
Hari berganti hari, minggu serta bulan pun berganti sampai satu tahun umur Arpina, itu tandanya hari ini adalah genap satu tahun kepergian Pelangi dari sisi Dibi dan keluarganya.
Selama satu tahun itu, Dibi benar-benar merawat anaknya dengan baik, tanpa ada rasa keluh. Namun tetap, hatinya masih terasa pilu dalam kata sesal pada Pe.
"Happy birthday, Sayang!" seru Dibi. Lalu mengecup pipi anak yang semakin hari, wajah Pe mendominasi.
"Pa-Pa-Pa..." Bocah yang memiliki pipi tembem dan berlesung pipi itu, berucap menggemaskan seperti anak seusianya yang hanya bisa mengatakan ujung kalimat saja.
"Ma-ma-ma..." Arpina juga mengucapkan kata itu seraya mencoba meraih antusias boneka beruang yang ada di tangan Dibi.
Mata Dibi mendadak sendu, seraya menggendong Arpina yang tadinya duduk di kereta bayi.
"Kamu rindu, Mama?" tanyanya lembut yang entah bisa dimengerti bocah itu atau tidak?
"Let's go! Kita kirim bunga dan doa untuk Mama."
Ya...setiap hari, Dibi tidak pernah lupa berkunjung ke pemakaman istrinya untuk mengirim doa dan selalu membawa bunga mawar kesukaan Pe. Sesekali, Dibi pun mengajak Arpina. Meski masih dini, Dibi tetap ingin mengenalkan kata kenyataan pada putri kecilnya, kalau ia sudah tidak punya Mama.
"Hi, Arpina!"
Kiara? Wanita itu selalu datang, padahal Dibi sudah sering bahkan pakai banget untuk tidak mengharapkan cintanya yang sudah mati dibawa Pelangi pergi. Tetapi, namanya wanita, selalu batu kalau diomongin.
__ADS_1
"Kami mau pergi, Ki, jadi maaf ya. Tapi kalau mau ketemu Mama, ada kok di dalam. Mari..."
"Dibi...! Aku ke sini mau rayakan ulang tahun Arpina loh!" Bibir Kiara cemberut. Ia tidak sadar kalau sudah menyinggung hati Dibi yang masih berduka.
Ibarat kata, luka Dibi yang masih borok itu, semakin bernanah nanah ketika ditaburi garam yang mengandung 'rayakan' dari ucapan Kiara.
"Sadar nggak, Ki, ini itu hari satu tahun perginya istri ku. Sedang kamu, ingin merayakan apa? Ulang tahun Arpina? Ya... Anakku memang lagi ulang tahun, tetapi tidak untuk dirayakan. Dan cara kami merayakan itu, hanya mengingat wanita kami sembari mengirim doa. Permisi!"
Setelah berkhultum ria, Dibi segera berlalu masuk ke dalam mobil bersama Arpina di dalam gendongannya. Meninggalkan Kiara yang mendengus kesal dalam berdirinya.
" Ck, padahal sudah satu tahun, tapi Dibi belum bisa move on juga dari Pelangi... "cibik Kiara kesal.
Di sisi lain, lebih tepatnya di rumah sakit luar Negeri, terlihat seorang wanita yang duduk di atas kursi roda, ia menatap pemandangan dari lantai lima, lewat dinding yang terbuat dari kaca di hadapannya.
" Sudah satu tahun, Pe!"
Pe? Ya.... Itu adalah Pelangi! Pelangi yang pergi dari Galaksi bin Dibi satu tahun yang lalu.
Dan tanpa memutar kursi rodanya untuk melihat orang yang berseru, Pe sudah hafal suara bass laki laki baik yang menolong nyawanya. Dia adalah Guntur, pria keturunan Indo itu adalah anak salah satu pengusaha ternama dari Negara onta.
Guntur adalah pria masalalu Pelangi, ia sudah mengagumi Pelangi dari usia remaja.
__ADS_1
Pertemuan pertama mereka saat ia kabur, lalu berakhir jadi pengamen. Pelangi kecil pernah membantunya mengamen tanpa sungkan dan malu di tengah-tengah keramaian pada masa itu.
Dan pertemuan keduanya, saat Guntur yang notabenenya ahli waris kekayaan keluarganya, waktu itu telah dikejar kejar oleh pembunuh bayaran dan Pelangi serta sahabatnya yang teleh membantunya.
Begitu pun pertemuan ketiga, Pelangi serta para sahabatnya jugalah yang membantu Mommynya lepas dari penjara pamannya sendiri yang maruk itu. Pertemuan ketiga itulah terakhir kalinya bertatap dengan Pelangi secara langsung karena pada masa itu, Guntur pernah bertarung nyawa mendapat tembakan.
Dan pada masanya, saat Guntur ke Negara Pelangi untuk mengutarakan isi hatinya, ia dihadapkan kenyataan pahit nan rasa kecewa tepat di depan matanya akan pernikahan Pelangi dan Dibi secara mendadak waktu itu.
Siapa yang tidak bersedih, dikala sang pujaan ada di depan mata sedang diperhalal oleh pria lain? Guntur pernah ada di fase itu.
Mau berjuang, maka rasanya sebagai pria terpandang sangat tidak ber-etittude, kalau ia harus merebut istri orang. Lebih lebih, Guntur mengetahui perasan Pe terhadap Dibi yang begitu besar pada pria yang kurang bersyukur itu.
Sebagai laki-laki gentel pun, Guntur menerima kekelahan sebelum berjuang. Ia mundur alon alon. Tetapi, sebagai pelipur laranya, Guntur selalu mengirimi wanita yang dicintainya itu bunga mawar setiap hari, meski selalu berujung di tong sampah maka tak apa baginya, terpenting Pelangi sudah mencium aromanya.
Saat Pe lagi butuh sandaran, siapa juga yang menghibur Pelangi dengan kostum badut? Tentu saja itu adalah Guntur. Jangan lupakan rujak rujak segar buat Pelangi yang mengindam. Itu adalah kerjaannya juga.
Ia begitu perhatian dan cinta tulus pada wanita cantik yang berwajah pucat pasi saat ini, akan tetapi ia juga tidak berani secara terang terangan mengungkapkan perasaannya. Guntur terlalu takut keluar dari zona nyamannya, dan berujung diusir oleh Pelangi, karena sudah cinta mati sama orang yang bernama Dibi.
Guntur itu tidak suka bin tidak terima penolakan, jadi memendam rasa lebih baik menurut nya, dari pada sakit mendengar penolakan Pelangi. Ia masih bisa menahan rasanya, terpenting ia masih diterima dekat dengan wanita yang hanya diam saja di atas kursi roda itu. Meski hanya seorang teman.
"Pe...!" seru Guntur seraya menepuk lembut bahu Pelangi. Masih tak ada respon, ia berjongkok di depan kursi roda itu, lalu menampilkan wajah jenaka yang sengaja dijelek-jelekan, demi menghibur dan membuat bentuk bulan sabit di bibir Pe.
__ADS_1