Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi
To The Point


__ADS_3

"Saya terimah nikah dan kawinnya Pelangi Sagara binti Sagara Biru Sunjaya dengan mas kawin satu unit rumah berikut isinya dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."


Pelangi kembali mengingat kata kata sakral itu yang berlangsung tadi sore. Tanpa ada dekor ala ala impiannya, pesta? apalagi itu, tidak ada.


Ia tidak pernah menyangka akan dihalalkan oleh pria yang memang menguasai hatinya itu dalam diamnya. Harusnya ia senang, namun tidak demikian karena ia tahu, hati suaminya hanya untuk wanita lain yang sangat ia kenal pun, karena Kiara adalah anak dari sahabat Ayahnya.


Tetapi biarkan! Pe akan berusaha mengambil hati suaminya dengan caranya sendiri. Kata Bundanya 'kan....jalanilah hidup dengan kata legowo, susah senang kita harus terima dengan iklhas. Dan lebih penting, perjuangkan yang menurut itu adalah hak kita, lepaskan kalau memang kita tidak mampu lagi menggenggamnya.


"Maaf, Pe. Aku tidak tahu akan begini kisah kita."


Suara Dibi yang baru keluar dari kamar mandi, mengejutkan Pelangi yang berdiri di kamar itu, di mana banyak foto foto mesra Kiara dan Dibi. Memang, rumah yang menjadi mas kawin itu adalah seharusnya buat Kiara nantinya, jadi Pelangi sudah tidak heran lagi. Namun...apakah masih perlu foto foto itu terpampang nyata di depan matanya?


"Nanti Kakak akan copot semua foto itu. Mandilah!" sambung Dibi yang merasa tidak enak juga dengan Pelangi. Bagaimana pun, wanita yang masih menggunakan kebaya pengantin itu adalah istrinya sekarang. Dibi akan mencoba melawan arus perasaannya. Semoga bisa!


Mendengar pengertian Dibi tanpa diminta olehnya, membuat bibir Pe terlukis indah. Setidaknya, suaminya itu ada keniatan untuk menghargainya. Meskipun Pe tahu kalau Dibi pasti terpaksa.


"Terimakasih ya, Kak!"


"Eum," sahut datar Dibi seraya memakai baju di depan mata Pe. Ia tidak tahu aja kalau Pe sudah berdebar debar tidak karuan melihat separuh naked dada itu yang di bawahnnya hanya lilitan handuk putih. Semoga melorot! Eh jangan melorot, maksudku, Pe segera meralat kata nakal batinnya yang sedang berdiri mematung di belakang Dibi.


Dari pada mati berdiri karena terlalu mendamba tubuh atletis Dibi. Pe bergegas cepat masuk ke dalam kamar mandi tanpa membawa handuk, apalagi baju ganti.


Wajahnya yang memerah seperti tomat busuk ia bilas air dingin di dalam kamar mandi seraya mengaca.


"Pe, sekarang bersikaplah seperti wanita dewasa. Suamimu kan selalu curhat tentang Kiara, jadi mudah dong bagimu untuk mendapatkan hatinya dengan cara berkepribadian sama dengan Kiara."


Otak Pe sudah mulai bodoh. Namun sesaat, ia menggeleng. "Ah, nanti Kak Dibi teringat terus sama wanita pujaannya. Jadi diri sendiri lebih bagus," ucapnya kembali karena tersadar itu salah.


Saat Pe asyik mandi, di luar sana... Dibi mulai melepaskan semua foto foto mesranya itu. Menaruhnya di atas lemari tinggi yang susah dijangkau oleh Pe.

__ADS_1


"Hah...harusnya kamulah yang menghuni rumah khusus ini, Ki." Dibi mengajak bicara foto Kiara yang berpose mencium pipinya. Sungguh, sangat sulit bagi Dibi untuk membuang kenangan manisnya bersama dengan kekasihnya itu. Foto memang bisa di copot begitu saja di dinding, akan tetapi hatinya susah untuk membuang nama Kiara yang entah sedang apa pujaannya itu sekarang?


"Kak Dibi! Tolong ambilin handuk dong. Baju juga tak apa!"


Teriakan Pe menyadarkan Dibi yang lagi galau melamun. Terbesit pertanyaan pertanyaan untuk dirinya, yakni...apakah ia bisa menerima Pelangi dengan tulus di sisinya tanpa bayangan bayangan wanita pujaannya itu? Entahlah? Tapi niatnya, Dibi akan mencoba. Lagian, Kiara itu juga jahat padanya, tega sekali kekasihnya itu memutuskan hubungannya dengan alasan tidak mau LDRan.


"Kaaaak!"


"Iyaaaa! Tunggu!" balas Dibi tak kalah lantangnya seraya membuka lemari pakaian khusus wanita itu. Hah...teringat Kiara lagi! Baju baju baru yang sengaja di siapkan oleh Dibi untuk Kiara pasti kekecilan bagi Pe kenakan.


Secara... Kiara tingginya sangat ramping. Sedang Pe, tinggi dengan postur tubuh semok nan seksi. Bagaimana ini? Mau tak mau, Dibi menarik asal asalan saja, mana tahu cocok untuk Pe pakai.


Pakaian dan handuk sudah Pe terima dengan kepala serta tangan saja yang di tunjukan ke Dibi di pintu kamar mandi itu.


"Terimakasih ya, maaf merepotkan mu. Hehe...tapi tenang aja, nanti Vay dan Purnama akan bawa baju bajuku ke mari, tetapi besok pagi!"


Belum di sahuti oleh Dibi, Pe langsung menutup pintu, karena entah kenapa, Pe marasa Dibi menatapnya lain dari sebelumnya.


"Hais, baju apa ini. Bisa masuk tetapi sesak terasa. Mana BHnya kekecilan lagi. Ya tumpah kemana mana dong isinya." Pe mendumel di depan cermin kamar mandi itu seraya menatap dadanya yang katanya tumpah.


"Elah...tokek Kiara tak semontok punya gue toh. Ini mah pasti cut B. Yailah...seksian gue kemana mana ini mah!" Pe membusung busungkan dadanya di cermin. Sangat tercekat daging dadanya yang awur awuran karena tidak muat kain kacamata membungkus rapi isi dadanya.


"Sudah sesak! BHnya pakai kawat lagi! Ini sih merusak dada montok gue. Copot ah!"


Setelah melepasnya, benda keramat wanita itu ia timang timang di tangannya. Mau protes ke Dibi. Ia mau mengajari suaminya memilih BH yang aman dan bagus, ia sampai lupa kalau hanya memakai baju tanpa dalama*, auto dua biji dada itu tercekat menonjol di balik baju.


"Kak, kalau mau beli BH itu ya, jangan ada besinya dong. Memangnya dada ku bangunan rumah yang harus berpondasi besi."


"Ahh..." Mulut Dibi terbuka melongo. Bukan karena kecerewetan Pelangi. Akan tetapi, penampilannya yang menggoda iman kelakiannya itulah yang menjadi pusat perhatiannya.

__ADS_1


Dari duduknya di ranjang itu, Dibi berpura pura menyibukkan dirinya dengan cara merapikan bantal. Ia tidak mau khilaf. Tapi...bukannya ia sudah pernah merasakan dada Pe ya? Kenapa harus berpuasa?


"Elaah...Kak Dibi kok malah pipinya pakai blush gitu sih. Malu sama BH? Nih, aku balikin!"


Pe dengan iseng melempar benda keramat itu ke pangkuan Dibi. Sang suami terkejut dan reflek menepisnya ke lantai.


Pe malah terbahak bahak, dengan susulan godaannya yang berkata, "Itu milik Kiara lho, nggak disayangkan gitu."


"Pe, sekali lagi menggoda Kakak, maka..."


"Maka apa suamiku?" Pe masih iseng. Menserga Dibi seraya naik ke ranjang. Sebenarnya ia ingin membahas hal serius dengan Dibi tentang masa depan pernikahannya yang akan mau di bawa kemana?


Dibi tidak jadi mengancam karena melihat tingkah Pe yang tidak ada malu malunya terhadap dirinya. Bukannya katanya...pengantin baru itu akan bersikap malu malu meong? Gadis kecilnya itu tidak ada tanda tanda jaga sikap tuh. Malah ianya yang gugup sendiri.


"Jadi, Kak. Apakah kita harus tidur satu ranjang? Memulai malam pertama kayaknya seru deh." Goda Pe lagi dengan nada becanda. Tentu saja ia tidak serius. Itu tandanya bunuh diri sendiri karena ia sangat tau kalau Dibi masih mendamba wanita lain.


"Mesum!" Dibi melempar bantal ke wajah Pelangi yang masih terbahak bahak.


"Kakak mana nafs denganmu, Pe. Kecuali kamu mengguna gunai Kakak bin di pelet, atau kalau tidak, kakak pasti sudah gila kalau kakak jatuh cinta pada mu yang sudah kakak anggap adik kandungku. Jadi nggak ada tuh namanya malam pertama. Semua yang ada di tubuhmu, sudah Kakak hafal sampai ke letak tahi lalat di bokong kamu yang kayak tompel itu. kagak nafs*!"


Pe langsung cemberut seraya membanting kepalanya ke bantal. Berbaring dengan posisi memunggungi Dibi.


Ia bukan malu karena Dibi membuka rahasia tubuh intimnya itu. Tetapi hatinya tersayat nyeri di kala Dibi katanya tidak nafs pada dirinya atau nggak bakal suka padanya kecuali dipelet. Pelet! ide bagus tuh... eh, nggak ding. Dosa!


"Selamat malam, Pe!" Dibi ikut berbaring setelah menaruh bantal guling sebagai pembatas mereka.


Pe tidak menjawab. Memilih terpejam meski susah. Namun semakin ia memaksa tidur, matanya itu malah memberontak. Begitu pun Dibi yang gelisah.


"Kak Dibi! Aku mencintaimu sejak lama!" Pe to the point, dari pada bokongnya bisulan karena berabad abad menyembunyikan perasaannya, ya...lebih baik di muntahkan, iya kan?

__ADS_1


__ADS_2