Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi
Ultimatum Seorang Guntur


__ADS_3

Di belokan rumah sakit, Guntur yang minta ijin akan ke toilet, sebenarnya hanya alasan semata. Ia melihat dan mendengar perdebatan Pe dan Dibi di depan ruang rawat anak.


"Aku ingin bicara."


Guntur segera menoleh ke belakang, dimana ada Kiara yang bersuara padanya.


"Tentang?" tanya Guntur, datar.


"Cintamu ke Pe!"


"Eh... Apa maksud mu?"


"Nggak usah ngelak. Aku tau kamu sangat mencintai Pelangi dan aku juga sebaliknya sangat mencintai mantan pacar ku yang di rebut oleh Pelangi. Jadi kita harus bekerja sama untuk mendapatkan cinta kita masing-masing!" terang Kiara begitu enteng.


Guntur tersenyum ejek, membuat Kiara salah paham yang mengartikan senyum tersebut adalah persetujuannya.


"Aku memang sangat mencintai Pelangi. Tetapi aku tidak pernah terobsesi seperti mu."


Semberaut masam di wajah Kiara langsung nampak, mendengar hinaan halus Guntur.


"Cinta mu dan cinta Dibi, juga cinta ku, kadarnya itu berbeda. Aku tidak mau egois untuk memaksa jodoh__"

__ADS_1


"Cih... Jadi teori cintamu itu, jodoh tak akan kemana? Tanpa ada perjuangan itu bulshiit! Indeed stupid! " Kiara menjeda Guntur dengan nada sinis dalam hinaannya.


Guntur tersenyum miring dikatai bodoh. Maju satu langkah untuk berdiri di samping Kiara dengan kedua tangannya itu masuk ke saku celana bahannya, cool.


"Kiara, bukannya kalian sudah pacaran dan berjuang bersama untuk bersatu dalam beberapa purnama, eum? Tapi kalian enggan berjodoh karena memang tidak jodoh! Meski Pe saat itu, masih whatever dengan hubungan kalian, bukan? Itu namanya bukan jodoh, cantik. You have to be smart! Cari yang lain! Hidup jangan dibuat rumit. Kebahagiaan tidak ada di titik yang sama. Kalau mereka lebih memilih untuk rujuk, maka terimalah dan berdamailah bersama keadaan. Jangan masuk ke dalam lubang kejahatan dan dengki. Ingatlah pula para orang tua kalian yang sudah bersahabat sejak lama. Belajarlah pada Papamu dan Mama Dibi, bukannya mereka dulu juga pernah saling jatuh cinta, tetapi tak sejodoh? Tante Bintang lebih memilih Om Dirgan yang tulus! Dan lihatlah hubungan mereka sekarang? Sahabat meski Papamu pernah sakit hati seperti mu! Jadi please, Jangan rusak itu dengan otak mu yang katanya pintar!"


Kiara tak bisa menjawab untaian halus mematikan Guntur yang berbisik pelan, namun penuh nada penekanan itu. Kata kata frontalnya tertelan kembali saat Guntur begitu lugas mengetahui masa lalu para orang tuanya.


"Hitam dan putih? hanya kamu yang bisa memilih kedua warna bermakna itu. Dan ah... Aku hampir lupa!" Guntur merogoh saku jas bagian kanannya. Lalu menaruh paksa benda mengkilap mahal itu di telapak tangan Kiara. "Itu mungkin gelang mu yang terjatuh di depan pintu ruangan kemoterapi kaki Pe tadi. Oh ya, kalau kamu mau niat jadi mata mata, jangan jatuhkan barang bukti apapun itu. Permisi!"


Kiara malu sudah ketahuan merekam scene pelukan itu. Menjawab pamit Guntur pun, rasanya begitu keluh lidahnya. Kiara masih tertegun dalam berdirinya. Matanya hanya sanggup menatap kosong punggung tegap dan gagah Guntur yang semakin menjauh. Suara sepatuh pantofel hitam kelam milik Guntur sudah menghilang di pendengaran, baru ia sadar dari keterpakuannya.


Di sisi Dibi, ia masih menatap Pelangi lewat pintu kaca. Istri rasa orang asing itu sedang menciumi Arpina dalam tidurnya karena terbius obat.


"Apa kamu ada waktu? Aku ingin berbicara!"


Dibi terkejut oleh suara Guntur yang datang tiba-tiba di belakang berdirinya.


"Ikut aku!" Dibi yang memang ada perlu pada Guntur juga, segera menyetujui. Bahkan ia lah yang berjalan duluan. Dan sepertinya menuju taman rumah sakit, tebak Guntur. Dan benar saja, Dibi memilih berhenti di bawah mendungnya langit sore yang sebentar lagi akan hujan.


"Straight to the point, aku tidak suka kamu mendekati istri ku!" tandas Dibi tanpa basa basi.

__ADS_1


Guntur yang ada di belakang berdirinya Dibi yang membelakanginya, segera berputar badan setelah ia berada di depan Dibi. Mereka saling pandang. Guntur hanya tersenyum datar membalas tatapan nyalang seorang polisi itu.


" Mari berbicara dewasa, pak Galaksi! Aku tidak mendekati istrimu atau pun akan merebut istri orang! Tidak sama sekali! Dan kalau pun aku punya pikiran picik seperti itu, maka sudah aku lakukan sejak lama karena Jujur, aku memang mencitai Pelangi jauh hari sebelum ada kata sah di antara kalian," ungkap Guntur secara gentel. " Kepulangan ku ke Indonesia ternyata terlambat. Aku datang saat kamu menjabat tangan Om Biru untuk menghalalkan wanita yang aku kagumi sejak kami kecil."


Dibi berdecak kesal mendengar ungkapan perasaan Guntur yang begitu enteng, padahal di sini ia adalah seorang suami.


"Cinta ku pada Pe adalah melihat dia bahagia, Dibi. Melihat dia tersenyum, bukan melihat dia menangis, tertekan dan berujung menderita!" sindir Guntur, pedas. Ia juga lama lama kesal karena ditatap intimidasi terus oleh Dibi.


"Jadi maksudmu, aku adalah sumber penderitaannya? Aku hanya minta kesempatan dua kali! Apa salah? Aku bisa memperbaiki sikap ku padanya bila mendapat kesempatan kedua!" Dibi masih berasa paling benar.


"Bukan kesempatan kedua!" sanggah Guntur cepat. Ia geram mendengar pernyataan Dibi adalah kesempatan kedua. Ia adalah saksi diam diam penderitaan dalam perjuangan Pelangi yang memberi kesempatan banyak Dibi untuk memberi cinta itu. Tetapi semakin Pe berjuang, mata Dibi tetap buta hanya untuk nama Kiara yang sedang sakit.


"Diam kamu! Kamu tidak tahu apa apa!" Dibi menunjuk kasar. Ia masih mengingat jabatannya sebagai polisi yang tidak boleh gegabah memukul seseorang.


"Calm down, Dibi!" ujar Guntur seraya menyingkirkan telunjuk Dibi yang tepat berada di depan hidungnya.


Mata tajam mereka saling pandang seperti musuh yang siap saling membeli tonjokan.


Hujan pun sudah mulai turun, tanpa ada gerimis langsung deras dari langit abu abu di atas sana. Tetapi keduanya, tetap berhadap hadapan. Mereka tidak tahu saja, kalau ada Pelangi yang mengikuti. Setelah puas menciumi Arpina, Pe keluar ruangan dan bermaksud memberikan Dibi kesempatan untuk menjenguk Arpina. Tetapi ia melihat kedua pria itu pergi bersama. Pe yang tak mau ada keributan atau perkelahian dahsyat yang pasti menyangkut namanya, akhirnya memutuskan untuk menyuruh seorang suster mendorong kursi rodanya. Dan menyuruh suster itu pergi setelah berada di taman.


"Aku masih menghormati mu sebagai penolong Mommy ku saat tempo dulu! Tetapi hari ini, aku akan mengesampingkan rasa hormat ku padamu. Kita berdiri di sini tentang cinta! Tanamkan dalam mindset mu, aku tidak ada niat menjadi pebinor! Dan satu lagi yang perlu aku sanggah ucapan mu yaitu, 'sok tahu'. Kamu menganggap aku tak tahu apa apa, eum? Guntur ini dan Guntur kemarin masih sama! Guntur ini yang menyaksikan istri mu menangis di taman seorang diri, saat penyakit leukimianya dinyatakan hari itu. Guntur ini yang menghibur istri mu dalam bentuk boneka badut. Guntur ini pula yang sering memberi paket bunga dan rujak dikala dia mengidam dan tak ada niat makan apapun. Guntur ini yang sering melihat betapa rapuhnya sosok Pelangi dibalik ketegarannya, dibalik senyum palsunya untuk memberimu kesan istri yang terbaiknya. Guntur ini juga yang mengetahui, betapa besarnya perjuangan Pelangi menjaga kandungannya! Tiap hari dia menangis, mengharap kasih dan perhatian seorang suami yang sama sekali tak peduli padanya. Dia banyak memberi kesempatan padamu, Dibi! Bukan kesempatan kedua yang kamu minta saat ini, tetapi kesempatan kesekian kalinya!"

__ADS_1


__ADS_2