
"Nana, beri tutorial cepat hamil dong!"
Selesai lontang lantung di jalanan, Pe datang ke rumah Kakak iparnya, yaitu Gerhana si istri kesayangan Topan sekaligus pawang si nama bencana alam itu.
"Lu pikir hamil itu seperti make up yang di tutorialkan segala?" Gerhana menjawab seraya mengeluarkan sebotol air putih dari lemari es. "Lu tinggal buka baju di depan Dibi geeh... urusannya kelar."
"Ah... Lu mah nggak asyik, Na. Lama lama ikut nyebelin kayak suami lu. Jangan di tanya kalau soal wik wik. Sering itu sih."
"Suamiku adalah kembaran mu, Pe. Orang yang sangat menyayangimu penuh, selain orangtua mu dan tentu saja Dibi pun termasuk juga."
Si princess lemot itu bertutur bijak seraya mengelus perut hamilnya. Pe yang penasaran dengan perut kakak iparnya, ikutan mengelus calon ponakanya setelah berdiri dari kursi makan itu.
Di rumah besar Topan. Ia bebas ngobrol apa saja bersama Gerhana dengan catatan si simba sudah berangkat kerja. Ruwet masalahnya kalau Topan mendengarnya bertutur nyeleneh dengan lawan bicaranya itu istri lemotnya.
"Duh, makan lu apa saja sih, Na. Kok cepat amat besarnya perut lu, macam balon besar ya. Eeh... Ini perut lu kenapa bergerak gerak begitu. Tangan gue serasa di tendang, Na. Ahh... Fix ini mah, anak si simba akan persis sama Bapaknya yang nyebelin nan songong itu."
Tut...
Gerhana lama lama gemas dan tidak sabar juga kalau suaminya sedari tadi di khibahi terus oleh Pe. Dengan itu, tangan enteng Gerhana mensentil jidat Pe yang masih setia membungkuk di depan perut buncitnya.
" Heheh, canda, Na. Lu mah kayak nggak tau aja mulut pedas gue kalau bersangkutan nama laki lu." Pe cengengesan.
Gerhana pun cuek. Kendati kemudian, ia memberi saran pada Pe tentang makanan yang bisa menyuburkan rahim.
Dan di sinilah Pe saat ini, berbelanja heboh di pasar tradisional. Kata Gerhana tadi, " Kalau mau belanja murah tapi berkualitas oke, maka noh... rela desak desakan di pasar."
"Kok di pasar, Na?"
"Yailah di pasar, sayurannya masih segar ketahuan di depan mata, tanpa ada poles modus macam di supermarket yang di awetkan di lemari pendingin. Padahal itu sayuran niat banget mau busuk, tapi nggak jadi jadi karena di bekuin di dalam kulkas. Si pramuniaga pikir, sayuran itu es batu apa? Hem... "
Ujung ujungnya, Pe selalu ngakak kalau bersinggungan dengan ipar langka tiada duanya itu. Jodoh memang adil, Topan yang mempunyai sikap keras, tak mau dibantah, eh... dapat istri yang sederhana, lucu dan pemaaf meski sedikit lemot. Coba di pikirkan oleh Pe, kalau Topan mendapat jodoh yang sama wataknya. Hancur lah barang barang di rumah mewah itu kalau lagi tidak akur.
"Huh... Capek juga belanja di pasar. Tapi seru sih, dan murah murah. Hehehe...jurus Mak The Power ternyata di kuasi oleh Nana."
__ADS_1
Pe bermonolog sendiri seraya menatap dua plastik belanjaannya yang di dominasi sayuran kacang-kacangan apalagi kecambahnya, Pe sampai ngeborong dua kilo hanya khusus untuk perutnya sendiri.
" Mungkin dengan hamil, Kak Dibi bisa jatuh cinta padaku. "
Ya... Itulah yang Pe pikirkan.
Bukannya kata puitis, anak adalah jembatan kasih sayang orang tuanya?
***
Hari demi hari berlalu, Dibi setiap hari katanya selalu sibuk. Perhatiannya ke Pe yang cuma sekedar adik kakak itu, katanya. Kini semakin sedikit yang Pe rasakan. Manis terlihat oleh orang, tetapi hampa yang di rasakan oleh Pe.
Dibi memang selalu minta jatah yang hampir tiap malam. Namun entah kenapa? Dibi yang selalu memcumbuinya itu ada di depan mata, tetapi serasa susah di sentuh dengan cintanya.
Paket...!
"Pasti paket bunga lagi," lirih Pe seraya berlari kecil ke pintu.
Benar adanya, paket bunga kesukaan Pe datang lagi dengan pengirim tidak di ketahui.
"Saya juga nggak tau ya, Mbak. Maaf.. Saya pergi dulu ya, masih banyak orderan. Mari...!"
Hem...Seperti biasa, Pe hanya mendapat jawaban yang sama.
"Bunga yang indah tapi malang nasib mu. Maaf ya!"
Dan seperti biasa, bunga itu pun selalu berakhir di dalam tong sampah.
Ting...
Uda di cek belum?
Pe yang mendapat chat dari Gerhana, baru ingat. Kalau ia di suruh oleh kakak iparnya itu mengecek urin di pagi hari agar lebih akurat.
__ADS_1
"Na, Kok gue sering mual dan pusing tiap pagi ya, kenapa itu?"
"Na, ciri ciri orang hamil itu apa sih?"
Beberapa pertanyaannya ke Gerhana, Pe ingat saat ini yang sedang berada di dalam kamar mandi dengan tespek baru yang ia genggam penuh harap sekarang.
"Ciri ciri nya.. yang akurat itu adalah telatnya tamu bulanan lah. Masa iya katanya hamil tapi roti punya sayap di selipkan ke dalam segitiga berenda. Kan nggak mungkin! Jadi, dari pada capek bertanya dan gue juga capek jelasinnya, lebih baik lu pergi ke apotek beli tespek. Ada banyak noh pilihannya, dari goceng sampai puluhan ribu. Ah... Ceknya di pagi hari saja tepat di pipi* pertama setelah bangun tidur."
Jawaban santai santai lemot Gerhana kemarin itu, berhasil membuat Pe mengelus perut buncit Gerhana dengan gemas seraya membatin," Amit amit jabang bayi. Ponakan ku sayang, lemotnya jangan di tiru ya, Nak. Cukup tiru kesabaran dan sikap legowo Mamamu yang perlu kamu comot."
"Lu bisikin apa ke anak gue?"
"Elaaah, Na. Lu mah sensi amat sih jadi calon Mak. Gue cuma bisikin kalau calon Aunty-nya sayang pakai banget. Heheh... "
"Ish... Kenapa ingatnya ke Nana mulu sih? Lebih baik aku celupkan saja alat ini."
Setelah memakai alat tes itu, Pe memejamkan mata. Berdoa agar hasil tesnya bergaris merah dua. Ia ingin hamil demi menjadi wanita yang sempurna dan bonusnya mungkin ada kata cinta yang Dibi ucapkan padanya.
Inhale exhale...
Hufft...
Setelah mengambil nafas panjang panjang. Mata itu pun terbuka. Taspeknya masih ia tutupi dengan tangan sehingga garis merah yang entah berapa itu masih rahasia di matanya.
"Kalem Pe, kalau pun tidak sesuai, maka terima saja karena kamu memang sudah bersahabat dengan kata kecewa!"
Bismillahirohmanirohim....
Perlahan Pe menggeser tangan nya dari garis merah yang baru terlihat satu. Tidak sabaran, Pe pun membuka lebar lebar tangannya.
Deg....
" Hah...Garis dua? Itu tandanya.... Huawaa.... Aku hamil? Yeeee... Aku hamil!"
__ADS_1
Pe bersorak ria dalam kamar mandi itu. Kabar baik untuknya dan semoga Dibi pun demikian.
"Senangnya, Ya Allah... Kak Dibi, aku datang ke kantor mu! Eh... Entar dulu deh, lebih baik cek lab aja dulu."