


"Katanya lagi nafs* makan, Pe. Tapi kenapa cuma sedikit saja?" tanya Dibi melirik nasi yang cukup dua sendok makan itu di piring istrinya.


"Nanti nambah dong, Kak, tenang aja!" sahut Pe berbohong. Sebenarnya ia tidaklah nafs* sama sekali, ia hanya ingin menjalankan akhir-akhir hidup nya dengan ceria meski itu hanya kepalsuan.


Dalam acara makan malam itu, Dibi dibuat tersenyum dengan cerita Pe yang katanya tadi sore bermain banyak hal dengan seorang badut.


"Maaf ya, Pe, Kakak jarang ada waktu buat mu."


"Eum... Tak apa! Kakak kan sibuk sama kerjaan, juga sibuk dengan Kiara." Pe tersenyum paksa.


Mendengar nama Kiara, Dibi kembali oleng. Ia baru ingat tujuan nya pulang cepat.


"Pe, kenapa kamu tadi menemui Kiara? Kamu tau kan Kiara masih dalam kemoterapi nya?"


Meskipun suaminya itu secara lembut menyampaikan hal ambigu tersebut, Pe paham betul kalau Dibi itu marah padanya karena ia sempat curhat dan berperilaku dingin ke Kiara. Ia tidak menepis kesalahan Dibi kalau ia tidak menemui Kiara, memainkan bertemu secara tidak langsung di taman rumah sakit.


"Kiara bertanya banyak tentang mu, dan Kakak bingung harus jawab apa?"


" Eum.... Maaf tentang itu!" Seru Pe dengan menetralkan nafasnya yang berombak di dadanya. Ia memang melihat Dibi berada di dalam ruang inap Kiara, sedang dibongbardir kekepoan Kiara tentang pernikahan nya.

__ADS_1


"Aku tau kalau Kakak salah yang masih menemui Kiara, Pe. Tapi aku mohon, kamu mau bersabar ya, ada saatnya Kakak sendiri yang akan menjelaskan hubungan kita ke Kiara. Tapi tolong kamu ngertiin Kakak."


Ngertiin katanya? Bibir Pe tidak tahan juga lama lama kalau terus merapat.


Sejenak ia menarik nafas dalam dalam, menghembuskannya perlahan agar ia tidak terpancing emosi. Lalu berkata,"


"Coba bilang ke Pe, Kak! Ego Kakak yang mana, yang Pe tak pahamin?"


"Kesibukan Kakak yang mana, Pe tak ngertiin?"


"Cerita Kakak yang mana tak Pe dengerin?"


"Dan kesalahan Kakak yang mana yang tak Pe maafin, eum? Coba jabarkan ke Pe, biar istri tak sempurna Kakak ini bisa jadi penghuni surga di hari besok!"


Pertanyaan beruntun Pe tidak bisa Dibi jawab. Memang betul, Pe adalah wanita yang paling pengertian dalam setiap langkahnya. Dibi memuji kesabaran istrinya itu dalam hati.


"Maaf, Pe...."


"Ayo lanjut lagi makannya." Sejenak Pe menyentuh punggung tangan Dibi, lalu tersenyum paksa. Pertanda ia tak masalah.


"Pe ke toilet bentar ya! Lagi__"


Pe tidak menyelesaikan ucapannya karena rasa mual dan pusing hebat kembali menyerang nya dengan tiba tiba. Ia beranjak cepat ke arah wastafel. Mengeluarkan isi perutnya yang cuma sedikit itu. Karena tidak kuat, ia sampai melupakan kalau Dibi sedang makan.


"Pe, kamu tak apa?"


Pe menutupi hidungnya dari Dibi yang saat ini suaminya sedang memijit tengkuknya dari belakang.


"Pe nggak apa, Kak. Tapi boleh minta ambilkan tissue di meja makan?"


"Tunggu sebentar!"


Setelah Dibi berbalik, Pe segera mencuci hidungnya agar mimisannya tak terlihat oleh Dibi.


"Ini...."


"Terimakasih!" Tanpa berbalik, Pe meraih tissue itu dan segera membersihkan air di sekitaran hidung dan pipinya. Merasa aman, ia baru menghadap ke arah Dibi yang sedang menatapnya cemas.


"Kenapa wajah kakak jelek begitu? Jangan nanya seperti Dokter ku yang cerewet itu ya. Aku baik baik saja."


"Yakin?" Entah kenapa, Dibi merasa kalau Pe hari ini bersikap aneh.


"Eum... dan maaf ya, Pe tadi munta di saat kakak sedang makan."


Dibi menggeleng pertanda tak apa.


"Kalau begitu, Kakak mau mandi dulu."

__ADS_1


Dibi meninggalkan dapur itu dengan hati sedikit mengganjal, memikirkan tingkah Pe yang menurutnya lain.


Sampai dalam kamar, ia sudah di suguhkan hal berbeda di dalam kamar nya itu.


"Ranjang bayi dan...."


Ya.... Pe juga sudah mempersiapkan segala kebutuhan bayinya, agar kelak ia tidak merepotkan orang sekitarnya.


Dibi yang melihat kamarnya sedikit berubah di sudut kanan sana, tersenyum hangat nan tak sabar ingin melihat anaknya cepat lahir.


" Bahkan kamu sudah mulukis dinding kamar dengan edukasi anak, Pe," gumamnya seraya menggerakkan ranjang bayi yang bisa diayun ayun itu.


Terlepas dengan kekagumannya, Dibi bergegas mandi dengan buru buru. Lalu segera mencari Pelangi yang entah di mana sekarang istrinya itu.


"Pe di taman belakang," teriak Pe karena suaminya berteriak teriak lagi memanggilnya.


Tanpa menoleh ke belakang, Pe sudah merasakan kalau Dibi sudah berdiri dan memperhatikannya sedang melukis saat ini dalam diam nya.


"Kenapa berdiri di belakang, duduklah dekat Pe."


Dibi menurut, matanya masih setia menatap bergantian wajah Pe dan tangan Pe yang bergerak lincah memegang kuas di atas kanvas yang sekarang terletak apik di easel kesukaan istrinya itu.


"Maaf ya, Kak, Pe baru ngerjain lukisan yang kakak request." Pe juga tidak mau meninggalkan hutang janjinya yang sempat di iyakan oleh nya akan permintaan Dibi yang minta bulan sabit waktu itu.


"Tak apa, Pe," jawab Dibi seraya mengikuti arah mata Pe ke atas langit sunyi, tanpa bintang apalagi bulan di sana dan adanya hanya kegelapan malam yang mendung.


"Kenapa kamu melihat ke atas langit? Bukankah risetnya sedang zonk di atas sana?" tanya Dibi bingung.


"Eum benar, Kak, di atas memang sedang mendung. Tapi Pe masih hafal betul letak bulan sabit sekarang ada di atas sana pada waktu tertentu seperti malam ini. Andai kabut mendung itu hilang. Maka sempurna sekali yang Pe rasakan."


Dibi tidak mengerti kata kata Pelangi yang sedikit ambigu.


" Oh ya, bagaimana keadaan Kiara?" tanya Pe berbasa basi seraya melukis.


Dibi tak menjawab, ia tidak mau membahas nama Kiara meski Pe sendiri yang bertanya duluan. Ia tahu, kalau Pe sedang memendem rasa sakit hati padanya. Tapi bagaimana lagi, Dibi juga bingung dalam posisinya yang terjebak sana sini.


"Besok hari off Kakak 'kan ya?" Pe merubah topik.


"Eum, kenapa? Apa kamu mau jalan jalan bersama ku?" tawar Dibi. Pe langsung menoleh membiarkan kuas nya tergeletak di paletnya yang penuh dengan cat minyak itu.


"Tidak...!" kata Pe lalu melengoskan matanya ke arah lukisan yang sudah 95% hampir jadi untuk Dibi kenang setelah kepergiannya.


Dibi yang di tolak, garuk kepala. Merasa ada yang aneh di dalam hati nya.


"Tidak mau nolak, maksud Pe... Hahahah, ketipu ya..." Pe tertawa renyah. Dibi ikut tersenyum seraya menatap rakus rakus wajah cantik istrinya.


"Kamu memang jahil, Pe, sini!" Dibi mengacak acak rambut Pe. Lalu memaksa kepala Pe bersandar di pundaknya.

__ADS_1


Sejenak, Pe terdiam. Lalu membatin, "Aku tahu, ini adalah sandaran kepala rasa adik pada kakaknya seperti dulu dulu saat kita belum nikah, Kak." Pe sudah tidak berani bermimpi akan mendapatkan cinta suaminya.


__ADS_2