Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi
Complicated Heart Feelings


__ADS_3

Entah berapa jam sudah berlalu, hari hari pun demikian, lebih tepatnya... saat ini adalah kehamilan Pelangi yang ke delapan bulan, ia hanya sibuk menghitung hari hari terakhir masa kelahiran anaknya yang serasa lama sekali dirasakannya.


"Sayang, Mama pasti kuat menahan sakit ini sampai kamu lahir..." lirihnya di depan kaca riasnya seraya mengelus perut nya yang membukit itu.


Dalam hatinya, Pe bersyukur karena janin nya katanya sehat yang tidak terpengaruh dengan sakit kerasnya. Tapi percayalah, Pe menahan sakit hebatnya sekarang ini demi calon anaknya, bukan lagi nama cinta bodohnya yang memang masih ada untuk Dibi.


"Mama sedih, Nak, yang mungkin tidak ada waktu merawat mu nanti. Sungguh, Mama ingin memberikan ASI ku, menjaga mu di kala sakit, bermain, belajar bersama, menyuapi mu dan menuntun mu di saat saat belajar berjalan. Mama juga ingin sekali mendengar mu berucap yang pertama kalinya memanggil Mama dengan sebutan hangat itu. Tapi... Di lain sisi, Mama ikhlas ridho meninggal demi kamu lahir ke bumi ini. Di saat kamu ada, maka tangguh jawab Mama akan berhenti sampai di situ. Maaf ya, Sayang. "


Pelangi selalu meneteskan air mata nya di kala sedang bergumam berbicara dengan calon anaknya.


Sungguh, ia tidak berani bermimpi yang akan bisa menyuapi anaknya dengan tangannya. Apalagi harus bermimpi mendapatkan cinta Dibi. Tapi di sudut hati lainnya, ia masih ingin sekali mendengar kata cinta Dibi yang ia sadari tidak ada sama sekali rasa itu untuk nya.


Tidak mau ketahuan mempunyai muka pucat bak mayat itu oleh Dibi yang suami nya masih di dalam kamar mandi, sedang membersihkan diri menjelang tidur, Pe segera menghapus jejak jejak air matanya dan kembali menancapkan bedak serta alat tempur dasar wanita sebagai topeng wajah menyedihkannya.


"Pe, setahu ku dulu, kamu itu paling anti yang namanya makeup, apalagi malam malam menjelang tidur."


Dibi yang baru keluar dari kamar mandi, merasa aneh dengan istrinya yang tiap malam dandan melulu.


"Biar cantik dong, mana tau Kakak membuka mata lebar lebar kalau Pe itu patut bersanding dengan Kakak."


Pelangi bertutur dengan nada canda seraya beranjak ke arah kasur. Namun tertahan oleh tangan Dibi yang tadinya mau di lewatinya.

__ADS_1


"Apa, Suamiku?" godanya seraya mengalungkan tangannya itu di leher Dibi.


"Kamu malah jelek, Pe, kalau dandan menor begitu!" ungkap Dibi seraya mengelus bibir istrinya yang sedang memakai lipstik merah merona.


"Bukannya Kakak suka yang menor menor? Kiara juga sering bukan berdandan paripurna." Pelangi menepis lembut tangan Dibi. Lalu menatap netra pekat suaminya yang melengos melepaskan kalungan tangan itu di leher.


"Kamu tidak boleh mengikuti gaya seseorang, Pe. Kamu itu sudah unik yang punya dayak tarik tersendiri!" seru Dibi tidak suka dengan sikap aneh Pe, seraya menghempaskan tubuhnya duduk di sofa single maroon itu.


Pe berdecak lidah, tersenyum miring lalu berkata, "Tapi anehnya, Kakak tidak tertarik padaku. Cinta Kakak tak pernah ada untuk Pe miliki. Jadi, mungkin dengan bergaya seperti Kiara, Kakak bisa tertarik dan mau menatap istri mu bukan sebagai adik ketemu gede!"


Pe langsung memberi punggungnya untuk di lihat oleh Dibi. Ia menahan air matanya agar tidak tumpah. Mendadak ia melow sendiri karena ternyata suaminya itu menganggap dirinya sedang meniru Kiara. Jadi, lebih baik ia membenarkan saja dari pada berkelit kesana kemari yang tenaganya semakin tidak prima lagi.


Dibi yang ingin bersuara, terjeda oleh suara Pelangi yang terdengar sakit menerpa hatinya.


"Pe, jangan mau ada di posisi Kiara! Kamu itu sehat!" Dibi yang diberi punggung oleh Pe, segera berdiri dari sofa dan berhenti tepat di depan Pe. Tapi apa, ternyata Pe malah tersenyum tidak jelas padahal tidak ada yang lucu dari kata kata tegasnya.


"Siap Pak polisi, Pe kan cuma berandai andai. Bukan ber-iya iya. Jadi biasa aja oke! Mana serem pula tuh suara tegas polisi nya. Heheh..."


Pe memberi hormat ala ala polisi di depan wajah serius Dibi yang tegang tegang tampan itu. Ia juga cengengesan sebentar. Cup.... Lalu mencuri kecupan bibir Dibi. Setelahnya berlalu santai naik ke kasur, merebahkan tubuh letihnya.


" Pe, kamu kena pasal pencurian!" canda Dibi tersenyum manis tanpa ia sadari. Jantungnya pun berdegup tak seperti biasanya. Tapi selalu, Dibi menepis rasa aneh itu dan membiarkan takdir hidupnya mengalir seperti air yang entah akan terus jernih atau berakhir tercemari oleh nasib yang tidak mau di upgridenya.

__ADS_1


Dibi ikut naik ke kasur dan rebahan di dekat Pelangi. Ia memasang lengannya, kode sebagai bantalan Pe. Tapi istrinya itu malah memunggunginya, membuat Dibi berpikir kalau Pe membalas tingkah nya yang awal awal pernikahan nya, ia sering memberi punggung Pe, bukan bagian depan yang sepatutnya berpelukan bersama dalam tidur.


"Kak, aku bertahan sakit hati karena aku mencintai mu tanpa ada syarat A atau pun B, melainkan ketulusan hati ku," ungkap Pe tiba-tiba dengan suara lirih penuh kepiluan hati yang ia tahan tahan selama ini.


Dibi tertegun seraya menatap lampu di atas sana. Ia menelan ludah nya susah payah, merasa pria yang paling jahat.


" Pe, maaf__" Dibi terjeda oleh suara Pelangi lagi.


"Ku mohon! Cobalah membalas kata cintaku, Kak Dibi, meskipun itu hanyalah bualan saja. Aku ingin mendengarnya sebelum aku pergi," paksa Pelangi yang tiba-tiba mau egois untuk sesaat.


Sebelum pergi? Dibi semakin tertegun seraya mencerna kata mudah itu tapi menyedihkan kalau di alami oleh seseorang yang ditinggal pergi.


Kembali Dibi tertahan oleh Pe yang ingin bersuara lagi. Pe juga berbalik menghadapnya. Dan menggerakkan kepalanya untuk tidur di lengan Dibi.


"Pe, apa maksudmu akan pergi? Apa kamu ingin menggugat cerai Kakak karena Kakak sampai saat ini belum berhasil menjauhi Kiara? Pe... Kakak cuma menunggu dia sembuh, setelahnya Kakak janji akan jadi suami yang baik," terang Dibi menjadi horor sendiri mendengar gugat cerai padahal dari mulutnya lah yang berkata.


Suami baik? Hanya suami baik dengan cinta suami itu, atau suami baik hanya karena tanggungjawab semata yang tertulis atas dasar buku nikah semata? Entahkah, Pe sudah tidak mau berpikir lagi.


" Pe lelah, Kak. Mau tidur nyaman di lengan Kakak, boleh?" Pe mengabaikan kata kata Dibi yang panjang itu. Daya pikir nya juga sudah mulai lemah yang kata dokter nya, leukimianya sudah semakin ganas sampai naik ke otak.


Tidak ada suara dari Dibi, tapi pergerakan tangannya yang berangsur mengelus elus kepalanya membuat Pe tersenyum dalam kepedihan rasa sakit nya. Dalam ruangan yang remang remang, ia menitihkan air matanya sebelum tertidur pulas.

__ADS_1


Dibi sendiri merasa ada yang mengganjal di hatinya, tapi apa? Ia bingung!


__ADS_2