
"Maaf, Pak Galaksi, Ibu ini sudah diberi penjelasan, tetapi licin bak belut." Polisi bernama Dandi itu, melapor takut takut yang berdiri di sebelah Pe.
"Keluarlah, Pak Dandi, Ibu yang Anda katakan licin bak belut adalah istriku."
Hah...istri kata pak atasannya? Wadidauuh, kaburlah kalau begitu.
Bawahan itu undur diri, setelah meminta maaf sama Pelangi.
"Pe, silahkan du__"
"Saya kesini bukan sebagai istri Anda, Pak polisi." Pe langsung menjeda Dibi. Duduk tenang dengan jari jari kanannya ia ketuk ketuk ke meja secara bergantian. "Tetapi sebagai warga Negara biasa yang ingin membuat laporan kriminal."
Hah... Dibi sampai cengong. Kaget aja rasanya, seorang Pelangi melaporkan seseorang, biasanya istrinya itu kalau bersinggungan dengan orang, maka akan main kekuatan otot langsung.
"Siriusan, Pe? Kenapa Kakak tidak tahu? Coba ceritakan!"
"Saya mau melaporkan suami saya, atas tuduhan perselingkuhan. Tadi... Mata naked ini melihat suami sendiri sedang bermesraan bersama mantan terindahnya."
Deg... Mendengar itu, ada rasa debaran sakit jantungnya yang di rasakan oleh Dibi. Istimewa saat ini , mata Pe sudah berkaca-kaca menahan tangis. Ia tahu, Pe lagi marah padanya. Namun istrinya itu pandai sekali menahan emosi agar tidak meledak.
"Pe..." lirih Dibi seraya berdiri dari kursinya dan mengikis jarak pada wanita yang sedang melengos tidak mau menatapnya.
Dengan itu, Dibi berjongkok di depan kursi Pe seraya menggenggam tangan Pe.
"Saya ingin ketentuan Pasal 284 undang-undang hukum pidana untuk suami saya terima, sebagai pembalasan rasa kecewa saya, Pak."
Pelangi benar benar tidak mau menatap Dibi. Ia takut suaminya melihat kelemahan pada dirinya melalui matanya. Ia harus tetap kuat di depan Dibi, padahal kalau hati itu bisa menjerit maka teriakannya adalah kerapuhan.
Andai, kantor ini bukanlah kantor polisi, maka sudah diremuk ratakan sebagai tanda prustasinya. Lebih lebih, suaminya seorang polisi, dengan itu ia harus bertingkah sopan demi nama baik sang suami. Kurang apalagi dirinya itu? Sehingga Dibi tak mau sama sekali memberikan cintanya.
__ADS_1
"Jangan melawak Pe, bagaimana bisa kamu melaporkan suamimu ke polisi. Konyolnya lagi, aku adalah suami mu yang kamu laporkan ke orang yang sama. Kamu ini..." Dibi menangkup paksa wajah Pe agar mau menatapnya. "Lihat aku, Pe. Kenapa matamu lebih asyik menatap hiasan dinding, eum?"
"Kalau Kakak memang suami ku, tetapi kenapa Kakak menganggap aku hanya sebagai patung yang seakan-akan tidak punya rasa sakit hati, Kak?"
Pe yang keras kepala, benar-benar tidak mau memperlihatkan matanya yang kian memanas. Ia bertanya dengan nada bergetar seraya mata itu ia pejamkan di depan wajah Dibi.
Cup...
Dibi sampai mengecup ke dua mata itu agar mau terbuka. Ia bermaksud ingin menjelaskan ke Pe secara hati ke hati kalau Kiara itu sakit dan butuh semangat dari orang terdekatnya.
Namun apa? Pe sama sekali tidak mau membuka matanya.
"Pe dengarkan Kakak dan buka matamu!"
Pe menggeleng.
"Aku merasa istri yang tidak dianggap, Kak. Apa kurangnya Pe, hah? Apa Pe tidak secantik Kiara? Sehingga Kakak sama sekali tidak mau menghargai, Pe? Pe sudah berjuang sebagai istri baik! Istri pengertian dan istri sabar sampai saat ini, tapi apa yang Pe dapat? Rasa kecewa doang!"
Dan kali ini, Dibi memeluk istrinya erat erat. Sungguh, ia tidak ada maksud untuk melukai hati Pe. Tetapi kalau di suruh memilih, antara Pe dan Kiara saat ini, ia tidak bisa! Dan jangan tanyakan kenapa? Dibi pun tidak paham keinginan hatinya.
"Pe, maafkan, Kakak!"
"Maaf apa? Maaf karena Kakak ingin terus bersama Kiara? Dan tega melukai hati Pe yang sangat sangat mencintai Kakak dengan tulus? Aku adalah manusia biasa, Kak! Aku pun ingin tahu rasanya dicintai seorang suami. Aku___"
"Pe, Kiara sakit keras!"
Pelangi langsung terdiam yang dapat sergaan dari Dibi. Bahkan mata yang ogah ogahan terbuka, kini sudah terbuka memperlihatkan mata indah namun memerah karena tangis tanpa suara isak itu.
"Kiara sakit parah dan sekarang lagi berjuang antara hidup dan mati. Aku mohon, Pe, kamu mau mengerti Kakak. Izinkan Kakak merawatnya sampai sembuh. Dan Kakak juga mohon agar kamu tidak memberitahukan hubungan suami istri kita karena Kakak takut Kiara akan drop lagi. Mau ya?" bujuk Dibi seraya menghapus lembut air air alami yang masih keluar dari mata istrinya. Bahkan, Dibi pun kembali mencium mata itu agar berhenti mengeluarkan air matanya.
__ADS_1
Dan Pelangi hanya diam dengan sikap lembut suaminya. Harusnya, kalau Dibi tidak mempedulikannya, maka setidaknya jangan bertingkah lembut. Pe lebih senang dicaci atau dipukul oleh Dibi, supaya hatinya yang patah itu membenci sang Suami. Tapi apa ini...?
"Kakak memang egois. Pe rasa, kakak lebih memperdulikan mantan terindah Kakak dari pada perasaan sakit hati istri Kakak sendiri. Tapi tak apa, Pe yang baik hati ini plus orang 'terbodoh' karena cinta besarku, mengijinkan Kakak merawat Kiara sampai sembuh."
Setelah memberi izin rasa paksanya, Pe berdiri kasar. Sehingga tangan Dibi yang menangkup pipinya terlepas.
"Pe..." Dibi bernapas sesak seraya menahan tangan Pelangi yang ingin pergi.
Ia paham kalau dirinya itu pengecut hati. Tapi bagaimana lagi, demi nyawa Kiara, ia harus jadi penjahat di hati istrinya sendiri. Ia pun merasa telah berada di tengah-tengah kebingungan.
"Apa lagi?" ketus Pe.
"Terimakasih pengertianmu__"
"Jangan berterimakasih, aku hanya berbaik hati sesama manusia yang harus punya jiwa manusiawi tolong menolong. Meskipun hati Pe yang hancur, maka tak apa. Terpenting Kakak bahagia. Dan oh ya, Pe ingin bertanya? Seandainya yang sakit keras itu Pe, apakah Kiara mau berkorban untuk Pe? Dan jikalau Pe yang sakit sekarat, maka apakah Kak Dibi mau memberikan perhatian, cinta dan kasih sayang tulus sebagai suami untuk Pe?"
" Pe__" Dibi terjeda, kehilangan jawaban.
"Tidak usah di jawab juga, Kak. Karena Pe sudah tahu jawabannya. Dan itu jelas, TIDAK! Permisi..."
Pelangi pergi membawa kehampaan hatinya yang sakit. Kabar kehamilannya pun ia lupa memberitahukan karena menurutnya itu sudah tidak penting bagi Dibi ketahui. Toh... Dunia Dibi segalanya untuk Kiara.
Di dalam mobil, Pelangi menangis sejadi jadinya. Ia juga memukul mukul setir mobilnya yang sejatinya ia masih berada di parkiran kantor Dibi.
"Yah, kok Ayah ngasih nama Pelangi untuk Pe?"
"Karena kamu memang indah seperti pelangi di atas awan itu, Sayang. Pelangi kan sangat di nanti nanti kehadirannya yang membawa kebahagiaan tersendiri bagi yang melihat kemunculannya. Dengan itu, siapa pun pemilik mu nanti sebagai suamimu. Pasti akan bersyukur karena mendapat Pelangi Ayah."
Dalam tangisnya, Pe mengingat pertanyaannya dan jawaban sang Ayah dikala waktu lampau.
__ADS_1
" Tidak Ayah, Ayah salah! Suami Pe tidak bersyukur mendapat anak mu."
Pelangi menepuk nepuk dadanya yang sesak. Ia tidak bisa menghentikan tangisnya.