
"Hak asuh Arpina, akan jatuh padamu, Pe. Kamu tenang saja, aku tidak akan memperalot persidangan kita. Aku juga berjanji akan selalu memenuhi nafka anak kita!"
Selesai memutuskan hubungan suami istri mereka, Dibi berseru demikian dan segera berlalu pergi tanpa menunggu respon Pe. Jujur, Hatinya perih tatkala mengingat wanita yang di cintainya, kini bukan istrinya lagi.
" Kak Dibi...!"
Pria itu tertahan di depan pintu akan seruan Pe. Ia enggan menoleh karena tak mau lagi terlihat wajah sedihnya oleh Pe. Sekarang, hatinya akan mencoba berdamai dalam kegagalan terbesarnya, meski sulit untuk saat ini. Hanya waktu lah yang akan menjawab semuanya.
"Maafkan Pe...!"
Mendengar pernyataan penuh ketulusan mantan istrinya, mau tak mau ia pun menoleh. Tersenyum paksa lalu berkata, "Eum, kita memang harus saling memaafkan. Secara, kamu adalah adik kecil kakak dari dulu." Dibi mencoba menghibur dirinya. Ia tetap akan berhubungan baik pada mantan istrinya, demi putri mereka. "Cepatlah sembuh, jaga putri kita!"
Pelangi segera menghapus sisa air matanya seraya berkata, "Tentu, Kak. Kita tetap menjadi orang tua yang kompak untuk Arpina."
Dibi tak menjawab, ia lebih memilih pergi tanpa satu kata lagi.
Kepergian Dibi, satu suster yang bertugas mengecek infus Pe, masuk membawa senyum ramahnya.
Setelah suster itu selesai melepas infus yang sudah habis, Pe meminta tolong untuk di antar ke ruangan rawat Guntur . Namun sang suster menolak halus dengan cara menjelaskan, kalau penghuninya sudah pergi.
"Maksud, Suster?"
"Atas nama Pak Guntur sudah pergi, Ibu Pe. Beliau memaksa dokter untuk diperbolehkan pulang," Katanya mengulang lebih jelas lagi.
__ADS_1
Pe tertegun mendengar hal tersebut. Handphone yang ada di meja kecil sebelah brankar, ia raih. Menekan kontak Guntur. Namun yang menjawab di seberang sana hanyalah suara operator.
Pe menghela nafas lamat lamat. Saat ingin menaruh gawainya, tangannya tertahan. Ada chat yang masuk di aplikasi hijau tersebut. Di lihat dari waktunya, chat itu sudah masuk sejak tiga puluh menitan yang lalu.
"Pe, kamu pasti sudah mendengar isi perasaan ku padamu, maaf tentang itu. Sumpah demi apapun, aku tidak ada niatan mengganggu hubungan kalian. Jadi anggap saja ucapan ku hanya angin kosong. Kamu harus tau, kalau aku selalu mendoakan kebahagiaan mu, di mana dan sama siapapun kamu hidup. Aku juga berharap senyum mu selalu terlukis indah seperti namamu. Aku pamit pergi!"
Ada emoji yang tersenyum manis di akhir pesan Guntur. Pe sangat yakin, kalau gambar senyum itu adalah kepalsuan.
"Bahkan, aku tak di beri kesempatan untuk mengucapkan kata terima kasih ku."
Pe menatap nanar balasan chatnya yang tidak terkirim. Guntur ternyata memblokir nomernya. Pria itu sangat berniat melupakan Pelangi dalam cintanya yang sudah menggunung untuk wanita itu. Mungkin dengan cara memutus komunikasi adalah cara cepat melupakan wanita yang sudah menjadi status istri orang. Itulah pikir Guntur yang sekarang sudah berada di atas pesawat terbang, menuju ke Negara kelahirannya. Pria itu patah hati berat.
***
Satu bulan setelah keluar dari rumah sakit tempo itu, ia begitu giat belajar berjalan, sehingga kakinya sudah tidak memakai kursi roda lagi.
Perceraiannya bersama Dibi pun berjalan lancar tanpa ada drama hak asuh dan embel embel perdebatan harta apapun, Dibi memegang janjinya untuk memudahkan perceraian mereka.
Tiga bulan berlalu tersebut, Pe dan Dibi hanya dua kali bertemu setelah perceraian. Pertemuan itu pun hanya demi anak mereka. Ayah Arpina itu, benar-benar pergi dari kota tersebut, mengambil tugas kepolisian di kota lain, dan itu hanya demi bisa move on dari nama Pelangi.
Guntur sendiri sama sekali tidak ada kabar apapun. Ia berhasil meng- ghosting Pelangi. Ibunda Arpina tersebut, merasa banyak hutang pada Guntur. Ia sering memimpikan laki laki itu dan pikir Pe, itu karena ia tak sempat mengucap terima kasih.
Dan semua keluarga, baik dari keluarga Dibi dan Pe, hanya bisa menghargai keputusan keduanya. Mereka banyak belajar dari kisah rumah tangga Pe dan Dibi. 'Perpisahan itu ada, agar orang bisa menghargai pertemuan.' Kalimat tersebut memang simpel terdengar, namun sangat bermakna bagi kehidupan di dunia fana ini.
__ADS_1
"Benar nih, kamu nggak butuh teman dalam perjalanan, Pe?" tanya Topan mewakili tiga saudara Pe yang lainnya.
Lima bersaudara itu, berada di bandara. Pe yang tidak kuat menahan kegelisahan, memutuskan untuk mengunjungi Guntur. Ia ingin berterima kasih pada pria itu yang sudah banyak berkorban untuknya.
"Ayolah, jangan mulai lagi. Sikap over kalian itu tak pernah berubah." ketus Pe.
Topan yang paling tersindir di antara Badai dan si Twins. Pria berkarakter dingin tersebut, melengos saat mata Pe menatapnya tajam.
"Paling lama, aku hanya dua hari. Kalian kan tahu, aku tanpa Arpina serasa gajah tak berdaging."
"Kak Pe memang gajah. Sekarang gemukan!" gurau Bhumi seraya tersenyum jahil saat Pe menatapnya horor. Masih seksi bak perawan begitu dibilang kayak gajah bin gendut. Mana terima.
"Ya udah, kamu cepat masuk. Jaga dirimu!" Badai menyudahi perbincangan yang akan berakhir ribut ribut hangat persaudaraan mereka di antara banyaknya orang lalu lalang pengunjung bandara.
"Eum.... Jangan lupa Arpina adalah tanggung jawab kalian berempat, eh bertiga aja. Topan kan sudah punya anak sendiri jadi pasti repot. Kalian bertigalah yang akan mengasuh anak ku selama kepergian ku. Bye...!" Pe melangkah pergi.
Sedang Badai, Bhumi dan Angkasa hanya mengangguk pasrah mendapat tugas dari Pe. Pasalnya, bocah balita yang sekarang dalam pengawasan Mentari dan Bintang di rumah saat ini, menjadi tukang gigit. Arpina hobi menggigit ujung hidung mereka.
Tuing...
" Bersihkan hidung hidung kalian sebelum bertemu Arpina. Jangan sampai ada ingus setetes pun. Hahahaha."
Setelah menggoda tiga adik adiknya dengan cara menoel ujung hidung Badai dan Twins, Topan pun berlalu santai. Ternyata, pria dingin itu bisa tertawa lucu juga bila menyangkut kenakalan ponakannya.
__ADS_1
***